poor child fate

poor child fate
(+21)Kehangatan memuncak


__ADS_3

Bagi orang yang tak ingin mengambil pusing dari balik makna hidup yang sesungguhnya, melihat seseorang sahabat sedang galau. Lebih baik mengajaknya untuk melupakan hal tersebut dengan melakukan suatu aktifitas di luar rumah, dari pada hanya duduk termenung di tempat. Dua orang pria memiliki status sahabat tersebut mengambil perlengkapan untuk dibawa, pergi menjauh dari rumah dengan menunggangi sebuah sepeda motor.


Turun dari sepeda motor, di jalan yang terbilang sunyi, jarang ada kendaraan yang lewat. Beberapa lama di tempat ada sebuah lampu kendaraan, menyorot dari kejauhan, membuat kedua pria tersenyum melihat sebuah truk angkutan berjalan mendekati mereka. Terpaksa seorang supir, harus menunda waktu, berhenti dengan menekan klakson mobil, berharap kedua orang depannya dapat minggir.


"Loe tetap di sini, biar gue urus masalah dalam ... ."


Dengan gesit Thomas memanjat ke arah tangga, pintu mobil truk. Setelah memberi arahan pada Galvin.


"Bang, bisa suruh temannya minggir, gak, saya lagi buru-buru ini buat antar orderan." Gumam Supir truk meminta, menoleh ke arah Thomas yang wajahnya tampak jelas dari balik jendela mobil.


"Gue bakal minggir sama kawan gue, jika loe mau beri uang ke gue." Balas Thomas memberi konsekuensi.


Tersenyum kecil Supir, mendengar kalimat balasan dari Thomas. "Emang ini jalan punya nenek moyang anda apa, seenaknya menagih orang sembarangan." Malas rasanya untuk berbincang dengan orang yang kurang mengerti hukum, Supir menaikan kaca mobil untuk menutup seluruh pintu mobil. Segera Supir melajukan truknya kembali perlahan, membuat Galvin terpaksa menghindar untuk menghalangi.


Tok, tok, tok ... ! tangan Thomas tak henti mengetuk jendela mobil.


Melihat Thomas masih tetap nekat di samping pintu mobil, sedang berjalan, membuat Galvin tak tega membiarkannya sendirian. Dengan segera Galvin mengambil sepeda motor, membuntuti truk, hingga seratus meter, truk kembali berhenti. Bergerak cepat Galvin menghampiri sahabatnya yang terjatuh di atas aspal.


"Hey!" teriak Galvin dengan mata terbuka lebar menyoroti wajah supir yang ada di dalam truk. "Turun loe, nj1ng!"


Prak! dengan keras penuh amarah, Galvin menampar pintu truk dengan batu besar di tangannya.


Melepas batu yang ada di tangannya, emosi yang mulai tak terkontrol, melihat supir turun dari dalam mobil, Galvin langsung mencekik leher Supir. Melihat hal itu, membuat Thomas bangkit berdiri dengan sisa tenaga dari atas aspal.


"Hentikan, Vin ... ." Pinta Thomas yang di turuti Galvin yang sudah membuat Supir hampir kehilangan nyawanya, akibat kehilangan napas secara berlebihan. "Sekarang kita ambil uangnya aja, habis itu kita cari target berikutnya."


Dengan segera keduanya, tanpa rasa peduli lagi dengan Supir yang sudah tak berdaya. Mengambil dompet Supir dari dalam celananya, hingga mengambil beberapa lembar uang dari dalam laci mobil truk yang mereka bajak. Masih terbilang belum memuaskan, mereka mencari target berikutnya dengan melakukan hal yang lebih intensif lagi untuk memalak.


***

__ADS_1


Di dalam suatu ruangan dua pria bersahabat bersama seorang wanita tersebut, akhirnya bisa merasakan kesenangan dari hasil malak, beberapa mobil yang lewat di jalan sana. Menikmati minuman alkohol yang berada di atas meja, mengobrol dengan leluasa di atas sebuah sofa. Lampu remang-remang menghiasi pemandangan sang wanita, sedari tadi duduk di samping kekasihnya, melihat ke arah pria di depannya yang terlihat sudah cukup mabuk.


Terkekeh Thomas, menengok ke arah seorang wanita di sampingnya, saat melihat mata Galvin yang sudah terpejam. "Memang Galvin selalu saja, pingsan duluan, pas lagi minum alkohol ... ." Ucap Galvin pada kekasihnya.


"Iya, payah banget sahabat kamu, Sayang ... ." Balas Monica, Memangku kepalanya di bahu Thomas dengan mata meneliti ke wajah tampan Galvin di depan sana.


"Sekarang boleh kita bermain, Sayang ... kek- nya kamu terlihat begitu menggoda sekali dalam keadaan seperti ini." Pinta Thomas menoleh ke arah Monica.


Tanpa basa-basi, Monica sedikit melempar senyum saat mendapati wajah kekasihnya yang begitu memiliki harapan besar darinya, lekas Monica langsung menyandarkan bibir tebalnya pada bibir tipis milik kekasihnya. Bangkit berdiri Monica dari atas kursi, menghadap Thomas dengan bibir yang masih tetap saling bertempur hangat dengan kekasihnya. Dengan perlahan, akan tetapi pasti, Monica melepas seluruh kain yang menghalangi tubuh milik kekasihnya yang begitu menawan.


