PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
18. Akhirnya Dia Pergi


__ADS_3

Mentari di atas sana mengeluarkan sinar lembutnya menandakan hari kini tetap sama hanya berbeda tanggal yang akan terus berpindah dari waktu ke waktu.


Ia hanya mengikuti tugasnya mendatangi bumi dari pagi hilang menjelang senja lalu memudar berganti gelap yang dinamakan malam.


Marsha bangun dengan malas sambil menatap ponselnya melihat waktu yang sudah pukul sembilan pagi. Perutnya terasa keroncongan pagi itu karena cuaca di Perancis lagi memasuki musim dingin.


Marsha segera bangkit untuk membersihkan tubuhnya dan berniat untuk sarapan pagi.


Sementara itu di restoran, tuan Excel terlihat gelisah menunggu Marsha yang belum juga muncul padahal ia ingin membicarakan sesuatu kepada gadis itu.


Kegelisahannya berakhir tatkala melihat wajah cantik Marsha dengan mantel merah dipadukan kerah berwarna putih menunjukkan ciri khas bangsanya.


Excel tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya untuk memanggil gadis itu duduk di mejanya. Marsha tetap melangkah dengan anggun dan melambaikan tangannya ke arah Excel yang langsung berdiri menarik kursi untuk wanitanya.


"Terimakasih tuan Excel!"


Marsha duduk dengan anggun lalu meletakkan tangannya di atas meja siap memesan makanan untuknya.


Pelayan datang mencatat pesanan gadis itu.


"Apakah semalam tidurmu nyenyak, nona Marsha?"


"Lumayan hingga telat bangun dan sarapanku sudah lewat."


Ucap Marsha tertawa renyah hingga memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih seperti model iklan pasta gigi.


Tuan Excel menikmati pemandangan indah itu yang sudah lama ia tidak melihat senyum itu merekah indah memperlihatkan mutiara putih itu.


Tidak lama kemudian hidangannya sudah tersaji dan siap di ekskusi oleh Marsha.


"Maaf tuan Excel! saya jadi makan sendiri."


"Saya sudah duluan dari setengah jam yang lalu."


Ucap Excel bohong, padahal dua jam yang lalu dia sudah berada di restoran itu hanya menunggu Marsha.


"Nona Marsha! Kapan anda balik ke Indonesia?"


"Nanti malam!"


"Apakah Anda sudah memesan tiket?"


"Saya sudah memesannya untuk pulang pergi." Ucap Marsha sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Kalau anda tidak keberatan, maukah anda menumpang pesawat jet pribadi milik saya?"


"Tapi saya sudah memesan tiket pesawat dan saya tidak mau itu menjadi mubasir."


"Saya akan mengembalikan uang tiket anda, nona Marsha."


"Tidak perlu Tuan! Saya rasa anda terlalu berlebihan memperlakukan saya seperti wanita yang tidak memiliki status." Tolak Marsha yang tidak ingin lagi bermain api.


"Kita ini teman dan ini hanya tawaran kecil bukan suatu yang serius. Dan aku tetap menghormatimu sebagai istri orang lain. Jangan terlalu kejam padaku seakan aku mengajak kamu untuk selingkuh."


"Maafkan saya Tuan Excel! Aku tidak bermaksud merendahkan mu. Aku hanya ingin pertemanan kita tidak diwarnai niat terselubung." Ucap Marsha tidak enak hati.


"Aku mengerti kecemasan mu. Baiklah. Tidak apa kalau anda menolaknya. Maafkan saya karena terlalu memaksamu."


Ucap tuan Excel yang tetap berharap Marsha berubah pikiran.


Dreetttt...


Ponsel Marsha berdering. Marsha melihat ada panggilan dari putranya.


"Sebentar tuan! Saya mau menerima telepon dulu."


Ucap Marsha lalu berdiri menjauh dari tuan Excel.


"Maaf nona Marsha! Ini bibi non! Saat ini, tuan muda sedang sakit. Tadi muntah-muntah dan sekarang sedang demam." Ucap bibi Alena.


"Whatt..?" Marsha terlihat panik. Membuat tuan Excel ikut menatap wajah cantik Marsha sambil mengangkat kedua tangannya." Ada apa Marsha ?"


Marsha menahan dengan tangannya karena masih mendengar penjelasan bibi Elena.


