Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Bertautan


__ADS_3

Aji tengah bersiap pergi mengajar ketika Diva baru saja keluar kamar. Mereka kemudian saling tatap dan melempar senyum.


"Baru mau berangkat juga, Va?" Tanya Aji.


"Iya, Mas. Mas juga?"


"Ehem"


"Kok siang banget ke kantornya?" Tanya Diva heran.


"Heemm gimana kalau mas jelasin sambil jalan ke depan?" Tawar Aji lembut.


"Oia lupa, maaf. Yaudah yuk"


Aroma parfum Aji semerbak tercium oleh Diva. Harum dan elegan, tiba-tiba saja terlintas di benak Diva tentang Zul. Zul juga seharum ini, aroma tubuh Zul selalu enak untuk dicium.


"Va,,,?"


Diva tersentak, saat Aji menyenggol bahunya.


"Kamu melamun?" Tanya Aji hati-hati.


"Maaf, Mas. Tiba-tiba tadi teringat sesuatu"


"Sepertinya sesuatu itu punya tempat terdalam dihati kamu ya, sampai mampu menyita pikiranmu"

__ADS_1


Diva tersenyum tipis, "Sepertinya begitu. Aku juga baru sadar"


"Ada begitu banyak hal baru di dunia. Semoga kamu bisa mengisi hatimu dengan hal baru yang juga tidak kalah indah"


Diva menatap dalam wajah Aji. Ucapan Aji begitu mengena dihatinya. Wajah Zul yang menabur rindu dihidupnya memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihapus. Ada segudang mimpi dan rasa yang dibawa Zul untuknya, apakah mungkin Diva melihat ke arah yang lain?


"Melamun lagi?"


Diva tersentak karena tiba-tiba saja wajah Aji sudah dekat di wajahnya. Diva mundur selangkah untuk menghindari kekikukanya.


"Tempat kerjaku di depan sana, tinggal nyebrang nyampe deh. Kamu sepertinya harus menunggu angkutan umum lain kan?"


Diva baru tahu ternyata Aji mengajar di Kampus Andalan. Tepat berada di depan kost mereka berdua.


"Mas, dosen?" Tanya Diva masih tidak percaya. Tentu jika hanya sekilas melihat Aji tidak akan ada yang menyangka Aji dosen.


"Alhamdulillah selama bertahun-tahun ini, iya. Masih tetap dengan profesi lama, dosen. Tapi sekarang jadi dosen di Andalan deh."


Diva berOh saja mendengar jawaban Aji, "Ya sudah hati-hati nyebrangnya"


"Oia, Va. Boleh minta tolong?"


"Apa, Mas?"


"Pinjem hp kamu bentar, mastiin hp Mas masih aktif nggak. Soalnya daritadi nggak kelihatan"

__ADS_1


Diva memberikan hpnya tanpa curiga sama sekali dengan maksud Aji. Lalu Aji mulai menekan nomor hp nya dan hp pun berdering di tas Aji.


"Loh, tapi hp nya sama Mas Aji, kok bisa bilang daritadi nggak kelihatan? Berarti nggak hilang dong!" Seru Diva heran.


"Ya memang nggak kelihatan, kan didalam tas. Mas juga nggak bilang hp nya hilang, tapi nggak kelihatan" Ujar Aji tertawa.


"Ih apaan sih, oh tahu deh. Mas Aji sengaja pakai trik itu untuk dapatin nomor hp aku kan?!"


Tawa Aji semakin mengembang, "Lah kamu kok baru sadar. Hati-hati loh, bisa-bisa kamu kenapa-kenapa dengan pikiran polos itu"


"Aku yang harus waspada dengan Mas Aji" Kata Diva merengut.


"Loh kok jadi Mas? Kamu itu harus hati-hati sama sesuatu yang dihatimu. Jangan sampai sesuatu itu membuatmu hidup dalam kenangan dan lupa bahwa dunia kenyataan juga tak kalah pentingnya"


Diva mencari maksud tersirat dari ucapan Aji. Kenyataan memang saat ini Diva sedang hidup bersama kenangannya dengan Zul. Diva tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari kenangan itu.


"Udah ah, nggak siap-siap ngobrolnya. Bye Diva"


Diva tersentak kaget saat Aji mengelus kepalanya sebelum menyebrang jalan menuju Kampus Andalan tempat Aji mengajar. Diva bahkan masih terpaku ditempatnya sampai akhirnya Aji melambai ceria dari sebrang jalan. Diva hanya terdiam dan melotot kesal pada Aji disebrang sana. Kesal karena pada pertemuan pertama mereka, Aji dengan ringannya mengelus kepala Diva.


"Iissh, memangnya aku anak kucing apa? Dasar aneh" gerutu Diva.


Diseberang sana, Aji hanya tersenyum geli melihat Diva yang cemberut. Dimata Aji, Diva seperti anak 5 tahun, lucu dan menarik. Melihat Diva yang hanya diam mematung mendengarnya, membuat tangan Aji refleks menyentuh kepala Diva. Tidak ada maksud lain, hanya ingin memberi semangat pada Diva yang sepertinya berada dalam kegalauan.


Aji yakin, Diva pasti baru putus cinta. Selain cinta, apalagi yang bisa membuat wanita terlihat begitu kusut tak karuan? Tentu perasaan yang berantakan juga menyeret kehidupan menjadi kacau. Aji tidak menginginkan itu, sebab Aji sudah melihat bagaimana sepupunya harus menangis meraung menelpon Bukdenya saat mengatakan suami yang 10 tahun ia pikir setia ternyata telah berkhianat.

__ADS_1


Aji menyaksikan bagaimana sepupunya seperti mayat hidup saat beberapa bulan lalu Aji menemuinya. Saat itu Aji dimintai tolong untuk mengantarkan Bukdenya melihat anak kesayangannya yang sedikit frustasi. Entah kini bagaimana kondisi sepupunya tersebut. Sungkan rasanya bertanya bagaimana hatinya, sebab dari awal mereka memang tidak terlalu dekat. Tapi Aji yakin mereka akan baik-baik saja. Sebab kabar yang terakhir, sepupunya memaafkan kesalahan suaminya tersebut.


__ADS_2