PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
13. Menguji Kejujuran


__ADS_3

Cal tersentak mendengar ucapan Marsha yang membuat sangat syok.


"Kenapa...? Apakah kamu takut? tidak ingin mengakui anak ini adalah anakmu? Kamu tidak ingin bertanggungjawab padaku?"


Serang Marsha dengan pertanyaan beruntun.


"Marsha...! Apakah benar itu anakku?"


"Aku hanya berhubungan denganmu. Aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun bahkan dengan suamiku dan kamu tahu itu."


"Tapi aku tidak mungkin menceraikan istriku. Aku mencintai keluargaku. Aku punya putri yang manis. Aku tidak sanggup meninggalkan mereka demi anak yang kamu kandung. Aku mohon tolong gugurkan anak itu Marsha! Aku akan menanggung biaya aborsi nya."


Plakkkk...


"Sudah aku duga, kau hanya memanfaatkan tubuhku. Kamu hanya ingin mendapatkan kepuasan dariku. Kau tidak serius mencintaiku. Kau hanya ingin bersenang-senang denganku. Bajingan..!"


Marsha mengeluarkan uang yang dibayarkan Cal untuk belanjaannya.


"Ambillah uangmu dan berikan pada istrimu karena aku bukan pengemis."


Ucap Marsha lalu naik ke atas motornya.


Cal hanya mengusap wajahnya. Ia juga menyesalkan perbuatannya yang telah menambahkan beban Marsha saat ini.


"Maafkan aku Marsha! Aku memang mencintaimu. Jujur bersamamu aku merasa sangat nyaman dan sangat bahagia. Tapi bagaimanapun juga, aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku walaupun istriku tidak sehebat dan secantik dirimu." Gumam Cal lirih.


Marsha mengendarai motornya sambil menangis sepenjang jalan. Ia sadar bahwa hubungannya dengan Cal hanya sekedar kebutuhan bukan cinta.


"Beruntunglah aku tidak di hamil oleh bajingan itu. Aku tidak bisa bayangkan jika aku benar-benar hamil anaknya, entah apa yang harus aku lakukan di tengah kemelut rumah tanggaku seperti ini."


Ucap Marsha sambil mengusap air matanya.


Seperti biasa Marsha memasak makan siang untuk keluarganya di bantu suaminya. Abimanyu yang sekarang jadi pengangguran di rumah sering membantu Marsha semampunya.


Walaupun sudah memaafkan suaminya, Marsha terlihat masih kaku untuk membangun kembali komunikasi yang hangat dengan suaminya.


Abimanyu mengerti perasaan Marsha yang sudah sering kali ia lukai. Walaupun istrinya terlihat tegas dalam beberapa hal, namun hati Marsha mudah luluh pada seseorang yang teraniaya. Itulah yang membuat Abimanyu merasa sangat bangga kepada istrinya.


"Apakah kamu baik-baik saja Marsha..?"


"Iya. Aku tidak apa-apa Abi."

__ADS_1


"Kamu yakin? Tapi kamu terlihat murung ketika pulang dari pasar."


"Aku harap kamu mengerti dengan keadaan kita Abi. Jika aku murung, yah itu wajar. Apakah kamu tidak lihat kondisi kita saat ini?"


"Iya aku tahu sayang. Aku rela kamu marahin. Tapi aku mohon tolong maafkan aku.


"Apakah semuanya berubah dengan kata maafmu itu?"


"Aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku padamu, Marsha ?"


"Bukankah kamu adalah pemikir yang tangguh? Kenapa kamu tidak belajar untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita bisa bangkit kembali." Ucap Marsha memotivasi suaminya.


"Aku tidak bisa berpikir kalau tidak punya modal untuk mulai lagi usaha Marsha."


"Kamu bisa jual barang secara online. Atau kamu bisa jadi sopir taksi online karena kita masih punya mobil. Setidaknya untuk kebutuhan kita sehari-hari."


Ucap Marsha.


Abi terlihat merenung. Ia tidak langsung memutuskan begitu saja permintaan istrinya.


"Beri aku waktu Marsha! Aku harus memikirkan bagaimana untung ruginya karena tidak semua yang kita putuskan bisa berdampak baik untuk kita."


"Terserah kepadamu. Setidaknya kamu keluar untuk mencari nafkah bukan bersama dengan aku di sini setiap saat." Ucap Marsha sambil menahan dongkol di hatinya.


