
"Malam ini abang jemput ya. Jam 8 kita keluar"
Diva membaca pesan dari Zul yang dikirim melalui WA. Ini sudah seminggu sejak pertemuan mereka terakhir, dan saat itu juga Zul sama sekali tidak menghubungi Diva.
Tanpa bermaksud membalas pesan Zul, Diva melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan dering hp nya berbunyi terus.
"Kok nggak diangkat, Bu? siapa tahu penting loh" celetuk Bu Endah yang sempat melirik hp Diva sedari tadi.
"Lagi fokus sama tulisan, Bu. Entar juga dia capek sendiri"
"Kalau lagi berantem itu, jangan diem-dieman, kurang hot. Mendingan dibicarakan terus berpelukan deh" Diva tersenyum menanggapi ucapan Bu Endah. Sungguh hal yang tidak mungkin dilakukannya dengan Zul.
"Iya Bu, ntar saya omelin aja deh dia nya" tukas Diva.
"Lebih baik begitu, Bu. Capek yang merajuk-merajuk. Lebih baik bicara lalu cari solusinya. Terus mesra-mesra lagi deh"
Jika bukan karena sudah memahami bagaimana genitnya Bu Endah, pasti Diva sudah mencak-mencak sebab Bu Endah bersikap sok tahu. Tapi Diva memilih diam dan fokus pada karya ilmiah yang sedang dikerjakannya.
Diva hanya berharap segera pulang dan istirahat, urusan Zul sama sekali tidak dipikirkannya. Hingga saat ini, Diva sama sekali tidak habis pikir Zul sudah menjemputnya di kampus.
"Kok kemari?" tanya Diva sesaat setelah memasuki mobil Zul.
"Soalnya abang wa, adek sama sekali nggak respon. Jadinya abang inisiatif kemari deh" jawab Zul santai.
"Jangan sering-sering jemput aku bang. Aku nggak mau orang salah paham tentang hubungan kita berdua" ucap Diva lirih.
"Mmhh boleh nggak saat ini kita bahas tentang kita saja. Kalau adek nggak keberatan kita di kost adek ngobrol"
Diva berpikir sejenak memikirkan permintaan Zul. Diva sama sekali tidak pernah membawa tamu ke kostannya. Sekalipun pemilik kost sudah memberi izin, tapi Diva sama sekali tidak pernah melakukannya.
"Mau ngobrol apa?" tanya Diva
"Tentang abang"
"Penting?"
"Sangat"
"Dari 0-100?"
__ADS_1
"100"
"Ya sudah kalau begitu" ujar Diva mengalah.
setelah sampai di kost Diva, Diva melihat Zul yang hilir mudik dengan matanya melihat sekeliling kost Diva.
"Berapa sebulan dek?"
"400. Lain tagihan listrik sih" Diva meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Zul. Dan menatap Zul menunggu hal yang ingin dibicarakan Zul. Tapi bukannya kata yang diterima Diva justru Zul memeluknya dengan teramat erat.
"Ah,,leganya. Rasanya lelah batin selama seminggu ini hilang," Diva sontak terkejut dan bingung mengapa Zul berkata demikian, yang lebih tidak dipahami Diva adalah Zul memeluknya dengan erat.
"Bang, apaan sih. Lepasin!" ujar Diva sambil berusaha melepaskan pelukkan Zul.
"5 menit, biarkan 5 menit kita seperti ini. Ya,,,?" mohon Zul sambil tetap memeluk Diva.
Diva hanya diam tak bergeming, Lalu membiarkan Zul memeluknya dengan erat. Sesekali Zul mengusap kepala Diva yang entah mengapa hal itu justru membuat Diva nyaman. Diva tahu, 5 menit sudah berlalu tapi rasanya tak rela melepaskan pelukkan senyaman ini.
"Maaf,"Ujar Zul pada posisi masih memeluk Diva.
"Tentang?"
"Seminggu ini nggak ada kabar"
Zul melepaskan pelukkannya dan menatap Diva dengan lembut. "Ya bagi abang itu adalah suatu kesalahan."
"Kenapa abang merasa bersalah?" tanya Diva.
Zul hanya terdiam, lalu menjawab "Selama seminggu ini abang berpikir tentang diri abang. Sejak terakhir kita bertemu ada yang aneh yang abang rasakan. Abang bahkan tahan berlama-lama memandang foto profil wa adek, rasanya itu membuat semangat. Seminggu abang coba berhenti memikirkan adek ataupun berpikir untuk menghubungi adek, nyatanya abang gagal"
Zul menghela napas panjang kemudian meraih tangan Diva, "Katakan pada abang, apa yang salah pada diri abang? Karena saat ini abang teramat bahagia bersama adek, dan sepertinya abang mulai sayang sama adek."
Jantung Diva terasa berdebar kencang saat menerima pernyataan sayang dari Zul. Disisi lain Diva bahagia sebab ada seseorang yang menyayanginya dan seseorang itu bahkan mengatakan dirinya bahagia karena Diva. Tapi, menghadapi kenyataan bahwa pria yang menyatakan perasaan itu sampai kapanpun tidak akan pernah dimilikinya secara utuh membuat hati Diva mendenyut sesak.
