
Setelah melepas jas hitam, serta tas di atas kursi secara berantakan, malas sekali bagi Ghali pulang kerja langsung mencuci pakaian yang sehabis di kenakan, lebih baik nanti akan di bawa tempat laundry. Pergi ke dapur untuk memanaskan air di dalam sebuah wadah, membuat kopi hitam yang begitu hangat untuk menambah inspirasi dalam hidupnya, di rasa penuh kehampaan setelah isterinya meninggal.
Di sebuah sofa, mengistirahatkan tubuh yang penat, tak lupa dengan kafein yang di kelola menjadi sebuah minuman sederhana. Di buat ada rasa ingin Ghali menyekolahkan Galvin di sebuah universitas, setelah melihat beberapa artikel promosi universitas. Tepat sekali saat mengangkat wajahnya, Ghali mendapati sosok Galvin yang berjalan entah kemana.
"Sini dulu ada yang aku ingin bilang sama kamu ... ." Panggil Ghali dengan memberi isyarat tangan.
Malas wajah Galvin menyambut panggilan dari ayahnya yang tak pernah satu kali, pun, memanggil dirinya layaknya seorang ayah pada anaknya. "Yah, ada apa anda memanggil saya?" tanya Galvin dengan kedua alis yang terangkat.
"Duduk sini, ada yang ingin ku katakan sama kamu."
Di buat penasaran Galvin mendengar kalimat dari Ghali yang meminta dengan suara halus, senang hati Galvin duduk di sebelah Ghali, tertuju matanya pada sebuah layar ponsel yang Ghali genggam saat ini. Suntuk lima menit di tempat tanpa ada pembicaraan satu sama lain, rasanya Galvin ingin keluar menjauhi diri segera dari ayahnya, dari pada mencari tahu hal yang membuat diri sangat penasaran. Saat Galvin bangkit berdiri, seketika lengannya di genggam erat oleh Ghali, membuat Galvin agak sedikit memasang wajah kesalnya.
"Sebarnya kamu itu mau menunjukkan aku apa, sih, dari tadi aku duduk di sampingmu seperti orang dungu yang tak memiliki kegiatan selama lima menit, hanya menonton kamu bermain hp ... ." Mengoceh Galvin sembari mengelak dari tangan Ghali yang mencengkram.
Terangkat wajah Ghali dengan garang pada Galvin, merasa dirinya tak di hargai sebagai seorang yang telah berjasa padanya. Mengingat ada hal yang ingin sekali dirinya raih sebagai seorang ayah yang tak ingin kalah dengan ayah lainnya, sekejap rasa angkuh Ghali mereda.
"Ini demi ke baik-kan kamu kedepannya nanti, jadi bagus sekali jika kamu ingin mendengar, dan menerimanya. Akan tetapi jika, tidak, aku juga tidak akan mempersalahkan hal tersebut." Bijak Ghali memberi nasihat.
"Baiklah apa kamu bisa menunjukkan padaku secara langsung, hal sebenarnya?" pasrah Galvin untuk kembali menyandarkan tubuh di atas sofa, demi memenuhi rasa penasarannya. "Jangan membuat aku jenuh di tempat."
"Sebenarnya aku malu dengan teman-temanku, jika anakku tidak kuliah ... mak--"
"Maksud kamu aku harus kuliah ... ." Potong Galvin dengan kedua mata terbuka lebar.
"Yah ... benar sekali, aku ingin kamu kuliah. Kamu bebas mau kuliah di mana saja asal kamu sungguh ingin kuliah."
__ADS_1
Ini, lah, kesempatan emas untuk Galvin menyatakan keputusan terhadap ayahnya yang memiliki harta berlimpah. "Sebelum ku terima pernyataan darimu, alangkah baiknya kamu membelikan aku mobil sport keluaran terbaru ... agar aku tidak perlu lagi kena debu saat pergi kuliah." Ucap Galvin memberi konsekuensi.
"Baiklah, hal mudah bagiku jika kamu hanya ingin sebuah mobil sport keluaran terbaru. Aku akan memesannya juga malam ini." Balas Ghali sebelum dirinya pergi meninggalkan Galvin di tempat.
Tersenyum lebar Galvin di tempat, setelah punggung Ghali sudah tak terlihat di depan matanya. Akhirnya, impiannya yang sudah cukup lama di rasa, terwujud juga mendengar tanggapan dari Ghali yang mengabulkannya segera. Sangat berharap Galvin, sih, Ghali benar membelinya malam ini juga, agar tak perlu pusing untuk memikirkannya lagi.
***
Di dalam sebuah mobil sport berwarna silver mengkilap yang terkenal saat ini, sering di pakai para sultan di acara-acara dalam sosial media, Galvin tengah melajukan- nya dengan penuh antusias. Wajah Galvin tersenyum tak henti, saat memarkirkan kendaraan roda empatnya, di depan sebuah pekarangan yang sering dia datangi. Bukan rumah sang mantan yang telah membuangnya, akan tetapi rumah seseorang sahabat yang mau menemaninya dalam keadaan senang maupun susah.
