Petualangan Hugo

Petualangan Hugo
EP15 Pembebasan jendral Sasado


__ADS_3

 


Terbangun dari tidurnya itu panglima Jesta langsung sedih mengingat masa lalunya lagi. Kini ia akan mempersiapkan kembali barang-barangnya untuk membebaskan jendral Sasado.


Panglima Jesta melihat banyak penjaga yang berjaga di area pintu gerbang utama. Pastinya itu bukanlah jalan yang bagus untuk panglima Jesta. Ia berpikir akan melewati pintu gerbang samping.


Setibanya di pintu gerbang samping ternyata hanya ada satu penjaga saja yang berjaga. Tanpa berbasa-basi Jesta langsung membunuh penjaga itu secara diam-diam.


Gerbang sudah dilalui oleh Jesta kini ia hanya perlu untuk masuk ke dalam markasnya.


"Ahhh. Banyak sekali penjaga di halaman, aku harus masuk lewat jalur belakang kalo gini." Ucap panglima Jesta.


Melalui jalur belakang, panglima Jesta berhasil masuk ke dalam markas pasukan Sirai.


"Ternyata aku masuk ke dalam dapur mereka. Baiklah aku akan menyamar menjadi pelayan di markas ini agar jalan untukku menuju penjara aman." Ucap panglima Jesta di dalam hatinya.


Lalu menyamarlah Jesta ke dalam bagian markas dengan menjadi pelayan pengantar makanan. Semuanya berjalan dengan mulus, sampai pada akhirnya ada seorang prajurit yang mengetahui gerak-gerik panglima Jesta.


"Heii kau, penyusup." Ucap prajurit Sirai.


Panglima Jesta pun dengan sigap menghajar prajurit itu. Namun semuanya telah terlambat, seluruh prajurit di area tersebut mendengar teriakan itu.


Akibat dari itu, pasukan Sirai menyergap panglima Jesta yang saat itu terpojok. Akhirnya panglima Jesta berhasil tertangkap dan di bawa ke komandan Masytar untuk diadili.


"Lapor komandan, kami berhasil menangkap penyusup yang masuk ke markas." Ucap prajurit Sirai.


"Kenapa penyusup bisa masuk ke sini. Ohhh, aku harus memperkuat pasukan kita kalau begitu."


"Panggil dia, suruh ke sini saya mau melihatnya." Ucap komandan Masytar.


Mengetahui bahwa dirinya akan di bawa menghadap komandan. Dengan kecerdikan yang panglima Jesta punya ia akan berbohong tentang apapun yang ditanya komandan Masytar.


"Ini komandan, penyusup yang masuk ke markas kita." Ucap prajurit Sirai sambil mendorong panglima Jesta.

__ADS_1


"Ohh kau rupanya, berani-beraninya kamu datang ke markasku. Pasti kau ingin menyelamatkan jendral Sasado bukan?" Tanya komandan Masytar dengan tegas.


"Tidak, aku datang ke sini hanya untuk mengunjungi temanku. Kudengar dia tinggal di sini." Ucap panglima Jesta.


Meskipun sudah bertingkah polos dan layaknya orang awam. Namun komandan Masytar tidak mudah ditipu begitu saja. Komandan Masytar sudah mengetahui bahwa Ranstak pasti akan mengutus orang untuk membebaskan jendral Sasado.


"Prajurit bawa dia ke ruang eksekusi. Saya ingin dia mati terlebih dahulu sebelum jendral Sasado!" Seru komandan Masytar kepada para prajuritnya.


Mereka kini membawa panglima Jesta ke ruang eksekusi untuk membunuhnya. Rasa takut kini menghantui dirinya dan berharap bahwa raja Ranstak membantunya.


Dan benar saja, dari tadi raja Ranstak memantau panglima Jesta. Jika ini adalah saatnya untuk raja Ranstak mengeluarkan kekuatannya maka itu akan terjadi.


Raja Ranstak mulai melakukan aksi telepatinya untuk memberitau bahwa panglima tidak perlu khawatir. Raja Ranstak akan membantu membebaskan Jesta serta Sasado juga.


"Terima kasih raja kau memang bisa diandalkan dengan kekuatanmu." Isi hati dari panglima Jesta.


