PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
8. Seorang Pria Depresi


__ADS_3

Marsha tidak mengerti dengan ucapan tuan Excel yang terkesan mempermainkan dirinya. Ia sama sekali tidak tahu kalau pria di hadapannya ini sedang mengalami depresi karena kehilangan putrinya.


"Apakah anda tahu, aku hampir mati ketakutan karena ancaman anda. Dan sekarang anda mengatakan putri anda sudah meninggal setahun yang lalu. Anda ini gila atau apa, hah?"


Marsha segera bangkit dan ingin meminta pilot untuk mendarat di bandara terdekat. Ia tidak mau jadi gila karena berhadapan dengan lelaki gila.


"Nona! Sebaiknya kembali lagi ke tempat anda. Kami sudah memberikan obat untuk tuan Excel supaya tuan cepat tidur dan pesawat kita akan putar balik kembali ke bandara Soekarno Hatta." Ucap ko-pilot.


"Kenapa kalian mau saja diperintah oleh orang gila itu?"


"Karena kami butuh pekerjaan ini. Kami mendapatkan gaji tiga kali lipat dari pada bekerja di maskapai penerbangan lain." Ucap ko-pilot memberikan alasan mereka.


"Kalian lama-lama juga ikutan sinting menuruti kemauannya."


Ucap Marsha lalu kembali duduk di tempatnya.


Tuan Excel sudah terlihat mengantuk dan dua pramugari menuntunnya ke kamar pribadinya untuk istirahat.


Marsha terlihat lega dan menikmati teh manis hangatnya. Ko-pilot mendekatinya memberi penjelasan.


"Maafkan kami nona atas ketidak nyamanan anda saat ini. Sebenarnya Tuan Excel orangnya sangat baik, tegas dan disiplin. Kematian putrinya mengubahnya menjadi arogan dan sangat tertekan. Tuan Excel menikah muda saat usianya 17 tahun. Istrinya meninggal saat putri mereka berusia sepuluh tahun.


Sajak saat itu tuan Excel lebih sibuk mengurus putrinya daripada memikirkan untuk menikah lagi. Ia makin terpuruk saat putrinya mengalami kecelakaan mobil saat melangsungkan bulan madu di Paris Perancis.


Seminggu kemudian menantunya tidak dapat bertahan dan juga ikut meninggal, menyusul putrinya. Besok genap setahun pernikahan putrinya. Dan putrinya sangat mirip dengan anda nona."


"Kenapa kalian tidak membantunya membawanya ke dokter? Dia sudah sangat sakit." Ucap Marsha.


"Kami sulit membujuknya untuk menemui dokter psikiater. Dan asistennya sendiri tidak berani melakukan itu."


Tidak lama pesawat kembali mendarat dan Marsha sangat lega karena tidak harus memikirkan gaun pengantin untuk putri seorang pria depresi.


Marsha mengambil barang-barangnya dan siap untuk turun. Ko-pilot berusaha mencegah Marsha untuk memberitahu sesuatu hal yang sangat penting.


"Sepertinya Tuan ku menyukai anda. Kalau bisa tolong bawa tuan Excel ke dokter psikiater. Saya yakin kalau anda yang memintanya dia akan menuruti anda."


"Aku sudah bersuami dan memiliki keluarga sendiri. Anda bisa meminta tolong pada siapa saja yang mungkin lebih kompeten untuk membujuknya menemui dokter psikiater. Ucap Marsha lalu menuruni tangga pesawat.


"Tolong ambil kartu namaku, nona, jika anda berubah pikiran untuk menolong tuan Excel, saya akan sangat berterimakasih kepada anda, nona...?"

__ADS_1


"Namaku Marsha. Saya akan menyimpan kartu nama anda, tapi saya tidak menjamin untuk menghubungi anda. Terimakasih Tuan Atalarik."


Ucap Marsha sambil membaca nama ko-pilot yang tertera di kartu namanya.


Marsha melangkah dengan cepat sebelum berurusan lagi dengan Excel, si pria depresi itu.


"Mereka pikir aku ini dokter kejiwaan apa. Buang-buang waktu hari ini. Untunglah ia sudah melunasi pembayaran gaunnya kalau tidak aku langsung kirim pria itu ke rumah sakit jiwa."


Ucap Marsha lalu masuk ke mobilnya yang sudah di jemput oleh oleh asistennya.


"Nona Marsha! Kenapa anda bisa balik lagi padahal beberapa menit yang lalu anda sudah terbang bersama tuan Excel?"


