poor child fate

poor child fate
Pria yang berbeda


__ADS_3

Mendapat sebuah undangan dari seseorang pria yang menurut Galvin begitu sangatlah penting untuk dirinya ke depan akan sangatlah menjadi indah, Galvin tak ingin menyia-nyiakan hal tersebut. Bergegas Galvin menjemput sahabatnya terlebih dahulu, bersamaan untuk menuju sebuah gedung perkantoran yang memiliki tiga tingkat lantai. Penjagaan yang begitu ketat, membuat Galvin dengan Thomas harus terhenti sejenak di depan pintu masuk.


Empat pria dengan seragam keamanan serba hitam dengan postur tubuh kekar yang begitu tegap, menghalangi kedua orang yang ingin masuk ke dalam ruangan. Sesuai dengan peraturan keamanan dari seorang direktur utama sebagai pemilik gedung tersebut, mencegah terjadinya hal yang di luar dugaan mereka.


"Sekali lagi, bolehkah, anda berdua menunjukkan tanda ijin untuk masuk bertemu tuan direktur utama kami?" tanya salah satu orang sebagai Penjaga Keamanan, mengangkat wajah tegas ke arah dua orang di depannya.


"Tunggu, kalian ini tidak percaya sekali dengan yang saya katakan. Bahwa saya dengan sahabat saya benar-benar di undang untuk bertemu Ramli di tempatnya." Umpat Galvin merasa sedikit jengkel dengan empat penjaga di depannya.


"Bukannya kami tidak percaya, pak, akan tetqpi kami di sini hanya menjalankan tugas kami sebagai keamanan kantor." Terang sang Penjaga.


"Ok, i'm know ... kalian lihat ini baik-baik, yah." Dengan segera Galvin merogoh kantong celananya.


Setelah mengambil ponsel dari dalam celana, Galvin menunjukkan layar ponsel ke arah empat orang penjaga di depannya, sebuah obrolan daring dirinya bersama Ramli melalui sebuah media tertampil dari balik layar ponsel. Ke empat orang tersebut, pun, akhirnya dapat dengan lega hati mempersilahkan Galvin bersama Thomas untuk masuk ke dalam gedung.


Sesampainya di tingkat ke tiga, memasuki sebuah pintu yang memiliki tabel 'ruang khusus direktur,' Galvin bersama Thomas akhirnya mendapatkan sosok pria yang mereka cari. Di buat menggeleng kepala Galvin, melihat pria gemuk yang berada di depan komputer sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar di atas meja.


Bug! Dengan keras Galvin menyentak meja.


"Sial ... ." Gumam Ramli terkejut, mengangkat wajahnya dari atas meja.


"Enak banget, yah, jadi direktur kerjaannya cuman tidur, doang ... gimana perusahaan mau maju?" sindir Galvin menyoroti Ramli, setelah duduk di sebuah kursi, bersebelahan dengan Thomas.


"Yah, feeling gue, sih, kalau direkturnya macam bang Ramli, mustahil perusahaan bakal maju ... ." sambar Thomas mendukung dengan suara pelan.


"Diam!" kesal Ramli tidurnya terganggu yang langsung mendapat kritikan yang tak penting.


Menunduk kepala Thomas, saat melihat wajah sangat Ramli muncul seketika, cemas jika nanti suatu hal buruk akan di lakukan oleh Ramli yang akan mengancam nyawanya. Di sebelah Thomas, Galvin masih tetap tenang di tempat dengan terkekeh, saat melihat wajah Ramli, terlintas terbayang seekor orangutan.


"Ketawa lagi ini bocah ... ." Kedua alis Ramli mencuat.

__ADS_1


"Habisnya lu enggak ada seram-seramnya, sih." Balas Galvin, perlahan menenggelamkan tawanya. mencoba bertanya Galvin pada Ramli, "Oh, iya langsung intinya aja, ada apa lu undang kita kemari?"


"Jadi, gue undang lu berdua kemari, ada suatu hal penting ingin gue bicarakan tentang persiapan yang musti kita siapkan, sebelum pertandingan lu Galvin melawan orang nanti di atas ring."


"Apa saja?" sambar Thomas bertanya.


Mengambil secarik kertas perihal pendaftaran kontrak tanding tinju jalanan, dari dalam laci meja, langsung Ramli beritahukan pada yang bersangkutan. Mengerti Galvin dengan yang harus dilakukannya saat ini, yakni melengkapi secarik kertas di atas tersebut dengan biodatanya, dan tanda tangan bahwa Galvin setuju dengan kontrak yang terikat, sesudah membaca setiap tulisan yang ada di kertas tersebut.


***


Keluar Galvin dari kamarnya, setelah melakukan stretching ringan, dan push-up. Di depan alat samsak, Galvin dengan kakinya yang membentuk kuda-kuda, kedua tangannya tak henti meninju samsak yang di gantung kuat tersebut, tak lupa sesekali kakinya ikut menghantam. Keringat yang terus bercucuran, membuat Galvin terus bersemangat dalam latihannya, membayangkan benar-benar samsak yang ada di depannya tersebut sang lawan yang ingin menyerangnya.