Dengan kekuatan dari raja Ranstak, membuat seluruh pasukan Sirai serta komandan Masytar pingsan dalam sekejap. Hal itu membuat panglima Jesta bisa bebas dan segera menyelamatkan jendral Sasado.


"Heii....Heii... Jesta aku ada di bawah. Kau turuni tangga dulu!!" Teriak jendral Sasado berharap panglima Jesta mendengarnya.


Panglima Jesta lalu menuruni tangga dan berjalan menuju ruang bawah tanah. Dengan teriakan dari jendral Sasado memudahkan panglima Jesta untuk menemukan posisi jendral Sasado.


"Woii teriak lagi lah aku tak dengar suaramu!" Teriak panglima Jesta.


Bukannya mendekat tetapi panglima Jesta malah pergi menjauh dari posisi jendral Sasado. Dan yang lebih menegangkannya komandan Masytar sudah bangun dari pingsannya. Komandan Masytar langsung mencari keberadaan panglima Jesta agar dia tidak berhasil menyelamatkan jendral Sasado.


Sayang, bukannya menemui jendral Sasado tetapi panglima Jesta dicegat oleh komandan Masytar yang sudah tersadar. Pertemuan mereka di sana pun menjadi perlawanan satu v satu.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu untuk membebaskan jendral Sasado begitu saja. Aku tidak akan melepaskanmu!" Seru komandan Masytar.


"Ahh kau akan ku habisi Masytar!!" Teriak panglima Jesta.


Mereka berdua pun bertarung untuk menentukan siapa yang akan hidup dan melanjutkan misinya.

__ADS_1


(Sang sing darr bakk nsuhb jsndb. Jshsbd)


Suara perkelahian antara panglima Jesta dengan komandan Masytar terdengar di segala penjuru markas. Saling mengalahkan, bercucuran darah, keringat dan tenaga mereka taruhkan semuanya.


Pertempuran itu didominasi oleh panglima Jesta. Dengan segala ilmu yang dia miliki, panglima Jesta berhasil menusuk perut komandan Masytar.


Dengan rasa sakit yang ia tahan. Komandan Masytar masih sanggup meneruskan perang. Komandan Masytar memberi ultimatum saat ia ingin menyerang panglima Jesta.


"Ini rumahku kau tidak dapat mengalahkanku di sini!" Teriak komandan Masytar.


Namun takdir berkata lain, panglima Jesta berhasil membenturkan kepala komandan Masytar sehingga tak sadarkan diri.


"Rumahmu tidaklah berpengaruh bagiku. Kau tetap lemah, dapat ku kalahkan dengan ssndiri." Ucap panglima Jesta.


Karena telah memenangkan pertarungannya, kini panglima akan pergi untuk membebaskan jendral Sasado.


"Heii jendral. Teriak lah, aku telah menanggg!!!" Teriak panglima Jesta.


"Kauu yang terbaik lah..!"


"Sini kau turuni lagi anak tangga


sampai ke lantai paling dasar!" Seru teriakan dari jendral Sasado.


Panglima Jesta pun pergi ke bawah lagi untuk menemui jendral Sasado. Akhirnya setelah lama tak bertemu, jendral Sasado dan panglima Jesta bertemu kembali.


"Ahhh akhirnya kau bisa menyelamatkanku." Ucap jendral Sasado.


"Udah nanti aja kita kangen-kangenan, kita harus keluar dari sini secepatnya!" Balas panglima Jesta.


Mereka kini pergi untuk keluar dari markas pasukan Sirai. Meninggalkan pasukan Sirai yang masih telelap dan komandan Masytar yang tak sadarkan diri.


Setelah beberapa saat, pasukan Sirai terbangun dari tidur mereka. Dan mereka melihat komandan Masytar tak sadarkan diri di Lantai dasar. Maka prajurit yang melihatnya pun memberitau ke prajurit yang lain.

__ADS_1


Kemudian komandan Masytar di bawa ke kamarnya agar bisa sadarkan diri. Beragam perawatan di berikan oleh pasukan Sirai namun komandan Masytar belum juga sadarkan diri.


Kini panglima Jesta dengan jendral Sasado pergi untuk menyusul Hugo dan kawannya.


__ADS_2