Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Berlahan


__ADS_3

Rantauprapat, Kota kecil yang terletak di ujung Kota Medan menjadi pilihan Diva untuk menetap dan mengobati diri. 7 bulan disini Diva berlahan mampu mengobati rasa lukanya. Bertemu orang baru, memiliki kehidupan baru, terlebih keluarganya kini menerima jalan takdir yang sudah dihadapi Diva.


sekalipun Rantauprapat kecil, bagi Diva yang sendiri, Rantauprapat terlihat besar. Dan hanya Rantauprapat yang menerima dia tanpa bertanya siapa Diva dulu sebelum Diva yang sekarang.


Diva menatap kosong halaman Kampus Bima. Menikmati suara hujan yang deras menyiram tanah. Semula tanah-tanah itu ratah, kini justru terlihat berlubang. Bahkan batu juga bisa berlubang jika hujan gigih datang menghujani dengan air.


Seperti hari ini, ada nama yang kerap muncul di hp Diva. Nama yang dua minggu lalu baru ia temui justru beberapa hari ini secara intens mengirim kabar padanya sekalipun Diva tidak menjawab.


Zul.


Zul mengatakan mendapat nomor Diva dari Wulan, dengan alibi ingin bertanya tentang prosedur menjadi mahasiswa tranfer di Kampus Bima. Tentu Wulan menganggapnya itu benar, sebab itu yang diucapkan Zul. Tentang isi kepala Zul, hanya Zul lah yang tahu.


Dengan setengah malas, Diva mengangkat panggilan dari Zul.


"Assalammualaikum, dek." Sapa Zul dengan lembut. Ya, Zul adalah pria yang lembut. Nada bicara Zul bahkan mampu membuat siapapun jadi hanyut, disini Diva yang harus waras agar tidak hanyut.


"Wa'alaikumsalam."


"Lagi dimanakah?"


"Masih di kampus bg" Entah mengapa saat sudah mendengar suara Zul, Diva tak kuasa untuk sinis kembali. Hal ini yang terkadang membuat Diva enggan menerima panggilan Zul. Namun jika tidak diterima, Zul akan menelpon terus hingga akhirnya diangkat. Mirip bukan dengan hujan? Batu tak kuasa menolak dan justru menerima semua air yang turun.


"Hujan, gimana pulangnya? Ini sudah mau magrib."


"Tunggu sebentar lagi. Lagipula kost ku juga tidak jauh dari sini."


"Mau diantar pulang? sekalian ab juga mau ngasi kertas survei dari kantor abang."


"Survei? Tentang?."


"Rajek. Rantauprapat ojek"


"Oh, abang kerjanya sejenis gojek?" selidik Diva


"Nggak ah" ujar Zul.

__ADS_1


"Lah terus kok bisa abang yang bagikan surveinya?" tanya Diva heran.


Diva mendengar suara tawa Zul diseberang sana. "Karena aku sedang mencari cara untuk bertemu dengan gadis yang kerap menghindari ku." Suara berat Zul tiba-tiba membuat jantung Diva berdebar kencang.


"Astagfirullah. Diva, sadar. Dia suami orang. Jangan berdebar ku mohon." Diva menepuk dadanya pelan agar debaran di jantungnya meredah, namun usaha itu gagal total karena tingkah Zul yang mengangetkannya.


"Abang sudah di depan kampus, adek dimana ya?"


"Hah?" Diva seakan tersadar kembali bahwa ia masih menelpon Zul. Dan ketika Zul mengatakan dia sudah sampai di kampus tempat Diva mengajar, Diva hanya terbodoh diam. "Aku dikantor bawah, bang" ucapan itu justru keluar di bibir Diva dan kini mobil putih Zul sudah parkir di depan Diva.


Saat pintu mobil sudah dibuka oleh Zul, Diva kemudian masuk dan pelan-pelan membersihkan tubuhnya dari butiran air yang sempat mampir ditubuhnya.


"Hay" Diva menoleh ke arah Zul dan mendapati Zul menatapnya dengan lekat.


Deg, jantung Diva bergetar hebat kembali, sorot mata Zul sukses membuat Diva terdiam dan canggung.


"Mau mampir dulu? Karena ini juga jam makan malam gimana kalau mampir makan dulu?"


"Boleh, kita yang dekat-dekat sini saja bang. Biar tidak terlalu jauh nanti pulangnya" Saran Diva.


