PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
10. Ancaman


__ADS_3

Kepulangan Abimanyu dari luar negeri menjadi petaka besar untuknya. Ia mendapatkan dua kejutan bersamaan dalam sehari.


Ia ditipu oleh teman bisnisnya puluhan miliar membuatnya sangat syok. Belum juga ia menarik nafasnya, datang lagi surat gugatan cerai dari istrinya.


"Ada apa dengan Marsha? Mengapa tiba-tiba ia menggugat cerai padaku? Salahku di mana? Mana bisa dia melakukan ini kepadaku di saat aku mendapatkan musibah?"


Gumam Abimanyu makin meradang.


Abimanyu menghubungi ponsel istrinya. Namun Marsha tidak ingin mengangkatnya. Marsha menarik sudut bibirnya dengan sinis.


"Dikirim surat cerai kau baru kebakaran jenggot, kemarin-kemarin ke mana saja? Dasar suami tidak tahu diri!"


Umpat Marsha terlihat jengah.


Marsha mendiamkan panggilan suaminya entah sudah ke berapa kali panggilan masuk dari Abimanyu, namun sedikitpun gadis itu tidak mengindahkannya.


Marsha seakan menikmati kegusaran suaminya di seberang sana.


"Sekarang kamu baru tahu bagaimana rasanya kalau di cuekin oleh orang yang kita cintai."


Batin Marsha masih dengan senyum sinis nya sambil menggambar desain baju melalui laptop miliknya.


"Mungkin sebentar lagi dia akan ke butik. Sebaiknya aku pergi untuk menghindari perang mulut." Ucap Marsha.


Ia mengambil tasnya menuju mobilnya. Ia bingung harus melakukan apa saat ini. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara.


Satu-satunya yang bisa di ajak bicara adalah Cal. Marsha memberanikan diri menemui Cal di perusahaannya.


"Permisi! Selamat siang!"


"Selamat siang nyonya! Ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu resepsionis perusahaan Cal.


"Aku ingin bertemu dengan tuan Cal."


Ucap Marsha tampak anggun.


"Apakah nyonya sudah buat janji dengan tuan Cal, nyonya?"


"Sudah!" Bohong Marsha.


"Saat ini tuan Cal sedang ada rapat, apakah anda Ingin menunggu, nyonya?"


"Baiklah."


Marsha akhirnya memutuskan untuk menunggu di lobi sambil memainkan game di ponselnya.Tidak terasa waktu sudah berjalan hampir satu jam lebih namun tuan Cal belum juga kelar meeting nya.


Marsha segera angkat kaki dari situ dan memutuskan untuk kembali lagi ke butiknya.


Baru saja ia melangkah beberapa langkah, tuan Cal sudah keluar dari lift dan memanggil Marsha.

__ADS_1


"Marsha!"


Marsha menghentikan langkahnya dengan tersenyum lega.


"Syukurlah! Akhirnya ketemu juga."


Marsha membalikkan tubuhnya sambil tetap tersenyum kepada Cal.


"Hei! Apa kabar Marsha..!"


"Jauh lebih baik. Bagaimana denganmu Cal?"


"Selalu merindukanmu."


Ucap Cal membuat wajah Marsha bersemu merah.


"Apakah kamu mau ke ruang kerja ku atau kita keluar?"


"Kalau berkenan aku ingin kita ngobrol di ruang kerjamu." Ucap Marsha.


"Baiklah! Ikutlah denganku,"


ucap Tuan Cal dengan tetap menjaga kewibawaannya di depan para staffnya yang sedang memperhatikan mereka.


Keduanya berada di lift utama khusus untuk tuan Cal yang tidak ingin bercampur dengan lift karyawan.


Keduanya saling melepaskan kerinduan mereka dengan ciuman panas hingga pintu lift itu berhenti.


Ciuman itu bersambung kembali di kamar pribadi tuan Cal di mana keduanya saling melucuti pakaian mereka masing-masing.


"Marsha! Aku sangat merindukanmu sayang!" Ucap Cal memagut lembut bibir Marsha hingga memasuki rongga mulut sang kekasih untuk saling membelit lidah mereka untuk bertukar salivanya.


Sementara tangannya yang lain mencari tempat yang ingin ia gapai yaitu titik kelemahan Marsha membuat gadis ini langsung memekik.


Puas memberikan servis terbaik dengan mengandalkan bibir dan lidah mereka, Cal tidak mampu lagi mengusai dirinya memaksakan miliknya menjelajahi wilayah terlarang Marsha yang sering menjadi fantasi liarnya.


