
Pagi hari yang cerah di Desa Koturo. Para warga Desa seperti biasa melakukan aktivitas keseharian mereka. Kepala Desa Koturo pun berkeliling untuk menyapa warga Desanya.
Namun saat hendak menyapa salah satu warga, Kepala Desa dipanggil oleh seorang stafnya yang berlari dari Balai Desa.
Kepala Desa Koturo ini merasa bingung kenapa staf Desanya sangat panik dan tergesa-gesa untuk menemuinya.
"Pak Kades, ada yang harus bapak lihat di balai Desa. Ini sangat penting pak!" Ucap seorang staf Balai Desa.
Kepala Desa yang belum mengetahui dengan jelas, hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan stafnya itu. Iya berjalan cepat untuk ke Balai Desa.
Setelah tiba di Balai Desa. Pak Kades langsung di bawa masuk ke ruang bawah tanah.
"Ada apa nih. Apakah ini sangat teramat penting?" Tanya Pak Kades.
Pertanyaan itu tidak dijawab oleh pengawalnya. Dan Pak Kades Koturo terus dibawa ke salah satu ruang pertahanan bawah tanah.
Tiba di salah satu ruangan, Kepala Desa Koturo disambut oleh sekretarisnya. Sekretarisnya itu bilang bahwa ada hal penting yang harus disampaikan kepadanya.
"Apa yang membuat ini terasa sangat penting?" Tanya Kepala Desa Koturo kepada sekretarisnya itu.
Lalu Kepala Desa Koturo disuruh untuk membaca sendiri surat yang diantarkan oleh burung Elang. Dan Surat ini berasal dari Komandan Masytar.
Kepala Desa Koturo membacakan isi surat itu.
"Wahai sahabatku yang jauh di sana. Sudah lama rasanya kita tidak bertemu. Namun ada yang harus aku sampaikan kepadamu. Bahwa salah satu prajurit ku, beliau mengatakan melihat pasukan Reibaras datang menuju Desamu. Aku tidak tahu ini berita benar atau tidak. Namun Kau siapkan pasukan saja untuk memantau pasukan Reibaras.
Tenang kawanku, Aku akan segera ke sana untuk membantumu. Namun kehadiranku akan sedikit terlambat dibanding pasukan Reibaras, Mereka akan tiba lebih dulu.
Ku tulis surat ini saat matahari berada di tengah-tengah langit. Mungkin pasukan Reibaras akan sampai Ke Desamu saat Sore Hari. Jadi berjaga lah wahai sahabatku."
Tertanda
Komandan Masytar
"Cepat panggil panglima dan kapten pasukan untuk ke sini?" Suruh Kepala Desa Koturo dengan perasaan yang panik.
Perintah dari Kepala Desa langsung dilaksanakan oleh para pengawalnya.
Kini mereka sedang dihadapkan oleh keadaan yang gawat. Ini juga menyangkut kehidupan warga Desanya.
Setelah semuanya berkumpul di ruang keamanan bawah tanah Balai Desa. Kepala Desa Koturo mulai untuk membagi-bagi tugas untuk menyelamatkan Desa.
__ADS_1
"Untuk hal itu kita perlu mempertahankan Desa ini. Aku membagi beberapa wilayah agar memudahkan kita untuk mempertahankan Desa Koturo."
"Saya ingin bagian pintu gerbang utama menjadi sesi pertahanan satu.
Untuk daerah pintu gerbang sampai area perumahan warga termasuk pasar menjadi sesi pertahan dua.
Dan yang terakhir alun-alun sampai dengan kebelakang termasuk Balai Desa menjadi pertahanan sesi tiga." Ucap Kepala Desa Koturo.
Semua pihak yang ada dan terlibat dalam usaha untuk mempertahankan Desa Koturo sangat tegang. Mereka tidak ada yang terlihat santai dan sangat serius untuk mempertahankan Desa Koturo.
"Jadi kita akan memiliki dua fokus di sini. Untuk pertahanan kita menyerahkan semuanya ke panglima. Biarkan panglima mengatur pertahanan yang kuat dengan pasukannya.
Untuk evakuasi warga Desa, saya menyerahkan sepenuhnya ke kapten. Kapten kau harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi." Ucap Kepala Desa Koturo.
"Oke jadi apa lagi yang kita tunggu. Ayo kita selamatkan Desa ini!" Seru panglima.
Panglima memiliki cara tersendiri untuk membuat siasat benteng pertahanan di dalam Desanya.
Panglima akan menaruh beberapa orang untuk berjaga-jaga di area terluar dari pintu gerbang.
Untuk penjagaan sesi pertahanan satu ia melakukannya dengan menaruh pemanah di atas tembok dan para pasukan di belakang gerbang.
Untuk sesi pertahanan terakhir. Panglima akan melindungi Balai Desa sekuat mungkin dan menunggu bantuan dari Pasukan Sirai.