"Sayang, sepertinya alangkah baiknya, jika kita bermain di kamar ... ." Takut Thomas jika sahabatnya yang di kursi depan sana terbangun, melihat adegan ini bersama kekasihnya.


Setelah Monica mengangguk, dalam posisi tanpa busana, Thomas menggendong Monica dengan sekuat tenaga, tak henti mereka saling memberi ciuman penuh kehangatan. Hingga tiba di kamar, Thomas langsung membanting pelan Monica ke atas ranjang. Di atas tubuh Monica yang terbaring saat ini, Thomas membuka jaket milik Monica. Dengan leluasa lidah Thomas menjulur di bahu Monica.


"Sungguh kamu adalah wanita impian seluruh pria yang ada menghuni di planet ini ... ." Bisik Thomas di samping telinga Monica.


"Dengan senang hati tuan putri, hamba akan mengabulkan perkataan kamu." Wajah penuh kemenangan dari Thomas mengulas senyum.


Sangat terasa basah jari Thomas setelah beberapa kali mengotak-atik mahkota kebanggaan para wanita lajang, segera Thomas perlahan menguliti seluruh pakaian Monica. Tak henti lidah Abraham menjulur, meninggalkan jejak di beberapa belahan kulit dari tubuh kekasihnya dengan penuh sensasi. Kembali wajah Thomas memandang lurus ke arah Monica, setelah merasa puas lidahnya yang mengecap.


"Tunggu, sayang ... jangan sampai kamu melupakan sesuatu yang nantinya akan membuat semua kedepannya jadi berantakan."


"Apa?" tanya Thomas dengan dahi mengerut, menahan sejenak hasrat yang memuncak.


"Jangan lupa Junior mu mengenakan pelindung terlebih dahulu, sebelum memasuki gua milikku."


"Oh, iya, benar juga ... untung saja kamu mengingatkannya."


Menghembus napas pelan, Thomas membentuk pipinya sebuah senyum di hadapan sang kekasih, mencoba untuk sesaat menghindari wajah kekasihnya. Mengambil sebuah pengaman berbentuk balon karet untuk di kenakan juniornya, kembali Thomas ke atas tubuh Monica, memasukkan sang junior dengan tepat ke tengah lubang mahkota begitu mengempit kuat. Keduanya saling melempar senyum, sesaat merasakan sesuatu begitu hangat yang ada di bawah tubuh mereka.

__ADS_1


Lurus ke depan, kedua tangan Thomas, menopang kasur untuk menggoyangkan pinggulnya agar lebih kuat lagi. Di bawah tubuh Thomas, Monica hanya bisa menggelinjang dengan mulut hanya bisa mendesah pelan beberapa kali.


***


Perlahan membuka mata, efek dari alkohol kian mulai memudar, Galvin beranjak ke kamar sahabatnya. Memang sudah menjadi pemandangan yang biasa, gumam Galvin, di sela pintu mendapati Monica dengan Thomas tanpa mengenakan busana. Merasa kasihan dengan mereka yang mungkin lelah sehabis bermain kuda-kuda, ronde begitu banyak semalam, mengurungkan niat Galvin untuk membangunkan.


Merapikan meja yang berantakan, lalu beranjak Galvin, pergi ke dapur membuat kopi untuk diri sendiri. Kembali bersandar tubuh masih terasa berat, di atas sofa, Galvin menyibukkan diri dengan sebuah ponsel yang di genggamnya. Hingga beberapa saat, dia mendapati sosok yang di tunggunya dengan telanjang dada menemuinya.


"Gimana enak mainnya semalam?" gurau Galvin melontarkan pertanyaan.


"Yeh, main apaan coba?" mencoba Thomas untuk mengelak dengan balik bertanya.


"Ya ampun, ada gaji di balik batu. Ada dua orang kekasih yang sedang telanjang bulat di kamar tidur gue ... ."


Terkekeh Thomas mendengar kalimat dari sahabatnya yang tak bisa lagi untuk di tutupi. Tanpa mempedulikan kopi di atas meja sana, sudah dicicipi oleh yang punya atau belum. Merasa haus, Thomas meneguk kopi tersebut untuk merasakan begitu pentingnya cairan untuk tubuh yang lelah.


Tak, tik, tuk! suara kaki seseorang berbunyi, mengurungkan niat Galvin yang ingin protes dengan kopi yang di minum Thomas barusan. Membuat keduanya langsung saling memandang lurus dengan wajah penuh kepanikan.


"Nih, loe sama Monica lewat jendela kamar gue, yah, jangan lengah."


"Udah loe pokoknya tenang, biar Monica gue urus ... ." Dengan tenang Thomas membalas, lalu pergi dari hadapan Galvin yang masih tetap di kursi dengan penuh kecemasan.


Deg!


Semakin dibuat cemas Galvin dengan keadaan dua orang yang semalam dia ajak untuk berpesta, saat melihat sang Ayah sedang mencari sesuatu. Di paksa Galvin dengan menampilkan wajah tenang saat sang Ayah menatapnya untuk sesaat, kemudian pergi ke arah kamarnya. Syukur, saat Galvin mendapatkan pesan dari sebuah kontak bernama Thomas, bahwa mereka sudah berada di depan gerbang. Tak perlu lagi Galvin cemas, jika sang Ayah keluar dari kamarnya.


#visual Thomas#


__ADS_1


__ADS_2