
Dua hari, dua malam, dua orang lelaki, di bawah atap yang sama, sedang termenung menahan perut kosong. Apalah daya, jika tak memiliki skill untuk di pakai dalam dunia terasa begitu sulit soal kehidupan. Kedua orang tersebut hanya bisa berkhayal di tempat dengan tubuh yang terasa lemah sebagai orang yang belum memiliki tujuan hidup yang pasti. Sala seorang dari mereka, bangkit dari sofa, pergi ke dapur untuk meneguk air ke dalam tenggorokan yang serasa sangat kering.
Mendengus Thomas dengan sendirinya di dapur, setelah melihat air di dalam sebuah galon hanya mencukupi satu gelas. Kembali keruang tamu, duduk saling menghadap dengan Galvin yang entah sedang memikirkan apa, terlihat Galvin saat ini juga terlihat begitu sangat murung sekali. Merasa tak enak hati Thomas pada tamu spesialnya tersebut sekaligus sahabat terbaiknya, Thomas menyodorkan cangkir berisi setengah air sisanya barusan.
Buyar Galvin dari bengong, mendapatkan suara gelas di atas meja tergeser ke arahnya. "Apaan, ini, gue belum haus, sih?" sedikit bingung Galvin menengok ke arah Thomas.
"Gue tadi barusan minum, jadi tubuh gue udah ada cairan, jadi makanya sisanya gue kasih itu ke lu ... ." Balas Thomas dengan dahi sedikit mengkerut. "Air minum di rumah ini, sisa di gelas itu, jadi kalau lu enggak mau minum sekarang, berarti nanti buat besok atau sebentar."
"Baik, lah, jika seperti itu, gue bakal minum nanti."
Beberapa saat terdiam, dalam benak Thomas muncul sebuah pikiran untuk di bicarakan pada Galvin. "Vin ... ." Panggil Thomas dengan suara serak basah.
"Yah, ada apa?" sahut Galvin, menatap Thomas yang terlihat begitu cemas. "Kenapa lu, kok tiba-tiba wajah lu kek orang ketakutan?"
"Lu kebayang enggak, sih, misalnya Ramli membawa pasukannya kemari buat keroyok kita."
Tersenyum masam Galvin mendengar hal yang barusan sahabatnya beritahukan. Semangat dalam diri Galvin kini bangkit untuk mencari jalan keluar dari kesulitan ini. Terbayang, jika nanti, seketika posisi mereka dapat diketahui oleh Ramli beserta rekannya, dalam posisi yang lemah tak berdaya seperti ini, memungkinkan untuk bertemu rumah sakit atau lebih parah bertemu kuburan. Karena tak mungkin Ramli akan berdiam diri, tanpa membalas musuhnya secara tiba-tiba.
Dengan tegas lutut Galvin kini bangkit tegap. "Udah terpikirkan suatu ide kriminal untuk kita mendapatkan uang?" Tanya Galvin dengan wajah serius.
__ADS_1
"Belum, jujur gue lagi malas buat cari uang di jalan, ngeri pas-pasan dengan Ramli dengan pasukannya di jalan."
"Baik kalau gitu, untung ini masih ada matahari, gue pastikan bokap gue lagi gawe."
"Jadi maksud lu, kita merampok di rumah lu sendiri?"
Mengangguk kepala Galvin, langsung menarik lengan Thomas untuk segera membawanya keluar dari zona nyaman yang membuat semua jadi berantakan ini. Dengan senang hati Thomas mengikuti rencana dari Galvin, begitu cemerlang menurut Thomas untuk di praktekkan. Begitu berapi-api mereka menyentak kaki untuk keluar dari dalam rumah ini, tak sabar nantinya akan makan kenyang, setelah mendapatkan hasil.
***
Dari depan gerbang sebagai seorang perampok rumah sendiri, tak perlu susah payah bagi Galvin untuk membuka pintu pagar yang di kunci dengan sistem mesin password. Begitu senang gembiranya Thomas dalam diam mengikuti Galvin, memasuki gedung rumah sala satu paling mewah di kota ini. Harap Thomas, di dalam rumah, banyak hasil yang bisa di dapat mereka. Terhenti Thomas, saat matanya melihat sebuah pintu kamar.
