Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Mendung


__ADS_3

"Kalau bisa diberi minum air kepala campur madu, itu juga bisa menurunkan demam. Biar tidak fokus pada obatan saja. Lalu perbanyak air putih dan kompres pakai air hangat, usahakan istirahat total dulu sebab tensi Pak Zul 90"


Sekar dengan seksama mendengarkan penjelasan Siska, Bidan tetangga yang dipanggil Sekar untuk memeriksa Zul. Sebab sedari subuh, suhu tubuh Zul tidak turun. Zul mengalami demam tinggi yang terkadang menggigil.


"Ini obatnya Bu, saya sudah tulis berapa kali harus dimakan. Ibu pastikan saja Pak Zul mengonsumsinya"


"Makasih ya sis, maaf pagi-pagi gini merepotkan kamu"


"Nggak apa-apa Bu, lagian Bu Sekar tadi juga panik banget" jawab Siska lembut. "Kalau gitu, saya permisi dulu ya bu."


"Iya sis, makasih ya"


Sekar mengantar Siska sampai depan pintu rumah lalu kembali ke kamar. Zul masih terbaring lemas dan hanya memandang Sekar tanpa ekspresi.


"Aku buatkan bubur dulu ya. Biar minum obat" Zul hanya memainkan matanya pertanda setuju atas ucapan Sekar. Kemudian Sekar ke dapur, namun ia tidak langsung memasak.


Sekar duduk di bangku meja makan, teringat kembali bagaimana subuh tadi ia dikejutkan dengan tangisan Zul.


"Va,,,jangan pergi Va. Diva,,,hiks,,hiks,,,hiks,,,maafkan abang Va,,,please"


Iya, Zul bermimpi tentang Diva dan tanpa Zul sadari mimpi itu membuatnya menangis dan menyebut nama Diva. Sekar yang disamping hanya diam sambil menahan suara tangis juga.


Entah mulai darimana Zul mulai sedikit linglung. Mulai dari tiba-tiba terbengong setelah memecahkan gelas, lupa akan barang-barang yang mau dibawa, emosi di tempat kerja yang terkadang tinggi, hingga akhirnya sekarang Zul sakit dan menyebut nama Diva dalam mimpinya.


Sekar terkadang bertanga ada apa, dan jawaban yang selalu diterima Sekar adalah tidak ada apa-apa. Sikap Zul terhadap Sekar memang tidak berubah. Zul tetap manis, perhatian, dan lembut seperti biasa. Yang tidak biasa adalah Zul tahan duduk diam memandang halaman dengan tatapan kosong.


Bukan Sekar tidak khawatir, tentu khawatir. Sekar terkadang mengajak Zul jalan-jalan, makan diluar atau melakukan aktivitas banyak. Tapi tetap, senyum Zul berbeda.


Dan pagi ini, Zul menjawabnya dengan menyebut nama Diva didalam mimpinya.


Sambil memasak Sekar memeriksa ponsel Zul yang sedari tadi ditangannya. Mencoba mencari nomor yang kemungkinan adalah nomor Diva. Sekar yakin Zul masih menyimpan nomornya, namun berulang kali Sekar memeriksa, jejak Diva tidak ditemukan disana. Sekar meletakkan kembali ponsel Zul, lalu berpikir untuk apa dia mencari nama Diva? menghubungi Diva? tapi untuk apa? marah? memaki? tapi apakah itu akan membuat hatinya lebih baik?


"Lebih baik aku fokus sama Bang Zul saja dulu"


Sekar kemudian meletakkan bubur dipiring kemudian menghampiri Zul yang lagi-lagi diam termenung dengan tatapan kosong.


………


POV Zul


Aku hanya bisa pasrah ketika Siska menyuntikkan obat ke tubuhku. Entahlah, kata Siska agar aku segera pulih dan kembali beraktivitas. Aku cuma diam tak bergeming ketika dia menjelaskan panjang lebar tentang kondisiku. Aku justru lebih tertarik pada hujan diluar sana. Ada cerita indah dibalik hujan yang turun, bukan bersikap romantis tapi itu adalah kejadian lucu, tentu lucu bagiku.


flasback


*Zul sengaja membawa Diva ke kantornya. Ini hari minggu kebetulan Zul sedang melakukan persiapan akhir untuk berkas yang akan dibawanya sidang. Karena Diva juga tidak ada kesibukan, Zul "menculiknya" dan membawanya ke kantor. Tentu dengan proses penyuapan yang banyak, seperti jajanan yang harus tersedia banyak di kantor Zul.

__ADS_1


Saat Zul sedang menyiapkan kerjaan, tiba-tiba diluar hujan deras. Diva yang duduk dekat jendela kemudian membuka pintu samping. Kantor Zul memilih teras tersendiri yang tidak terlihat dari luar. Sehingga Zul merasa aman membawa Diva ke Kantornya.


Sekilas Zul melihat Diva yang sudah diteras sambil menjulukan tangannya ke arah air hujan yang jatuh dari atap kantor.


"Mau mandi hujan?" Tanya Zul


"Boleh?"


"Boleh aja sih, tapi entar pulangnya naik becaknya. Adek kan nggak bawa baju, abang nggak mau mobil abang basah gara-gara adek" Ancam Zul sambil tersenyum. "Atau gimana kalau adek nggak perlu pakai baju pas mandi hujan?" Zul memainkan matanya sebelah sambil melihat Diva.


"Dasar mesum"


"Sekedar saran, diterima ya bagus. Nggak diterima ya sudah*"


Diva kembali ke dalam ruangan Zul dan duduk sambil menghadap jendela yang menampilkan ribuan hujan. Saat sedang menikmati hawa beku yang dihantarkan hujan, Diva merasakan Zul memeluknya dari belakang sambil membelai rambut Diva dan juga terkadang mencium kepala Diva.