"Sebentar bibi! Aku mau bicara dulu sama teman. Tolong jangan di matikan!"


Marsha mendekati Excel dan menceritakan keadaan puteranya.


"Tenang nona Marsha ! aku akan menghubungi asisten pribadiku untuk mengurus putramu. Biar dia yang akan menelepon ambulans untuk menjemput putramu di apartemen." Ucap tuan Excel lalu menghubungi asistennya.


Deggggg...


"Bagaimana dia tahu aku sudah tinggal di apartemen. Padahal aku tidak menyinggung tempat tinggal ku yang baru sepanjang aku ngobrol." Batin Marsha.


"Tenanglah ambulans sudah menuju ke apartemen kalian." Ucap tuan Excel.


"Tuan Excel! Apakah tawaranmu masih berlaku untukku. Aku ingin segera pulang ke Jakarta. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat komersial." Ucap Marsha gelisah.

__ADS_1


"Baiklah! Bersiaplah! Aku akan menjemputmu ke kamarmu sepuluh menit lagi."


"Terimakasih Tuan Excel."


"Dengan senang hati, nona Marsha."


Dalam beberapa menit kemudian keduanya sudah menuju ke bandara setempat. Marsha memang memiliki suami pengusaha tapi belum bisa membeli pesawat jet pribadi.


Ini pertama kalinya bagi Marsha membeli pesawat jet pribadi. Mobil itu langsung masuk ke bandara dan berhenti tepat di samping pesawat jet tersebut.


Keduanya segera naik ke pesawat di sambut oleh dua pramugari cantik.


Karena perjalanan begitu panjang Tuan Excel menawarkan Marsha untuk istirahat di kamarnya, namun di tolak dengan tegas oleh Marsha. Ia tetap menjaga kehormatannya dan tidak tergoda lagi hal-hal kecil dalam bentuk perhatian.


"Saya ingin tetap di sini, tuan Excel. Silahkan anda istirahat di kamar anda."


Ucap Marsha lalu membuka ponselnya yang ada Al-Qur'an nya.


Tuan Excel tidak enak hati berada di kamarnya dan meninggalkan Marsha sendirian. Iapun memutuskan untuk duduk bersama dengan Marsha saling berhadapan.


Marsha terlihat menikmati bacaan ayat suci tersebut dengan suara yang lirih. Sementara tuan Excel membuka laptopnya untuk mengerjakan tugasnya yang juga menumpuk.


Marsha akhirnya tertidur juga. Tuan Excel mengambil selimutnya dan menutupi tubuh Marsha. Ia juga ikut tidur tepat di samping Marsha karena kepala Marsha sudah terjulur ke samping.


Tuan Excel menyandarkan kepalanya Marsha di bahunya untuk memberikan gadis itu kenyamanan. Keduanya sama-sama terlelap hingga akhirnya pesawat itu tiba juga di bandara setempat.


Marsha terbangun saat dentuman roda pesawat masuk ke landasan pacu untuk melakukan pendaratan. Marsha membuka ponselnya dan melihat pesan masuk begitu banyak. Matanya seketika terbelalak melihat pesan masuk dari dokter Hambali.


"Tidakkkkkkkk... !"


Pekik Marsha menangis histeris saat mengetahui suaminya telah meninggal dunia. Ia akhirnya pingsan dan tuan Excel bingung karena tidak tahu apa yang terjadi pada wanitanya.


"Nona Marsha ...! Nona Marsha ..!"


Tuan Excel meraih ponselnya Marsha dan membaca pesan masuk itu membuat ia juga sangat syok.


Lagi-lagi ia meminta asistennya untuk mengurusi proses pemakaman tuan Abimanyu.


"Akhirnya dia pergi. Syukurlah biar wanita ini menjadi milikku. Sudah saatnya Marsha bahagia. Ia terlalu lelah menjalani pernikahan yang penuh kepalsuan hingga wanita ini masuk ke dalam kenistaan yang nyata."


Ucap Excel lalu membantu Marsha untuk menyadarkan gadis itu karena mereka harus segera ke rumah sakit.


"Nona Marsha...!" Panggil Excel sambil menepuk pipi Marsha lembut. Marsha mengerjapkan matanya lalu menangis histeris. Tuan Excel memeluk Marsha dan membiarkan gadis ini menumpahkan perasaan dukanya.

__ADS_1


__ADS_2