
Tiga hari Marsha berduka, puas menangisi kepergian suaminya. Kini ia berusaha bangkit dan satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah menjenguk putranya di rumah sakit yang saat ini kesehatan putranya Al berangsur membaik.
Al yang asyik main ponsel keluaran terbaru yang dibelikan oleh tuan Excel nampak menikmati permainan game yang ada di aplikasi ponsel itu.
Marsha yang saat ini hanya sendirian ke rumah sakit tampak tenang masuk ke kamar inap putranya.
Al menyambut kedatangan ibunya dan langsung memeluk ibunya dengan penuh kerinduan ketika ibunya mendekatinya.
"Mami...! Kata om Hugo, mami jatuh sakit saat pulang dari Perancis. Bagaimana keadaan mami sekarang?"
"Mami sudah mendingan dan mami minta maaf tidak bisa mengurus Al saat sakit. Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Marsha.
"Alhamdulillah! Sekarang Al sudah sehat dan mau pulang mami. Al sudah bosan di sini. Kasihan juga om Hugo sudah lelah menunggu Al di rumah sakit."
"Tidak apa nona Marsha! Aku senang menjaga Al karena putranya tidak begitu rewel."
Ucap Hugo sambil senyum-senyum tidak jelas melihat langsung wajah Marsha yang sangat cantik menurutnya.
"Terimakasih banyak Hugo! Aku berutang banyak padamu. Kalau suatu hari kamu ingin menikah, aku siap membuat gaun pengantin yang sangat indah untuk calon istrimu." Ucap Marsha serius.
"Wah! Suatu kehormatan besar untuk saya bisa mendapatkan kesempatan untuk memberikan gaun pengantin untuk kekasih, dari desainer terkenal seperti anda, nona Marsha." Ucap Hugo jadi salah tingkah sendiri.
Hugo pamit untuk ke kantin memberi kesempatan kepada ibu dan anak ini untuk melepaskan kerinduan mereka.
"Sayang! Itu ponsel milik siapa?"
"Di kasih sama paman Excel."
"Oh ya! Sudah ucapkan terimakasih belum kepada paman Excel?"
"Belum bertemu dengan orangnya, mami." Ucap Al sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak meneleponnya saja, sayang. Tidak baik menunda-nunda ucapan rasa terimakasih kita pada orang lain yang telah memberikan hadiah untukmu."
"Nanti saja AL telepon mami. Oh iya, bagaimana kabar ayah mami? Apakah mami sudah menengok ayah?"
Deggggg....
Marsha tersentak mendengar pertanyaan putranya yang akhirnya terdengar juga olehnya. Ia pun mau tidak mau harus mengambil sikap untuk mengatakan sejujurnya pada putranya karena tidak ada gunanya ia berbohong.
"Al! Apakah kamu ingin kehidupan yang lebih baik yang dijanjikan Allah pada hambaNya ketika diuji dengan sebuah kehilangan?"
"Maksud mami apa? Apa hubungannya dengan ayah antara ujian dan kehilangan?" Tanya Al tidak mengerti.
"Jika Allah mengambil sesuatu dari sisi hambaNya, maka Allah akan menggantikannya yang lebih baik untuk kehidupan hambaNya. Begitu pula dengan ayah yang saat ini sudah lebih dulu meninggalkan kita....-"
"Maksud mami, Ayah sudah meninggal? Itukah sebabnya mami jatuh sakit?" Tanya Al dengan suara parau.
"Iya sayang maafkan mami. Saat kamu sakit parah di saat yang sama, ayah meninggalkan kita untuk selamanya." Ucap Marsha kembali menangis.
"Ayahhhhh...!" Pekik Al sambil menangis dalam pelukan ibunya.
"Mami...! Al kangen sama ayah!"
"Bunda juga kangen sama ayah! Tapi Allah sudah mengangkat sakitnya ayah dan Allah lebih mencintai ayah dari pada kita sayang. Al tidak apakan hanya bunda yang akan membesarkan kamu sendirian?"
