
Seorang pria merasakan suatu hal gembira dari hati yang mendalam. Begitu posesif Ghali membawa seorang wanita yang terkasih di tengah keramaian, di dalam sebuah mall ternama. Terlihat sibuk mata Ghali melihat setiap toko yang di lewatinya, hingga akhirnya menemukan suatu toko yang cocok untuk dirinya bersama sang kekasih, singgah mencari suatu benda di dalam toko itu.
Begitu banyak barang terlihat, mulai dari pakaian bayi, perlengkapan makan bayi, botol susu bayi, hingga perlengkapan mandi bayi, perlengkapan main bayi, semua terisi di dalam sebuah rok, sekitar toko tersebut. Kini mata Lorenza mulai menyelidik setiap benda yang di lewatinya, banyak benda di dalam rak itu yang membuat matanya tertarik, rasanya ingin sekali membuatnya mendapatkan semua barang tersebut.
Berjinjit kaki Lorenza, mengambil sebuah pakaian, lalu menunjukkan pakaian tersebut kepada Ghali. "Sayang, menurut-mu kaus kaki bayi yang ini bagus atau tidak untuk anak kita nanti?" pinta Lorenza kepada Ghali untuk memberi pendapat.
Sesaat mata Ghali meneliti kaus kaki bayi yang ada di tangan Lorenza, merasa cocok, Ghali mengangguk-kan kepalanya. "Menurut aku, sih, cocok sekali ... ." Balas Ghali dengan wajah penuh antusias.
Sebagai kaum betina, rasanya belum puas jika hanya meminta pendapat kepada seseorang kalau hanya sekali saja. Kedua bola mata Lorenza mendapatkan sebuah kaus kaki bayi yang berada di sisi lain rak, membuat Lorenza tertarik untuk mengambilnya. "Kalau yang ini, menurut kamu bagus atau tidak?" Tanya Lorenza dengan menunjukkan kaus kaki bayi yang berbeda kepada Ghali.
"Bagus juga." Jawab Ghali sembari mengangguk-kan kepalanya sekali di hadapan Lorenza.
Dengan lekas Lorenza mengambil kaus kaki sebelumnya. "Menurut kamu bagusan yang mana, yang ini atau yang ini?" Kedua tangan Lorenza memegang kaus kaki bayi yang berbeda merk serta berbeda warna.
Terlihat bingung ekspresi wajah Ghali dalam memilih sala satu barang yang berada di tangan Lorenza saat ini. Di karenakan sudah lama sekali Ghali tak membeli barang bersama mendiang mantan isterinya, bahkan jika di ingat, terakhir kali dirinya di suruh memilih antara dua barang yang harus di ambil oleh isterinya, terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu. Jadi, hal tersebut membuat Ghali sangat rumit mengambil keputusan yang tepat dalam memilih barang. Mungkin bagi Ghali kedua kaus kaki yang ada di genggam Lorenza, memiliki kegunaan yang sama untuk seorang bayi.
Tak henti sampai situ saja, Lorenza yang belum mendapati tanggapan dari Ghali, kembali menaruh kedua pasang kaus kaki bayi tersebut ke rak-nya masing-masing, kaki Lorenza bergerak menuju ke rak berikutnya. Hal yang sama di lakukan Lorenza kepada Ghali, hingga benar-benar Lorenza mendapatkan suatu hal yang terbaik untuk anaknya nanti saat sudah lahir.
***
Sesampainya di rumah, Ghali merasa dirinya cukup kewalahan menemani isterinya berbelanja, memilih untuk langsung pergi ke kamar, melakukan istirahat sejenak. Di atas ranjang, Ghali tersenyum puas dirinya, sebelum benar-benar tertidur, membayangkan waktu yang masih lama, ingin rasanya di percepat begitu saja. Karena tiada yang indah dalam seorang keluarga tanpa kehadiran seorang anak bagi Ghali sendiri, walaupun dirinya begitu sangat keras mendidik Galvin, namun semua itu dia lakukaan sebagai rasa kasih sayang terhadap anaknya.
Setelah mengganti pakaian, Lorenza mengambil barang belanjaannya, mengangkat barang tersebut ke atas ranjang, tepat di sebelah suaminya tertidur. Memastikan kembali bahwa dirinya tidak sala beli saat tadi, lalu merapikan barang tersebut ke dalam sebuah lemari pakaian yang masih kosong ruangannya. Keluar Lorenza dari dalam kamar meninggalkan suaminya yang tertidur pulas.
__ADS_1
Melihat Galvin sedang duduk di sofa ruang tamu, Lorenza menghampiri dia segera. "Hai, gimana kamu hari ini, apakah sudah mendapat pekerjaan atau belum?" tanya Lorenza dengan wajah ceria menyambut.
Mengingat suatu berita yang masih belum bisa Galvin terima, membuatnya tak tahan berada di sekitar Lorenza saat ini. Tak mempedulikan Lorenza yang berbicara, Galvin bangkit berdiri. Raut wajah Galvin yang super jutek, membuat tanda tanya dalam pikiran Lorenza padanya, segera Lorenza Menggenggam pergelangan tangan milik Galvin, menghalangi Galvin yang ingin menggerakkan kakinya pergi menjauh.
