poor child fate

poor child fate
Muncul rasa berbeda dihati


__ADS_3

Perkara pagi, kurang fokus mengendarai kendaraan roda empat, saat dijalan, membuat Galvin celaka saat ditengah perjalanan menabrak pohon begitu kencang. Untung saja, warga sekitar yang melihat kejadian tersebut dengan cepat menghubungi pihak berwajib agar Galvin sebagai korban kecelakaan dapat terselamatkan segera . Setelah pihak berwajib menghubungi sala satu kontak yang bisa dihubungi sebagai kerabat dekat dari Galvin, segera pihak berwajib membawa Galvin ke suatu rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.


Di samping ranjang, di atas sebuah kursi, Lorenza sebagai orang yang siap merawat Galvin di rumah sakit, semenjak awal melihat Galvin terkapar dengan mata terpejam. Membuat Lorenza yang biasa harus tidur siang, kini rasanya sulit sekali untuk melakukan hal tersebut. Merasakan ada pergerakan dari tangan Galvin, sekilas membuat Lorenza tersenyum dengan sendirinya.


Perlahan Galvin membuka kedua kelopak matanya yang sayup, ekspresi sedikit terkejut, setelah melihat tangannya sedang mengenakan selang infus. "Semenjak kapan aku berada di rumah sakit ini?" suara lemah tak berdaya keluar dari mulut Galvin, bertanya kepada orang yang bersamanya saat ini.


"Semenjak kamu kecelakaan di mobil, tadi pagi." Balas Lorenza dengan lembut.


"Kenapa kamu bisa mengetahui kalau aku kecelakaan?"


"Pihak berwajib menghubungi ayah-mu, lalu Ayah-mu memberitahu berita tersebut pada-ku."


"Dimana dia?"


"Siapa?"


"Thomas."


Mendengar nama sahabatnya tersebut, seketika membuat Lorenza tak tega rasanya untuk memberitahu kabar. Seperti yang diketahui, Galvin dengan Thomas berhubungan erat layaknya sahabat, sehati-sejiwa. Tak ingin Lorenza membuat Galvin yang sedang terbaring, di atas ranjang rumah sakit saat ini, harus menerima kabar buruk yang membuatnya mungkin akan menambah beban dipikirannya. Dengan tenang Lorenza mengelus tangan Galvin, mencoba untuk memberi Galvin sedikit ketenangan hati.


"Dimana dia?" sekali lagi Galvin melontarkan pertanyaannya yang belum terjawab.


"Kamu yakin, ingin mengetahui kabar tentangnya?"


Mengangguk kepala Galvin dengan tegas, penuh percaya diri, ingin mendengar informasi yang sesungguhnya.


"Baik, lah, jadi informasi yang kudapatkan ... bahwa, setelah kecelakaan tadi pagi. Bahwa sahabat-mu Thomas telah meninggal, dan telah di urus pemakamannya oleh pihak berwajib." Dengan berat hati Lorenza memberitahukan informasi sesungguhnya mengenai Thomas dengan apa yang dia telah ketahui.

__ADS_1


Terpejam kedua kelopak mata Galvin dengan erat, menghembus napas dengan berat, dirinya mencoba untuk melupakan sesuatu hal yang begitu menyedihkan dalam hidupnya ini. Seandainya kecelakaan tersebut tak terjadi. Sesuai yang di inginkan Galvin, dirinya sendirilah yang memakamkan sahabatnya tersebut, akan tetapi semua telah terjadi, tak bisa kembali untuk diulangi. Dunia yang begitu suram, mulai terasa dalam diri Galvin, lebih tepatnya, Galvin begitu membenci dirinya yang telah membiarkan sahabatnya terbunuh di tangan musuh.


Beberapa menit berada di samping Galvin, Lorenza yang memerhatikan raut wajah Galvin, dirinya turut ikut berduka cita. "Kamu tak sendirian, masih ada aku sebagai seorang Ibu tiri-mu, siap untuk menemani hidup-mu." Ungkap Lorenza, mendekap wajahnya di bahu Galvin, memeluk tubuh Galvin, sala satu tangan milik Lorenza membentang di atas dada milik Galvin.


"Terimakasih, yah, sebelumnya ... kamu telah menawarkan diri sebagai orang yang ingin menemani kehidupanku." Jemari Galvin bergerak, mengelus lembut punggung tangan milik Lorenza.


Mendapatkan respon begitu jarang dari Galvin, rasanya membuat Lorenza begitu berada didekat Galvin saat ini. "Sama-sama, lagi pula sudah tugas-ku sebagai seorang ibu untuk menemani kehidupan anaknya selalu." Balas Lorenza, mengangkat wajahnya.


Setelah beberapa menit terdiam, Galvin yang berada dia tas ranjang menatap wajah Lorenza dengan intens. Kali ini, berbeda dengan sebelumnya, entah mengapa matanya terpesona melihat wajah Lorenza tampak anggun.


"Ada apa?" tanya Lorenza, sadar dirinya diperhatikan oleh Galvin sedari tadi.


Menggeleng kepala Galvin, membuat mereka kembali terdiam di tempat. Waktu yang berjalan begitu cepat, membuat matahari begitu cepat tenggelam. Di samping Galvin, mata Lorenza yang sudah terasa berat, mulai terpejam dengan sendirinya, di atas ranjang kepala Lorenza bersandar, di atas kursi tubuh Lorenza bersandar. Di sela tidur Galvin terbangun, begitu tenang rasa hati Galvin melihat wajah Lorenza yang tertidur lelap di sampingnya.


