
Sekar memandang kosong ke arah taman yang berada di belakang rumahnya. Kemarin setelah sampai di kediaman orangtuanya, Sekar hanya berdiam diri dirumah.
Sekar berbohong kepada Zul tentang Mamanya yang sakit. Sesungguhnya ia hanya ingin pulang dan menikmati kesendiriannya.
Mama Sekar sendiri tidak banyak bertanya dan membiarkan putri sulungnya menikmati kesendirian. Bagi Mama Sekar, permasalahan Sekar dan Zul adalah privasi mereka. Mama Sekar yakin, jika Sekar mampu mengatasinya walau hati ingin sekali ikut campur.
Mama Sekar menghampiri Sekar sambil membawa teh dan roti, Sekar sendiri masih berdiam dan tenggelam dalam lamunannya.
"Hari ini sudah nelpon Zul?"
Sekar menoleh ke arah Mamanya. "Sudah, Ma. Tadi pagi dia ngabari kalau sudah sampai Samosir"
"Kamu mau disini saja sampai Zul pulang?"
"Rencananya begitu, Ma. Nggak apa-apa kan, Ma?"
"No problem. Kamu anak Mama. Disini adalah rumah utama tempat kamu pulang, sekalipun kamu sudah punya tempat berlabuh"
Sekar tersenyum kecut mendengar ucapan Mamanya.
"Aku tidak tahu apakah rumah itu akan selamanya menjadi rumah tempat kami berdua pulang, Ma. Nyatanya sekalipun kami berdua pulang tapi hati Bang Zul tidak berada dirumah itu. Sekalipun ada hanya sekian persen saja"
Mama Sekar memandang Sekar dengan iba. Tidak ada yang pernah membayangkan bahwa Zul berpaling dari Sekar. Walau kini Zul akhirnya memilih Sekar dan memperbaiki rumah tangganya, namun melihat Sekar yang masih merasa hancur membuat hatinya kian teriris.
"Mama harap kamu bisa lebih sabar lagi, Sekar. Beri kesempatan Zul untuk terus memperbaiki hubungan kalian. Jangan kalah oleh perempuan itu, selamanya kamu adalah yang utama. Perempuan itu hanya iklan yang sekedar lewat"
Sekar hanya diam dan memandang lurus ke arah taman, "Seandainya itu benar, Ma. Seandainya perempuan itu hanya numpang lewat, seandainya saja"
"Maksud kamu, Zul masih berhubungan dengannya?"
__ADS_1
Sekar memandang wajah ibunya tanpa terasa airmatanya mengalir. Sekar memejamkan matanya teringat ucapan Nadin temannya mengenai Zul. Hari itu tanpa sepengetahuan Zul, Sekar memohon kepada Nadin untuk mengikuti kemana Zul pergi. Dan Nadin menemukan Zul menemui seorang wanita di kampus Bima lalu membawanya melesat melewati perbatasan kota.
Tentu Nadin tidak mungkin mengikuti Zul terus. Yang Nadin ketahui, Zul membawa wanita tersebut keluar dari kota dan pergi entah kemana. Sekar tahu kemana Zul akan pergi hari itu, dan Sekar akhirnya tahu Zul tidak sendirian.
"Sekar, jawab Mama. Apakah Zul kembali ke perempuan itu?!"
Sekar hanya mengangguk pelan, sulit baginya mengatakan iya sebab rasanya semua kata sudah berhenti mengalir.
"Dasar bajin**n. Bisa-bisanya dia mengkhianati kamu lagi, dasar tidak ada ot*k" berbagai makian keluar dari bibir Mama Sekar. Tidak mampu membayangkan Zul kembali mengkhianati Sekar dan itu kembali dengan perempuan yang sama.
"Mama akan bicara dengan Zul, mau sampai kapan sih dia menghancurkan hati kamu. Apa dia tidak punya hati? Bahagia di atas penderitaan istrinya sendiri. Apa dia tidak tahu, penderitaan istri membawa bencana bagi kehidupannya juga?"
Kemarahan tergambar jelas di raut wajah Mama Sekar. Menyadari bahwa menantunya masih tetap menyakiti anaknya membuat naluri keibuannya ingin melabrak langsung perempuan simpanan Zul.
"Kamu harus kuat, Sekar. Kalau bisa kita datangi perempuan itu, kita labrak dia. Biar dia malu terus sadar. Biar nggak gatal sama suami orang. Ya ampun, apa tidak ada pemuda yang bisa dipacarinnya. Kenapa harus suami orang, benar-benar sundal"
"Menurut mama, apa ini kesalahan perempuan itu?"
