
Excel menatap wajah bayi kembarnya tanpa berkedip. Marsha meminta suaminya ini untuk meletakkan kembali bayinya di dalam tempat tidur mereka.
Sekarang gantian Al yang menatap adik kembarnya. Wajah putranya ia juga tidak kalah berbinar saat melihat kehadiran saudaranya.
"Hei ..! Cepatlah kalian besar agar bisa bermain dengan Abang. Aku bahkan tidak bisa menggendong kalian karena kalian terlalu kecil."
keluh Al sambil memegang jemari adiknya yang cowok.
Excel begitu senang melihat kemesraan dan putra sambungnya. Ia ingin Al selalu menjaga putra adik kembarnya jika mereka beranjak dewasa.
Tubuh Marsha yang terlihat gendut, membuat wajah Excel sangat girang.
"Sayang....!"
"Hmm ..!"
"Kamu makin seksi dengan tubuh sintal seperti ini." Puji Excel sambil mengusap bokong istrinya yang terlihat lebih menonjol.
"Bukankah ini keinginanmu?"
"Iya sih...! Ada yang bisa aku cubit dengan tubuhmu semontok ini." Ucap Excel.
"Apakah kamu sudah mempersiapkan nama untuk si kembar?" Tanya Marsha yang duduk di atas pangkuan suaminya.
"Kita beri nama mereka FAIHA DAN FATIH." Ucap Excel .
"Bagus juga namanya sayang." Kata Marsha.
"Kehadiran si kembar membuat hidupku makin berarti setelah menemukan kamu dan Al.
Kesepian yang selama ini merajalela jiwaku yang terasa hampa dengan memiliki segalanya tapi aku merasa apa yang aku miliki tidak ada yang bermanfaat dalam hidupku." Ucap Excel terlihat sedih.
"Sayang ...kita ini seperti gelas kosong. Jiwa kita benar-benar terasa sangat sangat hampa dan kita sedang mengisinya dengan cinta dan kasih sayang." Ucap Marsha.
"Aku tidak tahu apa jadinya diriku, jika Allah tidak mempertemukan kita sayang. Pasti hidupku benar-benar tidak tentu arah. Aku bekerja hanya untuk mempertahankan para karyawanku agar mereka bisa menafkahi keluarganya. Kalau tidak ingat mereka, rasanya aku ingin menghabiskan hidupku tanpa ingin memikirkan apapun." Timpal Excel ..
"Karena kebaikan kamu itu yang membuat Tuhan tidak ingin hidupmu sia-sia. Untuk menghibur kamu, kita dipertemukan. Aku dan masalah hidupku dan juga dirimu."
__ADS_1
Ucap Marsha yang mengenang lagi pertemuan pertama mereka yang sangat kacau saat itu.
Keduanya berciuman mesra di dalam kamar mereka tanpa terganggu dengan si kembar yang sedang di jaga oleh abangnya Al.
Asisten Hugo harus bolak balik ke mansion bos-nya karena Excel enggan meninggalkan keluarganya di rumah semenjak kehadiran si kembar.
Pria tampan berusia empat puluh tahun ini lebih senang menghabiskan waktunya dengan anak dan istrinya.
Walaupun begitu, tuan Excel selalu memenuhi kebutuhan Hugo yang meminta pendapatnya tentang perusahaan atau meletakkan berkas perusahaan di meja kerjanya Excel di dalam rumahnya itu.
Excel orangnya sangat teliti..Dia tidak mau menandatangani berkas begitu saja kalau belum di baca hingga teliti lebih dulu walaupun Hugo sangat jujur dalam mengembangkan tugasnya.
Bagi Excel, ketelitian itu penting dan kepercayaan pada seseorang jangan terlalu terikat seratus persen kalau tidak mau dikhianati oleh orang terdekat.
Excel belajar dari pamannya yang memiliki asistennya yang begitu ia percaya hingga membuat pamannya bangkrut secara perlahan-lahan.
Keluarganya hancur dan pamannya tidak kuat menahan beban kehidupannya akhirnya meninggal dunia karena menenggak obat tidur over dosis.
Itulah sebabnya mengapa Excel begitu marah melihat obat tidur Marsha yang ada di dalam tasnya saat pertama kali ia menemani gadis itu terpuruk.
