
Seorang pria dengan pakaiannya begitu kasual, terlihat sangat menawan, tengah santai duduk di sebuah kursi, menanti seseorang yang telah di janjikan- nya untuk di ajak bertemu di sebuah restoran ternama, di kota metropolitan. Memesan kopi latte terlebih dahulu agar bisa lebih tenang menikmati momen di tengah keramaian. Banyak mata para kaum wanita di sekitar restoran, terpanah melihat perhiasan yang menghiasi beberapa jari tangannya, kalung emas di lehernya, jam tangan emas, serta gaya berpakaian di kenakan pria tersebut. Sadar akan dirinya menjadi perhatian sekitar, Ghali tak mempedulikannya karena ada orang lebih penting untuk di pedulikannya nanti.
Seseorang wanita yang begitu anggun berjalan,mengenakan dress panjang yang begitu ketat, menampilkan lekukan tubuh yang indah dari sosok yang sangat feminim, menjadi bahan perhatian para pengunjung pria yang ada di restoran tersebut. Segera Lorenza, menghampiri sebuah meja, setelah melihat sosok Ghali yang sedang duduk di sebuah kursi.
"Hay, maaf telah membuat kamu menunggu ... ." Sapa Lorenza, sedikit merasa bersalah, sadar karena keterlambatannya.
Tersenyum hangat, Ghali menyambut kedatangan Lorenza dengan senang hati. "Tak masalah, bagiku terpenting kamu sudah datang, aku sudah cukup senang. Oh, iya, mau makan apa?" balas Ghali dengan wajah yang ramah.
Sala satu tangan Ghali, menggeser secarik kertas yang tercantum daftar menu makanan kepada Lorenza. "Silahkan, di pilih, Nyonya, tak usah malu-malu ... lagipula aku menawarkan kamu dengan senang hati." Lanjut Ghali dengan kedua bola mata menyoroti wajah Lorenza.
Sedikit rasa sungkan, Lorenza menerima tawaran yang di berikan oleh Ghali. Kedua mata Lorenza langsung tertuju pada daftar menu yang tercantum, satu per satu, membayangkan rasa makanan yang ada di daftar menu. Semuanya rasanya begitu enak setelah di bayangkan oleh Lorenza, membuat Lorenza sedikit bingung ingin memilih sala satu di antaranya. Perlahan tangan Lorenza yang berada di atas meja, menggeser secarik kertas berisi daftar menu tersebut kepada Ghali.
"Jadi, kamu pesan apa?" tanya Ghali untuk memastikan.
Mengerut dahi Lorenza, sedikit bingung mencari jawaban yang tepat. "Setelah aku membaca menu yang ada, rasanya aku ingin mencicipi semuanya di siang hari ini." Balas Lorenza menerangkan.
"Baiklah, jika begitu, semua menu akan aku pesan untuk kamu."
"Wait ... enggak mungkin juga, aku dapat menghabiskan semuanya." Menghembus napas Lorenza dengan pipi menyimpulkan senyum.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?"
"Aku hanya ingin sebuah menu yang sama seperti kamu saja. Boleh, kan?" malu-malu Lorenza meminta.
"Yakin?" Terbuka lebar kelopak mata Ghali untuk lebih memastikan.
Mengangguk dua kali dengan tegas kepala Lorenza, mendengar pertanyaan tersebut untuk meyakinkan Ghali, bahwa dirinya benar-benar ingin menyantap sebuah menu yang sama seperti dia. Tanpa perlu lama-lama lagi, Ghali segera menggoyangkan sebuah benda berbentuk lonceng untuk memanggil pelayan restoran, memesan sebuah menu double. Setelah pelayan datang untuk mencatat menu yang di pesan Ghali, kembali pelayan ke dapur untuk menyiapkan hidangan pesanan dari pelanggannya.
"Kamu bekerja di perusahaan brand group, sudah berapa lama?" tanya Ghali kepada Lorenza, berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Aku kerja di perusahaan itu, baru dua tahun."
