poor child fate

poor child fate
Tak ada lagi pilihan


__ADS_3

Kedua pasang seorang pria sedang saling bertatapan dengan matang, layaknya seekor singa melihat target buruannya. Tanpa mempedulikan suara sekitar yang begitu ramai, kedua orang pria melompat kecil di tempat, sedikit merenggangkan tubuh, sebelum benar-benar untuk melakukan sebuah olahraga yang begitu berat. Melepas kaus yang di kenakan, kedua pria tersebut mulai saling menghampiri dengan kaki sedikit melebar membentuk L.


Sebelum permainan ini dimulai, Galvin sudah mengenal musuhnya kali ini, di pertandingan kemarin, saat dirinya menonton pria yang berhadapan dengannya ini melawan pria lain. Maka dari itu Galvin yang biasanya memberi musuh menyerang terlebih dahulu, kali ini dirinya terlebih dahulu yang memberi serangan terhadap musuh.


"Cuman begitu saja pukulan lu, nj1ng ... ." tersenyum musuh Galvin, meremehkan Galvin yang tak satu pukulan, pun, dapat mengenai tubuhnya.


Merasa mulai lengah, Galvin menjaga jarak, sedikit menjauh dari hadapan lawannya tersebut. "Mati lu, bngst ... ." Teriak Galvin dengan kaki kembali bergerak maju mendekati musuhnya.


"Gue pikir lawan gue kali ini berat, tapi ternyata hanya seorang bocah ingusan ... lebih baik lu pulang ke rumah."


"Jaga omongan lu, yah .... ."


Semakin di buat kesal Galvin, kini sekuat tenaga tangannya mengepal mengayun ke depannya, akan tetapi usaha Galvin percuma. Tak sekali, pun, Galvin dapat menyentuh tubuh sang lawan. Dengan begitu tenang sang lawan, dapat menggapai tangan Galvin yang mengayun, melintir tangan Galvin dengan sekuat tenaga. Mengayun dengan lincah sala satu kaki sang musuh mengenai perut Galvin dengan sangat keras.


Bug! Terbanting keras Galvin,terbaring di atas aspal. Segera sang lawan mendekat Galvin, berjongkok di atas tubuh Galvin yang terbaring menahan rasa nyeri perutnya.


"Sudah gue katakan, lebih baik lu pulang saja ke rumah, orang seperti lu belum cocok untuk ikut pertandingan ilegal, seperti ini ... ." Dengan suara pelan sang lawan, memberi ucapan, beberapa senti wajahnya berhadapan dengan wajah Galvin.


Dengan gerakan cepat dengkul Galvin menubruk bagian belakang tubuh sang lawan yang paling fatal yaitu tulang ekor. Membuat sang lawan lemas seketika di atas tubuh Galvin. Segera Galvin membalikkan posisi dengan sisa energi yang dimilikinya saat ini. Seseorang sebagai wasit pertandingan, pun, menghentikan permainan dengan menyatakan Galvin sebagai seorang pemenang.


Mendengar kemenangan Galvin, segera Thomas sebagai seorang penonton, memberanikan diri untuk menghampiri sahabatnya itu. "Yes, selamat kawan lu menang lagi plus lu menyelamatkan hidup gue dari utang." Begitu senang gembira Thomas memeluk erat sang sahabat.


"Apaan, sih, alay ... ." Balas Galvin menahan rasa harunya sebagai seorang lelaki. Perlahan terlepas dari pelukan Thomas, Galvin teringat suatu hal penting.


"Kenapa?" tanya Thomas melihat wajah Galvin sedang mencari sesuatu.


"Mana Ramli?"


"Biasa dia ambil uang taruhannya di bandar yang punya tempat ini."


Mendengar jawaban dari Thomas, Galvin segera mengambil kausnya untuk di kenakan kembali, berada di pundak Thomas, setelah memakai kaus warna hitam polos tersebut. Segera Galvin berjalan, meninggalkan ring tinju, menuju tempat yang barusan dia tangkap dari keterangan di berikan sahabatnya. Akhirnya, Galvin dengan cepat bertemu Ramli di sala satu ruangan berlabel kamar nomor tiga.