"Lain kali, teliti orang yang memesan gaun pengantin di butik kita. Jangan coba-coba melayani pria gila walaupun penampilannya terlihat sempurna."


Ucap Marsha lalu merebahkan tubuhnya di mobil.


"Maksud nona, pria itu orang gila?"


"Hmm! Tolong jangan ganggu aku. Hari ini sangat melelahkan dan aku mau tidur." Ucap Marsha sambil memejamkan matanya.


Ponsel Marsha terus berbunyi. Marsha sengaja mode silent karena tidak ingin diganggu oleh siapapun.


"Kenapa dengan wanita ini? Kenapa dia tidak mau mengangkat telepon dariku? Apakah dia masih marah pada aku?"


Marsha sengaja tidak ingin menghubungi lagi Cal karena Cal tidak lagi hadir seperti yang diinginkan Marsha. Pria ini selalu memaksakan kehendaknya untuk bercinta dengan Marsha yang sesungguhnya, layaknya suami-istri.


Cal berinisiatif mendatangi tempat kerjanya Marsha untuk minta klarifikasi apa yang menyebabkan wanita itu tiba-tiba menjauhinya.


Baru saja Marsha turun dari mobilnya, Cal langsung menghampiri Marsha yang terlihat bad mood hari itu.


"Marsha!"


Sapa Cal terdengar akrab oleh asistennya.


Marsha menatap Cal yang terlihat ingin bicara dengannya.


"Kamu boleh masuk duluan Welly!"


"Baik Nona Marsha."

__ADS_1


"Ada apa Cal? Hari ini aku sedang tidak enak badan dan aku tidak ingin di ganggu."


Ketus Marsha membuat Cal juga mengerti melihat wajah Marsha yang benar-benat terlihat pucat.


"Apakah kamu perlu aku antar ke dokter, sayang?"


"Tidak! Aku hanya butuh istirahat saat ini. Aku minta pengertianmu untuk tinggalkan aku sendiri!"


Pinta Marsha dengan wajah tak bersahabat.


"Baik sayang. Aku harap kamu cepat sembuh dan aku mohon tolong hubungi aku kalau sudah baikan." Ucap Cal.


"Hmm!"


Marsha melangkah masuk ke dalam butiknya. Ia tidak begitu peduli pada Cal dan memilih istirahat di ruang kerjanya.


"Astaga! Ada apa dengan aku hari ini? Ini benar-benar sangat mengerikan. Aku harus berurusan dengan orang gila yang hampir saja menculik diriku. Bagaimana kalau aku benar-benar ke Prancis bersama dengan tuan Excel itu."


Marsha meneguk obat tidurnya. Ia ingin melupakan kejadian hari ini sebagai mimpi buruk.


Waktu terus berjalan menapaki setiap peristiwa demi peristiwa. Marsha tidak lagi berhubungan dengan Cal. Ia membuat dirinya sibuk dan tidak lagi memikirkan fantasi liar yang selalu menghampirinya.


Hubungan dengan suaminya seperti dua orang asing yang tidur dalam satu ranjang namun tidak pernah saling menyapa atau saling mengecup bibir sebelum berangkat tidur.


Dari bulan ke bulan hingga hampir enam bulan Cal dan Marsha benar-benar memutuskan komunikasi. Marsha mencoba hal baru yang ingin menolong tuan depresi Excel untuk mengajak pria itu menemui dokter psikiater.


"Aku hanya mau membantumu demi kemanusiaan tuan Excel. Aku harap kamu tidak salah paham dengan kebaikanku." Gumam Marsha lirih.


Rupanya pengobatan tuan Excel membuahkan hasil. Marsha yang tidak mau terjebak situasi sulit mengingat tuan Excel seorang duda kesepian, Marsha memilih untuk menjauh.


Tuan Excel merasa berhutang pada Marsha, menemui wanita cantik ini dengan membawa buket bunga dan satu kotak coklat.


"Selamat siang nona Marsha!"


Sapa tuan Excel yang sudah berdiri di balik punggung Marsha yang saat ini sedang membuat desain gaun pesta untuk salah satu artis papan atas.


Marsha membalikkan tubuhnya perlahan dan melihat wajah tampan tuan Excel dengan senyum samar nya.


"Siang tuan Excel!"

__ADS_1


"Apakah anda punya waktu untuk menemani aku makan siang?"


Baru saja Marsha ingin menjawabnya tiba-tiba sudah berdiri seseorang di balik punggung tuan Excel membuat Marsha mengurung niatnya untuk menjawab ajakan tuan Excel.


__ADS_2