"Masih pengen mandi hujan?" Tanya Zul lembut.


"Nggak ah, dingin"


"Entar abang hangatin"


"Idiih"


"Iya deh yang pakai indomie"


Zul memeluk erat tubuh Diva kemudian tiba-tiba


"Eh apaan sih bg. Turunin nggak" pekik Diva terkejut saat Zul tiba-tiba mengendongnya.


"Yuk mandi hujan"


"Tapi nanti mobilnya,,,"


"Kita ganti baju nanti"


Zul mengendong Diva ke depan teras dan membawanya berputar-putar. Diva tertawa riang diatas gendongan Zul. Zul kemudian menurunkan Diva kemudian memeluk Diva dengan erat.


Zul membiarkan setiap tetesan air hujan mengalir disetiap inci kulit mereka. Memandang dengan lekat wajah Diva yang selalu mampu hadir memberikan warn tersendiri di kehidupan Zul. Ada dunia lain yang ditawarkan Diva padanya, dan dunia itu terlalu indah untuk dilepaskan Zul.


Zul mengecup setiap wajah Diva, dan membiarkan Diva melakukan hal yang serupa padanya. Mereka berdua kemudian tertawa renyah diantara hujan yang hadir. Hujan boleh saja membasahi bumi, tapi Zul dan Diva justru menabur bahagia ditengah bumi yang basah karena hujan.


"Kita masuk? Biar abang buatkan indomie,,hmm?"


"Yuk"

__ADS_1


Saat Diva dan Zul mau kembali ke kantor, tiba-tiba sendal Diva putus dan akhirnya Diva terjatuh. Bukannya menolong Diva, Zul malah tertawa melihat Diva yang jatuh diatas lumpur. Dan tentu saja, pakaian Diva yang awalnya hanya basah karena hujan kini harus kotor karena lumpur. Moment romantis seketika menjadi moment kelakar.


……


"Gimana badannya bang?" Tanya Sekar.


"Sudah mendingan"


"Mau dibuatkan sesuatu?" tawar Sekar


"Nggak sih, cuma abang pengen kelengkeng. Dirumah ada stok kelengkeng?"


"Nggak ada bg. Mau aku belikan bentar? Dekat pertigaan itu ada jual sepertinya"


"Boleh deh, nggak apa-apakan?"


"Ya nggak lah, sebentar ya"


Sekar kemudian mengambil payung dan bersiap keluar. Memanggil becak yang kebetulan lewat tepat di depan rumahnya. Toko buah yang dimaksud Sekar tidak begitu jauh, jarak tempu hanya sekitar 5 menit saja. Sekar meminta pengendara becak untuk menunggunya sejenak, toh Sekar hanya membeli kelengkeng saja.


"Berapa kelengkengnya 1Kg bu?"


"52.000 dek"


"Kalau gitu saya beli,astagaa,,,,"


Tanpa sengaja Sekar menjatuhkan tumpukkan apel yang dekat dengannya. Ini akibat sifat terburu-burunya yang membuat Sekar langsung panik. Dibantu pembeli lainnya, Sekar memunguti apel yang berjatuhan.


"Sedang terburu-buru ya kak?" tanya pembeli yang ikut membantunya merapikan apel.


"Iya kak, suami saya sedang sakit."


"Semoga lekas sembuh"


"Amiin" Sekar hanya tersenyum ramah saat perempuan yang membantunya mendoakan Zul. Ada rasa mengelitik dihati Sekar saat wangi aroma tubuh perempuan itu mampir di hidungnya. Entah dimana Sekar merasa pernah mencium aroma parfum ini. Sekar memandang dalam perempuan itu kalau-kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi, perempuan itu tidak ada dalam ingatan Sekar.


Merasa tidak menemukan apapun, Sekar akhirnya kembali ke rumah sebab yakin Zul sudah menunggunya. Itu yang dipikirkan Sekar sesaat belum sampai dirumah. Nyatanya ketika Sekar sampai dirumah, ia mendapati Zul menangis sambil menyebut nama Diva.


Iya tangisan itu sungguh pilu. Zul memeluk erat guling seakan guling itu adalah Diva. "Ya Allah, aku merindukan Diva. Astagfirullah bantulah hamba Ya Allah" berulang- ulang kalimat itu diucapkan Zul sambil terus menangis. Seakan Zul sudah habis tenaga dalam usahanya untuk melupakan Diva.


Sekar hanya diam membatu dibalik pintu kamar mereka. Membiarkan Zul terisak adalah jalan agar sesak di dada suaminya hilang. Sekar pernah merasakan rindu yang begitu hebat untuk Zul, namun rindu itu terobati karena mereka bertemu. Apa yang sekarang terjadi pada Zul tentu lebih menyakitkan. Zul merindukan Diva namun Zul tidak akan pernah bertemu dengan Diva.


Sekar mematikan perasaan kasiannya pada Zul. Tentu disini Sekar adalah orang yang paling tersakiti. menerima kenyataan suami yang dianggapnya setia justru berkhianat, belum lagi menerima bahwa suaminya hanya meninggalkan raga selingkuhannya saja. Hati dan pikiran Zul justru masih menyimpan dengan baik nama Diva.


Sekar tidak ingin kalah pada seseorang yang baru hadir dihidup Zul. Dibanding Diva, Sekar justru jauh lebih lama berjalan disamping Zul. Sekar harus kuat mempertahankan rumah tangganya, mempertahankan suaminya, karena Sekar yakin Zul tidak akan pernah meninggalkannya demi Diva.

__ADS_1


__ADS_2