"Semoga bunda selalu sehat dan kuat. Jangan tinggalkan Al bunda! Al tidak mau hidup menjadi anak yatim-piatu." Ucap Al yang masih saja menangis pilu.
Marsha membiarkan putranya ini menangis karena saat ini ia sendiri juga masih bersedih. Tidak mungkin melupakan orang yang dicintai hanya waktu singkat.
Marsha membantu menyuapkan makanan untuk putranya yang mulai tenang. Marsha sangat sedih melihat wajah Al yang tadi sempat ceria berubah murung.
"Al juga harus sehat dan kuat supaya bisa menjaga mami. Kalau Al sehat mami bisa fokus bekerja agar bisa membiayai sekolah Al." Ucap Marsha memberi pengertian pada putranya.
__ADS_1
"Insya Allah mami. Aku hanya punya mami. Al akan belajar keras agar bisa membantu mami mencari uang." Ucap Al polos.
Marsha membaca lagi dongeng untuk Al walaupun putranya sudah memasuki usia remaja, namun Marsha merasa putranya masih kecil. Lambat laun Al akhirnya tertidur.
...----------------...
Tiga bulan berlalu, Marsha berniat untuk membuka lagi butiknya setelah mengumpulkan kembali modal dari hasil penjualan desainnya pada keluarga kerajaan Prancis terutama permaisuri Barca.
Marsha yang ingin mempelajari pasar bagaimana trend baju saat ini yang di gandrungi masyarakat khususnya anak usia remaja hingga dewasa.
Ia mengambil beberapa potret setiap kali ada yang melintas di hadapannya. Ia mencari lokasi yang biasa didatangi anak muda yang senang nongkrong di cafe, taman dan bioskop.
Saat berada di bioskop, Marsha yang sudah lama tidak menonton film kesukaannya yaitu film action. Marsha mencoba berdiri di antrian membeli tiket bioskop.
Ia juga memesan popcorn dan minuman lemon tea. Saat ingin berjalan menuju studio tiga, lengan Marsha disentuh seseorang membuat ia terhenyak.
"Marsha!" Sapa Cal dengan senyum mengembang saat bisa bertemu lagi dengan Marsha.
"Mau apa kamu?"
"Aku juga mau nonton Marsha dengan film yang sama. Apakah kamu ingin kita duduk satu bangku, biar aku bisa minta tolong sama orang yang duduk disebelah mu..-"
"Aku tidak berminat untuk duduk dekat denganmu. Pergilah dari hadapanku atau aku siram kamu dengan minuman ini!" Ancam Marsha dengan wajah kelam.
"Sayang! Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu. Sebenarnya aku sudah bercerai dengan istriku Farah yang tidak bisa memaafkan perselingkuhan aku denganmu padahal aku sudah berusaha mempertahankan rumah tangga kami."
"Apa urusanku dengan perceraian kalian?" Tanya Marsha dingin.
"Tentu saja ada hubungannya dengan kamu, Marsha. Aku ingin menjalin lagi hubungan kita yang pernah kandas. Aku ingin menebus kesalahanku padamu. Aku mungkin pernah membuatmu hamil dan kamu pasti sudah menggugurkannya demi kebaikan kita bersama. Aku dan kamu sudah sama-sama memiliki status janda dan duda. Jadi tidak ada penghalang antara kita berdua untuk menik...-
"Ada masalah apa kamu dengan calon istriku, tuan Cal?" Tanya tuan Excel yang tiba-tiba muncul di hadapan Cal dan Marsha.
__ADS_1
Keduanya tersentak dengan kehadiran Excel dan Marsha merasa diuntungkan saat ini karena ada pelindungnya yang siap melakukan apa saja untuk menjaganya dari gangguan orang lain.
Sebenarnya sejak Marsha keluar dari apartemennya, Excel selalu membututi Marsha ke manapun Marsha pergi. Karena Marsha terus menjaga jarak dengannya selama menunggu masa Iddah membuat Excel menahan diri untuk mendekati wanitanya agar jauh dari gosip miring hubungan antara mereka yang belum ada komitmen apapun.