Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Tak Terduga


__ADS_3

Setelah satu malam menginap di Silintong, tengah harinya Diva dan Zul beranjak pergi menyelusuri setiap lintas Samosir. Hari ini tujuan mereka adalah air terjun Efrata yang letaknya sedikit jauh dari ke dalam. Untuk menuju air terjun, mereka harus berjalan 100meter ke dalam.


Bunyi deburan air terjun yang biasa disebut sampuran efrata atau taman terindah dan suci membuat siapapun akan terpesona. Ketinggian air terjun efrata lebih kurang 20meter. Sayangnya ditempat ini dilarang pengunjung untuk mandi. Jadi hanya sekedar menikmati airnya dari pinggiran bebatuan air terjun.


Diva mengabadikan setiap moment perjalanan mereka melalui foto. Entah itu foto mereka berdua atau mereka saling bergantian mengambil gambar.


"Adek seneng?" Tanya Zul.


Diva menganguk riang. "Bukan hanya senang, tapi bahagia. Makasih ya bang" Zul mengecup kening Diva kemudian membiarkan Diva bermain air.


Hanya sebentar Zul dan Diva berada disana. Lalu perjalanan dilanjut menuju menara Tele. Karena cuaca mendung dan gerimis tidak kunjung reda, pengunjung menara juga tidak begitu ramai. Zul membawa Diva hingga ke puncak teratas menara. Menunjukkan pemandangan indah yang bertabur pepohonan yang hijau menawan.


"Waaw" Diva menatap takjub ke arah perbukitan yang terlihat dari Menara Tele.


"Keren kan?"


"Banget"


Tentu tak lupa Zul dan Diva mengambil beberapa foto dan video kebersamaan mereka berdua.


"Setelah ini kita kemana?" Tanya Diva penasaran.


"Sipinsur. Tapi kita lihat dulu ya, siapa tahu nggak buka"


"Oke"


Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang ke tempat yang akan dituju. Kabut memenuhi sepanjang perjalanan mereka. Samosir selalu memberikan pemandangan yang luar biasa sekalipun tengah dibalut kabut. Menuju ke sipinsur memakan waktu 1 jam setengah. Sayangnya perjalanan itu tidak dibayar dengan baik sebab wisata sipinsur yang akan mereka datangi justru tutup.


"Yah tutup" ujar Diva kecewa.


"Iya kayaknya karena udah kesorean deh yang" ujar Zul.


"Terus gimana?"


"Kita balik ya, ini juga udah mau malam. Besok kit sambung jalan ke sigura-gura"

__ADS_1


"Oke deh"


Perjalanan panjang masih terus mereka lewati. Berbagai obrolan mereka bagi bersama. Mulai dari yang serius, bercanda hingga yang mencekam. Mereka saling berbagi rekam jejak perjalanan hidup.


Zul menemukan berbagai rasa dengan Diva. Diva mampu berperan menjadi apapun. Mulai dari kekasih, teman diskusi hingga yang membuat Zul masih merinding dan terpukau adalah bagaimana mereka menghabiskan kemarin malam bersama.


Zul menggambil tangan kanan Diva dan mengecupnya lembut. Di kepalanya bertabur rencana-rencana yang akan ia lakukan untuk membawa Diva menjadi istri sah nya. Hubungan ini harus mencapai kepastian, ia tidak ingin terlalu lama membawa Diva dalam hubungan tanpa status. Tentu sebagai pengacara tidak akan sulit bagi Zul mengurus berkas pernikahan mereka berdua asal semua itu disetujui oleh Sekar.


Setelah selesai makan malam, Zul menemukan penginapan untuk mereka berdua. Malam ini Zul membiarkan Diva tertidur disampingnya tanpa berniat melakukan sesuatu walau keinginan tersebut sangat besar.


Zul tersadar, satu hari ini ia sama sekali tidak menelpon Sekar. Lalu Zul bergegas menggambil telepon dan mulai memencet nomor Sekar.


"Halo" Jawab Sekar lembut.


Mendengar suara Sekar, tiba-tiba saja Zul mulai merindu. Zul menyadari ternyata masih ada Sekar didalam hatinya. Dan itu membuatnya lega.


