PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
12. Menjauh


__ADS_3

Dalam sekejap, kekayaan milik Abimanyu hilang di telan bumi. Hal ini membuat pria empat puluh tahun ini mengalami serangan jantung.


Marsha gelagapan sendiri saat melihat suaminya langsung pingsan di depannya. Abimanyu langsung di bawa ke rumah sakit.


Beruntungnya Abimanyu punya asuransi kesehatan yang membuat ia ditangani secara optimal oleh pihak rumah sakit jantung Jakarta.


"Maaf Nyonya! Jantungnya Tuan Abimanyu harus dipasang ring. Jika anda setuju tolong di tangani berkas persetujuan tindakan pemasangan ring nya." Pinta Dokter Hambali.


Tanpa pikir panjang dan pertimbangan, Marsha membubuhkan tandatangannya di berkas penyataan persetujuan wali dari pasien.


"Lakukan yang terbaik untuk suamiku dokter."


Ucap Marsha yang tidak bisa lagi menangis.


"Tapi kami tidak bisa menjamin keselamatan pasien, karena keadaan pasien belum bisa di prediksi kondisi jantungnya apakah masih bisa dipasang ring atau tidak."


Ucap dokter Hambali membuat Marsha makin syok.


"Apakah ada pertanyaan, nyonya?"


"Tidak dokter! Terimakasih, aku percayakan keselamatan suamiku kepada kalian." Ucap Marsha yakin.


Marsha duduk di ruang tunggu sambil berdoa untuk keselamatan suaminya. Putranya yang baru datang langsung memeluk ibunya begitu mengetahui keadaan ayahnya.


"Mami!"


"Iya sayang!"


"Mengapa ayah sekalinya punya waktu untuk kita malah memberikan banyak masalah untuk kita?"


"Itu karena ayah tidak siap gagal dalam waktu singkat. Semua orang siap untuk menjadi sukses namun tidak semua orang siap untuk menerima kegagalan."


Sahut Marsha memberi pengertian kepada putra satu-satunya.


"Hukuman itu pantas untuk ayah mami, karena selama ini ayah telah menyia-nyiakan kita."


"Ayah melakukan itu karena punya tanggung jawab besar membuat ia harus mengambil resiko dengan mengabaikan kita. Itu alasannya yang baru mami tahu dari pengakuan ayahmu, Al."


"Jadi sekarang kita sudah jatuh miskin ya mami."


"Miskin itu hanya harta kita yang hilang karena semuanya titipan. Yang penting hati kita tidak miskin. Iman kita tidak miskin dan semangat kita tidak miskin." Ucap Marsha menasehati putranya.


"Jika Al sudah besar nanti, Al tidak mau seperti ayah. Al akan merawat mami dan mencari uang untuk mami."


Ucap Al dengan polosnya membuat Marsha sangat terenyuh.


"Terimakasih sayang. Al adalah kekuatannya mami. Jadilah anak yang baik dan Sholeh. Jangan tinggalkan sholat ya nak."


Ucap Marsha lembut.

__ADS_1


Tidak lama dokter keluar menemui Marsha dan putranya dengan wajah yang kelihatan sangat galau.


Marsha berusaha tenang untuk menerima semua hal terburuk sekalipun dari dokter.


"Maafkan kami nyonya! Jantungnya tuan Abimanyu tidak bisa di pasang ring karena tidak ada cela untuk jantungnya untuk dipasang ring.


Jadi kami hanya bisa melakukan operasi bypass pada jantungnya. Tapi tidak bisa di lakukan saat ini karena harus melewati pemeriksaan secara bertahap. Dan akan diputuskan oleh dokter bedah jantung kapan penetapan jadwal operasinya."


Ucap dokter Haikal.


"Kenapa serumit itu dokter. Terus bagaimana keadaan suami saya?"


"Untuk saat ini tuan Abimanyu hanya bisa di rawat inap sampai kondisi jantung cukup pulih untuk ia bisa dibawa pulang."


"Maaf dokter! Apakah biaya operasinya akan tercover sendiri oleh asuransi kesehatan atau masih ada tambahan pembayaran lainnya?"


"Kalau itu, nyonya bisa tanyakan langsung di bagian admistrasi nya."


Ucap dokter Hambali lalu meninggalkan keluarga tuan Abimanyu yang terlihat syok.


"Apakah ayah baik-baik saja mami?" Tanya Al panik.


"Semoga saja begitu Al. Ayahmu harus baik-baik saja karena mami tidak punya kekuatan lagi untuk menerima kejutan yang lainnya lagi."


