
"Va, nanti malam temenin aku yuk" ajak Wulan saat mereka tengah berada di kantin kampus. Ini sudah bulan ke 7 sejak Diva memutuskan pindah dari kota kelahirannya.
"Mau kemana?" ujar Diva tak begitu antusias.
"Ada acara malam puisi di Cafe Kembar, dan aku salah satu pengisi acaranya. Ya sebenarnya banyak sih temen yang lain, cuma kan Va, aku tuh pengen ngajak kamu. Biar kamu nya juga ada temen disini, jangan aku aja"
"Memangnya aku gimana banget sih, Lan?" Tanya Diva heran.
"Ya kamu kuper. Kalau nggak dikampus, di kost, kampus, kost, itu-itu aja. Bahkan kamu juga nggak niat nyoba buka hati"
Perkataan Wulan ada benarnya. Selama memutuskan untuk pindah, Diva hanya menghabiskan waktu untuk mengajar dan berdiam diri di kost. Diva terlalu enggan keluar dan menikmati malam seperti yang diucapkan Wulan.
"Sampai kapan sih Va, kamu nutup diri terus. Kamu juga harus buka diri, cari pengganti Haris. Diluar sana banyak loh dosen-dosen muda yang ngincer kamu. Kamu malah nutup diri"
Diva hanya diam mendengar nasihat Wulan. Benar adanya, selama Diva mulai mengajar di Kampus Bima, tak sedikit dosen pria yang berusaha mendekati Diva. Diva pernah mendengar dari Wulan, mereka sampai mengadakan perlombaan siapa yang berhasil mengambil hati Diva. Saat itu Diva hanya merasa aneh, bagaimana mungkin mereka berbuat demikian, konyol.
"Wajar dong, Va mereka gitu. Gimana coba mereka nggak jatuh cinta. Diva Arimbi, dosen berprestasi di FKIP. Cantik, tinggi, terus pinter, pasti banyak yang demen. Mereka sampai nggak peduli status kamu yang janda"
Itu adalah argumen Wulan saat Diva bertanya mengapa dosen Kampus Bima sampai melakukan hal konyol demi mendapatkannya. Dan kini, sekali lagi Wulan masih berusaha membujuk Diva agar mau ikut dengannya.
"Nanti aku kenalin kamu sama temen-temen aku. Mereka pasti nyambung kalau ngobrol sama kamu, apalagi kalau kamu mau ikutan baca puisi" ujar Wulan.
"Males ah, Lan. Aku nggak pengen" tolak Diva.
"Astaga Diva,,, kamu itu aku ajak senang-senang bukan diajak mau bunuh orang. Susah banget sih kamu keluar sangkar!" Pekik Wulan.
Diva langsung menutup mulut Wulan agar tidak berbicara dengan nada tinggi lagi, "Apaan sih Lan. Malu kalau dengar mahasiswa kita"
"Biarin, asalkan kamu mau ikutan, aku nggak peduli"
__ADS_1
Diva menghela napas panjang,"Ya sudah, ntar aku ikut. Tapi, kamu jemput aku ya"
"Siap bos"
Diva hanya pasrah saat Wulan mengenalkan dia secara berkeliling pada teman-teman Wulan. Tak ingin banyak bicara Diva hanya tersenyum saat Wulan bercerita histeris tentang Diva pada teman-temannya. Bingung harus menanggapi bagaimana, yang Diva tahu ia hanya ingin diam dan berharap acara ini segera selesai agar Diva bisa langsung tidur.
tanpa Diva sadari ada seseorang yang mengamatinya dengan tatapan dalam.
•••
Sedari Wulan memasuki cafe kembar, Zul mulai memperhatikan seseorang yang dibawa Wulan. Bukan hanya tentang cantik dan mempesonanya gadis itu, tapi tentang mata gadis itu yang menyimpan kalut yang dalam.
Zul memperhatikan Wulan yang memperkenalkan temannya pada mereka yang sudah lebih dulu hadir. Hingga sampailah Wulan pada Zul.
