Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Bersebrangan


__ADS_3

Diva menatap keluar jendela kereta api. Menarawang jauh pada setiap keputusan yang akan diambilnya. Ayah dan Ibu Diva mengizinkan Diva untuk menikah dengan Zul asalkan pernikahan itu secada resmi. Namun, pernikahan itu hanya diadakan dikeluarga saja. Orangtua Diva bahkan tidak ingin bertemu dengan Zul. Bagi mereka, Diva dan Zul bukan anak-anak lagi yang harus diberitahu mana yang benar dan salah. Pilihan ada di Diva dan Zul.


Dan kini Diva sedang menunggu keputusan Zul. Apakah ia akan menikah Diva secara resmi atau justru tidak.


Diva hanya duduk diam sambil menunggu Zul yang janji menjemputnya, dan saat Diva sedang dialam khayal, Zul justru sudah berdiri dihadapannya.


"Segitu rumitkah pikiran itu, hingga abang sudah disini adek nggak sadar?"


Diva mendongak dan mendapati wajah Zul yang bingung melihatnya. Diva membiarkan Zul mencium keningnya dihadapan orang banyak dan menuntunya ke mobil.


Diva tetap diam bahkan tak memberi respon saat mereka sudah didalam mobil.


Zul meraih tangan Diva dan menciumnya, "Apapun itu keputusan adek, abang siap mendengarnya. Dan yang adek harus tahu, abang serius ingin menikah dengan adek"


Diva menatap mata Zul yang sendu. Mata itu selalu mampu membuat Diva luluh. selama perjalanan kebersamaan mereka, Diva hampir tidak pernah melihat sarat marah dimata itu.


"Kak Sekar sudah tahu?"


"Belum. Tapi segera dia harus tahu"


tiba-tiba dering hp Zul berbunyi, dan tertulis istri ku di layar hp Zul.


"Halo" Jawab Zul lembut. Diva hampir tidak pernah merasa cemburu pada Sekar. Sebab baginya Sekar orang yang sama kedudukannya seperti Diva yang sama-sama memiliki tujuan membahagiakan Zul.


"Kenapa dek. Iya kenapa? Ya benci kenapa?,,,Ya sudah abang pulang dulu setelah abang siapin kerjaan ini"


Diva merasakan ada sesuatu yang terjadi pada sekar. Hal itu terlihat dari ucapan Zul yang terlihat panik.


"Abang antar adek dulu, setelah itu abang pulang. nggak tahu kenapa Sekar tiba-tiba teriak sambil bilang benci sama abang"


Diva mengangguk lemah. Entah mengapa firasatnya Sekar sudah tahu tentang hubungan mereka. Dan Diva akan tahu nanti apa yanh telah terjadi.


●●●


Zul memarkirkan mobiknya di garasi dan berlari kecil ke dalam rumah. Mencari Sekar dan mendapati Sekar dikamar. Namun, kamar itu tidak seperti biasanya. Kapas dari bantal terbuarai dan berterbangan kesana kemari. Sekar sendiri duduk disudut kamar sambil duduk menundukkan kepalanya disela lutut.


"Dek, apa ini? kok berantakan?" Zul menatap heran dan mulai memeluk istrinya yang sepertinya terisak menangis. Zul melihat disamping Sekar, tergelatak hp sekar. Terlihat pesan masuk dari Airin, sahabat Sekar yang mengirim foto Zul dengan Diva dimana saat itu Zul mencium kening Diva di stasiun. hanya saja saat itu diva memakai masker sehingga wajah Diva tertutupi.


Kini tahulah Zul apa yang membuat Sekar sehisteris ini. Sekar tahu Zul mempunyai wanita lain.


Sekar melihat Zul dengan perih. seakan tak percaya, lelaki yang sudah 10 tahun bersamanya kini justru berpaling darinya. Sesak didada membuat Sekar terus menangis dan memukuli dada Zul yang sejak tadi terdiam sebab tak mampu berkata apapun.


