
PAGI HARI TIBA.
Hugo dan teman-temannya melakukan aktivitas seperti biasa.
Sebelum berangkat pastinya mereka akan memeriksa jalan yang akan dilalui. Tugas ini biasanya dilakukan oleh Oliver, namun untuk kali ini tugas diambil alih oleh Hugo.
Desa yang akan mereka lalui selanjutnya adalah Desa Kilil. Mereka harus berpergian sepanjang 200 km. Tentu akan memakan waktu yang lama.
Namun itu semua bukanlah hambatan bagi Hugo dan kawannya. Sampai pada akhirnya Hugo menyadari jika untuk mencapai Desa Kilil, mereka harus menyebrangi satu danau.
Pastinya itu akan membebani mereka, tapi Hugo akan membicarakan hal ini kepada teman-temannya terlebih dahulu.
Saat jam makan siang bersama, itu adalah waktu yang tepat untuk Hugo mengatakannya.
"Ehhhh... sepertinya perjalanan kita menuju Desa selanjutnya akan mengalami sedikit hambatan!" Seru Hugo.
Oliver, Billy, Isabella, dan Richard pun dibuat kebingungan dengan apa yang Hugo katakan. Satu diantara mereka bertanya tentang ke Desa manakah mereka akan pergi.
Hugo pun mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Desa Kilil.
"Untuk jaraknya memang jauh dari sini tetapi ada hal lain yang membuatku khawatir." Ucap Hugo dengan gelisah.
"Apa itu Hugo? katakan pada kami!"
Seru Oliver.
Hugo lalu membuka peta perjalanan mereka dan menyuruh Oliver untuk melihat. Hugo juga menjelaskan bahwa jalan untuk mencapai Desa Kilil adalah menyebrangi danau.
Jika tidak mereka akan berputar sejauh 500 km. Lantas Oliver berpikir sejenak untuk memilih.
"Memang apa yang salah jika kita menyebrangi danau? kita bisa membuat rakit disekitar area danau itu Hugo!" Balas Billy.
Namun bukan itulah yang Hugo khawatirkan. Hugo lebih mengkhawatirkan terhadap cuaca di sekitar danau. Terlebih danau itu dikenal dengan tempat berkumpulnya badai besar.
"Tenang saja Hugo, kita pasti bisa menyebrangi danau itu dengan selamat. Mungkin kita bisa meminta bantuan warga sekitar bila kita tidak bisa membuat rakit sendiri." Ucap Isabella menyemangati Hugo.
Dengan persoalan yang dihadapi oleh teman-temannya, Richard berinisiatif untuk bertanya pada ayahnya. Sebelum mereka semua berangkat.
Beberapa jam sebelum berangkat.
Hugo dan teman-temannya kini telah siap untuk melanjutkan perjalanan. Berbagai persediaan yang mereka butuhkan untuk diperjalanan pun telah siap.
Namun Mr.Andar mengajak Richard untuk bicara empat mata. Mereka berdua pergi ke kamar untuk sementara.
Mr.Andar memeluk Richard dengan berkata.
"Nak, ayah tau ini pasti keinginan dirimu. Dan ayah bangga padamu nak. Tapi jagalah dirimu dan jagalah temanmu ya! Ayah pasti akan sangat merindukanmu nak!" Ucap Mr.Andar.
Richard yang mendengarnya hanya bisa menangis dan terdiam saja. Dan di waktu itu pula Richard ingat sesuatu.
__ADS_1
"Ayah.. apakah ayah tau tentang danau besar yang akan kita lalui?" Tanya Richard.
"Ya nak, tentu ayah tau." Jawab Mr.Andar.
Richard lalu menceritakan tentang apa yang ia butuhkan di danau tersebut. Tentunya ia mencari kenalan dari ayahnya untuk membantu Richard menyebrangi danau.
Tentunya Mr.Andar yang merupakan kepala Desa mengenali satu orang temannya di sekitar danau. Mr.Andar lalu menyuruh Richard untuk mencarinya di sebuah gubuk.
"Ada seorang bernama Yuto, ia adalah teman lama ayah. Kamu bisa menemukan dia disekitar gubuk di pesisir danau.!" Seru Mr.Andar.
Setelah mendapat apa yang Richard butuhkan, ia pun berpamitan lagi dengan ayahnya. Dan keluar bersama dari kamar menuju teman-temannya.
Hugo, Oliver, Billy, dan Isabella sudah siap untuk pergi dan tinggal menunggu Richard. Richard pun segera bergegas untuk naik ke kudanya dan bersiap juga.
Perjalanan kembali dilanjutkan, kini Hugo dan kawannya mendapat personil tambahan yaitu Richard. Dengan bertambahnya satu orang, sekarang mereka akan mencari Pedang Legenda dengan lima orang.
Setelah keluar dari gerbang Desa Suporsas, Hugo berniat untuk menanyakan sesuatu kepada Richard. Namun niatnya itu harus ia tahan lebih lama lagi.
...****************...
KEMBALI KEPADA PASUKAN SIRAI
Akhir dari pertarungan antara komandan Masytar dengan panglima Jesta memberikan dampak yang sangat negatif kepada pasukan Sirai.
