
Diva keluar dari ruang dosen dan bersiap untuk pulang. Rencananya hari ini Diva akan mampir dulu ke supermarket dekat kostnya untuk membeli kebutuhan pribadinya.
Diva menggerakan lehernya ke kiri dan ke kanan. Terasa sedikit pegal di bagian leher belakang, "Ah entar malam aja deh belanjanya, tidur aja deh nyampe kost" guman Diva.
Namun, kaki Diva terhenti. Melihat dengan seksama kembali seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya.
Zul duduk di mushola dekat pintu keluar kampusnya.
Pov Diva
Aku masih tidak menyangka apa yang aku lihat. Aku harus memantapkan pijakan kakiku agar tidak goyah ketika melihat dia yang namanya selalu menjadi tokoh utama dalam hidupku tiba-tiba hadir dengan senyumnya.
Setitik air mata jatuh begitu saja diwajahku. Rasa rindu dan bahagia bercampur sedih hadir pada hati yang memang sejak awal dimiliki Zul. Terlintas kembali bagaimana hari bahagia yang kami lewati, hari dimana penuh dengan debaran kasih dan sayang. Juga hari dimana akhirnya kami harus berpisah.
Aku tiba-tiba terbodoh, tidak sanggup melakukan apapun. Entah itu melangkah mendekat ke arahnya atau melangkah menjauh. Yang aku tahu, pertahananku hampir roboh.
Ya Tuhan, aku ingin memeluknya. Berlari dan mendekapnya dengan penuh cinta, tapi ada nama lain disana yang tidak boleh tersakiti kembali.
Melihat aku terdiam, akhirnya Zul mendekat. Selangkah demi selangkah Zul mendekatiku. Tidak, kamu tidak boleh datang bang, kamu jangan kemari. Bisa-bisa aku tidak ingin melepasmu kembali, bisa-bisa aku jadi Diva yang jahat yang ingin memilikimu.
Terlambat, Zul sudah dihadapanku dengan matanya yang senduh. Mata itu yang membuatku jatuh cinta, mata yang selalu menenangkan, mata yang membuat aku percaya saat bersamanya aku akan baik-baik saja. Untuk sementara, aku bermimpi hidup bahagia bersama Zul. Menua bersama sambil berbagi kisah.
Maafkan aku, Tuhan. Aku mencintainya.
•••
Zul sudah memandang Diva dari kejauhan namun merasa heran mengapa tiba-tiba Diva berhenti berjalan justru memandangnya terpaku. Beberapa menit Zul menunggu, Diva tidak kunjung berjalan. Akhirnya Zul memilih mendekati Diva.
Zul yakin Diva sedang terkejut. Mendapati dirinya hadir di hadapan Diva setelah berbulan lamanya. Dari mata Diva, Zul menemukan rasa rindu yang mendalam. Ternyata bukan hanya Zul yang menahan sakit merindu, Diva pun demikian.
"Hai,,," Sapa Zul.
Diva masih terdiam memandang Zul. "Astaga, dia menangis" batin Zul
__ADS_1
Zul mengandeng tangan Diva dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Seakan seperti terhipnotis, Diva hanya diam dan mengikuti kemana kaki Zul membawanya pergi.
Untuk beberapa saat mereka terdiam, menikmati hujan yang entah bagaimana tiba-tiba turun seenaknya seakan mendukung usaha Zul untuk berdiam lama dengan Diva.
"Sudah tenang?"
Diva menoleh ke arah Zul, mendapati Zul melihatnya dengan penuh kelembutan. Diva hanya mengangguk menjawab pertanyaan Zul.
"Mau minum?" Tawar Zul yang dijawab dengan gelengan kepala Diva.
"Maaf kalau abang buat adek terkejut. Tapi banyak hal yang ingin abang katakan, untuk itu abang menemui adek disini" ucap Zul membuka pembicaraan.
"Yang pertama,,," Zul mengantung ucapannya. Lalu mengarahkan tubuhnya ke arah Diva seraya menggenggam tangan Diva. "Abang merindukan adek, teramat merindu hingga sesak yang muncul"
"Lalu,,,"
Diva menunggu ucapan Zul selanjutnya, "Mari ikut abang selama 3 hari ini ke Samosir"
"Apa? Samosir?" Tanya Diva tidak percaya.
"Untuk apa?" Tanya Diva heran.
"Abang ingin pergi bersama adek. Menikmati setiap momen yang ada disana, entah itu dingin atau panas, entah itu hujan atau terang, abang ingin menghabiskan hari-hari itu bersama adek" Ujar Zul.