"Apa kurang ku bang?!! Apa?!! Apa karena aku belum bisa memberi keturunan sehingga abang seenaknya berpaling? Begitukah cara abang membalas perasaanku"


Zul terdiam. sungguh tidak ada maksud dari dirinya menyakiti Sekar, perasaan yang muncul dalam hatinya semata-mata tak terencanakan.


Memang benar, saat bersama Diva, Zul tidak pernah memikirkan Sekar. Namun saat bersama Sekar pun Zul berusaha untuk tidak memikirkan Diva. Dan kepada siapapun raganya berada, Zul berusaha memfokuskan pada orang tersebut saja.

__ADS_1


Dan kini dihadapannya terduduk menangis terisak wanita yang sudah 10 tahun Zul nikahi. Pedih ternyata melihat Sekar yang menangis terisak karena pengkhianatannya.


Sekar dapat dikatakan wanita yang tangguh. Hampir tidak pernah menangis dan jika mereka bertengkar, Sekar bahkan beradu argumen dengan Zul daripada menangis dan menyerah.


"Dek,,," panggil Zul lembut.


Sekar menghapus air matanya dan menarik napas panjang. Matanya terlihat sembab dan bengkak.


"Mari kita bicara bg." Zul melihat ketegasan dari Sekar.


Sekar kemudian beranjak ke kamar mandi, beberapa menit kemudian muncul dengan wajah yang telah dicuci sekalipun masih ada bekas airmata disana.


"Biarkan aku yang mengajukan pertanyaan, dan abang berikan jawaban sesuai yang ditanya saja" Zul mengangguk setuju.


Sekar menarik napas panjang.


"Siapa perempuan itu?"


"Kenalan biasa saja"


"Kenalan biasa? menurut abang,abang terbiasa mencium kening dan memeluk setiap kenalan abang, gitu?"


"Dek,,,"


"Tolong jujur bang" Ujar Sekar memelas.


"Baiklah, abang jujur. Sudah hampir setengah tahun ini abang menjalin hubungan dengannya, dan perasaan abang ke adek sama seperti perasaan abang ke dia."


Zul melihat Sekar menahan nangis, Zul tahu ini memang menyakitkan untuk Sekar.


"Sama? bagaimana mungkin aku yang sudah 10 tahun dengan abang bisa abang samakan dengan ******* yang baru abang kenal?!" pekik Sekar


"Jangan menyebutnya ******* dek. Dia bukan perempuan seperti itu"


"Oh jadi abang bela dia? abang bela perempuan itu daripada aku, dimana sih hati nurani abang?"


Zul terdiam.


"Dia nggak salah dek. Abang yang salah,karena abang yang godain dia, dia,,,,"


"Sekali lagi jangan membela ******* itu"


Zul berdiri dan berjalan mengelilingi kamarnya. Berusaha menahan amarah sebab Sekar mengatakan Diva *******. Zul menyadari saat ini dia tidak berhak marah sebab Sekarlah yang paling tersakiti.


"Setengah tahun, setengah tahun abang berpaling dari ku, setengah tahun perempuan itu merebut abang dari ku. Itu artinya semua hal yang abang lakukan untukku adalah kamuflase belakang saja. "


Zul membalikkan badannya dan duduk kembali di depan Sekar.

__ADS_1


"Berdosakah abang mencintai dua wanita sekaligus?"


Mata Sekar terbelalak, Sekar pasti terkejut mendengar pertanyaan Zul yang tidak masuk akal.


"Abang benar-benar gila. Pengkhianat. abang sudah selingkuh bukannya minta maaf malah terus merasa benar. Gila kamu ya bang!!"


