
Setelah memakai kaus serta celana yang semalaman berserak di atas lantai, Galvin tersenyum gembira menghadap cermin, membayangkan hal semalam. Keluar dari dalam kamarnya, mengecek setiap ruangan yang ada di rumahnya, memastikan bahwa Lorenza saat ini sedang keluar rumah. Galvin beranjak pergi ke tepi kolam renang untuk melakukan meditasi di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat. Merasa aman, tiada orang lain selain dirinya di rumah, Galvin mulai mengeluarkan satu batang tembakau dari kantong celananya.
Menggeleng kepala Lorenza, melihat tingkah laku Galvin dari kejauhan. Menaruh tas plastik belanjaan di atas meja, Lorenza berjalan mengendap, mulai mendekati Galvin. Muncul rasa, seketika berjarak satu meter di belakang Galvin, akan tetapi semua itu dia lupakan, demi bisa melihat ekspresi Galvin yang terkejut.
"Dor ... ngapain kamu?" tangan Lorenza menghentak pundak Galvin yang seketika tegang.
Mengetahui sosok Lorenza yang membuatnya terkejut, lekas Galvin mematikan puntung tembakau-nya. "A--ku, sedang santai-santai saja, ka--mu, dari mana?" Gugup mulut Galvin melontarkan kalimat kepada Lorenza.
Tertawa lebar Lorenza melihat raut wajah Galvin seperti seseorang tawanan yang sedang ketakutan saat sedang diinterogasi oleh polisi. "Kenapa dimatikan?" tanya Lorenza dengan kelopak mata yang mengkerut.
"Apanya?"
"Benda yang tadi kamu padamkan apinya, lalu benda itu kamu simpan kedalam kantong celana." Jawab Lorenza kepada Galvin yang bertanya padanya.
Merasa tak enak Galvin jika dirinya berada disini dengan obrolan yang baginya tak penting untuk dilanjutkan, dirinya mulai mencari bahan obrolan lain. "Eh, iya, kamu habis dari mana, aku bangun tidur kamu sudah tidak ada?" bangkit berdiri Galvin dari kursinya.
"Makanya kalau tidur jangan seperti kebo. Aku, tuh, pergi supermarket tadi, membeli bahan-bahan untuk dimasak. Pokoknya, pagi ini aku ingin membuat sarapan spesial untuk kita hidang-kan." Penuh semangat Lorenza menjawab pertanyaan dari Galvin.
Mendekat Galvin, beberapa senti wajah Galvin memandang lurus ke arah Lorenza, seketika itu, pun, membuat jantung Lorenza rasanya mau copot dari tempat asalnya. Dengan penuh percaya diri Galvin mengaitkan kedua telapak tangannya dengan kedua telapak tangan milik Lorenza yang begitu lembut, nyaman di genggam. Terpejam mata Lorenza, tak kuat menatap kedua bola mata indah lelaki tampan di depannya saat ini. Beberapa menit saling merasakan napas yang hangat dari lawannya, Galvin memberi satu kecupan bibir yang begitu hangat kepada Lorenza.
"Lain kali jika ingin berbelanja, ajak aku, yah, Sayang. Agar aku tak pusing memikirkan keberadaan kamu di luar sana." Bisik Galvin, perlahan menjauhi dirinya dari Lorenza, segera dia membelakangi Lorenza. "Dimana barang belanjaan kamu, Sayang?"
"A--ada di atas meja." Jawab Lorenza dengan mulut yang sedikit ternganga, mendengar kata 'sayang' dari Galvin yang keluar begitu saja tanpa tahu akibatnya yang akan membuat pipi Lorenza seperti terbakar oleh api.
Setelah mendapat jawaban dari Lorenza, Galvin segera mengangkat barang belanjaan milik Lorenza, membawanya hingga di dapur. Di sela ruangan dapur, Lorenza tersenyum menatap Galvin yang sedang mengeluarkan bahan makanan dari dalam tas plastik, sikap Galvin kali ini membuat Lorenza terpukau dengan sendirinya. Berpaling kedua bola mata milik Lorenza ke arah lain, saat menyadari Galvin menatap-nya balik.