Ide pertahanannya itu langsung disambut baik oleh para petinggi di sana. Mereka berharap ide tersebut dapat melindungi Desa dan juga warganya.
"Kini apa idemu untuk mengevakuasi warga Desa, agar mereka tidak terlihat oleh pasukan Reibaras?" Tanya Pak Kades Koturo kepada kapten.
kapten lalu mengeluarkan idenya tersebut. Dia juga memerintahkan untuk para staf Balai Desa untuk ikut dengannya.
"Jadi saya akan mengumpulkan warga Desa di alun-alun. Kemudian kita arahkan keluar Desa melalui gerbang belakang. Saat sudah keluar mereka akan saya sembunyikan di tengah hutan."
"Dan akan mengeluarkan mereka lagi setelah perang telah usai. Namun untuk laki-laki kita perintahkan untuk bertahan di Balai Desa." Ucap kapten yang mengeluarkan idenya tersebut.
"Oke tunggu apa lagi. Mari kita selamatkan Desa ini dari pasukan Reibaras!" Seru kepala Desa Koturo.
Mereka pun melakukan tugasnya masing-masing. Panglima akan menemui pasukannya, sedangkan kapten akan melakukan evakuasi terhadap warga Desa.
Kapten memiliki satu perintah lagi. ia mengatakan "Untuk yang mempunyai ladang, agar meluangkan waktu untuk memanennya terlebih dahulu." Ucap kapten.
Tepat saat pagi menjelang siang. Mereka menjalankan tugasnya tersebut. Para pasukan pelindung Desa pun sudah memenuhi tembok dan gerbang mereka.
__ADS_1
Karena kepanikan warga Desa Koturo. Mr.Beja yang mengetahui apa yang terjadi, dan langsung kepikiran bahwa apakah Isabella dan kawannya akan baik-baik saja.
Seluruh penjaga bersiap di gerbang utama Desa dan menunggu informasi dari prajurit yang diutus untuk memantau situasi depan.
Selagi menunggu untuk pasukan Reibaras datang ke Desa mereka. Para warga di belakang sedang berdesakan untuk keluar dari Desa. Namun Mr.Beja nampaknya tidak peduli akan itu.
Mr.Beja mengirimkan satu pekerjanya untuk menyusul Isabella dan kawannya untuk memberitahu mereka. Bahwa pasukan Reibaras mengejar mereka sampai ke sini.
Pekerja Mr.Beja pun menuruti apa yang diperintahkan oleh bosnya tersebut. Namun dia tidak tahu kemana Isabella dan kawannya pergi.
"Ke Desa mana ya tuan, Isabella dan kawannya pergi?" Tanya Pekerja/karyawan Mr.Beja.
Lalu Mr.Beja memberitahu kepada dia bahwa tujuan mereka mungkin ke Desa temannya. Yaitu Desa Suporsas.
******
Hugo, Oliver, Billy, dan Isabella sedang melewati jalan hutan yang dimaksud Isabella. Ini dilakukan agar waktu yang mereka tempuh berkurang daripada lewat jalan utama.
"Hheii Isabella mana rintangannya. Katanya jalan ini susah dilalui?" Tanya Billy kepada Isabella dengan tertawa.
Isabella yang mendengarnya pun hanya bisa tertawa kecil. Isabella mengatakan "Jangan senang kaya gitu dulu. Di depan sana ada sungai dengan aliran air yang deras. Tetapi aku sudah berpengalaman dalam hal itu. Tenang aja." Ucap Isabella.
"Aappa kau gila ya. Kuda kita mana mungkin dapat menyebrangi sungai, dengan air yang deras pula??" Tanya Billy.
Mereka pun berdebat di tengah tengah hutan karena kesalahpahaman yang terjadi. Billy yang sangat emosi saat itu mendorong Isabella sampai terjatuh.
"Aaaa..." Teriak Isabella.
Lantas Hugo langsung menampar wajah Billy. (paaak) "Kenapa kau lakukan itu Bill." Tanya Hugo.
Oliver saat itu menyuruh mereka semua untuk tenang dan bisa dibicarakan dengan baik-baik. Oliver juga yakin ini hanyalah kesalahpahaman antara mereka bertiga.
Setelah tenang mereka kini mulai membicarakan tentang sungai dan cara menyebrangnya.
"Mungkin ini salahku karena informasi yang kuberikan kurang jelas. Namun aku sering melewati sungai itu dan mengetahui cara untuk melewatinya bersama." Ucap Isabella.
"Tidak seharusnya aku yang meminta maaf. Karena emosiku ini tidak bisa dikontrol oleh diriku sendiri. Aku juga minta maaf ke kau Hugo." Ucap Billy.
"Oke karena masalah kita sudah selsai. Mari kita lanjutkan perjalanan kita untuk ke Desa Suporsas. Agar kita sampai lebih cepat." Seru Oliver.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya kembali dengan hati yang berdamai.
__ADS_1