Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Kepercayaan?


__ADS_3

Zul mengangkat koper yang sudah disediakan Sekar lalu memasukkannya ke dalam mobil. Hari ini dia akan berangkat ke Samosir untuk pelatihan yang diadakan oleh kantor pusat tempat Zul bekerja.


Awalnya Zul mengajak Sekar, namun Ibu Sekar sedang sakit, jadi Sekar harus kembali ke rumah ibunya selama Zul pergi.


"Perlengkapan adek sudah siap?" Tanya Zul.


"Sudah, tinggal berangkat aja. Kereta api adek berangkat jam 10, abang jadi berangkat malam?" Sekar terlihat khawatir sebab Zul akan pergi sendirian ke Samosir pada malam hari.


"Ya gitu deh. Biar sampai sana pagi, terus langsung ke acara. Ya paling nyampe subuhlah, bisa istirahat sejenak di pom bensin"


Sekar memandang Zul lekat. Mencari sisa kesedihan Zul disana. Ya kesedihan itu masih ada di mata Zul, walau tidak sebanyak kemarin, sepertinya Zul sudah bisa mengatasi perpisahannya dengan Diva.


Saat Zul yang harus berjuang melupakan Diva, saat itu juga Sekar berjuang untuk melupakan kesalahan Zul. Entah apa yang terjadi antara mereka berdua, yang Sekar tahu dia mendapati Zul pulang dalam keadaan kacau.


Flasback


"Ada apa? Apa hubunganmu dengannya berakhir? Kamu terlihat kacau"


Zul tidak bergeming dan menuju lemari pakaian, melewati Sekar yang sejak tadi mengawasinya.


"Sepertinya benar, kalian putuskan?" Lanjut Sekar.


Zul masih diam.


"Kalau ada orang bicara itu di tanggapi!" Pekik Sekar mulai tidak sabar.


Zul menatap Sekar dalam dan mendekati Sekar yang melihatnya dengan tatapan lantang. Lalu membimbing Sekar untuk duduk di ranjang sedangkan Zul berlutut di hadapan Sekar.

__ADS_1


"Sekar, kamu benar. Hubunganku dengan dia sudah berakhir. Dia memutuskan hubungan ini, dan kini aku milikmu kembali. Sekali lagi, mohon maafkan aku. Aku ingin kita bersama lagi, aku ingin kita bahagia berdua lagi tanpa ada orang ketiga lagi, dan aku ingin kamu mencintai aku kembali, karena kenyataannya aku juga mencintai kamu. Beri aku kesempatan untuk memulai semuanya kembali" Memohon kepada Sekar adalah cara Zul untuk membuka hati Sekar kembali. Sekalipun di dalam hatinya masih tersimpan rapi nama Diva, bukan berarti Zul ingin melepaskan Sekar. Bagaimanapun, Sekar adalah wanita yang selama ini setia mendampinginya.


"Aku tidak bisa percaya semudah itu atas ucapan kamu, bang. Bagaimana jika ke depannya kamu masih menemuinya, bagaimana jika kenyataannya di dalam pikiranmu masih ada dia. Sekalipun kamu tidak menemui dia kembali, tapi jika di pikiranmu masih terselip namanya itu sama saja bohong,,,"


"Maka dari itu jangan tinggalkan aku, Sekar!" Pinta Zul, "Jangan pernah tinggalkan aku, biarkan aku mengisi kembali secara full pikiran dan jiwa ku tentang kamu kembali. Aku justru jauh lebih takut kehilangan kamu"


"Ku mohon, tetaplah disisiku. Tetaplah mencintaiku. Jangan pergi Sekar" Cukup kehilangan Diva bagi Zul. Dia tak ingin kehilangan Sekar juga.


"Kamu egois bang. Bagaimana mungkin dengan gampangnya kamu meminta maaf atas semuanya yang telah kamu lakukan padaku?!"


"Lalu aku harus apa, Sekar?! Apakah aku harus mati dihadapanmu? Apakah dengan begitu rasa sakitmu terobati?!"


"Ceraikan aku! Aku tidak ingin hidup bersamamu jauh lebih lama lagi!"


