PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
6. Rajin Chating


__ADS_3

Marsha tidak lagi mempermasalahkan suaminya mau pulang malam atau tidak. Atau mau langsung tidur tanpa mengajaknya ngobrol atau tidak, ia pun juga tidak peduli.


Hobi baru Marsha saat ini adalah saling chating dengan sang kekasih.


Sudah pukul sepuluh malam keduanya terlihat betah saling mengirim pesan di samping pasangan mereka yang sudah terlelap tidur.


"Kenapa masih belum tidur sayang?" Tanya Cal.


"Aku masih kangen sama kamu, sayang. Apakah kamu sudah ngantuk?"


"Sedikit!"


"Apakah aku menganggu mu?"


"Aku senang di ganggu oleh gadis cantik sepertimu."


Goda Cal dengan banyak emoticon sesuai suasana hati mereka.


"Apakah suamimu di sampingmu?"


"Dia sudah terlelap dari tadi."


"Berarti kita berdua bernasib sama. Sama-sama dicuekin pasangan..he..he!"


"Tidak apa, bukankah kita lebih happy tanpa mereka?"


"Aku lebih happy lagi kalau kita bisa bercinta sesungguhnya, Marsha. Aku ingin merasakan milikmu."


"Maaf Cal!" Aku tidak siap, mungkin tidak akan mau."


"Apakah kamu takut?"


"Apakah kamu hanya butuh tubuhku?"


"Aku butuh cintamu dan juga tubuhmu, Marsha!"


"Bagaimana kalau aku hamil anakmu? Apakah kamu siap menceraikan istrimu dan menikahi aku?"


Deggggg...


"Ayolah Marsha! Kita sudah bahas ini sebelumnya. Kita melakukan karena saling membutuhkan. Kamu bisa memakai kontrasepsi. Dan semuanya aman."


"Aku tidak mau menjalani suatu hubungan tanpa komitmen yang jelas. Kalau begitu lupakan keinginanmu untuk mendapatkan tubuhku. Aku tidak begitu butuh bercinta yang sesungguhnya. Baiklah. ini sudah malam, aku mau tidur. Selamat malam, Cal!"


"Eits, tunggu Marsha! Apakah kamu marah...?"


Marsha tidak mau membalas pesan Cal. Ia sudah terlanjur kecewa dengan Cal yang memanfaatkan kesepiannya dengan mengajaknya tidur bersama.


"Sial! Di mana-mana lelaki sama saja bejad nya. Mereka tidak mau menghadapi resiko kalau pasangan selingkuh mereka hamil."


Marsha mengambil obat tidurnya dan menenggaknya seketika dengan minum air mineral yang ada di nakas disamping tempat tidurnya.


Sementara Cal masih terjaga menunggu balasan chating Marsha yang tak kunjung masuk.

__ADS_1


"Kenapa dengan gadis ini? Dia selalu saja melakukan semaunya. Kadang kala moodnya susah di tebak. Tapi kenapa aku sangat menyukai sifat labilnya itu."


Cal tersenyum menatap wajah cantik Marsha di galeri fotonya yang ia simpan dengan menggunakan kode rahasia.


Keesokan paginya, seperti biasa Marsha melayani suami dan putranya di meja makan. Marsha melirik suaminya yang sibuk dengan ponselnya walaupun sarapannya sedang menunggunya untuk disantap.


Putranya Al terlihat kesal dengan ayahnya yang menganggapnya tidak ada.


"Ayah!"


Panggil Al dengan intonasi suara tinggi.


"Hmm!"


"Di hadapan ayah ada Al dan bunda. Apakah kerjaan ayah terlalu penting daripada kami, ayah?"


protes Al yang sudah tidak tahan dengan sikap statis ayahnya setiap menghadapi meja makan.


Abimanyu menghentikan kegiatannya dan menatap putranya.


"Ayah melakukan pekerjaan ayah demi kamu dan juga bunda mu. Apakah kamu tidak bisa memahami pekerjaan ayah?"


"Semua orang butuh uang ayah. Tapi tidak seperti ayah yang terlalu gila kerja. Mungkin ayah tidak tahu bagaimana perkembangan pendidikan Al di sekolah."


"Bukankah sudah ada bunda mu yang memperhatikan semua kebutuhanmu, apakah masih kurang? Kau sudah terlalu besar untuk mengemis perhatian ayah."


