
Mereka sampai di Samosir hampir 2 jam kemudian dengan mengendarai kapal ferry. Setelah sampai Zul langsung menuju lokasi seminar yang akan Zul hadiri. Sedang Diva hanya menggu Zul di dalam mobil tanpa boleh keluar.
Diva hanya mengangguk setuju saat Zul mengatakan untuk tidak keluar karena ruang pertemuan Zul dengan tempat parkir berhadapan.
Lumayan lama, membosankan dan panas berada dalam mobil yang notabene tidak dinyalankan AC-nya. Sambil menunggu Zul yang tidak kunjung istirahat, Diva melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari bernyanyi, nonton Netflix, dan sebagainya.
Tepat menjelang pukul 12, akhirnya Zul istirahat. Diva memandang dengan lekat Zul dari dalam mobil. Tubuh Zul yang tinggi berisi membuat Diva terhanyut bila di dekap oleh Zul. Terlebih lagi kecupan dan perlakuan manis Zul yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Diva.
Tangan Zul begitu terasa kokoh ketika menggengam dan menyentuh pipi Diva. Begitu pas rasanya ditangan Zul. Memandang Zul adalah hobi tersendiri bagi Diva. Div tahan berjam-jam hanya memandang Zul tanpa mengerjakan hal lain. Rasanya Zul seperti keajaiban yang diberi Tuhan padanya.
Zul membuka pintu mobil dan mendapati Diva memandanganya dengan bahagia. Tersirat betapa lelahnya Diva menunggunya, namun selelah apapun Diva tetap memberinya senyum terindah.
"Maaf ya, pembicaraannya terlalu panjang. Jadi lama deh keluarnya" ucap Zul diiringin kecupan ringan di kening Diva.
"Resiko sih, ngikutin abang tugas. Ya nggak boleh ngeluhkan?" Zul merasa lega mendengar jawaban Diva, inilah hal yang disukai Zul. Tidak menuntut namun membuat Zul merasa selalu berkewajiban melakukan terbaik untuk Diva.
"Kita cari hotel dulu ya. Biar adek bisa istirahat, dan abangpun bisa sebentar istirahat sambil menunggu waktu masuk kembali ke acara"
"Oke"
Zul mulai membawa mobilnya berkeliling mencari hotel dan yang paling penting tidak satu hotel bersama teman-temannya. Mulai dari hotel biasa-biasa sampai terbaik dikunjungi Zul. Nyata dimanapun tetap ada beberapa teman Zul yang menginap disana.
"Gimana ni, rata-rata hotel yang kita datangin ada beberapa temen abang yang nginap disitu." Zul dilanda kebingungan mencari hotel untuk mereka berdua datangi. "Kalau hotelnya agak jauh gimana ya dek, tapi nanti adek agak lamalah sendirian dikamar karena abang juga kayaknya agak lama pulangnýa"
Diva menimbang-nimbang, "Jujur rada takut juga sih bang. Cuma kalau nggak ada ya mau gimana. Nggak apa-apa deh"
Sebenarnya Zul juga tidak tega membiarkan Diva sendirian, namun beresiko juga jika menginap dihotel yang juga di booking oleh teman-temannya. Akan terbongkar kalau dia membawa seseorang.
"Kita cari dulu yang dekat deh"
Kembali berkeliling dan bertanya, akhirnya Zul menemukan hotel yang cocok untuk mereka berdua. Hotel Silintong.
Hotel ini menghadap ke danau toba, memiliki halaman bergaya Bali yang unik. Selain luas dan sejuk, banyak pemandangan yang bisa dilihat. Mulai dari replika patung-patung raja, kolam ikan, kursi santai yang menghadap langsung ke Danau Toba dan pohon-pohon besar yang rantingnya sangat kuat.
__ADS_1
Diva turun dari mobil dan mengabadikan setiap pemandangan hotel. Untuk kamar, bisa dikatakan lumayan. Setidaknya walau tanpa AC tidak akan kepanasan karena udara Samosir yang begitu dingin.
