
Sepulang dari tempat nongkrong, mengernyit dahi seorang pria muda melihat dari kejauhan jarak sekitar satu meter, ke arah rumahnya, melihat banyaknya orang yang sedang duduk depan rumahnya, di bawah sebuah tenda.
Melihat seorang wanita yang telah melahirkan, dan membesarkan dirinya tersebut, terbaring dengan wajah pucat, membuat mata pria muda berkaca-kaca. Di samping mendiang sang Ibu, tubuh Galvin di buat lemah. Seorang pria dari belakang, mengangkat tubuh Galvin untuk duduk di kursi.
"Sudah, kamu harus mengikhlaskan semua yang telah terjadi." Mencoba Bonifacio sebagai sahabat dari Ghali untuk menenangkan anak dari sahabatnya. "Lagi pula kamu masih muda, masih banyak yang perlu di raih, selain meratapi yang telah terjadi."
"Iya, Om, saya mengerti." Mengangguk kepala Galvin, menengok sebelah kanan serta kirinya. Sehabis itu Galvin kembali menyoroti Bonifacio. "Apa, Om, melihat Ayah saya dimana?"
"Dia sedang berada di tempat pemakaman umum untuk mengurus makam Ibu kamu." Terang Bonifacio dengan kedua alis yang mencuat, menghadap orang yang bertanya.
"Oh ... Om, sejak kapan ada di sini?"
"Yah, semenjak kemarin mendapat kabar dari Ayah kamu bahwa Ibu kamu meninggal ... kamu kemarin kemana aja?"
"Saya kemarin habis pergi nginep di rumah teman, jika saya tau bahwa Ibu saya meninggal ... sudah pasti saya akan pulang dari kemarin, namun tidak ada kabar sama sekali dari dia." Sedikit kesal Galvin mengingat sang ayah, memberi penjelasan.
"Sudah, lebih baik kamu ganti pakaian kamu, bentar lagi kita akan pergi untuk memakamkan Ibu kamu, setelah ayah kamu pulang nanti." Ucap Bonifacio memberi arahan dengan nada halus.
"Baik, lah ... ."
Sementara mengambil pakaian serba hitam dari dalam lemarinya, Galvin mematung di depan lemari dengan mata yang memerahnya terasa perih. Menarik napas dengan kuat, mengingat dirinya adalah seorang pria, harus bisa kuat menghadapi hal yang telah terjadi. Akan tetapi, semakin ditahan, semakin jelas rasa sedih dirinya.
Untuk sementara, sebelum keluar air dari matanya yang sudah tak terbendung lagi. Sementara waktu melupakan segala pikirannya untuk keluar, tak ada salahnya sebagai seorang anak mengetahui Ibunya meninggal baru-baru saja. Secara manusiawi Galvin prustasi dirinya menyesal karena sewaktu Ibunya hidup, Galvin tak pernah membuatnya bahagia.
****
Di depan sebuah makam, ratusan orang berkumpul sedang berduka, saat mayat akan di tutup dengan sebuah tanah. Pecah kembali air mata Galvin dengan sendirinya mebasahi pipinya, berat sekali rasanya harus berpisah dengan sang Ibu untuk selama-lamanya. Melihat istri mulai di tutupi tanah, pandangan Ghali buram dengan tubuh lemas tak berdaya.
__ADS_1
Sadar dari pingsannya Ghali melihat sekitar, dirinya berada di bawah sebuah atap bangunan. Dengan wajah kebingungan, Ghali mengamati di depannya, saat menegakkan tubuhnya. Terheran Ghali, saat mendapati Bonifacio yang berada persis di sampingnya.
"Lah, bukannya seharusnya kita sedang berada di tengah acara pemakaman Vinsensia, kok, kita malah berada di sini?" heran Ghali seakan dirinya merasa sedang terhipnotis.
"Intinya loe harus coba terima isteri loe di ambil sama yang maha kuasa ... ." Ujar Bonifacio, menepuk pelan punggung sahabatnya yang sedang rapuh.
"Maksud loe?"
"Yah, tadi loe jatuh pingsan, untungnya aja gue berada di belakang loe, buat nopang tubuh loe yang besar ... dan loe pingsan sekitar setengah jam." Jawab Bonifacio merekah ulang peristiwa barusan secara singkat. Menunjuk sala satu jari Bonifacio, ke arah seseorang pria muda sedang merenung di depan makam. "Tuh, anak loe masih bertahan di tempat, sekarang loe susul, gih."
Tringg, tring! suara ponsel Bonifacio berdering, panggilan masuk dari seseorang.
