PETAKA PERSELINGKUHAN

PETAKA PERSELINGKUHAN
21. Merasa Tidak Pantas!


__ADS_3

Wajah Cal terlihat mengeras. Ia tidak menyangka Marsha begitu cepat melupakannya. Ia menatap Marsha lebih dalam seakan memastikan cinta wanita ini untuknya telah pudar.


"Apakah kamu juga tidur dengannya, Marsha?"


"Itu bukan urusanmu?"


"Kau kelihatan begitu murahan."


"Iya, aku memang perempuan murahan. Lalu apa peduli mu?"


"Aku pikir kamu akan memilih setia padaku sampai aku bisa meninggalkan istriku untuk kembali bersamamu."


"Apakah kamu pernah memberikan janji itu padaku? Bukankah kamu pernah menangis memohon kepadaku agar tidak mengusik rumah tanggamu? Sekarang aku sudah menuruti kemauan mu lantas apa yang kamu harapkan dariku? Menjadi perempuan tolol dan disebut pelakor oleh istrimu itu?" Balas Marsha lalu menarik pergelangan tangan Excel yang ikut mendengarkan perdebatan mereka.


"Bawa aku pergi dari sini Excel!" Ucap Marsha menahan bulir bening yang hampir mau jatuh.


Keduanya sudah berada di dalam lift menuju basemen untuk mengambil mobil.


Marsha meraung keras di dalam mobil Excel menahan kepedihannya. Ia merasakan penyesalan yang mendalam telah menyerahkan tubuhnya pada Cal hanya ingin merasakan manisnya bercinta.


Excel menarik tubuh Marsha masuk dalam pelukannya. Ia ingin memberikan ketenangan pada Marsha yang saat ini terlihat marah dengan keadaannya sendiri.


"Kenapa kamu peduli padaku Excel? Aku adalah perempuan kotor dan menjijikkan. Aku murahan dan aku tidak merasa pantas untuk laki-laki manapun."


Ucap Marsha dalam pelukan hangat seorang mafia ini.


"Apakah aku mempermasalahkan tentang masalalu mu Marsha? Aku juga bukan seorang laki-laki suci. Tapi aku ingin memiliki mu, aku tidak akan mendikte alur kehidupanmu. Setiap manusia punya pilihan hidup mereka masing-masing."


Ucap Excel meyakinkan cintanya pada Marsha.


"Kenapa harus aku? Bukankah banyak gadis lajang yang bisa kamu pilih untuk menjadi istrimu?"


"Aku lebih memilihmu dan mereka tidak masuk dalam daftar hatiku. Jangan terlalu mempersulit keadaan. Karena aku tahu kamu menyukaiku." Tebak Excel penuh percaya diri.


"Tapi aku tidak siap untuk menikah denganmu walaupun aku menyukaimu." Tegas Marsha merasa tidak pantas untuk Excel.


"Menyandang status janda itu tidak enak Marsha. Wajahmu sangat cantik dengan tubuhmu yang sangat proporsional bak model, kau akan menjadi incaran lelaki manapun.

__ADS_1


Mereka akan merendahkan mu dan tidak peduli sekuat apa kamu menjaga dirimu." Kata Excel.


"Aku tidak peduli dengan penilaian mereka. Aku hidup dengan kemampuan ku sendiri. Toh mereka tidak lebih baik dariku."


"Jangan terlalu keras kepala Marsha! Kau masih butuh seorang laki-laki mendampingimu. Kamu memang cerdas, tapi hatimu sangat lemah."


"Aku masih butuh waktu. Masa Iddah ku empat puluh hari lagi. Itu yang di atur dalam agama. Berilah aku waktu untuk menentukan sikapku!" Pinta Marsha dengan wajah murung.


Tidak lama kemudian mobil Excel memasuki apartemen miliknya yang ditempatin Marsha. Excel tetap mengantarkan Marsha ke kamar apartemen wanitanya.


Marsha masih syok dengan ucapan Cal padanya. Hatinya masih merasakan sakit bagaimana Cal menolaknya.


"Ia hanya membutuhkan tubuhku. Ia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Ia hanya merayuku. Aku yang terlalu banyak berharap padanya. Bagaimana dengan perceraiannya? Apakah semua ini menjadi tanggung jawabku? Aku sangat menjijikkan." Ucap Marsha merutuki dirinya sendiri.


Air mata itu kembali mengalir. Saat ini yang ingin ia lakukan minum obat tidur tapi ia masih bingung dengan obat tidur miliknya raib begitu saja dari tasnya.


"Sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku ingin keluar sebentar." Ucap Marsha yang ingin membeli obat tidur di farmasi yang ada di bawah lantai apartemennya.


"Apakah harus dengan menenggak obat tidur dulu untuk bisa melupakan masalahmu?" Tebak Excel.


Tanya Marsha yang sudah curiga itu perbuatan Excel karena pelayan tidak akan berani mengutak-atik tas miliknya apalagi putranya Al yang pernah iseng melakukannya.


"Berhentilah melarikan dirimu dari kenyataan. Jika kamu terlalu sakit hati pada Cal, kenapa tidak membalasnya dengan cara yang cerdik? Ingat...! Dia merendahkan mu di depanku agar aku menjauhi mu dengan begitu, ia dengan mudah mendapatkan kamu kembali dengan cara apapun."


Imbuh Excel menyadarkan Marsha atas niat busuk Cal pada wanitanya.


"Itukah sebabnya kau berani mengatakan kepadanya kalau aku adalah calon istrimu?"


"Tentu saja sayang! Hanya itu yang ada dalam pikiranku." Ucap Excel mantap.


Marsha terdiam. Ia bingung harus berkata apa lagi pada Excel dengan dirinya yang tidak pantas untuk siapapun apalagi Excel seorang pria yang terlalu berharga untuknya.


"Apakah kamu ingin membalaskan sakit hatimu padanya?"


"Aku malah ingin melenyapkannya di muka bumi ini." Hatinya begitu penuh dengan dendam


"Menikahlah denganku dengan begitu dendam mu terbalaskan. Aku tahu dia sangat mencintaimu, hanya saja nyalinya tidak cukup berani untuk melepaskan istrinya karena putri mereka.

__ADS_1


Sekarang pernikahan mereka telah kandas karena perselingkuhan kalian.


Dia akhirnya bingung dengan pilihannya sendiri kecuali kembali lagi padamu. Aku tahu dia sangat mencintaimu, Marsha."


"Tidak... tidak dia ataupun kamu. Aku tidak ingin menikah lagi. Aku sudah lelah. Aku ingin membesarkan putraku. Tolong mengertilah Cell." Lirih Marsha lalu tidur di sofa panjang yang ada di ruang tamu.


"Aku tidak memaksamu dalam waktu dekat ini Marsha. Aku hanya ingin melindungi mu dengan menikahimu walaupun kamu tidak mencintaiku." Ucap Excel yang ikutan lelah membujuk Marsha.


"Maafkan aku Cell!"


Marsha akhirnya tertidur. Ia terlalu banyak menangis karena memikirkan nasib hidupnya. Perselingkuhan yang membawa petaka dalam hidupnya.


Tidak ada pembenaran apapun untuk siapa saja yang melakukan perselingkuhan. Pada akhirnya ia harus membayar mahal atas apa yang saat ini ia alami. Tuhan tidak tidur. Balasan setimpal akan di terima oleh pelaku kemaksiatan.


Excel menggendong tubuh Marsha ke dalam kamar. Ia sangat mengerti perasaan Marsha saat ini. Perasaan bersalah dan juga kehilangan menumpuk di otaknya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu menanggung luka mu sendiri, sayang. Bagaimanapun caranya aku akan menikahimu sekalipun kamu menolakku berulangkali." Gumam Excel lirih.


Sementara Cal mengamuk sejadi-jadinya di kamarnya. Ia tidak terima begitu saja Marsha menjadi milik orang lain.


Ia merelakan putrinya di asuh oleh mantan istrinya Farah. Meninggalkan istrinya bukanlah perkara mudah karena adanya putri mereka.


Sekarang di tidak bisa lagi memiliki keduanya. Tidak Marsha maupun Farah.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu Excel. Kita lihat saja nanti siapa yang akan di pilih Marsha. Kamu masih calonnya bukan suaminya.


Dengan begitu Aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan lagi wanitaku. Marsha adalah wanita impianku.


Apapun yang ada pada dirinya menjadi standar impian semua lelaki." Gumam Cal sambil menyeringai seperti iblis.


Marsha mengerjapkan matanya, ia melihat Excel masih terbaring di sofa panjang yang ada dalam kamarnya.


"Kenapa pria ini sangat keras kepala. Aku hampir mati ketakutan dengan gosip orang lain, tapi dia seenaknya saja menemani aku di sini. Di kamar aku lagi." Gumam Marsha lirih.


Marsha turun hendak mendekati Excel. Marsha memperhatikan seksama wajah Excel.


"Ternyata dia sangat tampan." Lirih Marsha terdengar oleh Excel yang ternyata tidak tidur.

__ADS_1


__ADS_2