Mengangguk-angguk kepala Ghali memahami lawan bicaranya. "Sebagai apa kamu di perusahaan itu?" kembali Ghali melontarkan pertanyaan.
"Hanya sebagai seorang asisten akuntan, btw, ku dengar dari Magda kamu punya perusahaan sendiri, yah?"
Wajah riang Ghali keluar seketika, mendapat pertanyaan dari Lorenza. "Yah, seperti yang Magda katakan." Balas Ghali dengan sedikit memberi anggukan.
Baru saja Lorenza ingin membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan berikutnya, harus terpendam begitu saja, sesaat seorang pelayan datang membawakan sebuah hidangan yang di pesan oleh Ghali barusan. Mengharuskan Lorenza segera menyantap hidangan tersebut bersama-sama dengan Ghali, perlahan melahap hidangan, sesekali Lorenza melirik ke arah wajah Ghali yang akan menjadi calon suaminya nanti. Terbayang di otak Lorenza, nantinya jika hidup bersama Ghali.
***
Mendapatkan ajakan dari sang ayah, tak tau hal penting apa yang ingin di bicarakan- nya, membuat Galvin sangat penasaran. Setelah mengganti kostum kemeja lengan panjang serta bawahan jeans, semua serba hitam, di depan cermin, ada rasa keraguan dalam diri Galvin untuk pergi menemui Ghali di sebuah tempat. Akan tetapi satu dorongan kuat dalam diri Galvin untuk menemui Ghali, saat Ghali dengan suara lembutnya mengajak Galvin untuk makan siang di sebuah restoran ternama.
Berubah drastis wajah penasaran dengan penuh kegembiraan dalam diri Galvin, saat melewati sebuah pintu restoran. Terlihat di sana ada sosok wanita yang pada saat itu, Galvin temui di rumah Magda, tengah menyantap sebuah makanan bersama ayahnya. Sebelum melanjutkan langkah kakinya, sejenak Galvin menghembuskan napas beratnya melalui lubang hidung, berusaha untuk tetap berpikir positif, langkah berat menghampiri meja yang ada di sana.
"Dari mana kamu, lama banget, sih?" berhenti sejenak Ghali menyantap makanannya, mata Ghali berfokus kepada Galvin yang baru saja datang.
"Oh, ya sudah, cepat pesan menu yang kamu inginkan untuk kamu makan, lalu makan bersama kami."
"Musti sekarang, yah?"
Panas rasanya otak Ghali mendengar pertanyaan dari anaknya yang seakan-akan mengejeknya. Kembali mengingat dirinya saat ini bersama seorang wanita yang kelak akan menjadi calon isterinya, tak ingin kencan rasanya menjadi sia-sia, Ghali menahan amarahnya yang sedikit terpancing. Memicing mata Galvin pada wanita di hadapannya sesaat, setelah menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi, samping ayahnya.
"Dia siapa anda?" tanya Galvin dengan wajah malasnya pada Ghali.
"Oh, makanya setiap aku ajak pertemuan bersama teman aku, jangan pulang dulu."
Mendengar percakapan mereka yang tiada harmonisnya antara anak dengan ayahnya, membuat Lorenza ingin bertanya-tanya, merasa belum cukup waktunya untuk bertanya secara intens. Di tempat hanya bisa terdiam Lorenza dengan berspekulasi sendiri, harapnya jika menikah dengan Ghali, nanti dengan sendirinya Lorenza dapat mengetahui hal hubungan yang membuat Ghali dengan Galvin tampak terlihat kurang harmonis.
__ADS_1
"kenalkan dia calon Mommy kamu ... ." Lanjut Ghali dengan santai memberi penjelasan kepada kedua belah pihak. "Lorenza kenalkan ini putera tunggal aku."
