
Putra Marsha Al-Banna tiba-tiba sudah berada di hadapan ibunya. Marsha menyapa putranya yang sudah berada di butiknya.
"Sayang...! Kamu sudah pulang sekolah?"
"Hari ini pulang cepat mommy dan Al ingin makan siang dengan mommy."
Ucap Al sambil melihat wajah tampan tuan Excel.
"Tuan Excel! Perkenalkan ini putraku AL."
Tuan Excel dan Al saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Maaf tuan Excel sepertinya saya tidak bisa memenuhi undangan makan siang anda karena putraku...?"
"Kenapa tidak sekalian ajak tuan Excel makan bersama kita mommy?"
"Ummm.. tapi Al."
"Al sangat senang kalau tuan Excel ikut bersama kita makan siang mommy."
"Bagaimana tuan Excel, apakah anda mau...?"
"Ok! Aku suka ide anak muda ini." Ucap Excel terlihat hamble.
Ketiganya berangkat ke restoran seafood yang ada di area Jakarta Utara.
Al yang doyan dengan lobster saus Padang sementara ibunya paling senang dengan ikan bakar dan udang saus tiram. Tuan Excel suka dengan kerang saus asam pedas dan ikan bakar.
Ketiganya mulai ekskusi makan siang mereka dengan penuh nikmat. Tidak jauh dari meja mereka, ayahnya Al, yaitu tuan Abimanyu sedang makan siang bersama koleganya.
Al yang melihat itu sangat kesal dengan kelakuan ayahnya yang lebih akrab dengan para koleganya ketimbang ia dan ibunya.
"Mommy!"
"Iya sayang."
"Apakah tuan Excel sudah berkeluarga?"
Tuan Excel menghentikan makannya dan menjawab sendiri pertanyaan AL.
"Aku sudah kehilangan istri dan putriku. Jadi aku tidak perlu takut untuk diomelin istriku karena sudah mengajak makan siang dengan wanita cantik dan baik seperti mommy kamu Al."
Ucap tuan Excel sambil menatap wajah cantik Marsha yang bersikap tetap wajar karena ada putranya Al.
"Tuan Excel...! Apakah anda menyukai mommy aku?"
Tanya Al begitu frontal membuat ibunya tersentak.
Uhuk..uhuk..uhuk
__ADS_1
Tuan Excel sampai tersedak. Ia meraih gelas minumnya lalu meneguknya dengan cepat.
Sementara Marsha reflek mengusap punggung tuan Excel.
"Maafkan putra saya tuan! Dia tidak sadar dengan ucapannya."
Ucap Marsha tidak enak hati.
"Aku memang sangat menyukai mommy kamu. Tapi itu tidak mungkin karena mommy kamu wanita bersuami."
Ucap tuan Excel apa adanya.
Wajah Marsha bersemu merah. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
"Jika mommy ku sudah bercerai dengan ayahku, apakah tuan mau menikahi mommy aku?"
"Al.. cukup! Hentikan ucapan kekanak-kanakan mu itu. Ini urusan orang dewasa dan kamu tidak sopan bicara seperti itu pada tuan Excel. Sekarang minta maaf pada tuan Excel!"
Bentak Marsha terlihat geram.
"Apakah mommy tidak lihat ayah di sana lebih bahagia makan bersama dengan koleganya. Ia bahkan tertawa lepas dengan mereka dan pulang dengan wajah cemberut langsung tidur tanpa menganggap kita pernah ada." Ucap Al membuat ibunya tercekat.
Beruntunglah makan siang mereka sudah selesai. Marsha buru-buru meneguk minumannya dan mencuci tangannya. Hal ini di ikuti tuan Excel dan putranya Al.
"Sebaiknya kita pulang tuan Excel!"
Ucap Marsha yang sudah tidak nyaman melihat suaminya juga berada di restoran yang sama dengan mereka.
Dalam setengah jam, Al sudah turun dari mobil tuan Excel dan tidak lupa Salim dan mengucapkan terimakasih kepada tuan Excel atas makan siangnya.
Marsha mengecup pipi putranya dan berjanji cepat pulang pada putranya.
...----------------...
Tuan Excel memikirkan kembali perkataan putranya Marsha yang terlihat tidak begitu menyukai ayahnya yang telah meninggalkan mereka karena terlalu sibuk bekerja.
