PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
14. Keputusan Berat


__ADS_3

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Abimanyu dipersiapkan untuk melakukan operasi bypass jantung. Marsha menunggu seorang diri di rumah sakit karena putranya Al saat ini masih berada di sekolah.


"Ya Allah! Aku tahu aku salah. Aku sudah selingkuh dari suamiku. Tapi aku mohon kepadamu ya Allah sembuh suamiku dan angkat penyakitnya.


Berilah dia kesempatan mendampingiku dan anak kami hingga dewasa. Aaamiin." Pinta Marsha lirih.


Hampir sepuluh jam operasi di dalam berlangsung membuat Marsha kelelahan dan tertidur.


"Mami...Mami... mami!"


Panggil Al saat sudah berada di hadapan ibunya.


"Al...!" Kamu sudah pulang sayang..?"


"Sudah!"


"Apakah kamu lapar?"


"Iya mami."


"Ayo kita ke kantin."


Marsha dan Al memesan makanan mereka dan makan di kantin itu juga dengan sedikit malas.


"Sayang cepatan habiskan makananmu karena kita harus segera kembali ke ruang tunggu sebelum dokter ayah mencari kita." Pinta Marsha terlihat cemas.


"Apakah ayah bisa selamat dari operasi ini mami?"


"Jangan pesimis Al! Walaupun ayah pernah berbuat salah pada kita, dia tetap ayahmu dan suaminya mami. Apakah kamu mau jadi seorang anak yatim di usiamu yang masih muda?"


"Tentu saja tidak mau mau mami. Al sudah memaafkan ayah. Justru Al takut kehilangan ayah."


Ucap Al dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah sudah menembus kesalahannya dengan sakitnya. Kita tidak mungkin terus menghukum ayah karena sifat tidak pedulinya.


Ia juga cari uang buat kita. Hanya saja ayah tidak bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarga." Imbuh Marsha.


"Ada yang membuat Al bangga pada ayah. Ayah hanya sibuk bekerja. Dunianya hanya bisnis. Tapi dua tidak pernah untuk selingkuh dari mami."


Ucap Al membuat wajah Marsha seperti tertampar.


"Ayo sayang kita harus kembali ke ruang tunggu sebelum operasi ayah selesai."


Keduanya berjalan cepat menuju ruang tunggu. Baru saja mereka duduk, tidak lama dokter keluar menemui keduanya.


Marsha menggenggam tangan putranya. Menunggu kabar dari dokter dengan cemas hati. dokter Hambali menatap anak dan ibu ini sesaat lalu membuka suaranya.


"Operasinya berjalan penuh dramatis hingga kami bisa menyelamatkan tuan Abimanyu. Walaupun begitu, tuan Abimanyu saat ini sedang koma dan harus ditopang dengan alat bantu pernapasan."

__ADS_1


Ucap dokter hambatan membuat jantung Marsha ikut berdenyut kencang.


"Ayahhh ..!" Pekik Al langsung memeluk ibunya.


"Kami hanya meminta kepada anda, apakah anda bersedia menunggu kesembuhan tuan Abimanyu atau ingin mencabut alat bantu pernapasan?"


"Selama masih ada nyawanya, tolong biarkan suamiku hidup dengan alat bantu pernafasan. Kecuali Allah sendiri yang mencabut kehidupan suamiku."


Pinta Marsha memberikan keputusan yang cukup sulit.


"Baiklah nyonya! Semoga ada keajaiban dari Allah untuk tuan Abimanyu. Mohon kalian tetap bersabar dan tetap optimis."


Ucap dokter Hambali.


"Terimakasih dokter sudah menyelamatkan suami saya."


"Silahkan temui suaminya di ruang ICU! Kalian boleh meninggalkan rumah sakit untuk istirahat di rumah.


Tuan Abimanyu dalam pantauan dokter selama 24 jam. Kami akan mengabarkan anda kalau ada apa-apa dengan tuan Abimanyu."


Ucap dokter Hambali lalu meninggalkan keduanya.


Marsha dan Al menemui tuan


Abimanyu. Al dan Marsha menangis melihat orang yang paling mereka cintai terbaring tak berdaya dengan banyak peralatan medis.


...----------------...


Walaupun Abimanyu masih dirawat di rumah sakit, Marsha tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai desainer.