Hal pertama yang dilakukan oleh Abimanyu adalah menjadi sopir taksi online. Ia harus berangkat dari subuh dengan mempersiapkan ponsel yang sudah terdaftar di aplikasi sebagai taksi online.


Rupanya pelanggan pertamanya adalah area dekat dengan tempat tinggalnya saat ini. Abimanyu begitu semangat menjemput penumpangnya menuju bandara.


Ia begitu bersyukur ketika balik dari bandara ia juga mengangkut penumpang. Abimanyu makin semangat setiap kali habis mengantar penumpang sampai tujuan ia kembali lagi penumpang yang lain hingga masuk waktu dhuhur.


Saat masuk waktu sholat dhuhur ia mampir ke mesjid untuk menunaikan sholat lalu pulang ke rumahnya untuk menyantap makan siang masakan istrinya.


"Marsha! Ini rejeki kita hari ini. Habis makan siang aku mau istirahat sebentar lalu berangkat lagi."


Ucap Abi seraya menyerahkan uang sebanyak 700 ribu pada Marsha yang menerimanya penuh syukur.


"Apakah ayah jadi sopir taksi online, ayah?"


Tanya Al yang baru pulang sekolah.


"Iya sayang. Semoga ayah selalu sehat."

__ADS_1


Ucap Abi yang merasa tubuhnya tidak bisa bekerja keras lagi seperti dulu.


"Kalau ayah kelelahan jangan di paksakan karena ayah sebentar lagi mau menjalani operasi jantung." Ucap Al mengingatkan ayahnya.


"Ayah tidak akan melupakan nasehatmu itu sayang."


Ucap Abimanyu penuh haru.


Usai menyantap makan siang, Abimanyu istirahat di kamarnya sementara Marsha sibuk mendesain gaun untuk ia jual di butik-butik di luar negeri.


Marsha sengaja menjual karyanya diluar negeri karena lebih dihargai nilainya fantastis daripada di negeri sendiri.


"Mami! Apakah mami mau menjual lagi ke keluar negeri?"


"Iya sayang!"


"Kenapa mami tidak sekalian saja lamar kerja di luar negeri?"


"Untuk apa harus keluar negeri Al?"


"Karena kita bisa hijrah ke sana tidak merasa beban moral jika berada di sini." Ucap AL.


"Apakah ada yang mengusik kamu Al?"


"Iya mami. Dan itu sangat menyakitkan. Bahkan mereka tidak segan merundung aku mami."


"Apa kesalahanmu hingga mereka merundung mu?"


"Karena kita sudah jatuh miskin."


"Apakah mereka mengetahui siapa kamu..? Apakah mereka semuanya anak orang berada? Bukannya sekolah itu milik pemerintah? Mereka seenaknya menghinamu? Baiklah. Besok mami akan ke sekolah." Ucap Marsha kesal.


"Tidak usah mami. Itu hanya memperkeruh keadaan. Aku hanya ingin mami berusaha agar kita bisa pindah ke luar negeri karena negara ini sudah tidak lagi membuat aku nyaman." Ucap Al setengah memelas pada ibunya.


"Tapi di luar negeri lebih parah lagi pergaulannya sayang. Mereka termasuk anak-anak yang belum tentu di didik dengan baik oleh orangtuanya dengan pendidikan agama yang kental.


Semuanya serba bebas. Bahkan di usia mereka yang masih sangat muda sudah melakukan hubungan terlarang."


"Setidaknya mereka tidak mengenal kita mami. Dan aku harap mami bisa aku andalkan dan mendapatkan solusi terbaik dari masalah yang aku hadapi saat ini."


"Apakah kamu malu menjadi orang miskin Al? Miskin bukan sebuah dosa. Untuk apa gengsi kalau keadaan kita memang sudah seperti ini."

__ADS_1


"Buat mami yang tidak mengalami langsung dampaknya seperti aku, mungkin mami menerima keadaan ini dengan penuh kesabaran.


Tapi tidak denganku yang setiap hari tanpa absen di rundung oleh mereka. Aku mohon mami, kita lebih baik menjauhkan diri dari berbagai isu sosial daripada setiap saat harus menanggung malu karena ulah ayah." Ucap Al lirih.


__ADS_2