__ADS_1
Merasa sudah cukup, Galvin mendekati Lorenza. "Apa ada yang bisa aku bantu lagi Nyonya?" tanya Galvin dengan senyum mengembang di pipinya, melihat Lorenza yang sedang malu-malu menatap langsung.
"Sudah cukup, kok ... btw, terimakasih banyak, yah." Ucap Lorenza memberi apresiasi kepada Galvin yang sudah membantu tanpa diminta.
Beberapa menit berdiam diri, Lorenza heran melihat Galvin yang masih saja berdiri di depan- nya, wajah Galvin memandang lurus ke arah dirinya. "Ada apa?" Lanjut Lorenza bertanya dengan dahi sedikit mengkerut.
"Apa kamu akan membalas kecupan tanda cinta - ku padamu, saat di tepi kolam tadi?" tanya Galvin yang siap mendengar jawaban dari lawannya.
Tersenyum Lorenza mendengar Galvin, memberanikan diri untuk lebih mendekati wajah- nya dengan Galvin. Tanpa perlu menjawab, Lorenza langsung menunjukkan sikapnya dengan menautkan kedua telapak tangan- nya pada kedua sisi pipi milik Galvin. Dengan penuh antusias bibir Lorenza meraup terlebih dahulu terhadap bibir lelaki di depannya tersebut.
"Selamat siang ... ." Suara Ghali yang masuk ke dalam ruang tamu.
Mendengar suara Ghali, spontan membuat keduanya bergegas saling menjauh dan merapikan pakaiannya mereka masing-masing. Berjalan lebih cepat, kedua kaki milik Lorenza menuju letak belanjaan. Mendengar suara kaki yang mendekat ke arah dapur, segera Galvin pergi berdiri di samping Lorenza, mengiris bawang putih.
Di sela ruangan pintu dapur, Ghali tersenyum sesaat menyaksikan anaknya mengiris bawang putih, dugaan Ghali bahwa Galvin membantu Lorenza. "Halo, selamat siang isteri-ku, dan anak-ku tercinta." Sapa Ghali dengan wajah riang.
Deg! Berdetak dua kali lebih kencang jantung Lorenza saat membalikkan tubuhnya.
Dengan wajah penuh gembira, mendekat Ghali ke arah Lorenza untuk mengecup dahi-nya. "Kalian sedang memasak bersama?" tanya Ghali.
Lega jantung Lorenza mendapat wajah Galvin yang full senyum. "Iya, kami sedang sama-sama ingin membuat sarapan nasi goreng yang begitu lezat hari ini, ku pastikan akan membuat kalian ketagihan." Balas Lorenza dengan kedua bola mata intens menatap Ghali.
"Aku senang Galvin bisa membantu kamu ... Oh, iya, aku ke kamar, yah, ingin istirahat dulu, semalaman belum tidur hingga saat ini, cuman karena mengurus berkas-berkas yang belum masuk ke perusahaan. Kalau sudah selesai memasak, panggil aku." Sekali lagi Ghali memberi satu kecupan ke arah dahi Lorenza, sebelum benar-benar pergi meninggalkan dapur.
***
__ADS_1
Di gedung perkantoran, lantai empat, Ghali begitu sangat super sibuk jemarinya mengetik keyboard komputer. Kedua bola mata Ghali tak kenal lelah menatap arah komputer dengan sebuah lembaran kertas yang berada di atas tumpuk- kan puluhan kertas lainnya. Walau Ghali sebagai seorang pemilik perusahaan, Ghali tetap harus melakukan hal tersebut dari pada menyewa pekerja, ini semua demi mengirit uang, dan mewujudkan impiannya ingin menjadi orang terkaya di dunia.
Teralih mata Ghali ke arah handphone-nya melihat sebuah pesan masuk dari seseorang kekasihnya. Begitu senang tiga kali lipat hati Ghali, mendapat kabar dari Lorenza menyatakan bahwa dirinya sedang hamil, segera Ghali dengan antusias membalas pesan dari Lorenza tersebut. Akhirnya sala satu impian Ghali sedikit lagi terwujud, yaitu mempunyai anak dari Lorenza.