Ting, tong ... . Suara bel rumah berbunyi beberapa kali, membuat Galvin memejamkan matanya erat sembari sarkas menghembus napas di depan samsak. Menganggu sekali jika di diamkan saja karena bel rumah telah di setting oleh ayahnya, sekali tamu tekan tombol bel, otomatis berbunyi terus, jika tidak di buka pintu masuk rumahnya.


Mengerut dahi Galvin, melihat sosok wanita imut sedang mematung dengan mata yang mengarah ke perutnya. "Ada apa?" terangkat salah satu alis Galvin.


"Dia sedang berada di kantor, mungkin."


"Tadi saya sudah ke kantor, namun dia tidak berada di sana. MMM ... kira-kira biasanya ayah kamu pulang jam berapa?"


"Sesuka hatinya dia pulang jam berapa."


Tak di sangka jadinya akan diluar ekspetasi Magda yang saat ingin bertemu dengan anak dari Ghali, dirinya berharap bisa langsung dekat dengannya. Akan tetapi kenyataan begitu berbeda, saat mendapati sikap pria yang begitu tampan dalam daftar pria yang di dekatinya, sangatlah begitu dingin. Sesaat terdiam di sela pintu, Magda hanya bisa menunduk, sekilas meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki pria yang ada di depannya tersebut.


"Kenapa masih diam?" nada datar dari Galvin kembali melontarkan kalimat dengan pertanyaan.


"Menunggu kedatangan ayah-mu, soalnya ada suatu hal penting untuk di bicarakan-nya hari ini."


"Oh ... ."

__ADS_1


Mendapat jawaban yang sangat singkat, membuat Magda harus berpikir keras, cara agar pemuda tersebut dapat terlena dengan dirinya. "Bolehkah aku menunggu di dalam?" memberanikan diri Magda untuk mengangkat wajahnya, melihat wajah tirus milik Galvin begitu menawan.


"Baiklah, tapi saya tidak menanggung jika anda haus atau kelaparan menunggu ayah saya."


"Oh, tidak masalah ... ."


Sesampainya di dalam rumah, Galvin membiarkan Magda duduk sendiri di ruang tamunya. Benar-benar tak sedikit, pun, Galvin menjamu Magda, layaknya seorang tuan rumah terhadap kedatangan tamunya. Terpenting saat ini harus fokus dengan yang namanya latihan sebelum masuk ke dalam pertandingan.


Jenuh Magda di tempat, hanya duduk di atas sofa, membuka ponsel yang tak tau ingin melakukan hal apa dari balik layar ponsel di genggamannya. Menegakkan lutut, segera bergerak kedua kaki Magda menelusuri ruangan yang megah tersebut. Terhenti kaki Magda, melihat sosok Galvin dari balik dinding kaca, tampak sedang berolahraga, di halaman taman, belakang rumahnya. Dengan penuh rasa percaya diri Magda mendekat, lebih detail memerhatikan wajah Galvin, sekilas teringat suatu peristiwa dirinya sedang mabuk berat di tempat hiburan malam.


"Menjauh, jangan membuat suasana hancur ... ." umpat Galvin dengan suara pelan.


"Ma-- af, telah menganggu kamu olahraga. Saya segera pergi dari sini, namun apakah saya boleh bertanya satu hal?" Sedikit grogi Magda di dekat Galvin.


"Mau nanya apa?"


"Sebelumnya kita sudah pernah bertemu, kan?"


"Dimana?" dusta Galvin melupakan hal yang sewaktu dirinya pergi ke tempat hiburan malam sendirian. Mencari akal Galvin untuk menerangkan agar tak terlihat bodoh. "Bukankah dua hari lalu, kita bertemu di rumah kamu, saat itu aku datang bersama ayah, ku."


"Di sebuah club malam, tepatnya sekitar minggu lalu, tapi keadaanku sedang mabuk berat, jadi setengah sadar. Benar atau bukan, bahwa waktu itu kita bertemu?" Perlahan Magda dengan berani memajukan kakinya untuk lebih dekat dengan Galvin.


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Galvin bingung menjawabnya.


"Entah, itu hanya benar atau tidak. Intinya, hari ini aku bisa bertemu dengan kamu." Lanjut Magda berbicara. "Ternyata tak ku sangka selain tampan, kamu juga memiliki tubuh yang indah."


Merasa kurang senang, Galvin menepis tangan Magda yang berani menyentuh perutnya, tak ingin hasrat lelakinya muncul, segera Galvin pergi menuju kamarnya, lalu mengunci erat pintu kamarnya agar sang wanita tak dapat mendekatinya lagi. Di halaman taman, Magda menggelengkan kepalanya takjub, saat perlahan melihat punggung Galvin menghilang dari hadapannya.


Dari pada harus di tempat menunggu yang kurang pasti, lebih baik pergi ke suatu tempat yang pasti membuat diri senang. Tanpa berpamitan pada sang pemilik rumah, Magda pergi keluar dari rumah mewah tersebut. Meresapi kegagalannya mendekati seorang pemuda tampan, Magda segera pergi menuju kantor Ghali untuk meminta suatu janji yang telah di berikan padanya, lalu berencana malamnya untuk pergi ke tempat hiburan malam mencari berondong.

__ADS_1


__ADS_2