"Apa yang terjadi dengan pernikahan nona Marsha? Dia bahkan terlihat wanita yang paling bahagia dengan kesibukannya sebagai seorang desainer. Apakah Marsha ingin menutupi perasaannya agar tidak di curigai oleh staffnya?"
Tuan Excel yang sedang duduk di balkon kamarnya nampak menikmati wine sambil berpikir keras untuk memecahkan masalah ucapan Al seakan sedang mendukung hubungan Ibunya dan tuan Excel.
"Apakah aku cukup etis menanyakan prahara rumah tangga orang lain demi kepentinganku? Bagaimana kalau Marsha tidak suka dan menganggap aku terlalu ikut campur?"
Tanya tuan Excel membuat kepalanya makin tambah mumet.
Bagai gayung bersambut, Marsha mengirim pesan kepada tuan Excel yang begitu terkejut melihat pesan itu untuknya.
"Apakah dia sedang memikirkan aku?"
Excel tertawa kecil lalu membalas sapaan selamat malam pada Marsha.
__ADS_1
"Apakah aku menganggu tuan Excel?"
"Aku sangat senang di ganggu olehmu. Apa kamu belum tidur? Bagaimana dengan Al? Apakah kamu memarahinya?"
Tanya Tuan Excel beruntun membuat Marsha kewalahan menjawabnya.
"Mana yang harus aku jawab duluan tuan..?"
"Maaf kalau aku kebanyakan tanya."
"Apakah aku bisa menelpon mu?" Tanya Marsha.
"Apakah kamu tidak takut ketahuan suamimu?"
"Dia sudah berangkat ke luar negeri barusan."
Deggggg...
"Baiklah. Kenapa tidak sekalian video call..? Biar aku bisa melihat wajahmu?"
"Aku lagi memakai masker wajah, aku tidak ingin dilihat olehmu." Ucap Marsha memberi alasan.
ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan tuan Excel. Cukuplah ia membuat skandal dengan tuan Cal yang saat ini ia diamkan.
"Tuan Excel! Aku minta maaf karena saat makan siang putraku hanya meracau saja. Tolong jangan dianggap serius!"
"Aku malah senang dengan keceplosan putramu yang menyampaikan isi hatinya walaupun terdengar sangat tidak nyaman olehmu." Timpal tuan Cal.
"Tidak usah pikirkan tentang ku, aku justru tidak ingin membuat anda menyesal dengan acara makan siang kita tadi."
"Maaf nona Marsha! Apakah anda merasa pernikahan anda tidak bahagia?"
"Itu hanya perasaan putraku saja bukan aku. Mungkin suamiku kurang perhatian padanya membuat ia merasa frustasi dan cenderung cari sensasi terutama pada anda Tuan."
Ucap Marsha menutupi masalah rumah tangganya yang sudah tidak harmonis.
"Kamu bisa mengandalkan aku nona Marsha. Aku siap mendengarkan keluhan mu."
"Saya rasa cukup pembicaraan kita malam ini tuan Excel. Selamat istirahat dan selamat malam."
"Baik nona Marsha. Maafkan atas kelancangan saya. Aku harap kita tetap berteman baik. Selamat malam dan selamat istirahat." Ucap tuan Excel sambil menunggu Marsha mematikan ponselnya.
Marsha merebahkan tubuhnya. Hatinya rasanya gamang. Ia tidak tahu siapa yang harus ia pilih untuk bisa berbagi kerisauan hatinya.
Bagaimanapun juga, kesepian telah membunuh perasaan cintanya pada sang suami.
"Sekarang kau keluar negeri pun hanya mengabari aku lewat pesan. Apakah suaramu terlalu berharga hanya untuk menyapa aku saja?"
Marsha mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menggugat cerai suaminya. Apa lagi putranya Al sudah mendukungnya untuk bercerai secepatnya dengan ayahnya.
__ADS_1
"Apa yang perlu aku pertahankan bahtera rumah tanggaku kalau tidak ada lagi kebahagiaan yang bisa aku dan putraku dapatkan dari suamiku yang gila kerja itu."
Ucap Marsha memantapkan hatinya untuk secepatnya bercerai dari suaminya sebelum putranya tumbuh menjadi anak yang broken home.