poor child fate

poor child fate
Masih belum ikhlas menerima


__ADS_3

Mengingat kembali lekuk tubuh berbentuk seperti jam pasir milik seseorang wanita, saat kemarin tak sengaja bertemu di sebuah kamar, rasanya kedua bola mata hitam yang nakal milik Thomas ingin melihatnya lagi. Bahkan ingin sekali Thomas menyentuh kulit wanita tersebut, akan tetapi dunia tak segampang membalikkan telapak tangan, dan tak semua wanita mau di sentuh sembarang kulitnya oleh pria mana, pun, selain pasangannya sendiri atau kerabat terdekat saja.


Bayangan sosok wanita kemarin, membuat Thomas bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Penuh rasa penasaran tinggi, kenapa ada wanita di dalam kamar ayah milik Galvin, dan dalam pengingatan Thomas, merasa pernah menemui wanita tersebut sebelumnya. Membuat Thomas akhir memutuskan sebuah intuisi spekulatif dirinya sendiri mengenai wanita di rumah Galvin, hanyalah simpanan ayahnya Galvin saja.


"Hey, Hey, hey ... ." Tutur Galvin berulang kali, sambil menggerakkan kedua telapak tangannya di hadapan wajah Thomas.


"Dor ... ." lanjut Galvin dengan menyentak bahu Thomas yang berada di atas ranjang.


Dengan wajah sedikit kesal, Thomas menoleh ke arah Galvin. "Ada apa, sih, ganggu ketenangan orang aja lu ... ." Berdenyut dahi Thomas menengok ke arah Galvin.


"Yah, sorry gue, bro ... lagi pikirin apa, sih, masih pikirin Ramli aja, lu?" tampil wajah Galvin dengan ekspresi merasa sedikit bersalah.


"Bukan itu, sih, bro yang gue pikirin."


"Terus kalau bukan itu, apa dong?" sekali lagi Galvin melontarkan pertanyaan pada sahabatnya, demi mendapatkan jawaban yang begitu pasti.


Terdiam, sejenak mencari akal Thomas agar apa yang barusan dia pikirkan Galvin tak dapat mengetahuinya dengan pasti. Kepala bangkit, meninggalkan bantal yang begitu lembut memberi alas kepala, duduk di tepi ranjang, di ikuti oleh Galvin yang persis ikut duduk di sebelah bahunya. Mata Thomas mulai bergerak ke segala haluan sisi dinding putih ruangan kamar miliknya, beberapa lama setelah keras berpikir, akhirnya Thomas menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya yang super penasaran.


Menoleh Thomas ke arah Galvin dengan pipi yang tiba-tiba tersenyum lebar bagaikan kuda yang tercengir. Entah angin dari mana, Galvin seketika melihat wajah sahabatnya, langsung melayangkan telapak tangannya yang terbuka lebar mengenai pipi Thomas begitu kencang.


"Aduh, gila lu, yah, tiba-tiba main gampar ... ." Dengus Thomas, sedikit menahan rasa nyeri di pipinya.


"Gue reflex, soalnya ngeri bat tiba-tiba lu nyengir gitu, kan, serem, banget. Gue kira lu kesurupan ... ." Tercengir Galvin melihat reaksi wajah sahabatnya yang merasa kesakitan. "Sekali lagi gue minta maaf, yah ... ."


"Iya, santai aja ... tapi lain kali jangan main tampar, dong. Dan jangan ganggu ketenangan orang." Terima Thomas dengan pernyataan yang di berikan oleh Galvin, sedikit menoleh Thomas ke arah Galvin. "Ada apa lu, datang ke kamar gue?"


"Oh, gue ke sini cuman mau tanya lu, sabun mandi di lu, ada atau enggak ... soalnya gue mau mandi, nih?"

__ADS_1


"Ada, lu buka aja, tuh, lemari gue." Jawab Thomas dengan wajah menunjuk ke arah sebuah lemari.


"Oh, oke, deh ... ." Bangkit berdiri Galvin dari tepi ranjang segera membuka laci lemari yang barusan ditunjuk.