Mendapatkan sebuah kalimat dari Ghali yang mengarah padanya untuk memperkenalkan diri, senang hati Lorenza mengangkat wajahnya. "Hai, aku Lorenza, nama kamu siapa?" menjulur telapak tangan Lorenza di atas meja.
Beberapa detik tiada balasan dari Galvin, menjamah sedikitpun telapak tangannya, merasa malu Lorenza menurunkan tangannya yang menjulur tersebut, dari atas meja. Di sebelah Galvin, Ghali menahan diri dengan rahang seketika mengeras dengan sendirinya, melihat sang anak bersikap angkuh terhadap calon isterinya.
"Maaf anda harus tau, bahwa Ibu saya baru meninggal satu bulan lalu, dan saya masih belum bisa menerima sosok Ibu baru dalam hidup saya." Ucap Galvin dengan wajah tak suka, setelah beberapa saat hanya terdiam saja. Menengok kepala Galvin pada Ghali. "Untuk anda, seharusnya anda sadar bahwa isteri anda barusan saja meninggal, dan jangan mengikuti keinginan diri saja. Anda harus menghargai perasaan saya."
Bruak! suara meja yang di pukul Galvin begitu kuat, membuat Lorenza terkejut dengan menggigit bibir bagian bawahnya yang tebal.
Setelah memukul meja dengan keras, tanpa mempedulikan pengunjung sekitar sedang memperhatikannya, Galvin beranjak pergi meninggalkan restoran tersebut dengan rasa penuh kecewa. Tak menyangka Galvin, harus memiliki seorang Ayah yang tak mengerti sekali mengenai, menghargai perasaan seorang anak. Sedangkan Ghali, di tempat hanya bisa terdiam, mengontrol emosi yang menggebu dalam dirinya. Kalau saja tak ada Lorenza saat ini, mungkin Ghali akan menghajar anaknya baginya sudah sangat bersikap kurang ajar.
***
Sesampainya di rumah, menaiki anak tangga dengan kaki begitu berat terlihat sangat lemah, Galvin segera menuju ke arah balkon belakang kamarnya. Melepas kemeja hitam yang di kenakan -nya barusan, menggantung kemeja tersebut di sebuah pagar membatasi balkon tersebut. Berdiri Galvin dengan tangan menongkah di pagar balkon, menyelipkan sebatang lintingan tembakau di mulut, memandangi cuaca cerah yang begitu buram sekali bagi Galvin untuk saat ini.
Segera Galvin mematikan sebuah lintingan yang menyala di tangannya, saat melihat ke arah bawah sana, sebuah mobil sport hitam milik Ghali melewati pintu gerbang. Merasa cemas, Galvin dengan secepat mungkin membersihkan abu bekas rokok yang ada di lantai. Setelah itu memasuki kamar mandi untuk menyikat giginya. Keluar dari kamar mandi, perasaan yang sudah sedikit lega. Seketika berubah wajah Galvin menjadi kesal saat menubruk tubuh seseorang, terdiam saat mengetahui bahwa yang di tabrak adalah Ghali.
"Apa maksudmu memperlakukan calon Mommy-mu seperti tadi?" tanya Ghali dengan rahang mengeras.
"Tolong biasakan ketuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk kamar orang." Dengan santai Galvin memberi nasihat.
Bug, bug, bug! berkali-kali wajah Galvin harus menerima setiap hempasan di berikan dari tangan sang ayah.
"Pergi kamu dari rumah ini, cepat!" tegas Ghali dengan sarkas.
"Baik, lah, aku akan pergi, dan ingat aku tak akan kembali lagi."
Setelah melontarkan kalimatnya, Galvin mengambil sebuah kaus di dalam lemarinya. Kemudian dengan segera Galvin beranjak pergi meninggalkan rumah tersebut. Benar-benar rasa sakit di terima Galvin sangat besar pada ayahnya, lebih memilih calon isterinya tersebut daripada perasaan anaknya.
__ADS_1
#Lorenza#