"Lagi ngapain dek?"


"Lagi rebahan. Gimana kegiatannya bang? Udah kelar?"


"Sudah. Besok insyaAllah abang sudah nyampe rumah."


"Dek,,,"


"Iya,,,"


"Abang rindu,,,"Bisik Zul.


Terdengar hembusan napas Sekar sebagai jawaban, "Syukurlah kalau abang masih merindukanku"


"Kok ngomongnya gitu?"


"Nggak apa-apa. Oia, ada hal yang mau aku bilang ke abang"


"Apa?" Zul sedikit was-was, mencoba menerka apa yang ingin dikatakan Sekar.

__ADS_1


"Aku membebaskan abang,,, Aku mengizinkan abang menikah dengan perempuan itu asal mengikuti syarat yang aku berikan"


"Sekar,,, maksud kamu apa? Kenapa tiba-tiba bicara hal ini?" Tanya Zul heran.


Sekar terdiam sesaat, "Aku tahu kamu pergi dengannya,,,"


Hampir saja puntungan rokok yang dipegang Zul mengenai pahanya saat mendengar ucapan Sekar. Terbesit pertanyaan bagaimana mungkin Sekar tahu bahwa ia pergi bersama Diva.


"Aku tahu kamu pergi dengan perenpuan itu bang. Aku tahu kamu mengajaknya pergi ke Samosir, menemani setiap perjalanan dinas abang disana" ujar Sekar lirih.


Zul mengusap wajahnya, ini bukanlah pembicaraan yang bisa dilakukan melalui telepon genggam.


"Aku lelah bang. Lelah mengawasimu, lelah berpikir apakah kamu akan mengkhianati aku lagi atau tidak, lelah menerka-nerka aoakah kamu pernah mencintaiku,,,"


Zul tidak menjawab setiap kata Sekar. Dibiarkannya Sekar mencurahkan seluruh perasaannya.


"Aku tahu, abang sekalipun tidak pernah menyelesaikan perasaan abang dengan dia. Selama ini aku hanya pura-pura tidak melihatnya bagaimana abang menangis dan melamun terbodoh entah memikirkan apa"


"Sekar, bukan berarti aku tidak berusaha kembali mencintai kamu,, setiap hari aku berusaha menemukan kamu dihatiku. Seperti hari ini aku menyadari, kamu tetap ada dihati aku, Sekar"


Zul tahu saat ini Sekar sedang berada di ambang kelelahan. Zul terus menyakinkan Sekar, bahwa perasaannya masih ada untuk Sekar.


"Bisakah abang membuktikannya, kalau itu adalah rasa cinta bukan rasa kasihan?"


"Kasihan?" Tanya Zul heran.


"Iya, kasihan. Karena aku yang meminta abang untuk menikah denganku, bukan karena abang yang mau"


"Sekar,,,," Panggil Zul dengan suara paraunya.


"Dulu, saat kita baru menikah, abang juga butuh waktu lama untuk move on dari mantan abang, dan kini abang juga merasakan sakit yang sama karena putus dari perempuan itu"


"Sekar, sebaiknya kita berhenti membahas ini. Bukan ini tujuan abang nelpon adek"


"I know"

__ADS_1


Panggilan telpon diputus sepihak oleh Sekar. Tinggallah Zul yang kembali meresapi setiap ucapan Sekar. Pandangannya beralih pada Diva yang tertidur nyenyak. Sungguh, menikah dengan Diva juga bukan hanya mendatangkan kebahagiaan. Namun luka yang setiap mengiringi sepanjang hidup mereka. Jika harus memilih, Zul akan memilih bertahan dengan Sekar dan Diva dan membuktikan bahwa mereka berdua punya tempat istimewa masing-masing dihati Zul.


Zul menghampiri Diva kemudian memeluknya. Wangi tubuh Diva berlahan masuk melalui hidung Zul. Harum yang menenangkan. Dikecupnya kepala Diva sambil melatunkan doa. Tanpa sadar airmata Zul menetes. Membayangkan sakit yang harus diterima mereka bertiga atas hubungan ini membuat Zul merasa sesak seketika. Melepas atau tidak melepas Diva sama saja membuat luka dihatinya. 


__ADS_2