
Duduk di sebuah sofa berwarna hitam, terlihat Galvin begitu sangat sibuk dengan ponsel berada di genggaman tangannya. Menonton sebuah acara yang lagi trending terkini di sebuah media, hal yang lumrah bagi pemuda terkini tak ingin tertinggal informasi. Mata yang mulai lelah untuk menatap secara menerus ke layar ponsel menyala sangat terang, beranjak Galvin, beberapa meter ke arah belakang.
Menyalin air yang sudah di panaskan ke dalam sebuah cangkir yang sudah berisi biji kafein. Beterbangan asap, memiliki aroma khas dari sebuah kopi hitam masuk kedalam lubang hidung Galvin dengan sangat lembut. Membuat awal hari yang sangat penuh inspirasi, kembali Galvin ke atas sofa hitam yang ada di ruang tamu sana. Berubah drastis mood penuh inspirasi Galvin, mendapatkan sebuah panggilan dari kontak sang ayah.
"Halo, ada apa?" suara malas Galvin menyapa sang Ayah yang ada di seberang sana.
"Di mana, kamu?" suara tegas penuh amarah dari Ghali dari seberang sana, balik bertanya.
"Aku ada di rumah teman, memang mengapa?"
"Cepat sekarang kamu pulang atau aku akan melacak keberadaan kamu melalui hp, dan aku akan menjemputmu secara paksa!" terdengar napas dari Ghali begitu sarkas melontarkan kalimatnya.
"Baik, aku akan segera ke sana." Dengan nada tenang Galvin menjawab.
"Cepat pulang kamu!" tekan Ghali memberi perintah tegas.
"Iya ... ."
Menghembus napas begitu terasa berat, mendengar percakapan sang sahabat bersama ayahnya tersebut. Sedari tadi Thomas secara diam-diam menguping, memberanikan diri dengan aura tenang, mendekati Galvin yang ada di atas sofa sana. Baru saja Thomas ingin memberi arahan pada sang sahabat untuk segera pulang, namun Galvin seketika beranjak dari atas sofa dengan wajah tertekuk, tanpa berpamitan, pergi meninggalkannya. Mungkin dia sedang memiliki perkara besar dengan ayahnya, gumam Thomas di tempat.
Perasaan tak enak mulai menekan pikiran Galvin, saat mobil yang dikendarainya terparkir di halaman rumahnya. Berat rasanya Galvin untuk menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, mengingat suara ayahnya yang terdengar sangat marah saat menelponnya tadi. Sebagai seorang anak Galvin hanya bisa menuruti yang orangtuanya katakan, memaksa diri untuk bertemu dengan Ghali untuk saat ini, harus di lakukan-nya.
"Bagus, baru pulang, yah ... ." Berdiri Ghali dari atas sebuah sofa, menghampiri Galvin yang berada di depan pintu dengan rahang yang berdenyut sendirinya. "Kamu tau kenapa aku menyuruh kamu untuk pulang sekarang?"
Setengah melirik Galvin ke mata Ghali yang terbuka lebar menyorotinya. "Karena kemarin, saya pergi secara diam-diam di tengah acara dinner anda di rumah om Bonifacio ... ." Jawab Galvin dengan wajah sedikit nervous.
Amarah dalam diri yang menggebu, seketika Ghali dengan kuat mencengkram kera baju milik Galvin, mendorong tubuh Galvin, ke sudut dinding. Napas yang tak karuan menyambar keluar dari hidung bersamaan dengan mulut, Galvin hany bisa pasrah di tempat merasakan benturan keras di punggungnya ke sebuah dinding.
"Bukan itu yang ingin ku bahas!" Sarkas Ghali dengan rahang yang semakin mengeras, kedua kelopak mata terbuka lebar dengan jelas.
"K--kalau bukan itu, lalu apa?"
__ADS_1
"Kau tau, tadi aku mendapatkan mendapat telepon dari kampus kamu ... ." Sejenak Ghali menghentikan kalimatnya, mencengkram lebih kuat kera baju Galvin, dan mendorong lebih kuat tubuh Galvin ke dinding. "Kamu tau mereka memberi kabar apa?"
"Pasti soal 'drop out,' kan?"
"Dasar anak gak tau di untung!"
Bug! dengan penuh tenaga Ghali menghempaskan kakinya ke perut Galvin. Membuat Galvin, jatuh ke atas lantai dengan keras.
"Ku mohon dengar penjelasan dariku terlebih dahulu ... ."
"Tak ada alasan untuk- mu!" Dengan kuat kedua tangan Ghali memaksa Galvin untuk lekas berdiri dari tempatnya tersungkur.
Tring, tring, tring! Suara keras dari sebuah ponsel berada dalam saku celana Ghali, mengharuskan Ghali untuk mengangkatnya.
Lega akhirnya bisa mengeluarkan napas, melihat ayahnya yang langsung teralih dengan panggilan yang entah itu siapa. Penting untuk saat ini Galvin menghindari sang ayah, bergegas untuk pergi masuk ke dalam kamarnya. Percuma, jika Galvin memaksa diri untuk tetap di tempat karena sang ayah tak akan mendengar alasan dirinya di 'drop out' dari pihak kampus.
***
Seperti yang di ketahui oleh Magda, bahwa Ghali sangatlah menyukai kopi hitam tanpa gula, lekas tanpa perlu menanyakan lagi, Magda segera membuatnya. Kembali ke hadapan Ghali dengan cangkir berisi kopi hitam dengan rasa pahit menjadi khas, begitu anggun menggeser cangkir tersebut di atas meja untuk membenarkan posisinya.
