Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Nama Baru


__ADS_3

Diva merebahkan badannya di tempat tidur kamar kostnya.  Ini sudah bulan ketiga saat Diva memutuskan untuk pindah kost demi menghindari Zul. Walau Diva tidak yakin secara pasti apakah Zul akan mencarinya tapi Diva merasa tidak sanggup tinggal ditempat dimana Zul pernah hadir.


Diva memiringkan badannya melengkung sambil memeluk guling. Berusaha memejamkan mata dan membuat dirinya tertidur, teringin mengistirahatkan segala isi kepala yang sejak pagi berkecamuk di kepalanya. Terlebih lagi dada yang terkadang nyeri mengusik hingga menimbulkan asam lambung yang naik.


Diva sakit.


Sekuat tenaga berusaha melupa, sekuat tenaga berusaha tidak merindu, berusaha sekuat tenaga tidak menangis, terlebih berusaha bahagia dan tertawa disaat hati dan pikirannya tidak seiring ternyata membuatnya harus berurusan dengan obat dokter.


Dokter menyarankan untuk menjaga pola makan dan pikiran agar maagnya tidak terus hadir. Diva memang menyetujui ucapan dokter namun terkadang Diva kembali lagi pada kenangan yang kerap hadir.


Menyibukkan diri juga tidak menjamin ingatannya teralihkan. Nyatanya walau dikeramaian, Diva masih mampu mengingat Zul dengan jelas. Tapi, sesakit apapun Diva saat ini, Diva hanya diam. Walau Zul mengatakan padanya jika terjadi sesuatu pada Diva segera hubungi Zul, Diva memilih diam sekalipun Diva sehancur itu.


Diva membuka ponselnya dan mencari folder galeri. Disana terdapat beribu foto dan video tentang mereka berdua. Diva membuka 1 video Zul. Didalamnya berisi obrolan teka-teki yang Diva lontarkan pada Zul.


"Ay, ada rumah lantai1. Semuanya warna pink. Pintu, dinding, jendela, perabotan, apapun itu semuanya warna pink. Nah pertanyaannya, tangganya warna apa?"


Zul terlihat berpikir lalu menjawab, "warna pink lah"


"Yakin?" Tanya Diva usil.


"Iya, kan semua warna pink" jawab Zul.


"Pertanyaanya rumah lantai 1 kan, emang rumah lantai 1 ada tangganya?"


"Idiih" Zul lalu menutup wajahnya, tertawa renyah menyadari jebakan pertanyaan Diva


"Eh jawab dulu"


"Nggak" jawab Zul sambil tertawa.


Diva tersenyum melihat kembali video itu. Tanpa terasa air matanya ikut mengalir. Diva membiarkan airmata itu jatuh. Membiarkan semua kesedihannya menahan rindu keluar melalui airmata. Rasanya terlalu sesak jika menahan mereka keluar. Tidak peduli seberapa banyak yang dikeluarkan, Diva tidak menahannya.


"Ya Tuhan, jika perasaan ini salah mengapa harus hadir?" Gumam Diva.


Diva meletakkan hp nya lalu menutup mata. Kembali menangis, kembali merindu. Rasanya menyakitkan saat terus bersama Zul namun lebih menyakitkan saat Diva tidak bersama Zul.


3 bulan memang waktu yang sebentar namun 3 bulan itu waktu yang cepat untuk Diva kemarin melupakan perceraiannya. Tapi kini 3 bulan tidak cukup untuk menghapus serta merta Zul dari hatinya.


Satu hal yang disadari Diva, keberadaan Zul dikehidupannya telah melekat dan mendarah daging.


Tok,,tok,,


Suara ketukan pintu tiba-tiba hadir.

__ADS_1


Terdengar suara pria diluar sana mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kost Diva.


"Wa'alaikumsalam" Sahut Diva dari dalam kemudian beranjak membuka pintu. Berdiri seorang pria bertubuh atletis di depan kamarnya sambil membawa bungkusan tersenyum ramah melihatnya.


"Siapa ya?" Tanya Diva beberapa detik kemudian ketika di pria tersebut tak kunjung bicara.


"Saya penghuni baru samping kakak" jawabnya dengan logat Jawa medoknya "Kenalkan, nama saya Aji" pria bernama Aji itu mengulurkan tangan pada Diva. "Saya baru pindah hari ini, tadi sudah ketemu sama samping yang sana, tinggal kakak yang belum"


"Oh, iya saya sedang tidak enak badan mas. Nama saya Diva"


"Saya tahu, tadi kak Lena cerita" Lena yang dimaksud Aji adalah tetangga sebelah kiri Aji. "Sebab itu saya bawakan ini untuk kakak. Sebagai tanda perkenalan tetangga baru" Aji menyerahkan bungkusan berisi jeruk kepada Diva.