"Siapa anda, ahg ... ." jengah napas Lorenza di atas ranjang begitu penuh rasa ketakutan menekan otaknya. Segera Lorenza mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. "Cepat pergi dari sini atau saya laporkan anda ke pihak yang berwajib."
Tanpa ingin panjang lebar berbicara di dalam keadaan gawat darurat seperti ini, Thomas tanpa mempedulikan sahabatnya yang kemungkinan besar masih berada di lantai dua. Keluar Thomas dari dengan gerakan cepat meninggalkan pekarangan rumah ini. Penasaran sosok bertopeng itu, Lorenza sedikit mengikutinya hingga di sela pintu.
Deg! jantung Lorenza berdetak kencang, saat membalikkan badannya dari sela pintu keluar rumah.
"Kau temannya, yah, pergi kau dari sini atau saya teriak maling ... ." Ancam Lorenza dengan suara di paksa berani. Melihat orang di depannya masih tetap kekeh berdiri di hadapannya, Lorenza mulai merasa makin panik. "Tolong, tolong, tolong ... ."
__ADS_1
"Uhssst ... ." Dengan penuh keberanian, Galvin mengeratkan jari telunjuknya di permukaan kedua belah bibir milik Lorenza, hingga membuat Lorenza terdiam dengan wajah terekspos ketakutan. "Ini adalah rumah saya, jadi bebas saya ingin berbuat apa saja."
Heran Lorenza, mendengar manusia bertopeng bersuara, teringat Lorenza dengan suara seseorang. "A--pa kamu, Gal--vin?" sedikit grogi Lorenza menanyakan identitas manusia di depannya saat ini.
"Yah, aku adalah Galvin, seharusnya aku yang teriak ... bahwa kamu telah pintar merampok rumah milikku serta keluargaku." Ucap Galvin dengan nada dingin, setelah melepas topengnya.
Menangkap konotasi yang di ucapkan oleh Galvin pada dirinya, membuat Lorenza saat merasa dalam posisi seseorang yang penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, memaksa untuk menjadikan kamu sebagai anak tiri- ku, jujur, aku enggak bermaksud untuk merenggut kebahagiaanmu sebagai anak kandung Ghali." Menekuk wajah Lorenza di depan Galvin.
"Aku mengaku telah salah, tolong untuk maafkan aku sebagai ibu tiri kamu." Lanjut Lorenza dengan suara terdengar sedikit gemetar.
Menampilkan senyum miring Galvin pada Lorenza yang barusan mengakui kesalahannya. "Aku tak peduli hal itu, intinya aku masih belum bisa memaafkan kamu, apapun itu alasannya." Dengan suara halus Galvin membalas, sehabis itu berpaling dari Lorenza.
"Tunggu ... apa kamu tak tinggal di sini saja dengan sahabatmu, daripada harus menahan lapar di luar sana, sampai harus mengulang hal barusan?"
Terhenti kedua kaki Galvin yang ingin bergerak keluar dari rumah ini, mendengar suara Lorenza yang memintanya. "Kapan Ghalu akan pulang kerja?" tanya Galvin dengan posisi membelakangi Lorenza.
"Dia bilang kepadaku akan pulang lusa nanti, soalnya ada sesuatu bisnis besar terbarunya."
Setelah mendapat jawaban dari Lorenza, Galvin yang sudah malas hanya berdua berada di bawah satu atap bersama dengan Lorenza saja, tanpa menanggapi kembali dengan satu kata, pun, Galvin segera pergi mengangkat kakinya dari rumah tersebut. Baginya yang terpenting untuk saat ini, dirinya bisa mendapatkan atmnya yang tertinggal di laci meja, serta kunci mobil yang berada di dalam lemarinya. Membuat Galvin dengan senang gembira, melajukan mobil sportnya yang sudah terkurung sudah hampir mau dua minggu.
__ADS_1