
Zul turun dari mobil kemudian menghampiri kost Diva. Entah apa yang dalam pikiran Zul, tahu-tahu Zul sudah sampai di kost Diva. Awalnya Zul hanya ingin pergi mengambil Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD), alih-alih menyetir ke kantor, Zul tanpa sadar sudah sampai di kost Diva.
Ada yang berubah dari kost tersebut, pintunya kini berwarna biru. Sepertinya Diva mengecat ulang pintu kostnya.
Zul mulai mengetuk.
Tok,,tok,,
Tidak ada jawaban.
Sepertinya Diva sudah berangkat kerja. Zul mengetuk kembali. Tetap tidak ada jawaban. Zul pun memutuskan untuk menghampiri Diva di kampusnya.
Saat Zul akan beranjak, tiba-tiba pintu terbuka. Berdiri pria yang usianya terbilang muda menatap Zul.
"Cari siapa ya bang" tanya lelaki itu.
Zul bingung mau menjawab apa. Siapa laki-laki ini? Mengapa ada di dalam kost Diva. Apa dia pacar Diva? Tapi bukankah Diva berjanji kapan saja ia boleh kembali, mengapa ada lelaki lain di kost ini.
"Abang sendiri siapa? Setahu saya ini kostnya Diva" jawab Zul tegas.
Laki-laki itu menatap Zul bingung, "Diva? Saya tidak kenal dengan namanya Diva. Dan ini bukan kost Diva yang abang maksud. Ini kamar kost saya."
Kini Zul yang heran kembali, "Abang kost disini?"
"Iya, sudah hampir 6 bulan saya kost disini. Oh saya paham, berarti abang mencari penghuni kost sebelum saya, ya?"
Kaki Zul seketika lemas saat mendengar penuturan lelaki tersebut. 6 bulan, sudah 6 bulan ia tinggal di kost ini artinya sudah 6 bulan juga Diva pindah entah kemana.
Zul mengusap wajah dan rambutnya. Berpikir kemana ia harus mencari kost Diva yang baru, salah satu caranya adalah langsung menemui Diva di kampus. Atau mungkin membuntutinya saat jam pulang kampus.
Zul kemudian pamit dengan penghuni kost itu dan mulai membawa mobilnya menuju kampus tempat Diva mengajar, kampus Bima. Zul merasa ia harus mendapat penjelasan mengapa Diva pindah. Padahal Diva telah berjanji kapanpun Zul kembali, Diva akan selalu ada di tempat itu, tempat yang pernah menjadi rumah Zul kembali.
•••
Diva menatap aneh ke arah Aji. Aji tiba-tiba datang dengan membawa surat undangan seminar untuk fakultas Diva. Diva sudah mengatakan lebih baik mengantarnya ke bagian administrasi, namun Aji bersikeras untuk ditemani Diva padahal Diva sudah memberitahu arah kantor adminiatrasi fakultas.
"Kamu sedang nyari gara-gara sama aku ya, Mas?" Ujar Diva kesal.
"Aku? Kepedean"
"Terus kenapa nggak langsung pergi, kenapa malah masih berdiri disini?"
"Setidaknya buatlah dirimu berguna bagi tamu. Kan nggak ada salahnya juga menolong dan berbuat baik sesama dosen"
__ADS_1
"Cih, alasan" ejek Diva.
"Bayangkan, misalnya,,,"
"Nggak sempat!"
Aji terbengong melihat Diva yang tiba-tiba pergi tanpa mendengarkan perkataan Aji sampai selesai.
"Astaga, hey Diva!" teriak Aji. Diva justru mempercepat langkah kakinya tanpa menoleh ke belakang agar Aji tidak bisa mengejarnya.
Aji tersenyum melihat sikap Diva yang selalu siaga jika berhadapan dengannya. Melihat tingkah Diva yang selalu kesal dengannya, membuat Aji suka menjahilinya.
"Aji?"
Aji menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Terlihat suami dari sepupunya berdiri sambil memandanganya.
"Eh Bang Zul"
Keduanya lalu bersalaman pertanda lama tidak bertemu.
"Abang pikir tadi abang salah lihat, ternyata beneran Aji. Kok bisa disini? Bukannya ngajar di Medan ya?" Tanya Zul.
"Iya bang, baru pindah kemari. Belum adalah sebulanlah."
Zul adalah suami Sekar, sepupu Aji. Walaupun Aji tidak begitu dekat dengan Sekar tapi pernahlah beberapa kali bertemu Zul. Terlebih lagi Sekar dan Zul sudah menikah lebih dari 10 tahun.