Diva mengambil bungkusan itu kemudian tersenyum, "Terima kasih mas. Tapi, maaf saya mau istirahat lagi"


"Iya ndak apa-apa. Maaf juga saya sudah ganggu kak"


"Panggil nama saja mas, sepertinya mas jauh lebih tua dari saya"


Aji tersenyum malu, "Kelihatan ya?"


"Nebak aja sih"


"Baiklah Diva, selamat istirahat semoga cepat sembuh"


Aji kemudian meninggalkan Diva dan kembali ke kamarnya. Sedang Diva, mencoba tidur kembali.


Pov Aji


Memilih buah bukanlah keahlianku, tapi tentu melihat buah yang tidak busuk sepertinya bisa sekadar dilihat dari luar apakah ada kehitaman atau tidak.


Ini hari pertamaku pindah ke kota Rantauprapat. Setèlah sebelumnya aku berkeliling mencari kamar kost, justru ku temukan kamar kost tepat di depan kampus aku mengajar. Ya walaupun harus bertetangga dengan banyak mahasiswa, aku pikir tuk sementara ini tidak masalah. Toh aku bisa mencari kost lain jika merasa kurang nyaman.


Namun melihat situasinya sepertinya daerah yang ku tinggalin kebanyakan para pekerja. Terbukti sedari pagi aku berberes hanya terlihat para pegawai kantor yang keluar dari kost. Sedangkan di blok depan lebih banyak penghuninya mahasiswa.


Aku memasukkan jeruk yang telah ku pilah-pilah tadi. Ya rencananya hari ini aku ingin mengunjungi tetangga sebelah kanan ku yang sedang sakit. Aku mendengarnya dari tetanggaku sebelah kiri yang bernama Lena, bahwa tetangga sebelah kanan ku juga seorang dosen di salah satu Kota Rantauprapat ini, namun sepertinya dia belum sembuh karena tidak keluar dari kamar walau ada suara dari dalam, ya setidaknya pertanda dia masih hidup.


Karena itulah aku membeli jeruk, selain menjenguk walau tidak mungkin masuk tapi setidaknya tanda perkenalan.


Aku pergi ke sebelah dan mulai mengetuk.


Tok,,,tok


"Assalammualaikum" ucapku

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam" jawab suara dari dalam lirih. Sepertinya dia memang belum sembuh.


Pintu terbuka. Terlihat seorang wanita tinggi semampai berwajah senduh melihat ku dengan lembut.


Ah mengapa matanya begitu menghanyutkan, sesaat aku terdiam menatap matanya.


"Siapa ya?"


Suaranya,,,kalau boleh aku sedikit nakal, aku ingin mengatakan suaranya terdengar menggoda.


"Saya penghuni baru samping kakak. Kenalkan, nama saya Aji. Saya baru pindah hari ini, tadi sudah ketemu sama samping yang sana, tinggal kakak yang belum"


Aku mengulurkan tanganku lalu disambut olehnya. Lembut, tangannya begitu lembut dan dingin. Mungkin karena dia sedang sakit.


"Oh, iya saya sedang tidak enak badan mas. Nama saya Diva"


Sesungguhnya aku ingin berkata 'Mau pergi ke dokter bersamaku, Va? Akan ku pastikan kamu segera sembuh. Bagaimana kalau makan yang segar-segar?' Ah teringin aku berlama menatap pemilik mata sendu ini.


"Saya tahu, tadi kak Lena cerita. Sebab itu saya bawakan ini untuk kakak. Sebagai tanda perkenalan tetangga baru"


"Terima kasih mas. Tapi, maaf saya mau istirahat lagi"


"Iya ndak apa-apa. Maaf juga saya sudah ganggu kak"


"Panggil nama saja mas, sepertinya mas jauh lebih tua dari saya"


Aku tersenyum malu saat Diva berkata demikian. Sepertinya aku harus lebih memperhatikan penampilanku mulai sekarang, "Kelihatan ya?"


"Nebak aja sih"


"Baiklah Diva, selamat istirahat semoga cepat sembuh"


"Baiklah, Mas Aji. Terima kasih atas buahnya"


Deg,,deg,,,


Astaga jantungku. Melihat senyum Diva mengapa justru jantungku berdegup begitu kencang, seakan aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Percayakah? Tentu aneh. Diva justru sedang dalam penampilan yang awut-awutan. Rambutnya yang ikal terlihat diikat sembarang. Celana trainingnya dan kaos yang sepertinya sudah teramat lama sebab sudah usang dan melar dibagian leher. Tapi entahlah, menatap wajah dan mata Diva, membuatku masuk dan ingin bersamanya. 


Apakah aku yang mudah larut atau dia yang menggoda? Entahlah, yang aku tahu hari ini ada seseorang yang ingin setiap hari ku sapa dengan baik.


Diva

__ADS_1


__ADS_2