"Cal! Jangan! Jangan di situ! Aku tidak mau di sentuh!" Cegah Marsha sambil mendorong tubuh Cal.


"Tidak sayang! Ini sudah tanggung. Aku ingin kamu merasakan sensasinya."


Paksa tuan Cal sambil menahan kedua tangannya Marsha dengan mendorong masuk miliknya.


"Cal! Janganaannnnn!"


Tapi tuan Cal tidak peduli. Tubuh itu berhasil ia kuasai dan lambat laun Marsha mulai merasakan sensasi yang luar biasa yang tidak pernah ia dapatkan pada suaminya.


Antara takut dan penasaran, dua kata yang sedang bertentangan dalam batinnya. Marsha melupakan bisikan nuraninya.


Tubuhnya seakan menuntut untuk menerima sesuatu yang ingin ia rasakan bagaimana nikmatnya bercinta dan rasa itu ada pada tuan Cal yang bisa memuaskannya berkali-kali.

__ADS_1


Marsha akui kekuatan pria idamannya ini mampu bertahan hampir satu jam meluluhlantakan jiwa kesepiannya yang nyinyir.


Lonjakan gairah itu makin kuat mengikat seakan tak ingin berkesudahan rasa nikmat itu yang datang terus menerus mengalir di setiap pembuluh darahnya menyampaikan pesan ke otak untuk melepaskan morfin kebahagiaannya.


"Akhhhkk...! Marsha! Kamu sangat lezat sayang! Aku seperti hidup lagi di tengah Padang yang tandus."


Ungkap Cal sambil mengecup bibir Marsha lalu jatuh terkulai di samping wanitanya.


"Cal! Bagaimana kalau aku hamil sayang? Sementara saat ini aku sedang mengajukan gugatan cerai pada suamiku. Apakah setelah aku bercerai kamu mau menceraikan istrimu?" Tanya Marsha sambil tiduran di atas dada bidang Cal.


Degggg....


"Aku akan memikirkan ini nanti Marsha! Aku tidak akan tinggal diam jika kamu hamil anak kita."


Ucap Cal meyakinkan Marsha.


Marsha terlihat bahagia karena ia tidak perlu menunda lama proses perceraiannya dengan suaminya, Abimanyu karena Cal akan menikahinya kelak.


Sekitar jam tujuh malam, Marsha sudah berpakaian rapi dan pamit untuk pulang setelah hampir setengah hari mereka habiskan waktu untuk bercinta.


"Apakah kamu puas sayang?" tanya Cal yang tidak rela Marsha meninggalkan dirinya.


"Sudah Cal! Sangat puas dan terimakasih! Kamu ternyata sangat hebat."


Ucap Marsha lalu masuk ke mobilnya.


Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Marsha tersenyum sendiri sambil mendengarkan lagu romantis di gelombang radio kesukaannya.


Ia hanya ingin menikmati kebahagiaannya ini tanpa memikirkan bagaimana resikonya nanti saat ia tiba di rumah.


Sementara Abimanyu bolak balik seperti gosokan panas menunggu kepulangan Marsha. Ia merasa hanya Marsha yang bisa menolongnya saat ini untuk mendapatkan uang yang saat ini ia butuhkan sekitar sembilan puluh miliyar.


"Marsha sangat pintar menyimpan uang dan benda berharga lainnya. Ia juga memiliki aset tak bergerak yang bisa di jual dalam waktu singkat. Perhiasannya juga begitu banyak karena Marsha bukan wanita pemboros."


Ucap Abimanyu sambil melihat ke arah pintu gerbang.


Baru saja ia ingin melangkah ke luar pagar, tiba-tiba sorot lampu mobil istrinya mendekati pintu gerbang sambil menyembunyikan klakson mobilnya.


Marsha turun dari mobil dengan rona wajah bahagia sambil mengulum senyumnya.


"Marsha!" Sapa Abimanyu menghampiri Marsha yang segera menjauh dari suaminya.


"Mengapa kamu tidak mengangkat teleponku dan juga kamu tidak ada di butik. Ke mana saja kamu, sayang?"


Ucap Abimanyu sok mesra pada Marsha yang menanggapi dingin perkataan suaminya.


"Bukan urusanmu dan Tolong jangan mendekati ku karena kita sedang proses cerai."


Ucap Marsha membuat Abimanyu terlihat setress

__ADS_1


__ADS_2