Diva mengikuti Zul menuji kamar. Zul sendiri membantu Diva untuk membawa keperluan Diva.
"Abang tidur dikamar sebelah kan?" Tanya Diva berharap. Tentu walau terlihat indah tapi Diva merasa takut dan berharap kamar Zul tidak begitu jauh.
"Kamar sebelah?" Tanya Zul heran.
"Iya, kamar sebelah. Loh memangnya kamar abang jauh dari sini?!"
Zul memandang Diva heran. "Memangnya ada yang bilang abang tidur dikamar yang lain?"
Diva memandang raut wajah Zul dan akhirnya mulai mengerti tatapan Zul padanya, "Jadi, abang tidur disini, berdua sama aku dikamar ini?"
"Terus, adek mau tidur sendirian dikamar ini?"
Diva memandang tajam ke arah Zul. Tentu cara bicara Zul lebih menakutkan dibanding makhluk kasat mata. Zul seakan siap menerkamnya yang terlihat tanpa perlindungan.
"Adek takut abang terkam ya?" Zul memainkan alisnya untuk menggoda Diva. Tentu hal itu adalah candaan belaka namun entah mengapa melihat wajah Diva yang panik membuat Zul tidak tahan untuk mendekat dan mencium.
"Babee,,please hug me" Zul merendahkan suaranya hingga terdengar berat dan seksi. Seketika bulu roma Diva merinding melihat kelakuan Zul.
Mereka berdua adalah orang dewasa yang tentu berusaha menahan sesuatu adalah hal sulit. Terlebih lagi sifat Zul yang selalu seenaknya, Diva yakin Zul tidak akan mendengarkan apa yang akan dikatakan Diva sekalipun Diva berteriak lantang.
"Abang,,,jangan aneh-aneh deh ah!"
Zul tertawa terbahak-bahak melihat Diva yang melemparnya dengan bantal. Tentu hal itu tidak membuat Zul berhenti menggoda Diva.
Zul menangkap tangan Diva saat Diva masih terus mencoba kabur darinya. Begitu Zul menangkap tangan Diva seketika itu juga Zul merebahkan tubuh mereka berdua ke ranjang dan membuat posisi Diva terancam yakni berada di bawah tubuh Zul.
Tindakan spontan dan cepat itu membuat Diva terperajat, tanpa berbicara dan hanya terbengong saat menyadari ia sudah tidak bisa melawan.
"Masih mau berontak?" Tanya Zul lembut.
__ADS_1
Diva mengalihkan wajahnya ke arah lain demi menghindari mata Zul yang membuatnya terbuai. Aroma tubuh Zul merebak ke hidung Diva. Harum dan menawan.
Tanpa pemberitahuan Zul mengecup pipi kiri Diva, dan membiarkan kepalanya berdiam lama disana.
"Adek takut?"
"Heemm"
"Apa itu heemm?"
"Menurut abang?"
Zul menyentuh wajah Diva dan membuatnya sejajar di wajah Zul.
"Setakut apa?"
Napas Zul yang mulai tak menentu terasa di wajah Diva. Diva bisa merasakan bahwa Zul sudah berada di ambang hasrat yang tinggi. Mudah bagi Diva mengenali hasrat tersebut, sebab selama ini bersama Zul secara berlahan Diva mampu membaca bagaimana melihat titik keinginan Zul.
"Jika posisi kita begini terus, bisa-bisa abang hilang kendali" Bisik Diva.
Zul mulai mengangkat tubuhnya dan menahannya dengan kedua tangannya.
"Mau dengar sesuatu?"
"Apa?"
"Terima kasih sudah hadir dan bertahan sekalipun itu sakit"
Diva tersentuh mendengar ucapan Zul, terlebih lagi saat itu Zul mengecup kening Diva.
"Abang pergi dulu, nanti sore abang pulang. Adek nggak apa-apakan sendirian disini?"
"No problem"
__ADS_1
Zul memeluk Diva dengan erat, rasanya menenangkan menyadari perasaan Diva tidak beralih, dan Zul mulai menyusun rencana untuk membawa Diva ke jenjang pernikahan.