Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Keputusan Sekar


__ADS_3

Sekar memandangi Zul yang sedari tadi tidak sadar sedang diperhatikan. Sekar dapat melihat kegelisahaan Zul. Terkadang Zul tampak sedih, sekalipun ia tertawa, Sekar tidak melihat kebahagiaan itu disana. Tapi Sekar masih merasakan kasih sayang Zul terhadapnya.


Sekar menyentuh bahu Zul dengan lembut, "Sudah bangun dari tadi bang?"


Zul mengambil tangan Sekar kemudian menciumnya. "Sudah dek. Tadi lihat sunrise, jadi stel cepat bangun deh".


Bohong, batin Sekar.


"Abang bangun pagi atau tidak tidur sama sekali?"


Zul hanya diam kemudian berbalik dan memeluk Sekar. Berharap pelukannya mampu mengalirkan ketenangan pada Sekar.


"Mandi yuk, terus kita jalan pulang. Lusa abang sudah masuk kantor" Zul menarik tangan Sekar namun Sekar menahannya.


"Kita harus bicara"


Sekar kemudian duduk di tepi tempat tidur hotel dan menunggu Zul untuk mendekat.


"Aku hanya ingin bertanya dengan baik-baik bang. Dan semoga aku masih bisa berpikir jernih tanpa mengandalkan emosiku. Abang selama ini masih kepikiran perempuan itu?"


"Sudahlah dek, jangan bahas itu lagi,,,"


"Jawab bang. Biar aku tahu harus gimana menyikapi kamu"


"Apa yang mau kamu sikapi dek. Kenyataannya adalah abang masih mencintaimu, abang masih bersamamu dan abang tidak ada keinginan melepasmu"


"Iya begitupun sama perempuan itu kan? Abang masih menyukainya dan tidak berniat untuk melepaskannya secara benar."


Dada Sekar naik turun menahan emosi dan airmata. Menyadari bahwa suaminya menduakannya dan tidak bermaksud memilih salah satunya membuat hati Sekar jauh lebih sakit dibanding Zul harus memilih.


"Abang mau menikahi dia?"


Zul tidak merespon.


"Jawab bang, abang mau menikahi dia?!"


"Jangan pertanyakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mampu menerima jawabannya Sekar!"


Sekar sontak terkejut. Zul bahkan jarang menaikkan suaranya apabila mereka sedang bertengkar, kali ini Zul melakukannya.


"Baiklah. Menikahlah dengan perempuan itu. Aku akan memberikan izin, tapi dengan syarat, sampai aku mati baik perempuan itu bahkan apabila kalian punya anak jangan pernah menginjakkan kaki dirumah keluarga abang apapun kondisinya. Dan apabila abang langgar, maka aku akan pergi dan jangan berharap kembali padaku!"


Sekar menatap tajam Zul. Sekar bisa merasakan bahwa Zul sedari tadi menahan emosi.


Memang, diantara mereka berdua hanya Zul lah yang mampu menahan emosi dan egonya. Sehingga ketika ego Zul muncul ingin mempertahankan Diva, membuat Sekar merasa tersakiti.

__ADS_1


"Adek serius atas ucapan adek?"


"Kenapa? Bahagia abang kan? Bukannya itu yang abang mau. Aku nggak peduli sama perempuan gatal itu, karena aku yakin dia tidak akan bahagia hidup bersama kamu!"


"Lalu, apakah adek juga tidak bahagia bersama abang?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan ini bang. Tak akan ku biarkan dia memiliki abang seutuhnya"


"Lalu setelah itu apa yang mau adek lakukan?"


Sekar menatap Zul sinis. "Kenapa? abang mau melindungi perempuan gatal itu?"


"Dek, jika kamu macam-macam nanti bisa ditindak secara pidana loh"


Sekar tertawa hambar, tak menyangka suaminya segila ini, "Apa gunanya kamu bang, kamu kan pengacara, seharusnya bisa menolong istrimu!"


"Jaga bahasamu dek, aku ini masih suamimu"


"Haah,,,jaga bahasa? Kamu saja tidak menjaga hatimu untuk ku bang. kamu tega berkhianat selama setengah tahun ini dariku. Kamu palsu, pembohong, egois, aku benci kamu. Bagaimana mungkin kamu tega mengkhianati aku sedang selama ini aku begitu mencintai kamu"


Sekar menangis meraung-raung, berteriak keras menumpahkan semua sakit dan perih yang dirasanya. 10 tahun pernikahan, ini adalah sakit yang teramat hebat diberikan Zul. Suami yang ia percaya tidak akan mendua justru mampu membagi cinta dan rasa pada perempuan lain.


"Apa hebatnya dia bang, sehingga abang bisa jatuh cinta padanya. Katakan padaku bang. Apa hebatnya perempuan itu sampai mampu kamu biarkan masuk ke kehidupan kamu, sampai kamu sanggup bela-belain dia, sampai kamu sanggup bohongi aku selama ini, jelaskan bang!!"


