
Pagi itu suasana di butik Marsha terlihat sibuk dengan karyawan yang sedang mempersiapkan sebuah gaun mewah untuk putri seorang pejabat tinggi negara yang akan menikah dua hari lagi.
Gaun pengantin rancangan tangan dingin seorang Marsha mampu menghipnotis orang lain yang menatap gaun itu akan terpukau dengan pujian yang tak akan pernah habisnya.
"Apakah hari ini kalian mau mengantarkan gaun itu ke kediaman calon mempelai wanita?"
Tanya Marsha yang sedang memperhatikan pegawainya sibuk memasukkan gaun ke dalam kemasan plastik.
"Iya nona! Dia ingin gaun ini sudah ada di kamarnya hari ini."
"Ok, titip salam ku pada keluarga besarnya. Insya Allah aku akan hadir di pesta pernikahannya."
Ucap Marsha lalu masuk ke ruang kerjanya.
"Apakah aku harus menghadiri pesta bergengsi itu sendirian? Pesta itu akan menampilkan ajang pamer dari kalangan mereka seberapa hebatnya barang branded yang ada di tubuh mereka.
Dan itu membuat ku bosan dengan para penjilat yang kelasnya lebih bawah memuji setinggi langit untuk orang yang punya kepentingan dengan mereka."
Gumam Marsha membatin
Ia menyiapkan rancangan baru kali ini untuk seseorang yang putri konglomerat yang akan menikah tiga bulan lagi.
Marsha bisa lupa waktu kalau sudah berurusan dengan gambar. Ia kadang lupa meneguk air hanya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering kalau datang inspirasi yang mampu menciptakan gerakan tangannya sesuai dengan imajinasinya.
Dalam waktu tiga jam ia sudah mendapatkan sketsa gaun yang sangat indah untuk calon pengantin wanita berikutnya.
"Jika aku masih gadis, aku ingin mengenakan gaun ini untuk pernikahan ku. Ini sangat cantik."
Lirih Marsha yang sedang menatap hasil karya barunya.
Tok...tok...tok..!
Cek lek..
Wajah sekertarisnya terlihat gugup saat masuk ke ruang kerjanya.
"Nona! Anda sedang di cari seorang pria yang saat ini sedang...?"
Brakkkk....
Pintu itu di dorong dengan kasar oleh pria yang sangat tampan dengan wajah angker terkesan intimidasi menatapnya tajam.
"Hei kau!"
Marsha menghampiri pria misterius ini dengan langkah anggun sambil bersedekap angkuh.
__ADS_1
"Ada apa Tuan? apakah kamu tidak punya sopan santun masuk ke kantor orang dengan sikap arogan mu itu, hah?"
Bentak Marsha yang tidak ingin orang lain bertindak sewenang-wenang kepadanya.
"Dengar..!"
"Aku saat ini tidak ingin berdebat dengan wanita seperti mu karena kesalahan fatal yang sudah kamu buat."
Ucap pria tampan itu dengan kalimat diplomatis yang tidak dipahami oleh Marsha.
"Apakah anda bisa jelaskan detailnya saja tanpa berbelit-belit?"
Tukas Marsha melihat keangkuhan lelaki di hadapannya ini.
"Gaun pengantin yang kamu kirim untuk putriku sangat tidak sesuai dengan keinginannya padahal dia akan menikah besok."
Imbuh pria aneh di hadapannya ini.
"Dasar gila! Kenapa baru protes sekarang kalau mau menikah besok. Bagaimana cara gantinya kalau pernikahannya saja besok?"
Balas Marsha yang tidak ingin di intimidasi oleh pria angker di hadapannya ini.
"Oh itu pasti rancangan baru kamu bukan?"
Tatapan mata pria itu tertuju pada sketsa baru milik Marsha.
"Aku ingin putriku memakai gaun rancangan seperti ini."
"Jangan gila kamu! Mana bisa mengerjakan gaun rumit ini dalam satu hari untuk persiapan besok?"
"Aku tidak peduli atau gedung ini aku akan ratakan dengan tanah!" ancam pria angker itu membuat Marsha sedikit bergidik.
"Ia lalu keluar lagi meninggalkan Marsha dan sekertarisnya yang hanya bisa melongo menatap sketsa gaun baru ciptaannya yang nilainya sangat fantastis dengan bahan yang harus ia dapatkan dari luar negeri seperti Perancis.
