PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
25. Kebahagiaan Marsha


__ADS_3

Setelah tiga belas tahun tidak pernah hamil lagi semenjak melahirkan putranya Al, kini Marsha dikaruniai lagi keturunan dari buah cintanya dengan suami keduanya Excel.


Wajah Excel begitu bahagia saat mengetahui istrinya hamil anaknya.


Bagaimana tidak, Excel yang pernah kehilangan putrinya seperti orang gila saat itu, kini mendapatkan lagi keturunan membuat hatinya berbunga-bunga.


Saking senangnya, ia menanyakan apa saja yang diinginkan Marsha yang belum kesampaian sampai saat ini.


"Sayang...?"


"Hmm..!"


"Apakah kamu ingin makan sesuatu?"


"Aku tidak ingin apa-apa Cell."


"Atau mau beli tas, sepatu, baju atau apa saja yang kamu inginkan, aku akan membelikan untukmu." Ucap Excel penuh semangat.


"Sudah terlalu banyak kamu membelinya untukku. Aku hanya butuh cinta kamu dan ini." Ucap Marsha sambil menunjukkan si junior membuat Excel terkekeh.


"Tanpa kamu minta pun, aku akan memberinya dengan senang hati sayang." Ucap Excel lalu mengecup bibir istrinya.


"Tapi aku mau mengisapnya sayang." Pinta Marsha membuat Excel langsung meremang.


"Bukankah kita barusan bercinta? Apakah kamu menginginkan kita bercinta lagi, Marsha ?"


"Tidak mau bercinta lagi Cell, aku lelah, apa lagi hamil muda seperti ini, jangan terlalu sering-sering bercinta sayang aku takut nanti malah keguguran." Ucap Marsha.


"Kalau tidak bercinta, kamu mau apa dengan junior aku sayang?"


"Aku hanya ingin mengisapnya sampai aku tertidur." Ucap Marsha lagi-lagi membuat jantung Excel seakan mau meledak.


"Sayang...! Kenapa kamu jadi nakal begini?" Tanya Excel disertai tawa kecil.


"Entahlah sayang, mungkin bawaan baby." Ucap Marsha.


"Baiklah. Apapun keinginanmu lakukan saja sayang tapi bagaimana kalau aku tidak tahan dengan permainan lidahmu? dan kamu sudah tertidur?"


"Tinggal masukin dan lakukan dengan perlahan agar tidak menganggu ku." Ucap Marsha.


"Astaga...! Aku seperti maling saja sayang." Kata Excel.


"Aku rela kalau kamu malingnya."


"Kenapa rela?"


"Karena malingnya terlalu tampan. Jadi mau diambil apa saja dari tubuhku, itu lebih mengasyikkan." Ucap Marsha.


Keduanya kemudian terkekeh dengan ocehan vulgar mereka.

__ADS_1


Mobil itu berhenti di sebuah restoran Sunda yang menawarkan aneka makanan khas Sunda yang identik dengan yang pedas-pedas.


Liur Marsha langsung terbit saat mencium wangi rempah yang menguar dari dalam dapur sana. Keduanya memesan ikan gurame, ayam dan daging gepuk. Tidak ketinggalan sayur asem.


Marsha juga meminta jus jeruk sebagai pelengkap makan siang mereka.


"Sayang...habis makan kita ke rumah sakit ya."


"Boleh, tapi jangan siang. Aku maunya sore saja. Udaranya lebih sejuk. Kalau sekarang yang ada aku malah merasa ngantuk, Cell." Kata Marsha.


"Apakah kamu mau kita pulang sayang?" Tanya Excel.


"Iya sayang. Aku ingin kita langsung pulang usai makan siang. Rasanya hari ini aku sangat lelah." Ucap Marsha.


"Ok."


Tidak lama kemudian pesanan mereka ditata dengan rapi oleh pelayan restoran. Keduanya mulai menikmati makan siang mereka sambil bercanda.


"Sayang.. apakah kamu tidak mau mengabari putra kita Al? kalau saat ini kamu akan memberikannya seorang adik." Ucap Excel.


"Apa kita jemput saja dia di sekolahnya saat pulang sekolah nanti, sayang." Ucap Marsha.


"Oh iya sebentar lagi dia pulang sekolah, lebih baik kita saja yang menjemputnya." Ucap Excel.


Keduanya sepakat menjemput Aku yang sebentar lagi akan pulang sekolah. Excel menghubungi sopir pribadi Al, agar tidak menjemput Al.


...----------------...


Excel yang sudah kadung janji pada istrinya sudah siap-siap memberikan miliknya pada sang istri untuk di hisap Marsha.


Marsha yang saat ini sedang ngidam begitu girang melihat benda pusaka yang sudah mengeras itu terpampang jelas di depan wajahnya membuat ia langsung menjulurkan lidahnya dan melahapnya.