Tergerak hati nurani Galvin di tempat, bangkit dari ranjang untuk sesaat dengan beberapa energi yang dimiliki tubuhnya. Dengan anggun Galvin menyelimuti tubuh Lorenza dengan kain selimut yang dikenakannya barusan. Kembali Galvin berbaring keatas ranjang dengan perlahan, menyandarkan kembali kepala, di atas sebuah bantal berwarna putih. Usai sesaat tersenyum dengan sendirinya menatap wajah Lorenza, kini Galvin akhirnya bisa kembali tertidur dengan lelap.


Setengah mata terbuka, di atas ranjang, tubuh yang lemah mulai bergerak. Terpukau kedua mata Galvin, mendapati Lorenza yang mengenakan pakaian handuk kimono, usai keluar dari kamar mandi dengan tubuh setengah basah membuat pandangan mengawali hari semakin indah. Saat melihat gerakan Lorenza yang menghampirinya, Galvin berusaha dengan tenaga yang baru muncul memposisikan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang, tak ingin Galvin terlihat sebagai laki-laki lemah.


Sekilas saling melempar senyum yang jarang sekali Lorenza dapatkan dari Galvin, membuat pipi Lorenza merona seketika harus mengingat kuat mengenai hal dirinya sebagai seorang ibu tiri dari Galvin. Segera Lorenza mengambil kotak makan serta mengambil alat untuk makan, dari atas sebuah lemari, di samping ranjang. Duduk di samping Galvin, Lorenza membuka kotak makan yang barusan diambilnya, bersiap dirinya untuk menyuapi sang anak.


"Ayok, kamu musti sarapan agar lekas sembuh ... kalau enggak sarapan, nanti sakit kamu makin memburuk." Pinta Lorenza, mengangkat sendok berisi makanan, mengarahkan ke mulut Galvin.


"Jika aku sembuh kamu mau memberiku apa?" tanya Galvin dengan wajah serius.


"Apapun yang kamu ingin, akan aku beri semaksimal mungkin. Asal kamu pulih total." Balas Lorenza dengan wajah sama seriusnya seperti Galvin.


Tersenyum riang Galvin ditempat, melihat perilaku dari Lorenza yang penuh perhatian. "Makasih, yah, tapi biar aku makan sendiri saja. Soalnya, aku malu, sudah besar seperti ini masih di suap." Tangan Galvin menurunkan sendok yang mengarah pada dirinya.

__ADS_1


"Kamu yakin, bisa makan sendiri dengan tangan yang mengenakan infus seperti itu?"


"Kamu tenang saja, aku bisa melakukannya. Lebih baik kamu mengganti pakaianmu."


"Baik, lah, aku percaya padamu." Dengan anggun Lorenza menyerahkan kotak makan pada Galvin.


Beberapa menit ditempat memastikan, bahwa Galvin benar dapat makan tanpa bantuan darinya, Lorenza beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Beberapa lama Lorenza memasuki kamar mandi, seketika pintu utama ruangan dibuka oleh seseorang. Sosok pria yang dibenci oleh Galvin, pria yang membentuk karakter Galvin sebagai pria yang keras kepala.


Dengan wajah begitu gelisah, Ghali berdiri di depan Galvin. "Kenapa kamu pergi diam-diam dari perkemahan?" Terlihat Ghali menahan amarahnya.


"Masalah itu, bukanlah urusan anda. Mengapa anda datang kemari?"


Tersenyum sinis Ghali menatap lawan bicaranya. "Kamu pikir siapa yang membayar rumah sakit ini." Menyorot erat kedua bola mata Ghali pada Galvin.


"Aku tak memintanya dari anda, jadi jangan anda sombong soal pembayaran itu, pasti akan saya ganti, setelah saya pulih."


Kedua tangan Ghali terkepal menahan emosi yang mulai tak terkontrol, membuat rahang Ghali berdetak dengan sendirinya. Napas Ghali mulai tak terkendali, kedua tangan Ghali langsung mencengkram leher Galvin. "Dasar anak kurang tau di untung, lebih baik kau, mati!" sarkas Ghali membuka lebar kedua kelopak matanya.


Mendengar suara Ghali yang menggelegar satu ruangan. Dengan cepat Lorenza keluar dari dalam kamar mandi, menghampiri Ghali yang terlihat sedang murka di sana. "Hentikan, ku mohon ... ." Pinta Lorenza, sekuat mungkin Lorenza menggenggam lengan kekar suaminya tersebut.


"Diam kamu, dia sudah keterlaluan ... tak usah kamu bela anak kurang tau untung ini!" pekik Ghali tak peduli Lorenza.


"Ku mohon hentikan, biar gimana, pun, Galvin adalah anakmu sendiri, dan juga anak tiri-ku. Jadi, kumohon pada kamu, Sayang, hentikan."


"Diam kamu, dasar wanita bodoh ... ." Ringan tangan Ghali yang merasa risi, memberi satu tamparan pada Lorenza.


Tamparan yang begitu keras dari Ghali, membuat Lorenza terdiam, kedua bola mata Lorenza mulai berkaca-kaca dengan kepala menunduk. Tak ingin membuat Galvin resah kedepannya nanti ditempat, atas peristiwa tersebut. Beranjak keluar Lorenza dari ruangan tersebut. Merasa bersalah Ghali atas perlakuannya, sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan, buru-buru Ghali mengejar kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Dengan tangan yang masih memakai selang infus, Galvin hanya bisa terdiam dengan posisi terbaring jengah, mengatur napas yang tak karuan sehabis terserang cekikan dileher yang begitu kuat. Merenung Galvin, mengumpat sendiri ditempat, menyesal tak bisa membela Lorenza dalam posisinya yang lemah tak berdaya saat ini.


__ADS_2