Zul menarik napas panjang, berusaha untuk tidak terpancing emosi dan kembali berbicara lembut pada Sekar.


Sekar tidak menjawab serta merta permintaan Zul. Sekar memilih pergi meninggalkan Zul yang masih berlutut. Perasaan Sekar saat ini berkecamuk.


Sekar ingat perkataan Ibunya saat Sekar bercerita tentang kekecewaan Sekar pada pengkhianatan Zul. Ibu Sekar hanya memohon Sekar memaafkan Zul dan mengingat semua kebaikan Zul. Sebab selama ini Zul juga tidak pernah menyakiti Sekar, justru terkadang Sekar yang lebih keras kepala.


Sekar mengunci pintu kamar tamu dan duduk menangis dibalik pintu. Sekar benci pada hatinya yang masih mencintai Zul. Benci pada hatinya yang berkata akan memaafkan Zul. Bukan tidak mungkin akan ada wanita-wanita lain yang hadir. Tidak ada jaminan bahwa Zul tidak akan selingkuh lagi. Ketakutan akan dikhianati lagi bergelayutan dipikiran Sekar. Tapi berpisah dari Zul juga ia tidak mampu. Namun bagaimana caranya agar hatinya tenang setelah memaafkan Zul?


•••


"Dek?"


Sekar tersadar, ingatannya kembali pada saat Zul memutuskan untuk memilìhnya dibanding Diva. Beberapa pembuktian Zul seperti yang bersedia hp nya selalu disadap Sekar untuk memastikan Zul tidak beralih lagi dan beberapa hal lain yang membuat Sekar akhirnya percaya bahwa Zul benar-benar berubah.

__ADS_1


"Kenapa? Kok melamun?" Tanya Zul penasaran.


"Nggak apa-apa. Aku cuma khawatir karena abang pergi sendirian"


Zul memeluk Sekar, "InsyaAllah nggak apa-apa. Doain aja abang selamat pulang pergi. Kalau misalnya pun terjadi sesuatu sama abang, ya adek harus ikhlas. Sebab itu sudah takdirNya"


Sekar terdiam mendengar ucapan Zul. Teringat saat pertengkaran pertama mereka, Zul mengatakan bahwa Diva tidak merebut Zul. Hakikatnya tubuh dan jiwa Zul adalah milik Allah. Seharuanya Sekar tidak merasa direbut, karena Zul bukan milik Sekar tapi milik Allah. Tapi entah mengapa, rasanya tentu tidak ikhlas saat Zul berbagi hati. Namun juga tidak ikhlas apabila suatu saat Zul meninggal dunia.


"Bang, boleh tanya sesuatu?"


"Boleh"


"Abang masih menyayangiku kan?"


Zul menngernyitkan matanya melihat heran ke arah Sekar, "Kenapa tanya begitu?"


"Ya terkadang aku berpikir abang masih mencintai perempuan itu"


Zul tahu siapa yang dimaksud Sekar, tentu Diva. Ini sudah hampir 6 bulan sejak Zul dan Diva akhirnya berpisah, sejak saat itu Zul bahkan tidak tahu kabar Diva.


"Abang sepenuhnya milik adek, baik itu jiwa ataupun raga"


Sekar hanya diam mendengarnya. Zul tidak menjawab secara mantap pertanyaan Sekar, jawaban Zul yang terkesan abstrak terkadang menjadi keguncangan dipikirannya.


"Kita pergi sekarang?"


"Oke"

__ADS_1


Zul menuntun Sekar menuju mobil. Zul akan mengantarkan Sekar ke stasiun kereta api, sedangkan Zul malam ini akan berangkat ke Samosir untuk bertugas. Sebelum berangkat ke stasiun, tanpa sepengetahuan Zul, Sekar menghapus semua aplikasi sadap di hp Zul. Sekar memilih melepaskan Zul pelan-pelan. Sekar memilih untuk berdamai secara total dengan Zul. Jika suatu saat Zul kembali mendua, maka Tuhan akan memberitahukannya.


__ADS_2