Mereka memasuki pelataran cafe secara beriringan. Tentu Diva menjaga jarak langkah antara ia dan Zul. Diva hanya tidak mau orang-orang yang kenal Zul atau dirinya menjadi salah paham. Karena bagi Diva mereka hanya murni ingin makan saja.


Benarkah? Diva merasa pikiran dan hatinya sama sekali tidak sinkron. Saat ini justru Diva merasa bahagia, terlebih seperti saat ini, Zul memandangnya dengan lekat sambil terkadang tersenyum.


Untuk menyembunyikan kegugupannya, Diva menaikkan ujung bibir atas kirinya dan menatap sinis ke Zul. Bukannya berhenti tersenyum, Zul justru tertawa melihat raut wajah Diva.


"Bisa-bisa pipi abang itu robek. Sedari tadi tersenyum saja. Dan berhentilah menatapku bang" Pinta Diva.


"Ada ciptaan Tuhan yang indah kok nggak dinikmati? Rugikan, itu namanya menyia-yiakan rezeky. Mata ini mendapat rezeky melihat yang indah, jadi biarkan saja ya"


Tentu, itu adalah rayuan klasik yang dilontarkan Zul pada Diva. Kata-kata receh yang dipandang Diva sebagai trik Zul untuk mendekatinya.


"Berhenti menggodaku bang" ujar Diva.


"Menggoda? Adek merasa abang godain?"

__ADS_1


"Iya,"


"Dan adek tergoda?"


Diva terdiam. Jika dia tidak tergoda justru Diva tidak akan protes. Apakah memang Diva mulai tergoda sehingga Diva merasa tingkah Zul mengoda baginya.


"Saat ini yang menggoda justru adek" celetuk Zul.


"Aku?"


"Iya, aku tergoda karena mata kamu. Ada sesuatu dimata itu yang kamu simpan, dek. Selama ini abang berusaha untuk mencari tahu, bukan dari orang lain tapi dari kamu sendiri, dek. Lucu memang, tapi aku adalah pengacara dan aku tahu ketika lawan bicaraku menyembunyikan sesuatu."


Diva terpaku menatap dan mendengar setiap ucapan Zul. Seketika Diva merasa bahwa Zul akan siap menerima segala tangis dan luka masa lalunya. Seketika Diva merasa memiliki pelindung di kota yang jauh dari orangtuanya ini. dan berlahan namun pasti, akhirnya Diva menceritakan tentang dirinya pada Zul. Tentang rasa dulu yang sudah hilang namun membuatnya takut untuk melangkah.


"Berarti Haris bodoh," komen Zul sesaat Diva selesai bercerita "Seharusnya dia mempertahankan kamu, dek. Atau dia mengambil pilihan pertama,berpoligami. Kenyataannya kamu ikhlas dipoligami."


"Aku sudah nggak masalah bang. Kemarin aku anggap itu adalah pengorbanan cintaku. Aku ingin dia bahagia, sekalipun bersama itu juga tetap menyakitkan, karena hatinya bukan untuk ku lagi. Aku tidak ingin bersama seseorang yang hatinya bukan untukku"


"Kamu masih mencintainya?"


Diva tersenyum,"Tidak. Perasaan itu sudah hilang bersamaan aku menetap disini."


"Lalu mengapa tidak membuka hati? Wulan bilang banyak cowok yang ngejar kamu, kok nggak dipilih salah satu diantara mereka?" tanya Zul heran.


"Mungkin mereka tidak pinter ngambil hatiku" Diva tersenyum lebar saat menjawabnya, dan berlahan rasa nyaman berbicara dengan Zul mengalir dalam tubuh Diva.


"Berhasil"


"Apanya?" tanya Diva heran.


"Aku berhasil membuatmu tertawa,bukan hanya bibir tapi mata itu kini juga ikut tertawa"


Diva menatap Zul senduh. Benarkah yang dikatakan Zul tentang dirinya. Tentang dirinya yang sebelum ini terlihat menyimpan luka, dan kini justru rasa itu sudah hilang.


Ah, entahlah. Diva merasa nyaman dengan situasi ini. Hujan semakin membuat Diva larut dalam obrolan. Entah Zul yang mampu menciptakan rasa nyaman itu, entah karena Diva yang merasa Zul adalah pria yang pas untuk diajak berbagi. Terlepas apapun itu, saat ini hujan juga mengalirkan rasa nyaman dan bahagia pada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2