"Sekar, aku minta maaf jika aku mencintai kalian berdua. aku minta maaf jika aku tidak ingin melepas kalian berdua. Jika kami para pria tidak boleh membagi cinta, bukankah orangtua juga tidak boleh mencintai semua anaknya? bukankah itu namanya juga membagi cinta. Anaknya 7, semua ia cintai. dan tidak berkurang sekar"


Zul melanjutkan, "Sama seperti aku ke kamu. Sekalipun aku juga mencintainya tapi cintaku padamu bahkan tidak berkurang. Aku masih kembali padamu. Aku masih tetap milikmu, dek" Zul berusaha berbicara lembut pada Sekar. Zul tahu jika menurutkan ego, hubungan ini akan hancur, dan Zul tidak menginginkannya.


"Jadi maksud abang, abang tidak ingin melepaskan salah satu diantara kami?"


Zul terdiam. Ingin dengan tegas Zul mengatakan Iya. Tapi Zul hanya bisa diam.


"Kalau begitu aku harus bertemu dengan perempuan itu. Aku harus bicara dengannya, siapa diantara kami berdua yang harus mundur dari hidup abang"


"Dek,,,aku ini bukan milik kamu ataupun dia. dan kamu dan dia juga bukan milik aku"


Sekar menatap Zul dengan bingung


"Kehidupan yang kujalani juga bukan milikku, dek. Bahkan nyawa ku pun bukan milikku. Semua hal yang dimatamu yang kamu anggap milikmu pada hakikatnya bukan milik kita dek. Sewaktu-waktu Allah bisa mengambilnya."


Zul meraih tangan Sekar yang terasa dingin. "Aku tidak bermaksud menyakiti siapapun. Aku hanya ingin membahagiakan kalian berdua dengan caraku. Maaf jika dimatamu itu salah. Aku hanya memiliki niat baik tuk membahagiakan kalian berdua selama Allah memberikan aku rezeky waktu. Aku mencintai kalian berdua, dan hubunganku dengan dia bukan karena napsu belaka. Tapi, hubungan yang serius"


Plak,,,


Sekar menampar pipi kiri Zul. Selama pernikahan ini adalah pertama kali Sekar semarah ini pada Zul. Bahkan Zul sendiri tidak pernah memperlakukan Sekar dengan buruk.


"Kamu,benar-benar ******** bang. Aku tidak ingin hidup bersamamu lagi. Aku mau pergi" Sekar bangkit namun Zul menahannya.


"Aku melarang kamu untuk pergi dari rumah ini" Tegas Zul


"Kalau aku tidak mau kenapa?!" tantang Sekar.


"Kamu tetap harus patuh. Kamu istri aku dek"


"Maksudmu patuh sama pemimpin yang berkhianat? Aku tidak sebodoh itu"


"Lalu bagaimana dengan istri Firaun yang tetap mendampingi Firaun. Apakah aku ada sekeji Firaun? apakah aku ada memperlakukanmu selama 10 tahun ini dengan buruk? apakah selama setengah tahun terakhir aku tidak membahagiakanmu, mencukupimu,menafkahimu lahir batin? sekalipun aku bersamanya, aku selalu kembali padamu, Sekar. Aku bahkan tidak lalai melakukan amanahku sebagai seorang suami. Kesalahanku adalah jatuh cinta pada seseorang. Dan tanya pada Tuhan mengapa Dia memberikanku rasa itu, ini bukan rencanaku Sekar, ini rasa pemberian Tuhan!!"


"Aaaahhhhhhh.... Aku tidak mau dengar apapun dari mulut kamu bang" Sekar menutup telinganya dan mulai menangis lagi.


Zul mendekati Sekar, sekalipun Sekar menolak tapi Zul tetap berusaha memeluk Sekar dan akhirnya membiarkan Sekar menangis dipelukkannya hingga tertidur.


Rintik diluar menutupi kesedihan Sekar. Perasaan cinta Zul juga tak terhapus oleh tangis Sekar ataupun hujan.


Zul masih tetap pada keputusannya, mempertahankan keduanya sekalipun itu bertentangan dengan kemauan Sekar. Dan Zul siap menerima resikonya.

__ADS_1


__ADS_2