Dengan menjual hasil dari sketsa desainer di luar negeri namun penghasilannya lumayan besar membuat perekonomiannya kembali lancar.


Ia memutuskan untuk mencari apartemen sederhana agar kehidupannya jauh lebih layak dari pada tinggal di butik dengan ruang kerja yang begitu banyak cukup membuat dirinya takut tinggal berdua saja dengan Al.


"Al..! Sebelum ayah pulang dari rumah sakit bagaimana kalau kita menyewa apartemen sederhana sambil menabung untuk membeli rumah."


Ucap Marsha pada putranya yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Baik mami. Itu keputusan yang sangat bagus karena sudah tidak betah tinggal di butik tanpa ayah."


"Biarkan butik ini kita sewakan saja dengan begitu kita punya penghasilan untuk biaya hidup sehari-hari."


Ucap Marsha membuat Al bernafas lega.


Saat weekend, Marsha dan Al mencari apartemen sederhana untuk mereka tempati. Rupanya pengelola apartemen menawarkan lokasi apartemen mewah dengan harga sewa sesuai dengan bajet Marsha.


"Nyonya! Kami punya apartemen mewah dan harga sewanya murah. Sepertinya cocok dengan gaya hidup anda."


"Saya tidak punya uang lebih untuk mengambil apartemen mewah walaupun harganya terjangkau."

__ADS_1


Tolak Marsha secara halus.


"Begini nona! Pemiliknya itu tinggal di luar negeri dan sesekali saja ia pulang ke Indonesia.


Dia sengaja untuk menyewakan apartemennya pada seseorang yang benar-benar butuh dengan bajet yang minim. Dua hanya ingin apartemennya dirawat dengan baik oleh penyewaannya."


Ucap nyonya Nia.


Marsha menatap putranya dan meminta persetujuan Al yang hanya mengangkat kedua bahunya seakan mengatakan terserah mami walaupun hatinya sangat berharap ibunya menyetujui untuk mengambil kesempatan itu.


"Baiklah nyonya Nia kami ingin melihat apartemen yang anda maksudkan. Tolong antar kami ke sana!"


"Nyonya Nia begitu lega saat Marsha menerima tawarannya. Ia begitu antusias mengantar keluarga itu ke apartemen yang di tuju.


Marsha sangat kaget saat mendatangi lokasi apartemen yang bisa di katakan hanya untuk penghuni kelas elite. Ia mengernyitkan dahinya merasa heran dengan tawaran nyonya Nia yang dianggapnya terlalu berlebihan.


"Nyonya Nia! Apakah anda tidak salah menawarkan apartemen mewah ini untuk kami dengan harga sesuai dengan bajet kami?"


"Pemiliknya sangat kaya dan uang bukan masalah untuknya."


"Siapa pemilik apartemen ini?"


"Maaf nona Marsha! Kami di larang untuk menyebut nama pemiliknya karena apartemen mereka sudah di serahkan kepada bagian pengelola apartemen seperti saya ini." Ucap nyonya Nia.


"Mami Al suka apartemen ini. Kita ambil yang ini saja mami karena fasilitasnya sangat lengkap. Ini benar-benar untuk kelas para konglomerat."


Ucap Al dengan wajah berbinar.


"Baiklah nyonya Nia. Saya ambil apartemen ini." Ucap Marsha.


Nyonya Nia menyerahkan key card apartemen itu pada Marsha. Ia meninggalkan keduanya dan pamit kembali ke kantornya.


Marsha dan Al mencoba kamar mereka masing-masing.


Al yang sudah lama kangen dengan kemewahannya, benar-benar menikmati kamarnya yang sangat luas itu.


Nyonya Nia menghubungi seseorang untuk mengabarkan kepada bosnya karena sudah menjalani tugasnya dengan baik.


"Apakah dia sudah setuju tinggal di apartemen itu?"


"Saya sudah meyakinkan dirinya dan akhirnya mereka berdua setuju untuk menempati apartemen milik Tuan."


"Carikan pelayan untuknya agar bisa membersihkan kamar apartemennya itu dengan melayani kebutuhan mereka. Aku tidak mau wanita ku kelelahan mengurus apartemen itu."


"Baik Tuan! Saya akan segera mengirim dua pelayan untuk mereka."


"Tapi ingat. Jangan sampai ia tahu tentang saya."


"Baik Tuan."

__ADS_1


__ADS_2