poor child fate

poor child fate
Terima konsekuensi


__ADS_3

Du atas kursi, tampak terlihat begitu sibuk kedua lensa kelabu mata milik seorang pria dengan tubuh telanjang dada, sibuk dengan ponsel di genggaman tangannya. Mengisi waktu kosong untuk menghibur diri, membaca beberapa artikel dari balik layar ponsel, mencari opini terkini, sebagai seorang modern, tak ingin tertinggal sedikitpun informasi yang sedang ramai di bincang saat ini.


Merasa bosan dengan topik berita yang di ulang terus akhir pekan ini, Galvin beralih- kan diri untuk mengambil sebuah sarung tangan tinju dari dalam lemarinya. Berdiri Galvin di depan sebuah samsak yang di gantung, meninju samsak tersebut dengan teknik tinju yang dirinya mengerti. Terhenti Galvin dengan kesibukannya meninju, mendengar sebuah langkah dari arah tangga rumahnya, seseorang sedang menuju kemari.


Bersandar tubuh Thomas yang lemas, di atas sebuah sofa bernuansa biru. "Sial, njing ... ." Umpat Thomas dengan mata terpejam, sala satu tangannya menempel ke wajah.


Terbuka lebar kedua kelopak mata Galvin, mengarahkan diri pada sang sahabat yang terlihat aneh saat ini. "Ada apa?" berjalan perlahan Galvin mendekati Thomas sembari melepas saru g tangannya.


"Gue habis di keroyok sama tim penagih hutang ... ." Menjauh telapak tangan Thomas yang menutupi wajahnya sendiri yang lebam. "Loe bisa lihat sendiri, kan, muka gue bonyok, itu gara-gara mereka."


Mengangguk sesaat kepala Galvin menanggapi. "Memang mereka berapa orang yang berani keroyok lu?" penuh antusias Galvin bertanya.


"Mereka ada sekitar lima orang, tiga badannya kurus, dua badannya besar."


"Alasan lu di keroyok kenapa?"


"Jadi, gini, gue pinjem uang dengan bos mereka sekitar sepuluh juta buat Mama gue yang sakit di rumah sakit memerlukan biaya pengobatan, saat kemarin sebelum Monica meninggal, gue pergi kampung. Nah, baru saja sekitar satu bulan, mereka sudah minta nagih uang itu sekarang juga. Seh--"


Keburu kesal, Galvin memotong penjelasan dari sang sahabat. "Sekarang tunjukkan dimana tempat mereka berada?" pinta Galvin menarik lengan Thomas dengan kencang.


"Baiklah ... akan tetapi apa lu yakin bakal pergi dengan telanjang dada seperti ini, dan hanya bawahan dengan celana pendek saja?"


"Oh, iya, lu tunggu gue sini bentar, gue ganti kostum dulu, oke ... ."


Segera Galvin pergi mengganti pakaiannya, bergerak lebih cepat kaki Galvin dari yang biasanya menuju tempat mobil sportnya berada. Terlihat dari wajah Galvin begitu sangat peduli dengan sahabatnya, terlihat gelisah ingin menemui target yang berani membuat lebam di wajah sahabatnya. Setiap ada kendaraan di depan menghalangi, Galvin dengan kuat menekan klakson mobilnya hingga kendaraan menghalangi laju mobilnya di depan mau memberi jalan.

__ADS_1


Di depan sebuah gedung perkantoran, mobil sport milik Galvin tepat terparkir dengan sangat baik. "Apapun yang terjadi nanti, percayalah ... semua akan berjalan dengan baik ... ." Sekilas menoleh Galvin ke arah Thomas, sebelum dirinya keluar dari dalam mobil.


Mengangguk kepala Thomas, mengerti hal yang akan di lakukan sahabat gilanya itu. Dalam diam, Thomas berjalan sejajar dengan sahabatnya dengan rahang menegang. Melewati ruang pemeriksaan, di dalam sebuah gedung, bersamaan mereka menaik sebuah anak tangga manual. Di gedung tingkat dua, tanpa sopan santun, memasuki sebuah ruangan yang berlabel 'tim khusus,' mereka menjadi bahan perhatian beberapa orang yang berada di kursi sana.


"Ada perlu apa Tuan datang kemari lagi, bersama orang lain, apakah ingin membayar hutang?" tanya seorang Pria asing yang pernah bertemu dengan Thomas, sala satu pelaku yang mengeroyok Thomas.


"Mana bos kalian?" suara tegas Galvin menggelegar, cuek dengan pertanyaan salah satu Pria yang ada di kursi sana. "Gue ada perlu dengan dia."


"Ada perlu apa Tuan dengan bos kami?" tanya Seorang Pria, berdiri tegak dari kursi mendekati Galvin dengan Thomas yang ada di depan pintu, di ikuti beberapa pria lainnya yang berada di kursi sana.


Tersenyum miring Galvin, merasa adrenalin mulai terpacu dengan lima orang pria yang berdiri di hadapannya. "Gue hanya ingin dia merasakan, apa yang sahabat gue rasakan ... ." Umpat Galvin membuka jaket hitam yang di kenakan- nya agar gerakan tubuhnya lebih leluasa.


Bug!