"Eh, Bang Zul. Katanya di Medan, kok sudah nyampe sini aja" celetuk Wulan.
"Iya,ternyata kerjaannya lebih cepat selesai dari perkiraan. Rezeky deh malam ini bisa gabung" Jawab Zul yang masih terus memperhatikan teman Wulan sekalipun gadis itu tidak memperhatikannya.
Zul kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Diva, "Zul" kata Zul sambil tersenyum sumringah.
"Diva"
Ada perasaan aneh yang menyelimuti saat itu juga saat melihat senyum Diva. Zul merasa senyum Diva bukanlah senyum yang sebenarnya, sekalipun senyum itu tampak manis, entah mengapa dimata Zul senyum itu justru menyimpan luka.
Ada terbesit ide gila dipikiran Zul saat menatap Diva, Zul ingin membuat Diva tersenyum tanpa beban. Zul ingin melihat senyum dan tawa Diva yang sebenarnya,dan Zul ingin membuat Diva merasa bahagia hingga mencipta tawa.
"Duduk disini aja, Lan. Kebetulan bangku ini kosong" tawar Zul pada Wulan dan Diva yang terlihat ingin mencari tempat duduk.
"Ya juga sih. Va, kamu duduk sini dulu ya. Aku mau bantu anak-anak yang lain nyiapin acara. Nggak apa-apakan?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Ambil waktu sebanyak mungkin" jawab Diva lembut.
Kini hanya ada Diva dan Zul berdua dimeja itu. Diva sama sekali tidak bicara dan hanya memandang kosong ke arah tak menentu. Sedang Zul, masih terus memandang Diva yang hampir tak menyadari telah dipandang lama.
"Ada dingin yang kamu cipta disini, dek"
Diva menoleh dan melihat ke arah Zul setelah mendengar ucapan Zul. Zul yang mencoba peruntungan bermain kata-kata pada Diva menunggu respon Diva.
"Sebab aku lupa bagaimana mencipta hangat itu kembali. Dan, aku tidak berniat belajar kembali mencipta hangat"
Zul menatap Diva dalam, mencari arti kata yang diucapkannya melalui manik coklat mata Diva. Diva lalu mengalihkan pandangan saat menyadari Zul terus menatapnya lekat.
"Jangan terlalu lama memandang, pandangan itu bisa melekat pada ingatan, dan akhirnya masuk ke pikiran" sindir Diva tanpa melihat Zul.
Zul hanya tersenyum mendengarnya, dan secara frontal mengatakan isi hatinya, "Ada tempat khusus penyimpanan dikepala, atas semua pertanyaan tentang sosok yang diam seakan membatu. Dan, mungkin tidak saat ini melontarkan pertanyaan itu, bagaimana kalau hari lain?"
Tawaran Zul hanya dibalas singkat oleh Diva, "Belum niat"
"Waw, jadi aku ditolak ni?" goda Zul sambil tersenyum usil, dan Zul bisa melihat kesan ketidaksukaan Diva terhadapnya yang justru membuat Zul semakin tertantang mendekati Diva.
"Tentu, siapa juga yang ingin berkelana bersama pria yang sudah menikah" jawab Diva tegas.
Zul menaikkan alisnya heran menyadari ucapan Diva yang tahu tentang statusnya.
"Tahu darimana?"
Diva menoleh dan tersenyum sinis pada Zul, "Tahu dari angin, bahwa di depanku ada sejenis buaya yang sedang mencoba mendekat"
Zul tertawa terbahak mendengar ucapan Diva hingga sekeliling mereka sontak melihat Zul yang sedang terkekeh. Zul tak menyangka Diva akan menjulukinya buaya padahal mereka belum ada sejam duduk berdua.
__ADS_1
Siapa sangka keputusan Zul untuk datang justru membuatnya bertemu dengan Diva. Perempuan yang mampu membuat hatinya bergetar. Tentu rasa itu pernah ia temui saat bersama Sekar, wanita yang kini menjadi istrinya selama 10 tahun terakhir.