"Ada apa?" mengerut dahi Lorenza dengan kedua alis mencuat. "Kamu terlihat berbeda kali ini."
"Tidak ada apa-apa, kok." Dengan suara datar Galvin menjawab. "Tolong lepaskan tangan-ku."
"Kalau aku lepas tangan-mu ini, kamu akan pergi kemana memangnya?"
"Kemana saja, penting membuat hatiku senang, dan bisa pergi dari hadapanmu saat ini." Dengan kuat Galvin melepas pergelangan tangannya dari genggaman Lorenza.
"Aku mohon, jelaskan padaku, ada apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu ... Aku akan membantu sebisa, ku."
Berjalan Galvin menuju garasi mobilnya, tanpa mempedulikan ucapan dari Lorenza. Terdiam Lorenza saat Galvin sudah melajukan mundur mobilnya keluar dari dalam garasi. Hal ini akan membuat Lorenza rasanya sulit sekali untuk tenang, sebelum benar-benar mendapat jawaban pasti dari Galvin yang terlihat jutek dengan dirinya. Dengan kedua kaki yang lemas sesaat, Lorenza berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Sesampainya di situ, Lorenza langsung menyandarkan tubuhnya di atas sebuah sofa dengan wajah termenung.
"Hay, bagaimana keadaan lu, Lorenza?" sapa Magda dari sela pintu.
Tak ingin terlihat lemas, membuat Magda bertanya-tanya, Lorenza langsung menegakkan tubuhnya yang lemas. "Baik, kok ... Akhirnya lu datang main juga ke rumah gue, Magda." Balas Lorenza dengan wajah berseri-seri.
Setelah melakukan cipika-cipiki di sela pintu, mereka berdua segera menuju ruang tamu. Setelah itu, Lorenza layaknya tuan rumah yang harus menjamu tamunya, lekas Lorenza pergi ke dapur, membuat minuman jus untuk tamunya, sebelum duduk berhadapan dengan tamunya
"Apa kamu sendirian saat ini?" kedua bola mata Magda, sekilas mengitari ruangan sekitar yang sunyi.
__ADS_1
"Ayok, coba tebak."
"Ku tebak, kamu saat ini sedang sendirian saja, kan?"
Terangkat kedua alis Lorenza, sedikit memberi ekspresi bercanda dengan bibir sekilas mengerucut ke depan. Satu menit berdiam diri, membiarkan Magda dengan wajah sedang berpikir keras mencari informasi yang pasti dari spekulasinya sendiri. Seketika Ghali keluar dari ruangannya sedang mengenakan pakaian yang begitu rapi, membuat kedua wanita di atas sofa teralih matanya pada dia.
Mendapatkan sosok Magda saat ini, membuat Ghali sedikit terkejut. Cemas pikiran Ghali, jika nantinya Magda bercerita kepada Lorenza mengenai hubungan gelapnya. Semua pikiran tersebut ditepis oleh Ghali, seketika melihat raut wajah isterinya yang berseri-seri di atas sofa sana. Beberapa detik berdiam di tempat untuk menghembuskan sekilas napasnya yang terasa berat, memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan dengan pikiran yang positif.
Bangkit berdiri Lorenza dari atas sofa, menghampiri suaminya tersebut. "Kamu mau kemana?" tanya Lorenza kepada Ghali.
"Aku ada urusan dengan pemilik perusahaan lain di luar kota, kemungkinan aku akan pulang esok hari."
"Yah, berarti semalaman ini, aku cuman sendirian di rumah, soalnya, kan, Galvin pergi keluar. Aku takut jika dia pulang besok juga, aku takut sendiri di rumah malam-malam."
"Kamu tenang saja, aku akan hubungin Galvin nanti."
"Dan tenang Lorenza, aku akan menemani kamu malam ini, aku akan menginap disini." Sambar Magda, beranjak dari kursi, mendekati Lorenza yang berada di hadapan Ghali. "Gimana apakah aku di perbolehkan?"
Menengok Lorenza ke arah Magda yang berada di sampingnya. "Tentu saja boleh, dong, tepat sekali malam ini aku butuh teman." Dengan penuh antusias Lorenza menerima pernyataan dari Magda.
Rasanya seperti petir yang menyambar dalam tubuh, membuat mulut Ghali tertutup erat saat melihat Magda berada dekat di depannya bersama sang isteri. "Aku pergi, yah, Sayang ... ." Dengan cepat Ghali berpamitan dengan isterinya.
"Baiklah, jika begitu hati-hati kamu di jalan, yah, Sayang." Balas Lorenza kepada suaminya. "Apa perlu ku temani hingga depan, sayang?"
__ADS_1
"Sudah tak perlu, aku sendiri saja. Kamu temani saja Magda di tempat, oke." Pinta Ghali sebelum beranjak dari tempatnya.
Usai punggung Ghali sudah tak terlihat dari pandangan kedua wanita yang berada di dalam rumah tersebut saat ini, membentuk senyum miring sekilas pipi Magda tanpa di ketahui oleh Lorenza, bahwa Magda sedang merencanakan suatu hal yang licik. Setelah beberapa lama berdiri, kedua wanita tersebut kembali menyandarkan tubuhnya di atas sofa, kemudian mereka kembali mengobrol sesuatu hal mengenai kehidupan keluarga yang mereka jalani masing-masing.