"Gila.!"
"Nona, apa yang harus kita lakukan sementara rincian detail bahannya saja belum anda buat." Ucap Naina terlihat lesu.
Marsha tidak lantas menanggapi sekertarisnya. Ia berjalan cepat menemui pria angker itu yang mungkin saja masih di lobi.
Dengan setengah berlari, Marsha akhirnya bisa menghentikan langkah kaki pria angker itu saat hendak menghampiri mobil mewahnya.
"Tunggu sebentar Tuan!"
Pria angker itu berhenti dan beralih menatap Marsha yang menatapnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Gaun pengantin yang anda minta saat ini tidak bisa kami kerjakan karena bahannya harus saya dapatkan di Paris Perancis."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke Paris Perancis sekarang dengan jet pribadiku."
"Perjalanannya saja sudah memakan waktu, bagaimana untuk menciptakan gaunnya?" ."
"Kamu bisa membuat gaun itu di pabrik bahannya. Ayolah masuk dengan ku bawa sketsa mu tadi. Kita berangkat ke Perancis sekarang."
"Sebentar!"
Marsha kembali lagi ke ruang kerjanya mengambil sketsa dan tas juga paspor miliknya. Keduanya langsung menuju bandara dengan menumpang pesawat jet pribadi milik pria misterius ini yang wajahnya seperti blasteran Indo Yunani.
Marsha tidak begitu tertarik untuk menanyakan pria tampan yang duduk di sampingnya ini dengan gayanya penuh kharismatik. Jika di lihat dari usianya sepertinya sama dengan usia Cal.
Jika di hitung dengan usia Cal berarti usia pria ini baru 38 tahun. Itu berarti dia menikah usia 17 tahun dan punya anak gadis dua puluhan.
"Buset ini orang menikah di usia yang sangat muda sudah memiliki anak gadis perawan sementara ia masih muda." Batin Marsha.
Setibanya di depan pesawat jet pribadi milik pria misterius itu, Marsha di buat terkagum-kagum dengan body pesawat jet pribadi ini.
"Sebenarnya siapa pria ini? Pesawatnya saja seperti milik para mafia kelas berat. Apakah orang ini adalah mafia?" Batin Marsha menatap lekat pesawat itu membuat yang mpunya mengulum senyumnya.
"Silahkan naik nona!"
Tegur pria angker itu dengan suara beratnya. Di dalam kabin pesawat, lagi-lagi Marsha di suguhkan dengan rancangan interior pesawat ini di luar dari ekspektasi nya yang ia bisa menilai betapa sangat kayanya lelaki di hadapannya ini.
Marsha duduk di antara bangku yang tersedia dengan menopang kaki jenjangnya sambil memasang seat belt karena pesawat sudah melakukan manuver menuju landasan pacu.
"Perkenalkan namaku Excel!"
Ucap Excel sambil menyodorkan tangannya ke arah Marsha.
Marsha menyebutkan namanya dengan senyum samar karena saat ini ia masih terlihat tegang.
Ia sudah mendapatkan semua detail bahan dan segala pernak pernik gaun itu.
"Kenapa anda tidak langsung membeli saja gaun pengantin di Perancis untuk putrimu? Kenapa harus kekeh dengan rancangan ku?" Tanya Marsha dingin.
"Gaun hasil rancangan pertamamu terlihat asal dan pengerjaannya tidak sepenuh hati sehingga terlihat jelek di mataku. Sementara gaun baru yang saat ini kamu baru selesai gambar, punya sentuhan magis karena hati dan jiwamu ada di rancangan itu."
Tukas Excel membuat Marsha tersentak.
"Kenapa orang ini seperti cenayang? Dia tahu bagaimana suasana hatiku saat merancang suatu gaun. Ini sangat hebat. Pria ini tidak bisa dianggap remeh. Oh iya, ngomong-ngomong, di mana putrinya dan juga istrinya?"
Tanya Marsha yang terlihat membeku di tempatnya saat Excel memperlihatkan wajah putrinya yang sangat mirip dengannya.
__ADS_1
"Ini putriku! Dia sangat mirip denganmu. Besok satu tahun pernikahannya. Putriku sudah meninggal setahun yang lalu dan besok hari ulang tahun pernikahannya."
Duarrrr....