Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Mimpi Baru


__ADS_3

"Ku titip rindu ini, pada angin malam yang bercengkrama. Dikala kita tak bersama, kala kita tak bersama kala kita tak berdua"


Lagu dari Manjakani berjudul Sabda Rindu mengalir lembut mengiringi perjalanan Zul dan Diva menuju Samosir.


Diva masih kesal terhadap tindakan Zul yang seenaknya membawa Diva begitu saja. Diva bahkan tidak membawa apa-apa untuk bekal pribadinya. Dan Zul dengan santainya mengatakan, "Di sepanjang jalan banyak toko kosmetik dan pakaian. Kita bisa berhenti dimanapun tempat adek mau. Jadi berhentilah protes kalau nggak abang cium adek"


Benar saja, mereka berhenti di toko pakaian dan kosmetik untuk membeli perlengkapan pribadi Diva. Zul mengabaikan raut wajah Diva yang cemberut kesal. Justru malah tanpa malu mencium keningnya dihadapan orang banyak.


"Biasa mbak, bawaan hamil jadi gampang sensi" Jawab Zul saat penjaga toko mengatakan Diva sepertinya merajuk.


"Hamil? Enak saja" gerutu Diva dalam hati.


Kini siang telah berganti malam, jalan yang dilalui mereka juga kian sepi sebab Zul mengambil jalur melewati PLTA mengarah ke Sigura-gura.


"Adek nggak rindu sama abang?" Tanya Zul memecahkan kesunyian mereka.


Diva masih memandang keluar jendela, lelah sebenarnya marah terhadap Zul. Terlebih ini pertemuan pertama mereka setelah berbulan tidak bertemu.


Diva akhirnya menolehkan wajahnya ke arah Zul, dan berlahan mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Zul dari samping.


"Tanpa dikata, abang pasti jauh lebih tahu bagaimana perasaanku sebenarnya"


Zul mengusap wajah Diva lembut, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Diva. Diva hanya mengecup pipi Zul kemudian tersenyum bahagia.


Diva berulang kali mengucap syukur atas pertemuan hari ini, kini sepanjang jalan terasa begitu menyenangkan. Mereka bercanda, mendengarkan musik sambil bernyanyi, saling memuji, sesekali Zul mengecup tangan Diva atau meminta Diva untuk sekedar memeluknya.


Pintu kebahagiaan bertabur tawa tetiba terbuka dengan menakjubkan, Zul yang awalnya hanya asing kini justru mendarah daging pada tubuh Diva. Semua tangis kecewa yang pernah terjadi menjadi mimpi lalu saja dimata Diva. Diva menyadari perasannya kepada Zul teramat besar, begitupun sebaliknya.


Zul mengesampingkan efek yang akan terjadi pada hubungannya dengan Sekar. Zul ingin menyakinkan Sekar, bahwa Diva bukan perempuan yang datang dengan maksud buruk. Zul bahkan mampu merasakan kasih sayang Diva yang besar padanya. Terlihat bagaimana cara Diva memperlakukannya dengan baik.


Walau Zul masih bimbang, apakah Sekar atau keluarganya mampu menerima Diva. Tapi bagi Zul, cukup sekali kehilangan Diva. Kali ini Zul bertekad, membawa Diva kedalam kehidupannya secara nyata dan benar.


Zul memakirkan mobilnya di Penatapan. Terlihat dibawa sana pabrik kertas masih beroperasi padahal jam menunjukkan pukul 3 pagi. Diva dan Zul keluar dari mobil menikmati cuaca dingin yang menusuk ke tulang-tulang.


Tapi semua itu tidak terasa bagi mereka. Sambil memandang hamparan pabrik dari atas, Zul memeluk Diva dari belakang.


"Terima kasih," ujar Zul.


"Untuk?"


"Sudah mencintai abang dengan baik"


Diva membelai lembut pipi Zul, "Terima kasih juga sudah memberikan aku ruang tuk mencintai abang"


"Adek nggak marah kan sama abang?" Tanya Zul hati-hati

__ADS_1


"Kenapa harus marah?"


"Ya siapa tahu kan?"


Diva membalikkan badannya lalu tersenyum melihat Zul, "Sekecewa apapun aku dengan abang, nggak akan mungkin marah. Karena lebih besar cintaku dibanding amarahku"


Dada Zul berdesir kencang mendengar penuturan Diva. Perasaan Diva yang lebih besar padanya membuat Zul tidak ingin membagi Diva pada siapapun.


"Dek,,,jangan terlalu dekat dengan Aji ya"


Diva menatap heran ke arah Zul, "Abang kenal Aji?"


"Dia sepupu Sekar."


"Oia,,,"


"Iya,,,dan abang lihat sepertinya dia mulai suka sama adek" ujar Zul khawatir.


"Suka gimana, Aji itu usil banget. Bayangin aja kemarin dia masukkin petasan dari jendela kamar ku, kan buat emosi. Eh malah dia ketawa-ketawa"


Zul bisa memahami pola Aji. Aji berusaha masuk melalui keusilan dan kekonyolannya melalui Diva.