Setelah mendapatkan sebuah spray botol sabun dari dalam lemari kayu tersebut, sejenak Galvin berdiri menghadap Thomas yang masih berada di tepi ranjang. "Ngomong-ngomong lu pikirin apa, sih, tadi, sampai-sampai bengong tujuh puluh persen?" wajah penuh penasaran, kembali Thomas mengulang pertanyaan sebelumnya


"Gue kepikiran tentang kondisi kita ke depannya, Vin ... ."


"Aist, tumben lu punya pikiran ... emang kepikiran apa?"


"Kalau kita begini terus selamanya, tanpa ada penghasilan tetap kita akan mati ... udah mana sekarang ijazah SMA, susah buat cari kerja tetap."


"Bener juga kata lu, bro, terus mau gimana lagi?"


"Gue pengennya, sih, kita tinggal di rumah lu aja, biar enggak kerja setidaknya masih ada yang bisa di isi ke dalam perut kedepannya, apalagi, kan, bokap lu pengusaha besar sekarang. Mana mungkin kita bakal mati kelaparan tinggal di sana ... gimana?"


Hening seketika, usai Thomas memberi permintaan yang sulit sekali Galvin kabulkan. Faktor terutama yang paling Galvin malas untuk pulang rumah adalah ayah-nya sendiri yang kejam, apalagi dirinya sudah berjanji terhadap ayahnya bahwa dirinya tak akan bertemu dengannya lagi atau kembali pulang untuk menemuinya. Di tambah lagi keberadaan seseorang wanita yang sudah dipastikan menjadi isteri dari ayahnya, membuat niat Galvin semakin kuat untuk tidak keluar rumah.


Merasa tak enak hati Galvin, seketika melihat wajah sahabatnya yang berubah drastis seperti seseorang yang merasa di kecewakan. "E--enggak, kok, gue enggak berat untuk menerimanya." Sedikit gugup Galvin memaksa keberatan dalam hatinya.


"Jadi, benar kita akan pergi pindah ke rumahmu untuk selamanya?"


Mengangguk tegas kepala Galvin kepada Thomas. Melihat respon dari sahabatnya tersebut, walaupun terlihat terpaksa, setidaknya sudah membuat Thomas menampilkan wajah riangnya yang terpendam. Akhirnya, rasa penasaran dalam diri Thomas, sebentar lagi akan terpecahkan. Sangat penuh berharap Thomas, jika wanita kemarin secara tak sengaja dia temui, masih berada di rumah Galvin. Agar suatu tujuan utama yang di miliki oleh Thomas untuk tinggal di rumah Galvin, dapat terwujud.


***


Wajah yang penuh antusias, di bawah gelapnya langit, tegas lutut berdiri menghadap sebuah dinding pagar rumah yang begitu megah. Sejenak menghembuskan napas, Galvin yang saat ini bersama sahabatnya, terasa sangat berat tangannya untuk membuka pagar yang berada di depannya. Memang bagi kebanyakan orang, pulang kerumahnya sendiri, hal yang sangat menyenangkan, namun berbeda dengan Galvin saat ini. Berpikir begitu panjang Galvin, sebelum benar-benar membuka pagar, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Lima menit berlalu, masih tetap dalam posisi yang sama, berdiri sembari menatap pagar. Merasa bosan berada di samping Galvin, Thomas mengambil tindakan, segera membuka pagar, akan tetapi pagar yang masih di kunci dengan sebuah besi kotak besar, membuat Thomas menyerah untuk masuk dengan sopan. Tindakan selanjutnya ialah, mau tak mau, memanjat pagar layaknya seorang pencuri.


Saat melihat Thomas yang merayap dinding pagar, Galvin dengan cepat menarik kaus Thomas untuk menahan Thomas bergerak lebih lanjut. "Ngapain harus manjat begitu?" tanya Galvin dengan dahi mengerut.


"Habisnya kalau gue gak manjat, kapan kita akan bisa masuk kedalam rumah lu?" wajah dengan ekspresi sedikit kecewa di tampilkan oleh Thomas yang benar-benar menunggu kepastian.


"Baiklah, kita akan masuk sekarang ... ." salah satu tangan Galvin mengoyak saku celananya, mengambil sebuah benda berbentuk kunci. "Gue akan buka sekarang juga pagarnya."


"Ya, ampun, dari tadi, kek ... ."