Diva menarik tangannya yang dipegang Zul. Lalu tersenyum simpul.
"Sebaiknya abang berhenti memiliki perasaan itu bang. Ini nggak baik. Abang harus mikirkan perasaan istri abang dan memikirkan dampak bagi perkerjaan abang jika abang terus begini. Aku nggak mau jadi penyebab hancurnya hubungan rumah tangga abang ataupun pekerjaan abang" Tegas Diva.
Zul menunduk dalam kemudia sesekali menarik napas panjang. Berharap sesak didadanya sedikit berkurang jika ia berbuat demikian.
__ADS_1
"Bagaimana jika abang gagal? Nyatanya aku menyayangi kalian berdua. Serakah bukan? Tapi perasaan ini nyata dek, ini bukan bohongan. Bahkan abang ingin setiap harinya kita berdua mengurai kisah tentang rasa, abang ingin melindungi,membahagiakan kamu,dan ingin selalu melihat tawa bahagia dari adek. Hanya sesederhana itu keinginan abang dek"
Diva menatap Zul bingung, "Itu tidak sederhana bang. Itu besar. Abang tahu apa dampaknya pada diriku? Akhirnya aku akan nyaman, aku akan bahagia dan aku harus dibenturkan lagi pada tembok kalau semua itu hanya fatarmoga halusinasi,kenyataannya aku tidak bisa memiliki abang seutuhnya!"
"Dek, hidup kita ini bukan milik kita dek. Abang juga bukan milik siapa-siapa, abang cuma milik Tuhan. Baik itu istri, orangtua, bahkan nyawa abang bukan milik abang loh dek. Itu semua milik Tuhan. Di dunia ini sejatinya tidak ada yang milik kita, dek"
"Iya, aku paham, itu adalah hakikatnya bang, tapi aku nggak bisa jadi simpanan abang. Dan aku juga nggak mau harus disebut sebagai pelakor!" Tegas Diva kembali.
Diva tahu, Zul berusaha menyakinkan Diva tentang perasaannya. Diva tahu, mata Zul mengatakan hal yang sebenarnya. Kenyataannya Diva juga mulai mencintai Zul,hanya saja perasaan itu selalu ditampik oleh Diva.
"Diva sama sekali tidak memiliki perasaan sama abang?"
Tanpa sadar, Diva mengigit bibir bawahnya. Ingin berteriak ditelinga Zul bahwa Diva juga memiliki perasaan yang sama. Tapi perasaan itu harus ditekan Diva karena Diva tidak ingin hubungan mereka merusak kehidupan Zul sebelumnya.
"Kenapa diam?" tanya Zul.
"Tidak, aku tidak ada perasaan pada abang" Jawab Diva sambil bergetak.
"Benarkah?"
"Iya"
"Akan abang buktikan"
Tanpa bicara banyak, Zul meraih wajah Diva dengan kedua tangannya, dan mencium bibir Diva dengan lembut dan dalam. Diva yang awalnya terdiam, justru berlahan menerima gerakan bibir Zul yang melekat dibibirnya. Tanpa sadar, Diva sudah merangkulkan tangannya dileher Zul dan mendekap Zul pada dirinya. Zul yang sepertinya paham, lalu memeluk Diva tanpa bermaksud melepaskan bibirnya.
"Bohong. Adek berbohong pada abang. Perasaanmu justru lebih besar. Abang mohon, jangan tahan perasaan itu dek." Zul menempelkan kening mereka berdua dan berkata lembut.
"Aku,,,aku takut bang" ujar lirih Diva "Perasaan ini salah"
"Tidak jika abang niatnya tulus dan baik"
"Maksud abang?" ujar Diva heran.
"Mari kita menikah"
Perkataan Zul yang mengejutkan membuat tubuh Diva merinding. Tidak menyangka pada apa yang diucapkan Zul terhadapnya. Mungkinkah mereka bisa menikah? bagaimana reaksi orangtua Diva saat mengetahui hal ini? bagaimana reaksi istri Zul jika tahu Zul menikah dengan Diva? Pernikahan Zul yang berumur 10 tahun dengan Sekar menjadi taruhan atau justru pekerjaan Zul yang susah payah ia bangun akan mendapat imbasnya.
"InsyaAllah semua baik-baik saja. Kita serahkan saja padaNya. setidaknya abang berniat baik pada adek, bukan niat yang buruk"
__ADS_1
Diva tidak tahu harus berkata apa. Di kepalanya berkecamuk segala ketakutan dan pertanyaan tentang masa depan. Namun entah mengapa, Diva merasa bahwa bersama Zul semua akan baik-baik saja. Sebab Diva percaya penuh pada Zul. Hanya saja,sanggupkah Diva menjalani peran istri kedua, yang harus belajar menahan dan memahami bahwa suaminya tidak akan selalu ada untuknya. menjadi istri kedua juga tidak mudah, siap segala resiko suami akan selalu pulang pada istri pertama bagaimana pun. sanggupkah Diva menjalani peran itu.
Diva menyadarkan kepalanya saat Zul memeluknya kembali. Ingin rasanya melepaskan semua kegundahan hatinya dengan bersandar pada Zul.