"Ya pokoknya adek jangan dekat-dekat deh"


Kecemburuan tergambar dimata Zul. "Siap deh komandan" Diva memeluk Zul dengan senang, "Berangkat kita bang?"


Mobil pun kembali melaju menuju Parapat. Mereka akan menuju Samosir dengan naik Feri melalui Pelabuhan Ajibata.


Zul dan Diva sampai di Parapat tepat pukul 5 subuh. Udara dingin yang mencekat membuat Diva mendekatkan tubuhnya ke Zul. Rencananya mereka akan berangkat pukul 9 pagi. Masih ada waktu beberapa jam untuk tidur di mobil.


Zul bangun terlebih dahulu sebelum Diva. Diva masih tertidur disampingnya. Di pandangnya wajah Diva dengan lekat. Wajah yang kerap menghantui pikirannya, yang membuat ia berada dalam kebimbangan.


Sikap Diva yang tidak memaksa entah mengapa membuat Zul tetap ingin bersama Diva. Diva selalu mengatakan, dibanding raga Diva jauh lebih mengharapkan kasih sayang Zul. Bagi Diva materi bukanlah segalanya, tapi perasaan Zul terhadap Diva adalah hal penting.


Itu mengapa dimata Zul, Diva berbeda. Diva menginginkannya secara mendalam bukan karena hal lain.


Zul mencium kening Diva dan berusaha membangunkan Diva. Mata Diva berlahan terbuka.


"Selamat pagi sayang" ucap Zul lembut.


Diva membalasnya dengan senyuman, kemudian merapatkan tubuhnya ke Zul.


"Dingin?"


Diva mengangguk.

__ADS_1


"Kita berangkat jam 9, ini setengah 7. Gimana kalau kita cari sarapan kemudian berkeliling sebentar?"


"Oke"


"Tapi kita cuci muka dulu ya, biar seger"


Lagi-lagi Diva hanya mengangguk menjawab ucapan Zul. Lalu bergegas ke kamar mandi SPBU tempat mereka berhenti sejenak.


Setelah selesai barulah mereka berkeliling mencari sarapan. Tentu bukan hal mudah mencari sarapan di daerah yang lebih banyak non muslim dibanding muslim. Mereka harus berkeliling dari satu gang ke gang lainnya, dan akhirnya menemukan penjual lontong muslim.


Setelah sarapan, Zul mengajak Diva berkeliling kembali. Kini tujuan mereka adalah Pesanggrahan milik perkebunan Belanda yang pernah dijadikan rumah pengasingan Soekarno sekitar tahun 1949.


Tepat di depan tepian Danau Toba, Pesanggrahan masih berdiri kokoh dan megah. Bisa dikatakan Zul dan Diva adalah pengunjung pertama, sebab hari masih terlalu pagi untuk mengunjungi Pesanggrahan. Namun tak lama kemudian, beberapa orang terlihat sedang olahraga pagi.


"Keren kan, dek?" Tanya Zul sambil memeluk Diva dari belakang. Mereka membelakangi Pesanggrahan dan memandang jauh Danau Toba.


"Banget. Aku bolak-balik ke Parapat tapi nggak pernah terpikir singgah kemari"


"Oia?"


"Ehem,,,makasih ya bang"


Zul mengecup pipi Diva lembut, "Kita foto yuk"


Berbagai gaya yang mereka rekam bersama, tawa bahagia dan luapan kasih sayang mengalir deras diantara mereka berdua.


Danau Toba ikut menjadi saksi bagaimana mereka saling mencintai dengan sempurna. Mereka berusaha menebus semua rasa rindu yang kemarin belum terbayarkan. Semua sesak yang kemarin menggerogoti tubuh, kini berlahan menemukan obatnya.


Mobil berjalan kembali menuju pelabuhan yang akan membawa mereka ke Samosir. Selama denyut jantung berdenyut dengan selaras maka selama itu juga perasaan mereka terjalin dengan baik.


Ada benang merah yang kadung mengikat dengan erat diantara mereka berdua. Perjalanan ini akan menjadi jejak cerita tentang bagaimana mereka menuntaskan rindu.


Sekian lama masing-masing dari mereka mengetuk Tuhan dengan doa yang berbalut airmata. Dan akhirnya jalan cinta terbuka lagi dimata mereka. Entah itu akan membawa duka atau suka, Zul atau Diva seakan sudah siap menghadapi setiap moment di depan sana.


Perasaan itu tidak seperti batu yang sesuka hati dilembar ke tempat manapun. Perasaan mereka adalah sesuatu yang cara penempatannya dengan kehati-hatian.


Tentu, sekuat tenaga mereka mengubah duka menjadi suka walau bekas duka akan tertinggal dalam bentuk luka.


Zul meraih tangan Diva dan mengecupnya. Kini mereka sudah berada di kapal Feri yang sedang melaju membawa mereka ke Samosir.


"Kita akan buat mimpi baru disana"


"Mimpi?" Tanya Diva.


"Iya mimpi yang berlahan akan abang wujudkan"

__ADS_1


Diva menatap Zul heran, sebab Diva tidak mampu menyelami pikiran Zul. Tapi Diva berharap, apapun itu adalah hal baik.


__ADS_2