
Wajah tuan Elbarano terlihat pucat mendengar sindiran pedas dari seorang permaisuri yang sangat di segani di negaranya. Wajahnya terlihat gugup seakan ia telah tertangkap basah sebagai maling dari karya orang lain.
"Maaf yang mulia! Mungkin anda salah menilai hasil rancangan gaun yang istri saya kerjakan. Dan saya bisa...."
"Hentikan omong kosong mu atau kamu ingin aku mempermalukan di depan para tamu yang berkelas ini?"
Sela nyonya Barca yang tidak ingin dibodohi oleh tuan Elbarano.
Tuan Elbarano melirik kearah Marsha yang terlihat tidak peduli dengan tetap memegang gelas minumannya dengan gesture tubuh yang terlihat elegan.
"Apakah kamu kira nona ini yang telah membongkar rahasia busukmu itu? Aku seorang pengamat desain siapa saja yang nyata hasil karya sendiri atau seorang desainer palsu seperti istrimu. Jangan terlalu memanjakannya kalau kamu ingin agensi milikmu berumur panjang."
Ucap nyonya Barca lalu mengajak Marsha meninggalkan gedung pertunjukan show itu untuk menggalang dana.
Marsha tersenyum sinis kepada tuan Elbarano karena dendamnya terbalaskan oleh nyonya Barca.
"Berhentilah bekerjasama dengan pasangan itu, atau bakat mu terus dimanfaatkan oleh orang lain untuk mendobrak popularitas." Ucap nyonya Barca yang tidak di mengerti oleh Marsha." Apakah anda memiliki detektif untuk menyelidiki pasangan itu, nyonya?"
Tanya Marsha memastikan kalau nyonya Barca memiliki jaringan intelijen yang cukup kuat untuk mengungkapkan suatu kasus.
Langkah kaki jenjang itu terhenti. Ia menatap wajah cantik Marsha yang terlihat sangat jenius namun memiliki hati yang lemah.
"Jika ingin bangkit dari keterpurukan, kau harus berani memberi tahukan kepada dunia bahwa kamu punya sesuatu yang berharga untuk mendapatkan apresiasi dari hasil kerja kerasmu itu.
Aku tahu gaun yang baru saja di tampilkan oleh agensi model milik tuan Elbarano adalah milikmu. Apakah kamu masih menyangkalnya?"
Glekkk...
"Aku sudah menjualnya hasil desain milikku itu pada mereka dan aku tidak punya....-
"Kamu ingin mengatakan, karya milikmu boleh di klaim oleh orang lain, nona Marsha?"
"Tentu saja tidak nyonya, tapi keadaan yang membuat saya melepaskan impian saya untuk....-
"Aku yang akan memakai rancangan mu. Keluarga kerajaan khususnya untuk putri bangsawan akan memakai jasamu dalam membuat rancangan gaun sesuai tema yang mereka usung. Apakah kamu mau menerima tawaranku. Tenang saja, namamu akan terkenal di kalangan bangsawan." Ucap ratu Barca. Dan itu membuat Marsha hanya bisa tercengang.
"Terimakasih yang mulia atas kepercayaannya! Saya akan melakukan sebaik mungkin untuk merancang gaun khusus untuk anda."
Ucap Marsha melepaskan kepergian nyonya Barca yang sudah masuk ke mobilnya.
Saat Marsha masih menatap mobil milik kerajaan Prancis itu bergerak menjauh, datang seorang pria pengagum Marsha.
__ADS_1
"Selamat malam nona Marsha !"
Marsha membalikkan tubuhnya dengan anggun, namun mata itu melebar melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Tuan Excel...!"
Marsha berusaha tersenyum walaupun jujur ia sangat syok saat ini.
"Apakah anda ingin kembali ke hotel?"
"Tentu saja! Saat ini saya sedang menunggu taksi yang sudah saya pesan."
"Batalkan saja! Ikutlah bersama saya karena saya menginap di hotel yang sama dengan anda."
"Tapi ..saya..-
"Ayolah! Apakah kamu tidak kasihan pada sopirku yang sudah membuka pintu mobil untuk kita?"
Tuan Excel memberikan isyarat dengan tangannya untuk mempersilahkan Marsha masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Dan ia menyusul dari pintu di sebelahnya.