"Apakah kamu tidak bisa mewakili aku di pertemuan itu, Hugo?"
"Tapi Tuan mereka ingin sekali bertemu langsung dengan anda."
"Saya akan hadir tetap hadir dalam pertemuan itu melalui virtual." ucap Excel seperti biasanya yang membuat asisten Hugo hanya bisa menarik nafas berat.
Excel sengaja melakukan itu karena para anggotanya selalu mengeluhkan apapun padanya mengenai kepentingan mereka dan Excel tidak terlalu suka bertemu dengan para penjilat itu.
Hugo sempat bermain dulu dengan Al sebelum ia kembali lagi ke perusahaan. Kedekatan Al dan Hugo seperti adik kakak.
Kadang Hugo selalu mengajak Al main bola bersama tim nya saat pemuda tanggung itu sedang liburan sekolah seperti sekarang ini.
"Al...! Minggu depan akan di adakan turnamen, apakah kamu mau ikut?" Tanya Hugo.
"Al mau ikutan bang Hugo. Nanti jemput Al. Tapi Al harus tanya Daddy dulu, apakah diijinkan oleh beliau atau tidak." Ucap Al.
Mendengar putra sambungnya itu yang sangat menghormati dirinya hingga ikut turnamen sepak bola meminta ijin dulu kepadanya, membuat Excel sangat terharu.
__ADS_1
Inilah yang ia sangat suka pada Al karena Al tidak menganggapnya ayah sambung tapi seperti ayah kandung hingga tidak ada jarak antara mereka berdua.
"Al...! Kamu boleh ikut turnamen itu bersama Hugo. Bersenang-senang lah selagi masih muda karena itu hanya datang satu kali seumur hidupmu."
Ucap Excel yang tampil sebagai sahabat untuk putranya itu.
"Benarkah Daddy...? Terimakasih Daddy ...!" Al memeluk Excel saking bahagianya.
Hugo dan Marsha saling menatap melihat kedekatan Al dan Excel.
"Tuan Excel selama ini hanya mengurung dirinya di kamar bahkan kami tidak pernah melihat ia tersenyum sekalipun. Tapi kehadiran nona Marsha dan Al membuat hidupnya kembali berarti." ucap Hugo.
"Terimakasih Hugo, kamu juga sudah membuat putraku menjadi seorang remaja yang baru tumbuh menjadi sangat percaya diri. Aku titip Al kepadamu." Ucap Marsha.
Satu pekan kemudian Hugo datang menjemput Al untuk mengikuti turnamen sepak bola di gelanggang bung karno.
Excel tidak tinggal diam. Ia juga hadir di turnamen itu untuk memberikan dukungannya pada putranya itu.
Al begitu kaget melihat ayahnya berdiri di depan barisan penonton untuk menyemangati putranya itu.
"Al... kamu bisa ..!" Terisak Excel saat tim mereka adu pinalti.
Al membayangkan wajah kedua ayahnya lalu membaca doa dan menendang bola itu dengan gerakan menipu kiper lawan dan akhirnya ia mampu mencetak gol.
Tim Al menang 3-1. Al mendatangi ayahnya dan keduanya berpelukan. Aku tidak merasa kehilangan figur ayah kandungnya Abimanyu karena Excel mampu menghadirkan sosok ayah untuknya sesuai dengan kebutuhan putranya itu.
"Daddy ...! Ini piala untuk Daddy." Ucap Al lalu foto berdua dengan Excel di tengah lapangan.
Wartawan yang mengetahui tuan Excel seorang pengusaha terkenal yang selama ini sulit di lacak media membuat mereka sangat antusias mengambil gambar Excel dan Al.
Para pengawal tuan Excel langsung mengamankan Excel dan Al untuk menjauh dari incaran wartawan.
"Tuan Excel...! Apakah itu putra anda...?" Tanya salah satu wartawan media elektronik.
"Iya, ini putra saya. Dia adalah kebanggaan saya." Ucap Excel penuh semangat.
Cal yang berdiri tidak jauh dari ayah dan anak itu membuatnya sangat geram karena Excel sudah merebut hati wanitanya.
__ADS_1