"Mari diminum, Mas ... aku tau kamu pasti suka kopi hitam tanpa gula, jadi aku buatkan spesial untukmu ... ." Ucap Magda sebelum duduk di sebuah kursi, menghadap sang tamu.
Tersenyum tipis Ghali mendengar kalimat tersebut. "Makasih, yah, kamu memang wanita yang pengertian sekali. Begitu beruntungnya Bonifacio menjadikan kamu isterinya yang ke lima." Penuh antusias Ghali memberi pujian.
Terkekeh Magda dengan pipi merah, mendengar kalimat yang barusan terlontar dari mulut Ghali yang membuatnya sedikit tersipu. Beberapa saat suasana bergeming, Magda yang ingin lebih akrab dengan sahabat dari suaminya, mulai memutar otak untuk mencairkan suasana. Agar tujuan Magda dapat tercapai, yaitu memanfaatkan Ghali sebagai tempat keuangannya yang kedua setelah sang suami.
Memerhatikan wajah Ghali sedari tadi terlihat murung, membuat Magda penuh percaya diri untuk bertanya. "Apa kamu ada masalah hari ini, Mas?"
"Baiklah, jika kamu tidak ingin cerita juga tidak masalah ... tapi alangkah baiknya jika kamu bercerita untuk meringankan pikiranmu." Lanjut Magda dengan nada begitu tenang.
"Masalah yang begitu rumit ... ." gerutu Ghali dengan wajah tertekuk.
__ADS_1
Usai menggerai rambut pirangnya, Magda dengan berani menyandarkan pinggulnya di atas paha Ghali, wajah yang saling berhadapan. "Masalah rumit seperti apa, sehingga membuat dirimu begitu murung, Mas?" Mengangkat dagu Ghali untuk menghadap wajahnya, kedua bola mata dengan lensa kelabu milik Magda mulai meneliti ke mata lawannya.
Terdiam Ghali di tempat, sesaat memandang lurus ke arah wajah manis sang wanita yang sangat menggoda hasratnya. Terpejam sepasang mata mereka, saat kedua batang hidung mancung mereka, mulai saling melekat, menghirup setiap hangatnya napas yang keluar di antara mereka. Merenggang paha Ghali untuk lebih kuat menopang tubuh mungil Magda, kedua tangan Ghali mengerat di kedua sisi panggul berbentuk hati kecil milik sang wanita.
Kedua tangan Magda mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Ghali, di saat merasakan kumis tipis yang mulai menggelitik di sekitar tengkuk lehernya dengan lembut. Merasakan lidah Ghali yang mulai berani keluar menjulur, naik mengusap wajahnya, berhenti tepat mulut Ghali saat menyentuh kedua belah permukaan bibir Magda yang lebih tebal bawahnya daripada atasnya. Mereka, pun, mulai saling menyerang bibir, hingga bahkan bertempur lidah.
"Bolehkah aku mendapatkan lebih dari ini?" bisik Ghali sebelum, menjauhkan wajahnya dari Magda.
"Tentu, kapanpun kamu mau, asal ada syaratnya, sayang ... ." balas Magda membisik dengan kedua alis tebalnya mencuat.
"Apa itu syaratnya?"
"Kamu harus memberikan aku uang tiga juta untuk sekali mainnya, hitung-hitung sebagai bayaran untuk aku menutup mulut."
"Tentu, aku akan menyetujuinya ... ." Dengan ringan Ghali menjawab. Karena ini hal lumrah bagi Ghali sebagai pengusaha besar, penghasilannya lima puluh kali lipat lebih besar dari yang di pinta oleh Magda padanya.
"Baiklah ... ikuti aku sekarang."
Bangkit berdiri dari paha Ghali, berjalan Magda dengan jenjang kedua kakinya, bergerak anggun menuju dalam kamar yang bernuansa biru gelap miliknya. Setelah menutup pintu kamar, dan membuka seluruh pakaiannya, Ghali langsung menghampiri Magda, saling memandang lurus, kembali mereka beradegan hangat saling mencibir. Perlahan Ghali melucuti midi dress sepanjang lutut, bercorak bunga melati, milik Magda. Bahkan hingga dalaman milik Magda agar tak ada sehelai kain, pun, dapat menghalangi kesenangan visual Galvin.
"Apa kamu tak keberatan jika junior- ku yang ingin muntah ini, masuk kedalam milik- mu?" tanya Ghali yang sudah tak tahan dengan alat vitalnya yang menegang kuat.
"Silahkan ... ."
Mendapat jawaban yang mengartikan setuju dari Magda secara singkat, membuat Ghali penuh semangat, menjatuhkan tubuh Magda ke atas ranjang. Di atas tubuh Magda tanpa sehelai kain sedang telentang, Ghali mulai memposisikan junior miliknya untuk masuk ke dalam lubang yang berada di sekita pinggul wanita.
"Ahg, Ahg, ihsst ... ."
Keduanya saling mendesah tak henti setiap hentakkan yang di rasakan masing-masing, membuat mereka semakin semangat dalam menjalin hubungan. Perlahan Ghali mulai menggoyangkan pinggulnya lebih cepat dari sebelumnya, sedangkan Magda di bawah tubuh Ghali hanya bisa menggelinjang pasrah. Begitu kuatnya Ghali menggerakkan pinggulnya di setiap ronde, membuat Magda tak berdaya untuk melanjutkan ronde ke lima.
##Magda##
__ADS_1