"Halo, selamat malam, Sayang ... ." Di sela pintu Magda memberi sapaan, masuk ke dalam ruangn Ghali tanpa ijin terlebih dahulu.
"Iya, malam, ada apa?" Terangkat setengah alis Ghali melihat ke arah Magda yang nampak begitu mempesona.
Tanpa bicara untuk membalas pertanyaan dari Ghali, setelah menutup pintu kembali, berjalan Magda dengan anggun mendekati Ghali. Di depan Ghali dengan posisi kedua tangan menopang meja, Magda menghalangi mata Ghali untuk melihat layar komputernya. Dengan penuh rasa percaya diri Magda duduk di paha Ghali, mengalungkan tangan di leher Ghali, sejenak berdiam diri, membiarkan Ghali terlebih dahulu memulai suatu hal adegan yang biasa mereka lakukan saat sedang berdua di ruangan tersebut.
Tak tahan Ghali mendapati aroma Lavender dari tubuh lawan jenisnya saat ini. Terpejam erat mata Ghali, seketika teringat Ghali dengan pesan masuk dari isterinya. "Maaf, aku tak bisa melakukannya saat ini, Magda ... ." Menggeleng kepala Ghali dengan menatap Magda begitu serius.
"Intinya aku tak bisa melakukannya saat ini hingga ke depannya nanti, hubungan gelap kita berhenti sampai sini saja."
"Ahg, kamu yakin tak ingin melakukannya, aku sudah lelah, lho, datang kemari di tengah malam seperti ini demi dirimu?" Tanya Magda butuh jawaban yang pasti.
"Ayok, lah, Sayang, lagipula aku kali ini tak perlu kamu kasih uang, kok." Bisik Magda dengan suara menggoda.
"Tetap aku tak bisa." Menggeleng tegas kepala Ghali, bahwa dirinya sungguh tak ingin melakukan hubungan intim yang gelap saat ini hingga hari kedepannya nanti.
Pasrah Magda untuk bangkit berdiri dari pangkuan Ghali. "Baik, jika itu yang kamu inginkan ... tapi aku butuh alasan pasti dari kamu mengenai dirimu yang tak ingin bercinta denganku lagi!" ketus Magda dengan mata intens menatap lawan bicaranya.
Maksud kamu?" bingung Magda mendengar perkataan tersebut dari tempat uangnya saat ini. "Apa yang kamu pikirkan, sampai kamu meminta maaf pada-ku, dan tak ingin melakukan hal yang menikmati tersebut?"
Menghela napas dengan berat, sesaat mengumpulkan keberanian untuk memberi sebuah keterangan. "Lorenza hamil, itu saja alasan kuat diriku tak ingin lagi bercinta gelap selamanya denganmu." Ungkap Ghali dengan suara yang begitu berat.
__ADS_1
Tersenyum miring Magda mendengarkan ungkapan tersebut, memalingkan wajahnya yang kesal dengan kenyataan dari hadapan lelaki yang sudah mau memakainya seenaknya. Menyentak kuat kedua kaki Magda, memberi tanda dirinya merajuk, keluar dari ruangan Ghali dengan membanting pintu sangat keras. Tiada uang yang bisa dibawa Magda untuk have fun di luar rumah, melainkan hanya sebuah dendam dari pikirannya yang licik kepada keluarga Ghali, dalam pikiran Magda berencana untuk segera menghancurkan keluarga mesra tersebut.
Di tempat, menengadah Ghali kepada yang maha kuasa, sadar akan perbuatannya selama ini yang melanggar keagamaan. Begitu pasrah Gahli dengan penuh harapan agar yang maha kuasa mau mengampuni segala dosanya, dan berharap agar esok hingga seterusnya akan indah. Merasa kurang fokus dirinya untuk melanjutkan pekerjaan, Ghali mematikan komputernya, memilih untuk pulang menemui isterinya agar pikirannya bisa tenang.