Hampir seluruh dari anggota pasukan Sirai terkena penyakit. Dan yang lebih parahnya lagi komandan ataupun pemimpin mereka, yakni komandan Masytar masih belum pulih dari komanya.
Hal ini membuat seluruh kepengurusan markas besar Sirai jadi terhambat.
Bertanya-tanya akan kembali sadarnya komandan Masytar menjadi pertanyaan besar. Sudah banyak sekali dokter yang datang ke tempat mereka hanya untuk menyadarkan komandan.
Namun usaha tersebut sepertinya tidak membuahkan hasil. Banyak dari anggota pasukan Sirai yang mulai putus asa akan keadaan komandan.
Terlebih jantungnya mulai tidak berdetak kembali setelah pertarungan kemarin. Hal ini menimbulkan berbagai perdebatan di kalangan anggota pasukan Sirai.
Banyak yang berpendapat bahwa komandan Masytar masi berjuang melawan penyakitnya. Namun ada pula yang berpendapat jika komandan Masytar telah tiada.
Dikarenakan banyak persoalan di kalangan anggota. Maka pasukan Sirai mengadakan sebuah rapat diantara pemimpin 1 sampai dengan pemimpin 5 dan juga para anggota pasukan.
Rapat dibuka dengan masing-masing pemimpin memberikan pendapatnya terkait kondisi komandan Masytar.
Pemimpin 1
"Saya sebenarnya tidak setuju untuk mengadakan rapat ini. Sebenarnya ini tidak penting karena saya dan anggota saya masih meyakini bahwa komandan Masytar masi berjuang melawan penyakitnya." Ucap Pemimpin 1.
Pemimpin 2
"Jelas apa yang disampaikan oleh pemimpin 1 aku menyetujui itu. Para anggota saya memiliki kepercayaan jika komandan Masytar adalah orang yang memiliki ilmu kuat. Pastinya mereka juga percaya bahwa komandan Masytar belum mati."
Pemimpin 3
__ADS_1
"Kalian tidak terlalu paham mengenai kesehatan. Jika jantung seseorang sudah berhenti berdetak, maka orang tersebut sudah mati mau siapapun dia."
Pemimpin 4
"Sudah sangat jelas bahwa saya dan anggota saya percaya jika komandan Masytar sudah mati."
Pemimpin 5
"Saya dan para anggota telah mempertimbangkan untuk melakukan voting. Hasil dari voting itu sebagian setuju dan sebagian tidak."
"Berarti saya selaku pemimpin akan mengambil keputusan. Maka saya memilih bahwa komandan Masytar sudah mati dalam pertarungan kemarin."
Semua pemimpin telah mengeluarkan pendapat terkait komandan Masytar. Maka mereka semua bersepakat untuk mengkremasi komandan Masytar.
Semua anggota yang hadir dalam rapat itu menerima keputusan. Dan kremasi akan dilakukan dalam beberapa jam.
Kemudian tubuh dari komandan Masytar dipindahkan ke halaman markas. Saat itu pula api segera di dekatkan ke tubuh komandan.
Namun saat api ingin menyentuh tubuh komandan. Tiba-tiba jari dari komandan bergerak.Hal itu dilihat oleh pemimpin 5 yang sontak menyuruh semuanya untuk memadamkan api.
"Heii padamkan apinya!!! Saya melihat jika komandan Masytar masi hidup." Ucap Pemimpin 5.
Sontak semua yang ada di sana segera mengambil air dan memadamkan api. Setelah api berhasil dipadamkan. Mereka mengangkat tubuh komandan Masytar dari tempat kremasi.
"komandan, apa kamu baik-baik saja?" Tanya pemimpin 5.
Komandan Masytar yang masi setengah sadar saat itu, hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kita bawa komandan Masytar ke kamar beliau lagi!" Seru pemimpin 5.
Kesedihan yang dialami oleh para anggota, kini berubah menjadi rasa kegembiraan. Dengan sadarnya kembali komandan Masytar, kini mereka tidak perlu khawatir kembali.
Setelah merasa badannya agak membaik, komandan Masytar mencoba menanyakan apa yang terjadi kepada pemimpin 1.
"Apa yang terjadi, sehingga kalian ingin kremasi diriku?" Tanya komandan Masytar.
Sontak pemimpin 1 menjelaskan mengenai kejadian yang terjadi saat komandan sedang dalam komanya.
Lalu sebab mendengar penjelasan dari pemimpin 1. Komandan Masytar kembali bertanya mengenai para tahanan.
"bagaimana dengan para tahanan, apakah mereka semua melarikan diri?" Tanya komandan Masytar.
"Untuk semua tahanan tidak melarikan diri komandan."
"Tapi kita kehilangan jendral Sasado." Seru pemimpin 1.
"Apa kau serius?" Tanya kembali komandan.
"Ya komandan, panglima Jesta telah membawanya pergi." Ucap pemimpin 1.
__ADS_1
Mendengar kabar itu, komandan Masytar bergegas untuk membentuk tim. Itu bertujuan untuk mencari kembali keberadaan jendral Sasado.