__ADS_1


"Hay, selamat akhirnya lu bisa melunaskan utang kawan lu." Tersenyum ceria Ramli kepada Galvin yang berada disela pintu.


"Mana bayaran buat gue?" tanya Galvin dengan tangan menagih di hadapan Ramli.


Memisahkan beberapa lembaran merah dari lembaran merah lainnya. "Nih, bayaran buat lu dalam pertandingan minggu ini .... ." Selembaran uang berwarna merah di berikan Ramli kepada Galvin.


"Apa-apaan, ini, kok, cuman seratus lu bayar ke gue, di minggu ini ... ." Merasa kecewa Galvin, setelah menerima hasil keringatnya tersebut.


"Udah terima aja, masih syukur gue kasih, daripada enggak, gimana?"


"Sadis, lu, yah, gue capek-capek hampir mau mati di tempat. Dengan enaknya lu berkata seperti itu, dasar binatang!"


Bak! dengan keras Ramli membanting meja di depannya.


Dengan dada tegap, Ramli berdiri berhadapan dengan Galvin yang sudah membuat amarahnya bangkit. "Sekali lagi lu bilang gue binatang, jangan harap lu hidup. Dasar anak dari rahim yang bodoh, tak mengajarkan anaknya bersyukur ... ." Dengan napas tak beraturan, Ramli menahan kedua tangannya yang mengepal keras lurus di samping tubuhnya.


Sebagai seorang petinju, Galvin tak memiliki rasa takut dengan orang seperti apapun di dunia ini, berani menantangnya. Tak kuat Galvin mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Ramli, segera Galvin tanpa banyak mulut lagi, menerpa rahang Ramli dengan sekuat tenaga menggunakan tangannya. Tak peduli lagi Galvin masalah kedepannya, jika nantinya bakal memiliki masalah besar dengan salah satu orang direktur sekaligus penguasa jalanan.


Beberapa menit kemudian. "Hey, kalian apakan bos kami, ahg!" teriak sala satu orang yang berdiri, di tengah delapan orang lainnya.


Setelah menengok sesaat Galvin ke arah delapan orang yang mendekati dirinya, serta merasakan aura dari Thomas yang mulai ketakutan melepas tubuh Galvin, Galvin langsung mengutarakan pikirannya ke arah delapan orang di sana. Menarik lengan Thomas dengan sekuat tenaga berusaha melewati delapan orang yang ingin mengeroyok mereka.


***


Tak ada pilihan lagi, bagi Galvin untuk meninggalkan rumah Thomas, bersama dengan sang pemilik rumah , dikarenakan jika mereka masih bertahan, akan menjadi ancaman besar bagi mereka dari Ramli beserta komplotannya. Ingin pergi pulang ke rumah, selintas Galvin teringat perjanjiannya dengan ayahnya, setelah mendapat pengusiran. Teringat akan sala seorang pria sebagai seorang sahabat terbaik dari ayahnya, membuat Galvin berpikir untuk pergi ke sana demi kesejahteraan hidup sementara waktu.


Di depan pintu gerbang, Galvin bersama Thomas, penuh kesabaran, sesekali menekan tombol merah berada di dinding untuk memanggil seseorang dari dalam sana. Terbuka lebar kelopak mata Thomas dengan mulut sedikit terbuka, saat melihat sosok wanita dengan paras begitu cantik, mengenakan atasan tanktop putih, serta celana pendek, di sela pintu gerbang.


"Hay, selamat malam, ada yang perlu saya bantu ... tunggu, sepertinya anda anak dari Ghali, bukan?" selintas ingatan kuat dalam otak Lorenza, akan pria dihadapannya saat ini.


"Yah ... ." Malas Galvin menjawab karena bukan wanita ini yang dirinya nantikan, sebelum pintu gerbang di depannya terbuka.

