
Perjalanan menuju kampung halaman Diva terasa bergitu cepat, saat Diva sepanjang jalan yang khawatir memikirkan reaksi orangtuanya. sebelum Diva pulang, Diva sudah mengatakan pada orangtuanya tentang hubungan ia dan Zul. Sesaat setelah cerita panjang, reaksi sang ayah hanya meminta Diva untuk pulang terlebih dahulu. Diva hanya setuju dan memutuskan untuk pulang.
"Perlu abang temenin?" Tanya Zul tadi sebelum Diva berangkat.
"Nggak usah bang. Aku nggak lama kok. Mungkin ada baiknya selama aku pergi,abang cerita sama Kak Sekar tentang rencana abang"
"Sekar tidak akan terima dek. Tapi abang hanya jujur sama bapak dan mamak saja. Abang belum berani cerita sama yang lainnya" jawab Zul.
"lalu, apa jawaban bapak dan mamak?"
"Mereka marah. Terutama bapak. Bapak bilang abang kurang bersyukur padahal Sekar adalah orang yang baik. Tapi, abang bahagia bersama adek. Dan abang tidak ingin kita terlibat hal-hal yang diluar batas. Kita berdua adalah orang dewasa. Bahkan memeluk adek saja abang kadang takut. Takut jika ingin hal yang lebih"
Diva menatap mata Zul yang menerawang. Terselip kebingungan dalam dirinya. Antara keinginan dan kenyataan yang dihadapinya tidak sesuai dengan apa yang direncanakannya.
"Dek, abang memang egois jika meminta adek menikah secara siri dengan abang. Abang tahu mungkin adek beranggapan abang tidak memahami posisi adek. Tapi abang juga nggak mau status adek hanya sekedar kekasih saja. Abang ingin status adek jelas dimata agama,dek"
Diva menghela napas panjang kemudian membelai rambut Zul yang hitam. Betapa tampannya Zul. Rambutnya yang hitam lebar, bersanding dengan alis matanya yang juga hitam penuh. Saat Zul tersenyum, rasanya begitu menyenangkan.
Sesaat Diva merasa bahagia, menyadari bahwa hadirnya mampu memberikan kebahagiaan pada kehidupan Zul. Menyadari bahwa hari-hari Diva selalu diperhitungkan oleh Zul.
"Dek, abang ingin membangun mimpi. Dan abang ingin jalan menuju mimpi itu ada kamu dan Sekar. Ya anggap abang memang egois. Tapi abang seperti menemukan tujuan baru dalam hidup,membahagiakan kalian berdua. Banyak hal yang ingin abang lakukan bersama adek, dan itu adalah mimpi terbesar abang" ujar Zul penuh harap.
"Mengapa harus aku bang?" Pertanyaan ini kerap Diva ulang-ulang.
"Abang nggak punya alasan apapun. Entah karena apa. Yang abang tahu begitu melihat kalian berdua, semangat abang bertambah. Dan rasanya semakin bersyukur kalian berdua sama-sama menyayangi dan mencintai abang."
Diva kemudian mengelus pipi Zul, "Aku memang bahagia bersama abang. Aku percaya pada abang. Maka dari itu selangkah demi selangkah akhirnya aku mendekat pada abang. Berpijak pada rasa, aku tanpa ragu menyambut uluran tangan abang. Abang memberikanku semua rasa bahagia hingga aku lupa cara melepaskan"
Zul lalu mencium kening Diva, hal yang kerap dilakukan Zul. "Kalau begitu jangan terpikir mencari cara melepaskan."
"Bukankah itu sulit?" ujar Diva sambil menyandarkan kepalanya dipundak Zul.
__ADS_1
"Sulit bukan tidak bisa kan?"
"Bicara tentang sulit, aku paling ahli menahan sakit tapi setidaknya saat abang juga tidak menyakiti, mungkin aku akan baik-baik saja" Jawab Diva.
"Ada rasa yang harus dijaga, selagi rasa itu ada, jauhlah kata menyakiti. Tapi dek, adek apa kuat berada dijalan itu?" Diva melihat mata Zul yang sepertinya khawatir.
"Abang takut?" tanya Diva lembut.
"Iya, abang takut menyakiti adek. sebab jalan itu tidak mudah"
Diva tersenyum simpul, "Asal abang tetap berada di pihak ku, sepertinya aku akan baik-baik saja"
Zul kemudian menarik Diva kedalam pelukkannya, dan Diva membiarkan Zul memeluknya dengan erat. Sebab Diva juga menyukai pelukkan itu. Saat ini yang Diva tahu adalah membuat Zul nyaman dan bahagia bersamanya. Hanya Zul yang dikepala Diva. Tidak masalah saat Diva harus menahan sakit, asalkan Zul tertawa bahagia bersamanya itu sudah lebih dari cukup.
Setelah menempuh 3 jam lebih, sampailah Diva di Kisaran, kota kelahirannya. Diva langsung masuk dan mengucapkan salam lalu mendapati ayahnya sedang menonton tv.
"Loh, kok nggak bilang sudah nyampe. tahu tadi ayah jemput sajakan" celetuk ayah Diva.
