Planet Terjauh

Planet Terjauh
Planet Baru


__ADS_3

        Satu bulan berlalu, kami berada di kapal luar angkasa ini, perjalanan ini cukup melelahkan bagi kami, kami pun sudah bosan melihat planet-planet yang di lewati, kami sekarang sedang sampai ke planet terbesar, yakni jupiter. Kami pun akan melanjutkan perjalanan menuju saturnus, kemudian uranus, di lanjutkan ke neptunus.


        Alasan kami melewati planet ini, di karenakan jika kapal kami mengalami kendala kami bisa singgah di planet terdekat. Karena disetiap planet ini sudah di bikin stasiun luar angkasa untuk singgah jika kapal luar angkasa mengalami kendala.


*****


        Setelah Enam Bulan berlalu, kami terkena masalah yaitu kami terapung di luar angkasa, kami kehabisan bahan bakar ketika melewati planet yang tidak di akui yaitu pluto, padahal jarak tujuan dari planet yang kami tuju sebentar lagi sampai, hanya berjarak 1 minggu dari planet pluto. Kami pun sudah hampir kehabisan bahan makanan di kapal luar angkasa ini, aku pun melaporkannya kepada kapten.


"Kapten kita sudah hampir kehabisan makanan di kapal angkasa ini, apakah tidak ada planet yang bisa kita singgahi?" tanya kadet


"Maaf kadet, planet yang terdekat hanya planet yang menjadi tujuan awal kita" jawab kapten


"Jadi gimana caranya kita mengatasi krisis makanan ini kapten?" tanya salah satu kadet lagi


"Kita harus berpuasa, dan hanya makan di hari berikutnya" ucap kapten memerintahkan


"Baiklah kapten!" ucap kadet sambil memberi hormat


       Kami pun berpuasa selama mungkin, semoga saja makanan kami cukup untuk bertahan selama terombang-ambing di luar angkasa, dan semoga ada planet terpencil yang bisa kami singgahi.


*****


        Satu bulan pun berlalu, kami pun kehabisan bahan makanan untuk kami makan, yang tersisa hanyalah air minum, itu pun hanya beberapa, tidak cukup untuk semuanya. Banyak kadet yang terbaring lemah karena kurang makan, ada juga yang sakit karena tidak bisa menyesuaikan dirinya saat di luar angkasa, kami sudah tidak ada harapan lagi. Ketika kami semua dalam keadaan terpuruk, keajaiban pun muncul secara kebetulan, ternyata ada planet yang sangat dekat dengan kami, aku pun memberitahu kepada kapten tentang planet itu.


"Kapten, saya ada melihat planetnya" ucapku sambil menunjuk ke planet


"Dimana kamu melihatnya?" ucap kapten yang belum jelas melihatnya


"Disana kapten, planet itu sangat kecil dan ada celah kecil di dalamnya" ucapku menunjuk ke planet itu lagi


      Kapten pun menggunakan teropongnya untuk melihat planet yang aku tunjuk. Ternyata memang benar itu planet yang akan kita tuju, kapten pun menyuruh aku menggunakan bahan bakar cadangan untuk menuju ke situ, walaupun tenaga cadangan itu pun cuma tinggal sedikit.

__ADS_1


"Kapten tenaga cadangan kita tinggal sedikit juga, takutnya kita tidak bisa pulang?" ucapku kepada kapten


"Pakai saja tenaga cadangannya, dari awal juga pemerintah sudah salah memperhitungkan bahan bakar kapal angkasa ini, harusnya bisa dipakai untuk pulang dan pergi tapi ini jadinya hanya bisa untuk pergi" ucap kapten


"Kenapa mereka tega kepada kita kapten?" tanya salah satu kadet


"Karena aku tentara buangan pemerintah, misi mereka itu mau menyingkirkan pengganggu di bumi, kamu jangan banyak bicara lagi, cepat laksanakan perintahku mengerti" ucap kapten


      Kami pun akhirnya menggunakan tenaga cadangan itu untuk masuk ke dalam planet kami melakukan hal ini karena terpaksa dan tidak ada cara lainnya lagi.


