
Ini sudah seminggu sejak pertemuan terakhir Diva dengan Zul. Dan selama itu Zul sama sekali belum memberi kabar Diva.
Terakhir kali Zul menghubungi Diva mengatakan bahwa Sekar sudah tahu tentang hubungan mereka. Dan Diva hanya diam saat Zul menjelaskan bahwa tuk saat ini Zul tidak akan menemui Diva.
Diva melihat beranda FB Zul dan mendapati bahwa Zul sedang berlibur dengan Sekar ke Brastagi.
Nyeri tiba-tiba mengusik relung hati Diva demi melihat Zul yang tengah tertawa renyah sambil memeluk Sekar.
Terpikir dalam benak Diva apakah Zul mengingatnya, apakah Zul merasakan rindu yang mengusik hati Diva, apakah Zul bahkan pernah berniat untuk memulai mahligai yang baru bersama Diva?
Pertanyaan itu sepertinya hanya mampir diangan saja tanpa mampu dijawab oleh Zul. Nyatanya kini Diva harus meringkuk sambil berselimut rindu.
Diva mencoba memejamkan mata saat ada panggilan telepon di hp nya. Diva menyambar cepat sebab Diva tahu siapa yang menghubunginya. Hal ini terjadi karena Diva memberikan notifikasi khusus untuk nomor tersebut.
Zul melakukan panggilan video call.
"Assalamualaikum,,,"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam"
"Apa kabar sayang?"
"Baik bg. Gimana disana?"
"Maaf ya. Abang nggak bisa nelpon kemarin-kemarin, sebab abang harus meredahkan emosi Sekar dulu"
"Ya mau apa lagi, aku cuma bisa jawab nggak apa-apa"
Hening. Entah itu Zul atau Diva hanya saling memandang. Tidak ada ucapan yang keluar, justru airmata yang jatuh diwajah mereka masing-masing.
"Hal aneh apa?" tanya Diva heran.
"Saat kami berbelanja buah, tiba-tiba ada seseorang yang mirip adek lewat. Refleks abang kejar dan ternyata itu bukan adek. Sekar sampai heran kenapa abang tiba-tiba lari."
"Abang melihat adek disini, dan rasanya nyesek"
__ADS_1
Diva melihat Zul menarik napas panjang.
"Sayang,,," Panggil Zul berat.
"Hmm,,,"
"Kasih abang waktu sebentar lagi. Tolong jangan pergi. Tolong jangan kemana-mana, apapun itu abang akan pulang kepada adek. Abang pastikan itu"
"Jangan berjanji saat abang sendiri tidak tahu apakah abang bisa menepatinya"
Zul terdiam, merasa kata-katanya dipatahkan oleh Diva.
"Setidaknya adek harus percaya kalau abang serius dan abang tahu adek juga tidak akan mampu pergi dari hidup abang"
Ya, Zul memang benar. Diva tidak akan sanggup pergi meninggalkan Zul. Diva tiba-tiba menjadi bodoh jika menyangkut perasaannya dengan Zul. Entah mengapa, Diva mampu memahami dan memaafkan semua hal yang Zul buat padahal Diva tahu itu tidak benar.
Bertahan dengan Zul sama halnya berpegangan pada rumput yang tidak mungkin mampu menolongmu saat kita hampir terjatuh. Diantara Diva dan Zul pasti ada terluka.
__ADS_1
Entah itu bertahan atau tidak, rasanya sama, sama-sama menyakitkan. Namun yang membedakannya adalah berapa lama rasa sakit itu akan hilang. Jika Diva memilih pergi, maka sebulan atau dua bulan ia akan merasa kehilangan Zul. Jika Diva memilih bertahan, maka Diva harus menanggung penolakkan keluarga Zul, berbagi Zul, dipandang sebelah mata, dan lainnya yang pasti tentu itu tidak membahagiakan.
Kepala Diva seketika terasa berat, dan akhirnya menyerahkan pada Tuhan, jalan mana yang harus dipilih mereka berdua.