Ucap Marsha lalu menghenyakkan tubuhnya di sofa ruang tunggu keluarga pasien sambil mengusap wajahnya lembut.


...----------------...


Banyak costumer yang menarik diri untuk tidak lagi memakai jasanya untuk pemesanan gaun. Otomatis Marsha juga mengangkat bendera kebangkrutannya.


Para karyawannya harus banting setir mencari lahan pekerjaan lain untuk bertahan hidup. Lagi-lagi Marsha harus menahan penderitaannya dalam bentuk yang bertubi-tubi datang pada keluarganya.


Marsha tidak bisa mencari tempat tinggal lain selain butiknya yang masih tersisa untuk mereka bisa bertahan. Beruntunglah, putranya Al akhirnya bisa menamatkan sekolah dasarnya


Al begitu bijak memilih sekolah negeri untuk memangkas biaya kehidupan mereka. Ia hanya perlu membeli seragam dan buku tulis karena biaya sekolah sudah di gratiskan oleh pemerintah.


Putra tunggalnya ini sangat pengertian dengan keadaan kedua orangtuanya hingga ia tidak terlalu banyak mengeluh.


Melihat keadaan putranya yang mulai serba kekurangan, membuat Abimanyu terlihat sangat terpukul dan sedih.


"Maafkan aku karena aku kalian menjadi sengsara seperti ini." Ucap Abi terlihat sendu.


"Tidak ada yang perlu di sesali dan tidak ada yang perlu di salahkan. Cukup instrospeksi diri dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah."


Ucap Marsha bijak.


Melihat kepasrahan anak dan istrinya, makin membuat Abimanyu sangat merasa bersalah.


"Ayah cukup memikirkan penyakit ayah agar cepat sembuh supaya tidak terlalu merepotkan mami." Ucap Al menenangkan ayahnya.

__ADS_1


"Mami masih punya tabungan, semoga kita bisa bertahan sampai keadaan kembali stabil."


Ucap Marsha membuka buku rekeningnya yang masih tersisa.


Pagi itu, Marsha mulai memainkan perannya sebagai ibu rumah tangga pada umumnya. Ia harus ke pasar dengan menggunakan sepeda motor.


Pasar basah menjadi tujuannya saat ini. Rupanya keberangkatannya ke pasar di ikuti oleh Cal yang sangat merindukan kekasihnya ini.


Cal hanya memperhatikan apa yang dilakukan Marsha. Ibu satu anak ini belanja keperluan dapur dan juga kebutuhan lainnya di pasar basah tersebut.


Saat ingin membayarnya, Cal mengeluarkan uangnya untuk membayar belanjaannya Marsha.


"Berapa semuanya pak?"


"Tiga ratus tujuh puluh lima ribu." Ucap pemilik toko tersebut.


"Ini pak! Saya yang bayar untuk belanjaan istri saya."


Ucap Cal sambil tersenyum pada Marsha.


"Cal!"


Ucap Marsha tercekat dan juga kaget melihat Cal sudah berada di sampingnya.


"Biarkan aku yang membawa belanjaan mu!"


Pinta Cal yang langsung mengambil tas belanja milik Marsha.


"Cal! Kamu tidak perlu lakukan ini! Aku mohon menjauh lah dariku. Aku tidak jadi bercerai dengan suamiku. Aku ingin kembali lagi bersama keluargaku dan suamiku sedang membutuhkan aku lebih dari sebelumnya."


"Aku tahu sayang. Aku sudah mengetahui semuanya keadaan rumah tanggamu. Aku turut prihatin. Tapi Aku harap hubungan kita tidak akan berhenti sampai di sini Marsha. Aku sangat mencintaimu."


Ucap Cal penuh harap.


"Tolong jangan lagi menambah beban ku, Cal...!"


Ucap Marsha menahan kesedihannya di hadapan lelaki yang sangat ia cintai ini.


"Aku ingin menolong mu, Marsha. Apa yang kamu butuhkan akan aku berikan asalkan kita tidak putus."


"Apakah kamu ingin aku jadi simpanan mu dengan begitu kamu bisa menjamin kehidupanku secara finansial, begitu?"


"Tolong jangan salah paham Marsha ! Aku hanya ingin kita tetap berhubungan walaupun keadaan keluargamu sangat terpuruk."


"Jadi menurut kamu, aku harus siap tidur denganmu kapan saja kamu membutuhkan aku, begitu?"


"Bukankah hubungan kita awalnya kita seperti itu, Marsha ?"


"Kalau aku bilang sekarang ini aku sedang hamil anakmu, apakah kamu bersedia menceraikan istrimu dan menikahi aku?"

__ADS_1


Deggggg...


__ADS_2