      Kami pun pergi menuju planet itu dengan menggunakan tenaga cadangan yang tersisa.


"Kapten kita harus masuk lewat mana?" tanya asisten kapten


"Kita coba lewat celah kecil itu, mungkin itu jalan masuknya" ucap kapten memerintah


"Baiklah kapten!!!" ucap asisten kapten


"Kapten ini tidak bisa dilanjutkan sebaiknya kita mundur?" ucap asisten kapten


"Tidak ada pilihan lagi, lebih baik kita terobos saja pusaran angin itu" ucap kapten memerintahkan asistennya


"Gimana kalau kapal kita hancur kalau menerobos Kapten?" ucap asisten kapten


"Lebih baik mati di planet di bandingkan mati di luar angkasa dan terombang-ambing, kamu pilih yang mana?" tanya kapten menyuruh memilih


"Aku lebih memilih mati di planet kapten" jawab kapten


"Jadi kamu laksanakan saja perintahku!" ucap kapten memerintahkan


"Baiklah kapten!" jawab asisten kapten dengan lantang

__ADS_1


     Akhirnya kami pun mencoba untuk menerobos pusaran angin, yang ternyata semakin ke dalam semakin kuat angin yang berhembus, itu yang membuat kapal kami semakin berputar seperti gasing.


"Kapten, kapal kita sudah mencapai batasnya, tidak bisa di kendalikan" ucap asisten kapten


"Sudah, kita ikuti saja anginnya" ucap kapten sambil memegang tangan asisten kapten


*****


        Beberapa jam kemudian kami tersadar dan membuka mata kami dan ternyata kami berhasil masuk ke dalam planet ini, ternyata angin itu hanya membuat kapal kami masuk ke dalam planetnya dan tidak menghancurkan kapal kami.


       Setelah kami masuk pemandangan planetnya berubah, yang kami kira hanya tandus gersang, ternyata hijau seperti bumi saat tidak di landa global warming, padahal planet ini sangat jauh dari matahari dari mana mereka mendapatkan sumber panas, ini yang membuat kami semua penasaran.


       Setelah kami masih melintasi langit planet itu cukup lama, kami melihat sebuah bangunan, bangunan itu terbuat dari kaca, tapi anehnya kami tidak bisa melihat ke dalam bangunan itu, mungkin orang yang membuat bangunan ini memakai kaca dua arah.


       Kapal luar angkasa kami pun turun di dekat bangunan dan kami kesini mau mengecek bangunan itu, takutnya mereka adalah pemilik planet ini. Dan kami mestinya meminta izin sama yang mempunyai planet.


       Kami pun memasuki bangunan itu dengan berjalan perlahan, ketika kami berada di depan pun lalu membukanya, ternyata pintunya tidak di kunci seolah kami memang di suruh masuk ke dalam bangunan.


      Kami semua pun akhirnya masuk di dalam bangunan itu, ketika kami di dalam ternyata bangunan itu seperti lab penelitian, kami pun mengecek setiap ruangannya dan terdapat banyak sekali obat-obatan di semua ruangan yang kami periksa.


"Kadet coba periksa pintu yang paling ujung itu lagi!" ucap kapten memerintah diriku


"Baik kapten" ucapku sambil memberi hormat


      Aku pun membuka pintu yang di tunjuk kapten dan ternyata ada orang di dalamnya, dia memakai baju putih seperti peneliti, dan sepertinya dia akan menuju ke arahku. Aku pun langsung berbalik arah dan menutup pintunya kembali. Aku pun langsung melaporkannya ke kapten.


"Kapten, disana ada orang yang memakai baju putih seperti peneliti disini" ucapku ke kapten


"Semuanya siaga dan arahkan senapan ke arah pintu itu!" ucap kapten memerintahkan


"Baik kapten!" ucap semua kadet sambil menuju ke depan pintu dan menodongkan senjata

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2