"Ok ayah. Nanti kalau ayah sudah tua jompo, aku akan mengirim ayah ke panti jompo dan tidak akan menengok ayah sama sekali karena ayah tidak memberikan perhatiannya ayah kepadaku. Kita impas ayah."


Ucap Al lalu mengajak bundanya berangkat ke sekolah.


Ucap Al keluar menuju mobilnya.


Marsha tidak mengucapkan satu patah katapun untuk pamit kepada suaminya. Ia berlalu begitu saja sambil menenteng tasnya.


"Kau tidak menganggap kami ada, untuk apa juga pamitan padamu." Lirih Marsha sambil tersenyum sinis.


Marsha puas dengan sikap putranya yang terlihat lebih kritis untuk menyikapi kelakuan ayahnya yang makin menjadi.


Mungkin dipikirannya hanya memikirkan bagaimana menghasilkan uang, bukan bagaimana menjaga keutuhan rumah tangganya dengan tetap menjaga cinta.


Rumah tangga itu sudah mulai karam. Bahkan pemiliknya tidak ingin lagi mengarungi bahtera karena adanya mesin pencetak uang yang dianggapnya bisa membawa kapal itu tanpa kompas.


Mobil Marsha meluncur ke sekolah putranya dengan kecepatan standar.


Al tampak diam dengan mengalihkan wajahnya menatap keluar jendela dengan pemandangan yang tidak begitu indah sepanjang jalan itu.


"Al..!"


"Iya bunda!"


"Apakah kamu sangat mencintai ayahmu?"


"Entahlah bunda. Sikap apatis ayah membuat Al muak dan tidak mengerti bagaimana caranya untuk mencintai dia seperti dulu."

__ADS_1


" Berarti kamu masih mencintai ayahmu." Tekan Marsha.


"Bagaimana kalau perasaan Al sudah mati untuk ayah bunda..?"


"Kalau begitu ijinkan bunda untuk berpisah dengan ayahmu. Apakah kamu mau, Al?"


Deggggg...


Al menautkan alisnya. Merasa tidak percaya ucapan ibunya barusan.


"Apakah bunda yang tidak mencintai ayah lagi?"


"Apakah bunda harus mencintai ayahmu saja tanpa ayahmu membalas mencintai bunda juga?"


"Al terserah apa yang ingin bunda lakukan selama bunda merasa bahagia."


"Baiklah. Bunda hanya minta pendapatmu saja. Jika kamu setuju bunda akan menggugat cerai ayahmu."


Duarrrr...


Hati Al tiba-tiba merasa ada yang hilang dalam dirinya. Ia tidak bisa membayangkan harus melihat kedua orangtuanya akan bercerai.


Ia memikirkan di sekolahnya, banyak temannya yang terlihat berubah setelah kedua orangtua mereka bercerai.


Ada yang berubah jadi pendiam dan ada juga yang menjadi sangat nakal dan suka mencari sensasi untuk mendapatkan perhatian guru.


"Apakah nasibku akan berakhir menyedihkan seperti beberapa temanku karena perceraian orangtuaku nanti?" Tanya Al lirih namun tidak terdengar oleh Marsha ibunya.


Setibanya di sekolah, Al turun dari mobil dengan memasang wajah muram. Ia merasa sangat terganggu dengan pernyataan ibunya.


"Ayah! Aku tidak akan memaafkanmu karena sudah membuat mamiku menderita." Batin Al melangkah masuk ke dalam kelasnya.


Sementara itu, Marsha yang baru saja ingin meninggalkan sekolah putranya di cegat oleh Cal yang sudah menggedor kaca mobilnya.


"Cal!"


"Apakah bisa ngobrol sebentar Marsha ?"


"Baiklah. Kita ketemu di tempat biasa." Ucap Marsha.


"Sipp!"


Marsha terlihat sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Cal.


Tidak lama keduanya sudah tiba di restoran.


Cal nekat mengecup bibir Marsha di depan orang banyak. Marsha tersentak dengan ulah Cal.


"Ca! Apakah kamu tidak takut diantara mereka ada yang mengenal kita?"


"Aku tinggal bilang kalau kamu adalah istriku, apakah mereka akan meminta buku nikah kita, sayang?"


"Tidak perlu buku nikah, dari alamat KTP saja, kita sudah berbeda Cal." Ucap Marsha sedikit kesal.

__ADS_1


"Lupakan saja penilaian orang lain sayang. Aku ingin kita selalu bersama tanpa merasa sungkan satu sama lain karena aku sangat mencintaimu, Marsha."


Deggggg


__ADS_2