__ADS_1


"Ada apa anda malam-malam seperti ini datang kemari, dan ini siapa?" beralih mata Lorenza pada seorang pria yang berada persis di samping Galvin berdiri.


"Emangnya anda harus tau dia siapa?" dingin terdengar, Galvin melontarkan pertanyaan. Membuat Lorenza menjadi kikuk di tempat.


Inilah yang dinamakan peluang untuk mendapatkan wanita idaman, menghilangkan rasa kejenuhan setelah kematian mantan kekasih. Dengan ekspresi tersenyum ramah, Thomas mencoba untuk mencairkan suasana yang membeku seperti ini. Bukan hal asing lagi, melihat sang sahabat selalu tak memiliki sikap bicara ramah terhadap wanita. Hal seperti ini, lah, justru membuat Thomas pede menunjukkan daya tariknya sebagai seorang pria terhadap wanita.


"Kenalkan, nama saya Thomas, sahabatnya Galvin ... ." Mengulur tangan kanan Thomas ke depan.


"Lorenza ... ." Dengan senang hati Lorenza menyambut tangan Thomas yang mengarah padanya, sesaat untuk berjabatan saling berkenalan. "Ada apa kalian malam-malam seperti ini, datang kemari?"


"Jadi, kami datang kesini, ingin menumpang di rumah anda untuk seharian saja, soalnya Galvin habis di marahi oleh ayahnya, sedangkan rumahku baru-baru terbakar ... yah, kan, Vin." Terang Thomas dengan sedikit berdusta, di akhir kalimat, mencuat kedua alis Thomas, Sedikit menyenggol bahu Galvin.


Tak peduli Galvin dengan sahabatnya tersebut "Dimana Om Bonifacio?" sambar Galvin bertanya.


"Oh, kakak ipar-ku, lagi pergi bersama dengan kakak-ku, entah kemana yang pasti mereka bilang liburan untuk tiga hari meninggalkan aku di rumah sendirian. Beruntung, aku sendiri di rumah ini, jadi ku persilahkan kalian untuk menginap."


"Sungguh?" sekali lagi Thomas mencoba untuk memastikan tawaran yang di berikan oleh wanita cantik di depannya tersebut, berbicara begitu polos.


Mengangguk kepala Lorenza dengan tegas, memberi keyakinan pada Thomas. Segera Lorenza membalikkan badan, berjalan menuju kedalam rumah di ikuti oleh Thomas. Saat ingin melewati pembatas pintu, Thomas menghentikan gerakan kakinya untuk menyelusuri lebih lanjut ke dalam rumah, merasa lengan tangannya di tahan oleh Galvin.


"Kenapa?" menoleh sesaat Thomas ke arah Galvin.


"Lebih baik kita pergi saja dari sini ... ." Balas Galvin tanpa pikir panjang.


"Ada apa memang, kita harus pergi dari sini?" heran Thomas mendengar ucapan sahabatnya begitu aneh.


"Nanti gue jelasin semuanya sama lu ... setelah menjauh dari rumah ini."


"Kalau kita pergi dari sini, kita akan tinggal dimana, Vin?"


Perlahan melerai lengan Thomas yang di genggamnya, seketika bingung ingin memberi sebuah jawaban pasti, jikalau pergi dari rumah ini. Setelah Galvin pikirkan lebih matang lagi, tindakan seharusnya yang musti di ambil ialah dengan menginap untuk sementara waktu bersama dengan Lorenza.

__ADS_1


Begitu risau hati Galvin satu atap dengan Lorenza, sehingga dirinya mengacuhkan Lorenza yang memberikannya hidangan malam untuk di santap bersama. Sedangkan Thomas yang sangat tertarik dengan Lorenza, membuat Thomas begitu penuh antusias menerima perjamuan yang di berikan oleh Lorenza, saat berada di ruang tamu. Tak lelah Thomas mencari akal untuk bisa mengobrol dengan Lorenza agar bisa dekat dengannya.


__ADS_2