Tentu banyak pro kontra mengapa Sekar memilih untuk memaafkan Zul. Tentu Aji berada dibarisan pro. Barisan yang mendukung Sekar untuk tetap bersama Zul. Toh selama pernikahan mereka, Zul selalu memperlakukan Sekar dengan baik. Menuruti semua keinginan Sekar dan jarang marah kepada Sekar. Kesalahan Zul hanya sekali, jatuh cinta pada wanita lain dan berniat untuk menikahinya. Tapi kini, Zul melepaskan wanita itu dan memilih Sekar. Bagi Aji itu sudah dianggap pembuktian kalau Zul mesih mencintai Sekar.
Penasaran terkadang hadir di hati Aji, tentang sosok wanita yang berhasil menggoyahkan Zul. Tentang sosok yang beberapa waktu lalu dipertahankan mati-matian oleh Zul namun kini mati-matian juga dilupakan Zul.
"Oh begitu, iyalah kapan-kapan ke rumahlah. Tapi jangan akhir-akhir ini. Soalnya abang dan kakakmu nggak dirumah"
"Oke, entar aku hubungi abang atau kak Sekar"
"Jadi tinggal dimana, Ji?"
"Di depan Kampus Andalan, bang. Kebetulan aku ngajar di kampus Andalan, jadi dekatlah kalau mau ngajar"
"Loh kemari ngapain?"
"Oh mau ngasi surat undangan sekalian jumpain tetangga kostan"
"Yang kamu teriakin tadi?"
__ADS_1
"Hehehe iya bang, kedengaran banget ya" ujar Aji malu.
Zul tersenyum simpul. Terlihat dimata Zul gelagat Aji yang menyukai Diva. Cemburu tiba-tiba mengusik relung Zul. Namun apa mau dikata, tidak mungkin terang-terangan Zul mengatakan kepada Aji bahwa wanita yang ia teriaki tadi adalah pujaan hatinya.
"Ji, abang duluan ya. Kabarin aja kalau mau ke rumah"
"Siap bang"
Zul masuk ke dalam mobil dan mulai berpikir apa yang ia temukan hari ini. Pertama Aji sepupu Sekar pindah ke kota ini, kedua Aji bertetangga dengan Diva, ketiga Zul menemukan alamat kost Diva walau belum tahu kamar yang mana setidaknya Zul sudah mendapat titik terang dimana Diva tinggal.
Sekarang hanya tinggal memastikan dimana kamar Diva dan menemuinya secara langsung tanpa ketahuan Aji.
Zul mencari sebuah nama di daftar kontak hpnya, setelah menemukan kemudian Zul mulai menelepon.
"Halo Ketua" Jawab siempunya suara disana.
"Halo Jer, lagi sibuk?
"Nggak pala, apa itu" Jawab Jeri
"Bisa minta tolong? Nanti adalah uang capeknya abang kasih"
"Halaah pala lah pake uang capek itu. Apa tuh bang?"
"Bisa cari tahu jadwal Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Kampus Bima. Semua semesterlah"
"Itu aja bang? Ya bisa kalilah, binik aku kan kuliah di prodi itu" Jawab Jeri santai.
"Oh iyanya, kalau gitu pas kalilah. Bisa minta tolong kirimkan ke abang?" Ucap Zul lega.
"Bisa bang, nanti ku WA kan ke abang."
"Oke, Jer. Makasih ya"
"Siap bang"
Zul menghembuskan napas lega. Ia tidak perlu menunggu seharian Diva pulang dari kampus. Cukup melihat jadwal itu, maka akan ketemu jadwal pulang Diva.
Diva bukanlah sosok perempuan yang hobi nongkrong setelah mengajar, biasanya Diva akan langsung pulang dan beristirahat setelah seharian bekerja. Jika tidak ada keperluan mendesak, maka Diva lebih memilih rebahan di kost.
Ting,,,
Foto jadwal yang diminta Zul dikirim oleh Jeri. Zul membuka pesan tersebut dan mulai melihat daftar nama dosen berserta jam selesai mengajar.
__ADS_1
"Dapat," Gumam Zul, "Sampai jumpa nanti sore sayang, abang akan menculikmu"
Zul meninggalkan kampus Bima dengan riang, kini ia akan menyelesaikan kerjaan dikantornya lalu bersiap untuk "menculik" Diva. Zul tersenyum saat memikirkan rencananya terhadap Diva. Dan bersumpah tidak akan membiarkan siapapun mendekati Diva.