"Gue pulang duluan, yah, bro ... soalnya isteri gue udah nelepon yang ke tiga kalinya ini." Lanjut Bonifacio berpamitan, mengambil ponsel yang berdering dari dalam saku celananya.
"Oke, hati-hati."
"Ngapain kamu masih berada di sini, mengapa tak ikut pulang bersama rombongan lainnya?"
Mendengar Ghali bertanya tentang hal seharusnya di mengerti, membuat mata Galvin melirik malas ke arah Ghali. "Saya selaku anak kandung anda, apa perlu jadi persoalan, jika saya masih berada di sini?" dengan nada malas Galvin membalas.
"Memang selama ini kamu kemana aja, dari kemarin baru sadar kalau aku adalah ayah kandung kamu?" Mendecit Ghali, pipi membentuk senyuman sinis. "Memang anak bandel seperti kamu, apa masih layak bersedih depan makam ibunya?"
"Yah, setidaknya saya masih memiliki sikap manusiawi sewaktu Ibu saya masih hidup. Tak seperti anda, memperlakukan isteri anda sendiri dengan kejam, melampiaskan segala kekesalan kepadanya, sewaktu dia masih hid--"
"Jaga, yah ... mulut kurang ajar kamu itu karena aku lebih tua dari kamu, terlebih aku adalah ayah kandung- mu!" Dengan cepat Ghali memotong kalimat Galvin yang sedang mengungkit masa lalu. Terbuka lebar kelopak mata Ghali dengan amarah yang membara dalam dirinya, melihat wajah anaknya sendiri, masih berada di sampingnya. "Sekarang kamu pergi dari sini, cepat!"
"Baiklah, sebagai seorang anak, saya hanya bisa menuruti apa yang di katakan orangtuanya saja." menoleh Galvin ke arah ayahnya dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Menjelang beberapa menit di tempat, bawaan diri Ghali kesal, masih melihat sang anak berdiri di samping bahunya. "Mengapa masih diam di tempat?" membuang wajah tak sukanya pada Galvin.
"Saya lelah berjalan, perlu uang untuk transportasi umum."
Intinya Ghali malas melihat wajah Galvin yang berada di sekitarnya, jadi dengan sukarela Ghali memberikan beberapa uang pada anaknya tersebut untuk pulang. Tertekuk lutut Ghali di depan sebuah batu nisan, saat Galvin sudah tak terlihat lagi di sekitar tempat. Terisak-isak dengan sendirinya Ghali, mencurahkan rasa sedihnya, mengingat masa lalu memperlakukan sang istri.
****
Di atas sebuah sofa, dalam sebuah rumah yang serba sederhana milik sahabatnya , Galvin rasanya tak ingin langsung pergi pulang kerumah. Malas sekali dirinya nanti harus mendengar ocehan dari ayahnya. Jadi, di paksakan Galvin masih dalam keadaan galaunya menemui pacarnya, di rumah sang sahabat.
Seorang wanita berparas cantik, hidung yang pesek menghiasi ke imutannya, kepalanya memangku di bahu milik Galvin. "Ini gimana, Vin, bagus atau enggak, yah?" kata Rihanna meminta pendapat dari pacarnya tersebut, mengenai pakaian yang tertera pada layar ponsel di genggamnya.
"Sabar ... kalau sama yang tadi bagusan mana?" sekali lagi Rihanna bertanya, setelah menscroll layar ponsel.
"Kamu bisa diam atau enggak?" Desis Galvin dengan wajah kurang menanggapi.
"Kok, kamu gitu ... kan, lagi pula aku bertanya doang, bukan memohon sama kamu untuk membelikannya."
"Diam, sekarang kamu pergi dari sini, cepat!" panas otak Galvin tak kuat mendengar ocehan dari kekasihnya tersebut dalam keadaan dirinya yang sedang dilema atas meninggalnya sang Ibu, membuat Galvin harus mengeluarkan nada tinggi mengumpat.
"Oh, baiklah, jika itu yang kamu inginkan ... kita putus sekarang juga, titik, enggak pake koma!"
Prak! suara meja di tendang Galvin, saat Rihanna sudah menjauhinya.
prustasi Galvin dengan hal yang barusan dirinya lakukan terhadap sang pacar yang tak keadaannya. Seorang pria bertubuh atletis sedang telanjang dada, keluar dari dalam kamarnya mendengar suara gaduh. Dari sela pintu kamar melihat sang sahabat di tempat dengan wajah galaunya, segera Thomas mendatanginya untuk menghiburnya layaknya seorang sahabat.
#Galvin#
__ADS_1