"Tentu saja. Sudah tahu suami orang, masih saja mau dipacarin. Itu namanya nggak ada ot*k. Berarti memang dia perempuan nggak punya harga diri. Mau saja dijadikan simpanan"
"Bang Zul tidak ingin menjadikannya simpanan, Ma. Dia ingin memperistri perempuan itu"
"Apa?! Maksud kamu dia mau poligami? Ya Allah Zul!!! Benar-benar sinting dia."
Gila, kata-kata itu sering diucapkan Sekar terhadap Zul. Berbagai makian juga pernah diucapkan Sekar kepada Zul. Bertahun-tahun Zul selalu memperlakukannya dengan baik. Tak terlintas dibenak Sekar tentang hati Zul yang berpaling.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Sekar, namun Sekar bisa melihat ketulusan dimata Zul terhadap Diva. Nadin memberitahukan Sekar, Zul menjemput perempuan di Kampus Bima. Mudah bagi Sekar untuk mencari tahu siapa Diva. Namun, ide untuk menemui Diva berulang kali dipikirkan Sekar.
Enam bulan sudah dilihatnya bagaimana Zul sekarat merindukan Diva. Suaminya dalam sekejap tenggelam dalam lamunan yang membuatnya harus sakit berhari-hari.
__ADS_1
Perasaan Zul yang terlihat begitu dalam, begitu megah membuat Sekar merasa sia-sia meminta Diva berhenti, sebab Zul juga tidak berkeinginan berhenti. Hatinya terpaut dalam pada Diva.
Nyeri kembali mengerogoti ulu hati Sekar. Berbagai keputusan baik dan buruk mengalir dikepalanya. Tanpa ditanya Sekar mengetahui keinginan Zul. Bahwa ia tidak akan melepas salah satu diantara Sekar dan Diva. Zul ingin memiliki keduanya dengan sah.
"Hatiku hambar, Ma. Bang Zul memang berada didekatku, selalu melakukan yang terbaik untuk hubungan ini. Tapi sulit baginya membuang rasa yang sudah terlanjur bersarang dihatinya. Mama tahu, ini kedua kalinya aku melihat Bang Zul begitu mencintai dan begitu sulit melupa"
"Sekar,,,"
"Seharusnya aku tidak menikah dengannya, Ma. Ini kedua kalinya aku harus meratapi cintanya tidak begitu besar kepadaku" Sekar tertunduk lemah sambil menutup wajahnya. Menangis adalah jalan yang seharusnya membuat dia tenang, namun justru membuat lukanya semakin melebar.
11 tahun yang lalu,,,
"Menikahlah denganku" ujarku kepada Zul saat bertemu untuk kedua kalinya di Medan. Zul selama ini tinggal di Aceh. Dan aku sendiri menetap di Medan.
Zul adalah cinta pertamaku, lelaki keren dan menawan itu selalu menjadi incaran gadis-gadid ketika kami masih sekolah SMA. Kini setelah sekian lama kami bertemu kembali di Medan. Dia bercerita tentang kekasihnya yang memutuskan hubungan dengannya tanpa kejelasan. Bercerita tentang tuntutan usia yang mengharuskan ia menikah.
"Apa?" Tanya Zul tidak percaya "Kamu mau menikah denganku?"
"Iya, kita sudah lama kenal. Nggak perlu ada pdkt lagi. Masalah perasaan, aku yakin kalau kita setiap hari bersama dan mencoba, pasti perasaan itu akan timbul"
Tentu ini adalah keputusan yang riskan. Aku tahu Zul masih mencintai mantannya, dan aku juga akhirnya harus menerima kenyataan selama berbulan-bulan Zul selalu memimpikan mantannya dan menangis lirih dalam kesunyian menyebut nama mantan kekasihnya.
Kembali ke masa sekarang
"Sekar,,," Mama Sekar menepuk pundak Sekar yang sejak tadi melamun.
Sekar tidak merespon panggilan itu, isi kepalanya terbayang bagaimana pertama kali ia meminta Zul menikahinya dan hari-hari dimana ia melihat Zul sekarat karena menahan rindu. Kini, kejadian itu terulang kembali.
Sekar tidak tahu apakah Zul pernah mencintainya sehebat itu. Walau Zul sering mengatakan cinta kepada Sekar, kini Sekar menyadarinya. Apakah perasaan itu benar-benar nyata atau hanya SOP demi membahagiakan Sekar. Kini Sekar ragu apakah ia pernah dicintai atau tidak oleh suaminya.
__ADS_1