Memang benar Zul ingin menikah dengan Diva, tapi bukan begini caranya.


"Abang minta maaf dek"


Hanya itu yang mampu diurai Zul dari bibirnya.


^^^……^^^


"Kurang ajar!! Tidak tahu diri!!"


Pak Fikri melemparkan air ke wajah Zul yang saat itu datang untuk meminta izin menikah lagi.


"Berani sekali kamu datang kemari lalu bicara hal kotor seperti itu, haaaah?!! Apa kamu lupa siapa yang mendampingi kamu hingga jaya sekarang. Sekar!! dan sekarang setelah merasa sok sukses kamu mau berpoligami?! Sampai ayah mati, ayah tidak akan pernah menerima perempuan itu dirumah ini. Dia tidak akan pernah dianggap menjadi menantu dirumah ini!! Camkan itu!!"


Pak Fikri meninggalkan Zul, Sekar, dan Bu Aini diruang tamu begitu saja. Tidak seperti Ayahnya yang frontal, Bu Aini lebih tenang.


"Sekar, kamu yakin mengizinkan Zul berpoligami?"


"Yakin, Bu"


"Jangan main-main Sekar. Kenapa kamu tidak mencegah suami kamu berbuat salah. Kamu harus mengingatkan dia dengan tegas, sebab dia sudah melenceng dari jalannya"

__ADS_1


Merasa Ibunya memojokkan Sekar, Zul kemudian berkata, "Bu, ini bukan salah Sekar, ini salah,,,"


"Ya tentu ini salah kamu. Siapa bilang kamu tidak salah? Kamu pikir ibu akan belain kamu? nggak Zul. Kamu sudah menyakiti kami semua. Jadi kalau kamu masih mau terus menyakiti kami, lakukanlah ide gila mu"


"Bu, poligami dalam islam juga diperbolehkan bahkan negara juga mengatur UU nya. Aku tidak berbuat bejat Bu, dan pernikahanku ini murni bukan karena hal lain"


"Munafik kamu kalau kami bilang bukan karena hal lain" Sergah ibu Zul. "Pergilah, ibu sependapat dengan ayahmu. Kami dirumah ini tidak menerima menantu hasil poligami"


Tak lama kemudian giliran Ibu Aini yang meninggalkan Zul dan Sekar.


"Gila kamu ya bang" celetuk Sekar.


"Kenapa?"


"Haah, kenapa? kamu bahkan sampai membantah perkataan ibu agar ibu setuju kamu poligami. Kamu sadar nggak sih, aku ini masih istri kamu?!"


"Bukannya adek yang minta abang untuk minta izin juga ke Ayah dan Ibu"


"Waaw hebat ya perjuangannya. salut aku. Aku jadi penasaran gimana sih perempuan gatal itu sebenarnya, sampai kamu kehilangan akal begini" Sindir Sekar.


"Dia sama seperti perempuan lainnya"


"Tidak. Dia tidak sama. Dia bahkan tidak mampu mencari laki-laki baik justru mampunya merebut kebahagian orang saja"


Zul menyengit heran, "Jadi abang bukan laki-laki baik?"


"Baru sadar?"


"Serius, dek? selama ini aku memang kurang baik ya sama kamu? jadi selama ini kamu juga nggak anggap perjuangan aku ke kamu itu juga menunjukkan aku suami yang baik? Jadi kosong dong?"


Sekar menatap Zul tajam. Entan mengapa, semua kebaikan Zul hilang dimatanya saat tahu Zul sudah mengkhianatinya.


"Sebenci apapun kamu kepadaku, jangan lupa bahwa aku adalah suami kamu yang tidak pernah lalai melakukan tugasnya dengan baik. coba sebutkan keburukanku apa yang membuat kamu menyesal denganku selain aku yang menurut kamu berkhianat. Jangan habiskan pikiranmu untuk membenci aku ataupun dia, dek."


"Lalu, aku harus berlapang dada menerima semuanya?"


"Setidaknya aku tidak ingin kamu menjadi orang yang pembenci, dek. aku bertanggung jawab atas itu. Aku tidak ingin kamu berubah menjadi pribadi yang buruk"


"Jangan menceramahi aku bang, saat kamu sendiri juga berperilaku buruk," tukas Sekar.


"Kamu yang memilih untuk membiarkan rasa sakit itu muncul, dek. Dan bicara tentang perilaku buruk, aku rasa mencintai bukanlah perilaku buruk. Sama seperti aku ke kamu yang bertekad untuk membuatmu bahagia"


Sekar mendekati Zul sehingga jarak antara mereka menipis, "Tinggalkan perempuan itu, maka aku akan bahagia"


Sekar kemudian meninggalkan Zul sendirian. Merasa pembicaraan mereka tidak akan ada habisnya, sebab Zul masih kuat dengan tekad awalnya, yaitu menikah dengan Diva.

__ADS_1


__ADS_2