"Berdua?"
"Iya, berdua saja"
"Aku tidak mau" Jawab Diva tegas. "Mana mungkin kita yang bukan suami istri bisa pergi trip kesana selama 3 hari. Bisa-bisa diarak warga"
Zul tersenyum simpul, "Memang itu tujuan abang. Jika tidak bisa menikahimu secara baik maka abang akan menempuh cara itu"
"Apa? Gila abang"
__ADS_1
"Memang. Sejak awal ketemu adek, abang jadi gila. Adek tahu apa yang abang lalui selama hampir 6 bulan ini? Abang meradang. Kacau rasanya saat adek mengambil sikap demikian. Abang mencoba menghargai keputusan adek, keinginan Sekar, tapi kalian lupa bagaimana perasaan abang. Jadi tolong biarkan beberapa hari ini abang bersama adek secara full."
Diva hanya terdiam menatap Zul. Sama sekali tidak ada niat dihatinya membantah setiap kata yang diucap Zul.
"Abang kangen deh, benar-benar kangen. Abang juga tidak tahu apa yang terjadi, pagi tadi rencananya abang mau ke kantor justru abang ke kost adek. Dan adek tidak ada disana. Kenapa adek pindah? Bukankah adek sudah janji kapan pun abang datang, adek akan disana?" Ujar Zul memelas.
Diva memejamkan matanya lalu mengalihkan pandangannya. Diva tidak mampu melihat Zul. Rasanya ingin memeluknya dan mengatakan semua baik-baik saja tapi itu akan menumbuhkan ambisi lain.
"Dek, bicaralah. Abang bertanya kenapa adek pindah?"
Tanpa melihat ke arah Zul, Diva menjawab, "Terlalu banyak bayangan abang di kost itu. Aku tidak sanggup hidup ditempat dimana abang pernah ada. Jika aku tetap disana, maka aku akan gagal melepaskan abang"
"Lalu dengan pindah semua itu terselesaikan? Bisa adek melepaskan abang?"
Tidak ada jawaban dari bibir Diva, karena Diva juga masih tidak mampu melupakan Zul. Nyatanya nama Zul masih bertahta rapi dihati ataupun ingatannya.
Tapi Diva tidak boleh berkata tidak, "Bisa. Aku sudah bisa melepaskan abang" Diva menggigit ujung bibirnya, sakit itu tidak seberapa dari hatinya yang harus berbohong.
"Baiklah. Abang akan buktikan itu."
Zul menghidupkan mesin mobilnya, dan mulai membawanya keluar dari pelataran Kampus Bima.
"Kita mau kemana bang?!" Tanya Diva sedikit panik.
"Samosir. Kan sudah abang bilang tadi"
"Bang, aku nggak bisa ikut. Kerjaan kampus banyak jadi,,,"
"Nanti abang nelpon Ruslan. Minta izin langsung ke Ruslan kalau dosennya abang bawa pergi." Ruslan yang dimaksud Zul adalah Dekan di Fakultas tempat Diva mengajar. Diva langsung terdiam mendengarnya. Diva tahu, Zul bukan hanya menggertak tapi akan langsung melakukannya. Daripada Ruslan tahu tentang semua ini yang akhirnya justru akan menimbulkan curiga, lebih baik Diva yang izin cuti.
Diva lalu menelpon bidang administrasi fakultasnya,"Halo Kak Santi. Ini saya Bu Diva. Begini saya mau izin tidak masuk selama 4 hari ini. Nanti ke mahasiswa biar saya yang memberi infonya" Diva mendengarkan jawaban dari sana kemudian mengakhiri panggilan, "Terima kasih kak Santi"
Zul tersenyum menang mendengar Diva dengan sendirinya memberitahukan bahwa beberapa hari ini tidak mengajar. Itu artinya rencana Zul berhasil. Zul tahu, tidak mungkin bagi Diva untuk melepaskan atau berhenti mencintainya. Sebab perasaan itu sudah mendarah daging ditubub Diva.
__ADS_1
Mobil terus melaju meninggalkan kota. Entah itu Zul atau Diva terkadang terdiam sambil membawa pikiran masing-masing. Tapi satu pemikiran mereka yang sama. Bagaimana dengan Sekar. Zul sudah berjanji meninggalkan Diva,begitu pun Diva. Bagaimana menjelaskan pada Sekar kalau mereka telah gagal.