Marsha menempati tempat duduknya yang sudah bersentuhan lengan kekar tuan Excel yang begitu hati-hati memperlakukan wanita ini agar nyaman bersamanya.
Dirasakannya cukup lama tidak ada percakapan diantara keduanya, tuan Excel memiringkan tubuhnya bersamaan dengan Marsha yang ingin bicara dengan tuan Excel.
Melihat wanitanya ingin bicara, tuan Excel mengurungkan niatnya dan menunggu Marsha berkata terlebih dahulu.
"Apa kabar Tuan!"
Tanya Marsha dengan ucapan spontan dengan kata yang terlalu singkat padahal di otaknya banyak yang ingin ia tanyakan kepada pria yang delapan tahun lebih tua darinya ini.
"Seperti yang kamu lihat nona Marsha. Aku dalam keadaan baik-baik saja. Justru aku ingin tahu apa kabarmu saat ini? Bagaimana dengan Al?"
"Kehidupanku membosankan. Aktivitas yang majemuk dan itu membuat aku sedikit muak. Karena butuh, mau tidak mau aku harus jalani walaupun rasanya sangat lelah dan ingin mengakhirinya."
Ucap Marsha menahan kepedihannya.
Tanpa Marsha akui tentang hidupnya, tuan Excel sudah lebih mengetahui kehidupan gadis ini. Hanya saja tuan Excel ingin mendengarkan keluhan gadis ini yang ternyata diapun mengakui kejenuhan kehidupannya yang statis.
Setibanya di hotel, tuan Excel menawarkan Marsha untuk ngobrol sebentar di taman hotel sebelum mereka masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Maaf nona Marsha! Selama ini aku tidak mengelola perusahaan aku lagi yang ada di Indonesia. Aku lebih fokus dengan perusahaan yang ada di sini. Jadi aku tidak hadir sebagai teman lagi mungkin di saat kamu membutuhkan teman untuk berbagi."
__ADS_1
"Sebentar tuan Excel! Sepertinya anda lebih mengetahui keadaan tentang hidupku. Apakah anda sedang memata-matai hidupku?"
Tebak Marsha.
"Suami anda berkecimpung di dunia bisnis. Siapa yang tidak mengetahui suami anda? Di jaman digital sekarang ini, semua informasi di dapat dengan mudah sekalipun kamu harus tinggal di lubang semut sekalipun, orang akan mengetahui kehidupan siapa saja."
Ucap tuan Excel menutupi kebohongannya.
"Maafkan aku! Aku jadi lebih paranoid dengan kehidupan pribadiku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka kehidupan ku di soroti. Tapi, aku juga tidak menyalahkan anda karena dunia bisnis adalah jurang bagi siapa saja yang siap jatuh saat keadaannya goyah. Tidak peduli siapa orang itu."
Ucap Marsha sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Marsha terdiam. Dingin udara malam ini terasa menusuk kulit mulusnya walaupun sudah terbalut mantel tebal membungkus tubuhnya.
Rasa kerinduan tuan Excel, ibu dari Al ini, membuatnya ingin memeluk Marsha namun ia begitu takut Marsha akan salah pada dirinya.
Dengan tidak ingin membuat gadis ini kedinginan lagi, tuan Excel mengajaknya masuk.
"Apakah anda kedinginan nona Marsha ?"
"Rasanya mulutku kaku untuk bicara lebih lama dengan anda di luar sini."
Balas Marsha membuat tuan Excel terkekeh.
"Baiklah. Ayo kita masuk!"
Marsha melangkah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong mantelnya untuk memberikan rasa hangat.
"Apakah aku boleh mengantar kamu ke kamarmu, nona Marsha?"
"Hmm."
Setibanya di depan kamarnya. Marsha pamit dan mengucapkan selamat malam pada tuan Excel.
"Masuklah nona Marsha !" Semoga mimpi indah."
Ucap tuan Excel begitu berat melepaskan Marsha.
"Terimakasih tuan Excel. Selamat malam!"
Marsha membuka pintu kamarnya dan menutupnya lagi. Tuan Excel berdiam diri sesaat di depan kamar Marsha lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1