
Mendapat kabar bahwa sang sahabat sedang berada di kampungnya sedang menjenguk ibunya yang sedang sakit, jadi untuk beberapa hari kedepannya Thomas mempercayai Galvin untuk menjaga pacarnya. Sebenarnya Galvin tak terima kenyataan jauh dari sahabatnya, akan tetapi di sisi lain Galvin harus mengerti bagaimana rasanya seorang anak mendengar Ibunya sedang di rawat rumah sakit. Bicara soal ibu membuat Galvin termenung sesaat, di dalam mobil menatap dengan pandangan kosong ke arah jendela mobil.
Bahkan seseorang wanita, membuka pintu mobilnya, Galvin hanya cuek saja, masih larut dalam kegalauan mendalam. Akan tetapi di paksa Galvin untuk melajukan mobilnya, mengantarkan penumpangnya hingga ke tempat tujuan. Seseorang wanita berkulit putih merona, berada di kursi samping Galvin mengendarai, penasaran dengan wajah kusut Galvin sepanjang perjalanan.
"Aku lihat-lihat kamu sedang memikirkan sesuatu, hingga sepanjang perjalanan wajah kamu begitu terlihat murung ... ada apa?" Lurus Monica dengan lekat mengarahkan kedua bola mata cokelatnya pada kedua bola mata memiliki lensa biru di depannya.
Satu, dua, tiga, belum pula di jawab Galvin tentang yang terjadi pada dirinya, mengharuskan Monica menunduk kepala di tempat. Sangat mengerti dirinya tentang pria di sampingnya dari mulut sang kekasih. Tipe Galvin, bukanlah orang yang memiliki sikap terbuka terhadap sesamanya, makanya dia hanya memiliki satu orang dekat di luar rumahnya, yaitu Thomas.
"Mengapa belum keluar juga, bukan, kah, sudah sampai di depan rumah kamu?" Tanya Galvin dengan suara datar.
Greget sekali telinga Monica mendengar Galvin yang belum menjawab pertanyaan darinya. Akan tetapi tak masalah, penting Monica harus mempertahankan suatu hal penting yang ia inginkan dari Galvin. "Bolehkah untuk malam ini saja kamu menemaniku di rumah, soalnya ayah, dan ibuku sedang pergi?" Pinta Monica
Berat sekali rasanya Galvin mendengar permintaan dari kekasih sahabatnya itu. Sejenak berpikir dalam diam, Galvin keluar dari dalam mobilnya, membukakan pintu tepat di samping Monica sedang duduk di dalamnya.
"Sekarang kamu buka pintu gerbangnya, biarkan mobilku masuk."
"Berarti tandanya kamu mau menemaniku di rumah malam ini?" dengan pipi penuh tersenyum Monica mencoba meyakininya.
Mengangguk kepala Galvin dengan tegas, membuat Monica dengan senang hati turun dari dalam mobil mewah milik Galvin, hanya sekedar membukakan pintu pagar saja. Membiarkan mobil mewah itu terparkir di dalam halaman rumahnya, senang Monica bisa mengantarkan Galvin ke dalam rumahnya. Ini, lah, momen yang tepat untuk seorang Monica mendekati Galvin adalah hal yang terpenting dalam hidupnya.
"Vin, kenapa kamu enggak balikkan lagi sama Rihanna?" Dengan perlahan Monica melepas kancing jaketnya di depan Galvin yang sedang duduk santai di atas sofa.
Bersandar dada Rihanna di lengan Galvin, bagian atas tubuh Rihanna hanya terbalut oleh tanktop merah muda yang begitu ketat, menggoda hasrat seluruh pria yang bersentuhan langsung. Berbeda dengan Galvin, dan beberapa pria lainnya. Merasa risi di saat seperti ini, perlahan Galvin menghindar hal tersebut. Akan tetapi, Rihanna terus mencoba beberapa jurus jitunya untuk menggoda Galvin agar tenang berada dekatnya.
"Jangan kamu mendekatiku atau aku akan melaporkan ini semua pada Thomas, mengerti?" ancam Galvin sebelum benar-benar pergi, meninggalkan Rihanna di rumah sendirian. "Masalah untuk menginap, aku tidak bisa menerimanya, lebih baik kamu meminta bantuan pada temanmu saja."
__ADS_1
Mendengar ancaman dari Galvin, membuat Rihanna hanya biasa saja, lagipula mana mungkin seorang Thomas mau meninggalkan wanita secantik dirinya, pikir Rihanna dengan pipi membentuk sebuah senyuman. Menghadap cermin Rihanna, merefleksi, kekurangan dari dirinya sehingga membuat Galvin pergi. Menyesal Rihanna saat tadi tidak mencoba menghalangi Galvin untuk pergi, dan bertanya. Akan tetapi namanya penyesalan, sudah pasti akan datang ke belakangan.
Sedangkan di dalam mobil terlihat Galvin dengan wajah kusutnya. Tak menyangka Galvin bahwa Monica memiliki sikap yang kurang ajar di belakang sahabatnya, membuat Galvin semakin ilfil dengan yang namanya wanita. Tak ingin juga Galvin menyakiti sahabatnya, jika harus melakukan hal lazim mengikuti hasrat yang tak terkontrol dalam dirinya. Memilih untuk pergi adalah kunci yang tepat menghindari permasalahan.