***


Secara kuantitas anggota dalam suatu pertikaian, tidak memungkinkan untuk kedua orang yang melawan lima orang, dapat menang begitu saja. Di dalam sebuah gudang yang begitu berantakan, Galvin bersama Thomas dengan tangan serta kaki terikat, terbaring di atas lantai, pojok dinding. Pasrah Thomas dengan keadaan yang menimpah dirinya saat ini, bersiap sekali dirinya untuk di bunuh bila jika itu harus terjadi, pikir Thomas, tak ada lagi jalan untuk selamat dari gudang yang pengap ini.


Berbeda hal dengan Galvin, dirinya terus menggelinjang di tempat secara terus, berusaha agar dirinya dapat melepas beberapa ikatan pada tubuhnya, sehingga membuat tubuhnya sulit sekali untuk bergerak. Makin kuat Galvin bergerak, makin sesak dadanya akibat energinya yang mulai kehabisan di dalam ruangan yang kurang oksigen seperti ini. Untuk sesaat Galvin mengistirahatkan tubuhnya, berencana kembali berusaha sekuat tenaga untuk melepas ikatan pada tubuhnya.


Seorang pria bertubuh besar dengan tubuh penuh tatto, tampil dari sela pintu. "Ternyata masih ada saja, yah, berani memberontak di kandang singa?" Melangkah maju kaki Ramli dengan senyum penuh kemenangan terbentuk di pipinya.


Srek! suara lakban yang di buka oleh Ramli pada kedua mulut korbannya.


"Jawab pertanyaan gue, saat di luar sana, anak buah gue bilang ada yang ingin bertemu gue, di antara kalian berdua ada yang paling ngotot sekali ... siapa dia?" terangkat kedua alis Ramli, kedua bola matanya teralih bergantian pada kedua orang di depannya.

__ADS_1


"Gue, kenapa?!" menatap berani Galvin pada Ramli, membuat Ramli terkesan melihat keberanian dari Galvin.


"Lu mau cari masalah sama gue, dan lu ingin mati di tangan gue, ahg!?" kuat tangan Ramli menggenggam rahang milik Galvin untuk sesaat.


Mendengus Galvin, saat rahangnya terbebas dari tangan besar tersebut. Dengan penuh keberanian, mental yang begitu tinggi menganggap Ramli hanyalah seekor binatang kecil di hadapannya, Galvin membuang ludah dengan kuat dari dalam mulutnya ke arah wajah Ramli yang gembul. Sontak membuat Ramli kesal dengan tingkah tersebut, berlutut di hadapan Galvib, menjambak kuat rambut Galvin, setelah mengusap wajahnya yang basah. Membenturkan kuat kepala Galvin ke dinding dengan sangat kuat untuk beberapa kali.


"Jadi loe ingin benar-benar mencari mati di tempat ini, bngst!" cerca Ramli dengan amarah yang menggebu. "Dasar bocah, njing!"


Menghembus napas yang begitu berat, Galvin memaksa tubuhnya yang lemah untuk tetap berbicara. "Gue enggak takut sama saja di dunia ini, setelah Ibu gue meninggal ... ." Bergetar lidah Galvin dengan sedikit energi.


Bangkit berdiri tegak Ramli di tempat, kepala tegas menatap dengan perasaan sedikit terharu mendengar kalimat barusan yang keluar dari mulut seorang pemuda penuh keberanian tersebut, pertama kali di temui dalam kehidupannya ini. Melampiaskan rasa kekesalannya sekaligus rasa harunya, Ramli menendang sebuah meja yang berada di sekitarnya tersebut.


"Siapa nama lu?" lekat kedua bola mata milik Ramli mengarah pada Galvin yang ada di bawahnya.


"Nama gue Galvin ... sekarang tolong lepasin gue, dan sahabat gue, dari sini ... ." Balas Galvin memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dengan napas memburu.


Terdorong pipi Ramli membentuk sebuah senyum yang begitu misterius. "Gue bakalan bebasin kalian berdua asal kalian mau menerim syaratnya ... ." Mencoba Ramli dengan tenang mulai negoisasi dengan kedua orang di hadapannya tersebut.


"Apa itu syaratnya?" sambar Thomas yang ingin segera terbebas dari tempat ini, sebelum Galvin benar-benar Galvin membuka mulut.


"Kalian akan terbebas, sekaligus akan gue berikan pekerjaan. Asal Galvin mau menjadi atlit tinju liar gue, gimana?"


Ruangan seketika bergeming, jantung Thomas seketika berdegup dua kali lipat, menanti jawaban dari Galvin untuk menyatakan pertanyaan dari Ramli barusan. "Baiklah, gue setuju, jika itu benar ... lagi pula gue juga butuh uang, dan secara kebetulan, tinju juga bakat gue ." Balas Galvin membuat kedua belah pihak dapat lega pikiran.


Sesuai dengan yang barusan di tawarkan oleh Ramli, dapat di setujui oleh Galvin secara langsung dengan wajah yang begitu serius dengan lapang dada. Membuat Ramli penuh keyakinan untuk membebaskan kedua orang tahanannya tersebut dengan sebuah syarat yang harus di pegang teguh oleh mereka, sebelum benar-benar harus membiarkan mereka pergi dari gedung kantornya, secara intens Ramli menginterogasi mereka dalam sebuah perundingan dengan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2