Setelah Galvin berhasil membuka gembok pada pagar di depannya, Thomas begitu penuh semangat, seperti seseorang yang sedang di buru oleh waktu. Penuh tenaga ekstra Thomas langsung menggeser gerbang hitam tersebut, memberi cela untuk mereka masuk. Begitu lega rasanya Thomas bisa melewati pembatas pagar, kini saatnya untuk melewati pintu rumah beberapa meter di depannya, barulah di situ mungkin suatu tujuan dirinya akan tercapai.


Saat kedua belah pintu rumah Galvin terbuka, langsung tampak sosok pria dengan tubuh kekar, berkumis tipis, wajah begitu garang, memandang lurus pria tersebut ke arah Galvin. Mematung Galvin hanya bisa menelan saliva- nya yang terasa begitu berat ditelan kembali ke dalam tenggorokan. Melihat situasi yang gawat darurat seperti ini, Thomas mengambil langkah mundur, berdiri di belakang Galvin.


"Siapa anda, dan apa tujuan anda datang ke rumah saya?" suara yang begitu berat dari Ghali, terdengar halus, namun menyakitkan bagi Galvin yang mendapat pertanyaan langsung dari sang ayah kandung.


Geram Galvin mendengar hal tersebut. "Misi, saya juga punya hak atas rumah ini ... seharusnya anda itu tau diri, tidak becus menjadi seorang Ayah di rumah ini ... ." Dengan nada dingin, memicing kedua bola mata Galvin lurus ke arah Ghali.


Mendengar balasan Galvin, membuat rahang Ghali berdenyut dengan sendirinya. Dengan kasar Ghali menarik, lalu menggenggam kuat kerak baju Galvin. Mendorong Galvin ke dinding, sela pintu, tak memberi cela Galvin untuk bergerak sedikit, pun. "Seharusnya kamu sadar, yah, perilaku kamu barusan itu sudah keterlaluan, lebih baik kamu, mati!" celoteh Ghali dengan lebih keras menekan kata terkahir-nya.


Sekilas Lorenza yang tak sengaja lewat untuk pergi membuat susu, melihat pertikaian Ghali bersama Galvin, Lorenza mengurungkan niat untuk membuat susu. Dengan segera Lorenza mendekat ke arah pertikaian yang berada di depan pintu sana, tersentuh hati Lorenza untuk meleraikan-nya, melihat Galvin terpojok di dinding.


"Hentikan, sayang, aku mohon ... biar gimana, pun, Galvin sudah menjadi sebagian keluarga- ku, juga." Ucap Lorenza kepada Ghali, kedua tangan Lorenza menggenggam bahu Ghali begitu kuat. "Aku mohon maafkan, dia ... ."


"Jika kamu masih cinta aku, aku mohon maafkan Galvin ... ." Lanjut Lorenza dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tak suka pria kasar yang menindas orang yang lemah."


Mendengar permintaan dari sang istri, membuat hati Ghali luluh, segera Ghali merelai kedua tangannya dari kerak baju Galvin. "Selamat kamu hari ini, yah ... ." Setelah mengucapkan hal tersebut kepada Galvin, Ghali segera meninggalkan tempat, pergi ke arah kamarnya, di ikuti oleh Lorenza.

__ADS_1


Setelah kepergian sepasang kekasih, dari depan pintu masuk rumah. Tubuh yang sudah terasa lelah, tanpa banyak bicara lagi Galvin segera pergi menuju kamarnya, di lantai dua, di ikuti oleh Thomas. Dengan wajah yang begitu lesu, mata berkaca-kaca menahan kuat air mata yang ingin keluar, kejadian barusan membuat Galvin semakin penuh rasa kecewa terhadap Ghali yang memiliki status sebagai ayah kandungnya. Duduk Galvin di atas ranjang dengan kedua lutut yang begitu lemas, lurus ke depan.


Merasakan aura sedih yang di rasakan oleh sahabatnya, Thomas berusaha dengan lembut mengusap bahu Galvin yang lemas agar kembali kuat. Rasa puas hati Thomas mengetahui status Lonza di rumah ini, sebagai istri baru dari ayah Galvin, membuat Thomas mengurung niat untuk mendekati Lorenza lagi.


__ADS_2