Awalnya ia bermain-main dengan benda pusaka yang terasa kenyal itu dengan memajukan mundurkan wajahnya. Lama kelamaan Marsha pun terlihat lelah dan hanya menghisap ujungnya saja hingga ia tertidur diantara sela paha suaminya.


Excel yang sejak tadi hanya bisa mendesis karena kenikmatan yang diberikan oleh sang istri begitu luar biasa pada miliknya membuat ia harus menahan diri agar tidak sampai menyemburkan laharnya itu.


Dengan perlahan ia melepaskan miliknya dari mulut sang istri agar bisa terbebas dari ancaman ledakan yang akan membangun istrinya.


"Mengapa Marsha begitu pintar melakukan ini? Ini sangat membuatku gila jika harus menerima ini setiap malamnya dari istriku.


Sayang ..! kenapa aku baru menemukan wanita langkah dan unik sepertimu sekarang ini. Aku sangat mencintaimu." Ucap Excel tidak habis-habisnya memuji istrinya.


Iapun tidak ingin memasuki tubuh Marsha. Ia hanya ingin melakukan solo karier agar bisa memuntahkan cairan kenikmatannya itu sendirian di dalam kamar mandi.


Keesokan paginya, Marsha menjadi sangat malas berangkat ke butik dan memilih meringkuk di dalam selimutnya.


Excel melihat istrinya yang tidak mau sarapan pagi, meminta pelayannya membuat sesuatu yang bisa membuat Marsha mau makan tanpa rasa enek.


"Sayang....! apa kamu tidak ingin keluar untuk menghirup udara segar?" Tanya Excel saat melihat Marsha masih mengenakan lengerie nya.

__ADS_1


"Aku mau di rumah saja sambil nonton drama Korea." Ucap Marsha.


"Apakah kamu ingin aku menemanimu?" Tanya Excel.


"Iya sayang, kalau boleh." Pinta Marsha.


"Baiklah. Tapi kamu harus makan, aku yang suapin, mau ..?"


"Tapi, aku mau mengisap yang ini dulu, baru makan." Ucap Marsha menunjuk benda pusaka suaminya.


"Sayang ...! aku tidak kuat kalau kalau kamu kelamaan memainkan punyaku. Itu sangat menyiksaku."


"Kalau begitu, aku tidak mau makan!" Ancam Marsha membuat Excel harus menarik nafas berat.


"Baiklah sayang. Tapi aku akan memberikannya, tapi kamu harus makan dulu walaupun hanya sedikit."


"Baiklah. Tapi janji, kamu tidak akan ingkar." Ucap Marsha.


"Hmm!"


Excel menyuapi Marsha yang berusaha untuk makan makanannya walaupun dia ingin memuntahkan lagi makanan itu.


Setiap kali makan, ia harus mengunyah kacang tanah untuk melawan rasa mual yang mengaduk perutnya.


Excel mengerti kalau Marsha ingin muntah tapi kalau dimuntahkan lagi tubuh Marsha akan lemas dan membuat kepalanya menjadi sangat pusing.


"Sayang.. ..! udahan makannya. Aku tidak kuat lagi dengan bau makanan ini." Keluh Marsha.


"Aku tahu sayang. Tapi kamu harus makan kalau tidak tubuhmu akan lemah." Sahut Excel.


"Nanti saja lagi makannya. Jangan memaksa aku terus." Ucap Marsha.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu makan buah?" Tawar Excel.


"Kenapa kamu terus memaksakan kehendak mu, Excel" Tidak lihat apa aku dari tadi ingin muntah." Gerutu Marsha.


"Baiklah. Kalau begitu gantinya sama ini saja." Ucap Excel lalu mengeluarkan senjata Laras panjangnya untuk di hisap Marsha.


Melihat barang yang menjadi candunya, Marsha dengan cepat melahapnya membuat Excel hanya bisa mendesis nikmat dan membelai rambut panjang istrinya.


"Kenapa kamu lebih doyan ini sayang daripada makanan?" Ucap Excel yang harus menahan diri agar tidak memuntahkan lahar panasnya di mulut Marsha.


Marsha melakukannya makin menggebu membuat Excel segera mencabut miliknya.


"Sayang...! Aku tidak kuat lagi menahan ini. Bersiaplah Aku akan menggempur tubuh seharian karena kamu terlalu memancing gairahku." Ucap Excel lalu membalikkan tubuh Marsha menghadapnya.


Dalam sekejap keduanya sudah beradu pinggul sambil menyentak kan tubuh mereka.


"Baby...! Ini lebih nikmat daripada sarapan pagi. Perutku tidak lagi merasakan mual." Ucap Marsha membuat Excel mempercepat permainannya agar bisa melepaskan laharnya.

__ADS_1


"Akkkkk..!" Keduanya serentak melepaskan cairan kenikmatan mereka bersama.


"Terimakasih, baby!" Ucap Excel lalu mengecup bibir Marsha .


__ADS_2