***
Mau bermain psp, semua gamenya sudah di coba, mau membersihkan rumah rasanya malas sekali. Beberapa menit di atas ranjang dengan hanya menyibukkan diri dengan ponsel, membuka media sosial, sudah cukup membosankan. Mendapat ide bagus untuk inovasi hidup bahagia, Galvin dengan cepat beranjak mengganti pakaiannya untuk segera keluar dari rumahnya meninggalkan semua rasa kejenuhan ini. Mencari hal baru yang belum pernah dirinya coba, mungkin setidaknya mengurangi rasa kehidupan yang hampa.
Memasuki sebuah tempat hiburan malam, penuh semangat Galvin duduk di sebuah kursi, depan meja bar. "Mba, saya pesan wine dua botol ... ." Pinta Galvin pada seorang pelayan bar yang ada di depannya.
"Baik ... ada lagi tuan yang ingin di pesan?" tanya Pelayan pada Galvin, setelah mengantarkan semua yang di pesan Galvin.
Melihat seorang pria dengan paras yang tampan begitu terlihat menawan, menarik perhatian sepasang mata sala satu wanita. Dengan penuh rasa percaya diri, wanita yang tampak lebih dewasa wajahnya dari pada Galvin, duduk di sebuah kursi bulat, tepat di samping Galvin berada. Memesan sebuah minuman yang rendah alkoholnya yang langsung dia teguk di tempat untuk menghangatkan suasananya.
"Halo, kamu kesini sendirian?" menyorot kedua bola mata milik wanita bernama Magda, lekat pada wajah tampan samping bahunya.
Tak ada lagi pertanyaan yang terlontar dari mulut pria tersebut, membuat Magda berpikir keras untuk mencari bahan obrolan agar bisa dekat dengan pria yang menjadi incarannya ini. "Nama aku Magda ... kalau kamu?" terulur sala tangan Magda ke arah Galvin, bertanya dengan kedua alis yang terangkut.
"Nama gue Galvin." Dengan wajah tak suka Galvin membalasnya.
Kembali Magda menuruni tangannya yang berada di atas meja, tersenyum malu Magda tak mendapati jabat tangan dari Galvin. "Eh ... kamu udah punya pasangan?" berusaha Magda kembali bertanya pada Galvin, supaya bisa dekat dengannya.
"Udah putus, kamu sendiri?"
Begitu senang Magda mendengar Galvin yang mau bertanya padanya. "Jujur, sih, aku sebenarnya udah punya suami ... akan tetapi suamiku itu sibuk dengan pekerjaannya, hingga jarang sekali ada waktu denganku." Terang Magda dengan wajah penuh antusias.
__ADS_1
"Oh ... maaf aku tidak ingin mengganggu seseorang yang sudah memiliki pasangan."
Merasa keadaan semakin tak enak di tempat, sekilas melirik ke wajah imut milik Magda, Galvin beranjak dari tempatnya. Membuat Magda di tempat duduk termenung, membuka layar ponsel untuk melihat wajahnya sendiri dari balik kamera ponsel, pertama kali dirinya di tolak oleh seorang pria tampan di tempat hiburan malam ini. Padahal sebelum Galvin, banyak brondong yang mau dia dekati, namun kali ini benar-benar membuat Magda harus mengoreksi kesalahan dandanannya.
***
Turun dari dalam mobil, terlihat wajah Galvin begitu masam, akibat dua wanita yang telah mengganggu suasana hatinya membuatnya teringat pada mantan kekasih yang telah meninggalkannya di saat lagi terpuruk. Dengan kaki terhentak sangat berat, di paksa Galvin untuk pergi masuk kedalam rumahnya, setelah turun dari dalam mobil. Terbuka lebar kedua kelopak mata Galvin dari sela pintu dirinya melihat sosok pria dengan wajah seperti seekor harimau yang siap menerjang mangsanya di tempat.
Deg! berdetak dua kali lebih cepat jantung Galvin, saat Ghali bangkit berdiri dari kursi.
Berdenyut kedua rahang Ghali dengan sendirinya, saat beberapa senti di hadapan Galvin, terlipat kedua tangan Ghali di atas dada. "Kenapa baru pulang, udah jam berapa ini?" tanya Ghali dengan mata melotot.
Sekejap Galvin melirik ke arah jarum jam pada benda berbentuk jam melekat di tangannya. "Jam dua malam, tadi saya habis main." Dengan nada santai Galvin menjawab.
Mendesis dengan pipi tersenyum miring Ghali menanggapi sang anak yang sudah terlalu dewasa menjawab.
Plak! suara keras dari pipi Galvin yang di tampar oleh Ghali, memenuhi ruangan yang sunyi.
"Apaan, sih?" mengerut dahi Galvin tak terima, hanya bisa meraba-raba pipinya yang sehabis di tampar, tanpa bisa membalas yang sama.
"Seharusnya kamu sopan sedikit sama orangtua kalau berbicara, yah!" meninggi suara Ghali dengan tangan berkacak pinggang.
"Jika yang tua ingin mendapatkan kesopanan dari yang muda, seharusnya kamu juga harus bisa memiliki sikap menghargai pada yang muda."
Bug! Dengan keras Ghali memberi tinjuan tepat mengenai perut Galvin, tak sampai situ. Dengan kuat Ghali menggenggam kerak baju Galvin, mendorong tubuh Galvin di pojok tembok.
__ADS_1
Beberapa menit sadar dengan sendirinya, akan perilakunya yang sudah berlebihan, Ghalimelepas kerak baju Galvin, bersandar tubuh Ghali kembali, di atas sofa. Dengan napas memburu, Galvin terdiam dengan tangan terkepal sesaat di tempat, menahan amarahnya. Lekas Galvin segera pergi memasuki kamarnya, teringat pesan mendiang sang ibu, bahwa seorang anak tak boleh melawan orangtuanya.