Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Kosong


__ADS_3

Prang,,,,


Gelas yang di pegang Zul tiba-tiba terlepas dari tangan Zul. Sekar yang sedang menonton di ruang tv berlari dan melihat Zul hanya terbengong melihat serpihan gelas yang bertaburan di depan Zul. Terlihat sorot kosong di mata Zul dan untuk sekian detik Zul seakan tidak menyadari apa yang baru terjadi.


Sekar kemudian mengambil sapu dan sekop untuk membersihkan serpihan kaca dan membiarkan Zul yang masih terdiam.


"Maaf,,," Ujar Zul pelan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ini hanya gelas, masih,,,,"


"Maaf,,," Ujar Zul kembali memotong ucapan Sekar. Sekar menatap Zul yang melihat ke arah lain. Dan mengejutkan Zul menangis.


"Maaf,,,,maafkan aku Sekar. Maafkan aku, maafkan aku sekar,,, Maafkan aku,,," Tiba-tiba Zul terisak panjang sambil terduduk. Dan tangisan itu begitu pilu dan menyedihkan.


"Rasanya sesak Sekar, jantungku rasanya sesak. Aku harus apa Sekar,,,"

__ADS_1


Sekar terdiam kaku. Menyadari tangisan Zul bukan untuk dirinya membuat dada Sekar nyeri. Sekar baru menyadari bahwa Zul merindukan Diva. Bahwa Zul mencintai Diva, dan bahwa Zul sama sekali tidak mampu menyelesaikan perasaannya terhadap Diva.


Zul menepati janjinya untuk menyelesaikan hubungannya dengan Diva, bahkan untuk membuat Sekar percaya, Zul memasang GPS dan sistem penyadap di hp nya agar tersambung dengan Sekar. Sistem itu bahkan sampai detik ini masih tersambung di hp Sekar.


Namun Sekar lupa, Sekar hanya meminta Zul untuk melepaskan Diva secara fisik, namun hati Zul hingga saat ini masih melekat nama Diva. Dan hal itu yang sama sekali belum mampu Zul tepati.


Sekar menuntun Zul untuk membasuh wajahnya kemudian berbaring di tempat tidur. Tidak ada sepatah katapun dari Sekar, ia membiarkan suaminya larut dalam kerinduan dan tangis. Zul sama sekali tak menyadari, setiap tetes airmatanya bagai pisau yang mengiris hati Sekar.

__ADS_1


__ADS_2