Seorang pria kurus namun kekar, telanjang dada, di sela pintu, menyambut kedatangan tamu spesialnya. "Cielah, ngapain di depan pintu lau, pakai acara ketok pintu segala udah kek tamu baru gue aja. Dah, ayok masuk, bro." Sambut Thomas dengan sedikit memberi gurauan.
"Cepat lu mending ganti pakaian yang rapi, habis itu naik lambo gue ... ."
Di buat sedikit tertawa Thomas oleh kalimat yang barusan Galvin keluarkan. "Semalam kepala loe enggak tertimpa benda berat, kan, Vin?" tanya Thomas dengan ekspresi bercanda.
Menganga Thomas melihat kendaraan roda empat di depannya menyala dengan sahabatnya. "Gue pikir lu sakit awalnya, ternyata lu lagi sehat kali ini berbicara." Tersenyum malu Thomas pada Galvin dari balik jendela mobil yang terbuka.
"Udah lu buruan ganti pakaian kita pergi menikmati malam ini, kemana kek yang seru!"
"Oke, deh, pokoknya lau tunggu dulu sini ... enggak lama gue ganti baju doang sama pakai parfum biar wangi."
Terburu-buru Thomas pergi ke dalam kamarnya untuk mengganti kostumnya, sebelum benar-benar pergi ke suatu tempat bersama sang sahabat untuk bersenang, layaknya anak muda pada umumnya. Kedua orang bersahabat tersebut keluar dari dalam mobil, segera memasuki sebuah lift untuk naik ke lantai tempat di mana banyak anak muda berkumpul dari segala macam daerah untuk mengapresiasi diri yang lelah dengan hidup.
Di bawah lampu kelap-kelip dengan musik yang begitu keras, Galvin memesan meja vip untuk dirinya dengan sang sahabat. Karena mereka tak punya kenalan lagi, jadi mereka duduk berduaan saja menikmati beberapa botol minuman alkohol yang tersedia di atas meja. Melirik sekitar mata Thomas, setelah meminum alkohol erat sekali matanya terarah pada beberapa waiters wanita sekitar.
__ADS_1
"Gue boleh minta sesuatu sama lu gak, Vin?" tanya Thomas dengan suara keras pada Galvin, mencoba untuk bersaing dengan suara musik saat ini.
"Apa?"
"Kita sewa waiters, kita bungkus ke hotel ... gimana?"
"Kalau lu pengen, mau buat apalagi. Tapi gue cuman sewain lu aja, gue trauma sama namanya wanita soalnya."
"Oke, slur. Gas, lah ... ." Jawab Thomas tanpa pikir panjang lagi.
Mengetahui sifat satu sama lain bisa menjaga rahasia, jadi Thomas tak ragu untuk bermain dengan wanita lain di belakang Monica saat bersama dengan Galvin. Sedangkan Galvin yang hanya memiliki Thomas sebagai orang yang menganggap dirinya masih ada di dunia yang fana ini, membuat Galvin ingin sekali menyenangkan sahabatnya tersebut.
***
Berjalan dengan tubuh lemas, akibat minuman alkohol semalam yang begitu banyak di konsumsi. Di sela pintu seorang gadis dengan paras imutnya, membuat Galvin seketika wajahnya yang tak memiliki gairah hidup lagi berubah bersemangat. Memerhatikan gerakkan kedua bola mata cokelat gadis di depannya, teringat Galvin dirinya hanya mengenakan celana pendek saja untuk menutupi sebagian tubuhnya. Segera Galvin membereskan ini semua untuk menghilangkan rasa malunya.
Beberapa menit sang gadis di depan pintu menunggu, akhirnya seorang pria berkulit putih tersebut kembali lagi kehadapan sang gadis dengan pakaian santai menutupi seluruh tubuhnya. "Ada apa?" tanya Galvin pada Rihanna dengan wajah datarnya.
"Kamu masih marah sama aku, yah ... aku datang kemari hanya ingin meminta maaf padamu." Balas Rihanna dengan suara lembut.
"Oh ... ganggu orang tidur saja." Pekik Galvin, merasa yang akan di obrolkan mantan pacarnya ini tak penting baginya.
Menunduk Rihanna merasa sangat bersalah. "Sekali lagi aku minta maaf juga karena telah mengganggu kamu tidur." Perlahan Rihanna memberanikan diri untuk menyoroti kedua bola mata yang memiliki lensa biru milik pria di hadapannya.
"Aku kesini hanya ingin mengaku salah waktu itu, dan ingin mengajak kamu balikkan lagi ... ."
__ADS_1
Buk! Suara pintu di banting keras oleh Galvin dari dalam rumahnya.
Melihat hal yang terjadi, membuat wajah Rihanna patah semangat di depan pintu yang kosong. Memberi waktu Rihanna untuk memejamkan matanya di tempat sebelum benar-benar pergi, menahan kepedihan hati. Pintu yang tak juga terbuka, mengharuskan Rihanna mengambil keputusan untuk pergi dari tempat dengan mata berkaca-kaca.