"Anakku satu ini. Sini dulu Ayah peluk. Ya Allah, rindunya Ayah, Nak" Diva membiarkan ayahnya memeluknya lama. Diva tahu jarang-jarang sang ayah meluapkan perasaannya. Sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara,Diva memang bukan tipe anak yang manja.
"Kamu jumpain ibu kamu dulu. Dia lagi dibelakang, biasa ngerumpi sama tetangga. Setelah itu kamu mandi terus istirahat. Sini, biar kopernya Ayah masukkan ke kamar kamu"
Rasanya menyenangkan sudah lama Diva tidak merasakan kehangatan Ayahnya, terhitung sejak Diva memutuskan untuk pindah ke Rantauprapat. Kini walau sebentar, Diva ingin menikmati kesempatan waktu yang Tuhan berikan padanya.
Diva mendapati Ibunya sedang berkelakar bersama tetangga, dan kegiatan itu terhenti saat Ibu Diva menyadari Diva sudah sampai.
"Ya ampun, sudah daritadi kamu nyampe va?" ujar Ibu Diva sambil memeluk Diva.
"Barusan, Bu. Tadi juga sudah ngobrol sama Ayah kok"
"Ya sudah mandi dulu, lalu istirahat.Atau mau ibu buatkan teh?"
__ADS_1
"Boleh, Bu. Tapi bawa ke kamar aja ya Bu,," pinta Diva.
"Iya, nanti ibu bawakan. Sana mandi"
Diva memasukki kamarnya dan mulai bersiap untuk mandi, melepaskan semua rasa gundah gulana dihatinya dan berusaha untuk fokus.
Rasanya begitu sulit bersikap tenang saat dirinya sedang dilanda rindu. Baru kali ini, rindu itu terasa menyakitkan, baru kali ini rindu itu terasa menyesakkan. Terlebih saat menyadari, rindu ini tidak bisa diobati kapanpun Diva mau. Diva harus belajar menahan. Menahan rindu, menahan rasa, dan mungkin menahan tangis.
"Va, mandinya jangan lama-lama. Nanti masuk angin loh" Seru Ibu Diva dibalik pintu.
"Ya bu"
Diva keluar dari kamar mandi dan mendapati Ibunya menatap Diva. Sambil mengenakan pakaiannya, Diva bertanya "Apa sih Bu. Lihatnya gitu banget. Iya deh tahu, anakmu ini jarang pulang. Maaf ya Bu" Diva lalu memeluk Ibunya dari samping.
"Jangan dilanjutkan, Nak. Itu akan menyakitkan untukmu"
Diva tahu kemana arah pembicaraan ini. Sebab sebelumnya Diva sudah cerita.
"Ayah dan ibu ingin kamu bahagia, tapi tidak dengan cara merebut kebahagian orang"
"Merebut?" Ujar Diva heran, "Bu,aku sama sekali tidak merebut loh. Mereka masih bahagia, mereka masih selalu bersama, masih satu ranjang,masih berbagi rasa. Dari segi mana aku ngerebutnya, Bu?" ujar Diva memelas.
"Okelah Diva memang tidak berpikir merebut. Tapi pernahkah Diva rasakan menjadi istri Zul. Diva sendiri, jika ayah selingkuh dari Ibu, apakah Diva nggak marah? Zul berselingkuh dari istrinya, ke depannya dia juga bisa selingkuh dari kamu, Va"
Diva memang tahu, perbuatannya tidak akan mendapat restu dari orangtuanya.
"Ayah dan ibu sudah melupakan kekecewaan kami karena perceraianmu dengan Haris. Tapi ayah dan ibu juga tidak ingin putri kami justru merusak kebahagian orang lain. sampai kapanpun, Zul tidak akan menceraikan istrinya. dan kamu, sampai kapanpun tidak akan menjadi istri sah secara hukum." Ibu Diva menghela napas kemudian menatap Diva yang hanya tertunduk.
"Tapi, kami juga tidak menghalangi keputusan kalian. Ibu dan ayah sudah memberikan gambaran. Menjadi istri kedua itu berat,dan apakah kamu sanggup menjalaninya, Va? Ibu saja sudah sesak membayangkannya. Kamu dan Zul bukan anak kecil lagi yang kalah sama perasaan. Kalian adalah dua orang dewasa yang tiba-tiba kerasukan perasaan labil. Jika kamu memang tetap memilih menjadi istri Zul, itu adalah keputusanmu. Kamu yang tahu apa yang buat kamu bahagia, ayah dan ibu hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik. Tapi,jika bukan berarti ayah dan ibu merestui pernikahan kalian."
Riak airmata yang ditahan Diva sukses membasahi pipinya. Sedari tadi Diva sudah menahan airmatanya,namun tak sanggup terbendung. Kembali, semua keputusan ada pada Diva. Zul menyakinkan padanya tentang mimpi indah tentang kebahagiaan yang tentu dibalut oleh riak kerikil yang tidak sedikit. Keluarga Diva tetap tidak merestui hubungan mereka, dan memberikan hak pada Diva untuk memilih. Dan kini, Diva sudah mengambil keputusannya.
__ADS_1